Sang Penelan Pusaka

Bab 18Gema Pertama

"Ada yang terjadi di gudang itu," kata Dira.

Wulansari menunggu.

Di dalam dada Dira, Ki Jalak mengepakkan sayapnya sekali, keras, seperti peringatan terakhir. Dira bisa merasakan pusaka itu menahan napas, kalau pusaka memang bisa bernapas.

"Sesuatu yang besar," lanjut Dira pelan. "Sesuatu yang aku sendiri belum mengerti."

"Apa?"

"Aku belum bisa menceritakannya, Wulan."

Wajah adiknya berubah. Bukan marah. Lebih buruk dari marah. Seperti anak kecil yang tangannya ditepis ketika mengulurkan kue.

"Kangmas janji," bisiknya. "Kelingking."

"Aku tahu." Dira menggenggam kedua tangan adiknya. "Dengarkan dulu. Aku tidak bilang tidak apa-apa. Ini apa-apa. Ini apa-apa yang sangat besar. Aku takut, Wulan. Aku tidak berbohong padamu soal itu."

"Lalu kenapa..."

"Karena aku tidak tahu apakah mengetahuinya akan membahayakanmu." Dira menatap mata adiknya lurus-lurus. "Bukan karena aku tak percaya padamu. Kau orang yang paling kupercaya di seluruh lereng Lawu. Tapi ada yang... ada sesuatu yang mungkin dicari orang. Orang yang berbahaya. Dan kalau mereka tahu kau tahu..."

Ia tak menyelesaikan kalimat itu. Ia tak perlu menyelesaikannya.

Wulansari menatapnya lama. Matanya basah, tetapi tidak ada air mata yang jatuh. Gadis itu menggigit bibirnya keras-keras, seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil kalau sedang menahan sesuatu.

"Ini ada hubungannya dengan kain di leher Kangmas?" tanyanya akhirnya.

Dira tidak menjawab. Tetapi diamnya adalah jawaban.

"Dengan cahaya fajar yang membelok?"

Diam lagi.

"Dengan rencana Ki Ageng yang dibilang Kakang Sutarga?"

"Aku tidak tahu," jawab Dira jujur. "Mungkin."

Wulansari melepaskan tangannya dari genggaman Dira, lalu menyilangkan tangan di dada. Ia menatap ke arah sumur kering di samping pohon sawo, ke lubang gelap yang konon dihuni makhluk halus, dan diam lama sekali.

"Baik," katanya akhirnya. "Aku tidak akan memaksa."

"Wulan..."

"Tapi dengan satu syarat." Ia menoleh dan mengacungkan jari telunjuknya ke wajah kakaknya, persis seperti Nyai Rukminiwati kalau sedang menegur. "Kalau sudah waktunya, kalau Kangmas sudah mengerti, kalau sudah aman, aku orang pertama yang Kangmas beri tahu. Bukan Gendhis. Bukan Gendhing. Bukan Mbah Karta. Aku. Yang pertama."

"Janji."

"Kelingking."

Mereka menautkan kelingking, menggoyangkannya tiga kali, mengecup ibu jari masing-masing.

"Kalau melanggar," kata Wulansari dengan suara serak, "dimakan kambing bermata jahat."

"Dimakan kambing bermata jahat."

Di dalam dada Dira, Ki Jalak menghembuskan napas panjang yang terdengar seperti bulu-bulu yang mengempis.

"Bocah," gumamnya. "Itu... itu jawaban yang tidak bodoh. Aku terkejut."

Dira tidak menanggapinya. Ia sedang memperhatikan adiknya membuka bungkusan daun pisang di pangkuan, bungkusan yang dibawa untuk sarapan mereka.

"Ini," kata Wulansari sambil menyodorkan isinya, suaranya sudah lebih ceria. Gadis itu memang tak pernah bisa marah lama. "Nasi jagung, tempe goreng, dan... maaf, Kangmas. Lauk lainnya cuma ini. Aku tahu Kangmas tak suka, jadi untukku saja."

Di sudut daun pisang tertumpuk segenggam kacang tanah rebus. Kulitnya masih basah dan mengepulkan uap tipis.

Dira menatap kacang itu.

Sejak kecil ia membenci kacang tanah. Semua orang di asrama tahu itu. Ia tak suka teksturnya yang lembek setelah direbus, tak suka rasanya yang hambar dan bergetah, tak suka baunya yang menurutnya seperti tanah basah. Waktu kecil, Nyai pernah memaksanya makan sepiring pecel dengan sambal kacang, dan ia muntah di bawah meja. Sejak itu tak ada yang pernah menyodorkan kacang tanah kepadanya lagi.

Namun kali ini, entah kenapa, bau kacang rebus itu tidak seperti tanah basah.

Bau itu seperti... seperti...

Air liur Dira tiba-tiba memenuhi mulutnya.

"KACANG!"

Ki Jalak memekik begitu keras di dalam kepalanya hingga Dira hampir menjatuhkan nasi jagungnya.

"Kacang tanah! Kacang tanah rebus! Bocah, ambil itu! Ambil! Makanan layak pertama sejak entah berapa ratus warsa!"

"Kangmas?" Wulansari mengernyit. "Kenapa melotot begitu?"

"Tidak... tidak..." Dira menelan ludah. "Boleh aku coba satu?"

Wulansari menatapnya seperti ia baru saja minta izin makan batu. "Kangmas? Kacang? Kangmas yang muntah di bawah meja waktu makan pecel?"

"Satu saja."

Dengan wajah curiga, Wulansari menyodorkan sebutir kacang. Dira mengupas kulitnya dengan jari yang anehnya gemetar, mengeluarkan dua butir biji yang merah muda dan lembut, lalu memasukkannya ke mulut.

Ia mengunyah.

Lalu ia memejamkan mata.

Rasanya gurih. Manis dan gurih sekaligus, dengan sedikit rasa asin dari garam rebusan. Lembut, hangat, dan... enak. Sangat enak. Lebih enak daripada telur ceplok Mbah Karta. Hampir seenak Sambal Lawu Murka.

"Ya," desah Ki Jalak dengan suara orang yang baru saja melihat surga. "Ya. Itu. Persis itu."

Dira membuka mata. Wulansari menatapnya dengan mulut setengah terbuka.

Tanpa berkata apa-apa, Dira mengambil sebutir kacang lagi. Lalu sebutir lagi. Lalu segenggam. Ia mengupas kacang-kacang itu secepat yang bisa dilakukan jari-jarinya, memasukkan biji-bijinya ke mulut dua-dua, tiga-tiga, sampai pipinya menggembung seperti tupai.

Dalam waktu kurang dari sepeminuman teh, segenggam kacang rebus itu habis. Hanya kulit-kulitnya yang tersisa, bertumpuk di atas daun pisang.

Wulansari menatap tumpukan kulit kacang itu. Lalu menatap kakaknya. Lalu menatap kulit kacang itu lagi.

"Kangmas," katanya pelan. "Kangmas kesurupan?"


Kacang tanah itu bukan satu-satunya.

Sepanjang hari itu, Dira tak bisa berhenti memikirkan kacang. Saat menimba air, ia membayangkan kacang goreng yang renyah. Saat mengupas bawang, ia membayangkan peyek kacang yang garing. Saat memecah kayu, ia membayangkan sambal kacang pecel, ya, sambal kacang pecel, makanan yang dulu membuatnya muntah di bawah meja, dan air liurnya menetes ke tumpukan kayu.

"Tidak ada yang salah dengan sambal kacang," kata Ki Jalak dengan suara orang yang tersinggung. "Sambal kacang adalah karya agung dapur manusia. Kalau dulu kau muntah, itu karena lidahmu masih bodoh."

"Lidahku tidak bodoh," desis Dira sambil menancapkan kapak ke gelondongan kayu. "Aku benci kacang. Seumur hidup aku benci kacang. Lalu kau datang, dan tiba-tiba aku tak bisa berhenti memikirkannya."

"Hm." Ki Jalak terdiam sebentar. "Ya. Itu mungkin salahku."

"Mungkin?"

"Baiklah. Itu pasti salahku." Jeda. "Aku suka kacang. Aku tidak ingat kenapa. Aku tidak ingat kapan terakhir makan kacang, atau siapa yang memberiku kacang, atau bagaimana sebilah keris bisa makan kacang. Tapi aku ingat sukanya. Sukanya masih ada, seperti nama. Dan rupanya sukaku menetes ke dalam dirimu."

"Menetes?"

"Seperti nila setetes yang jatuh ke susu sebelanga. Aku ada di dalam dirimu, bocah. Aku tinggal di Balai Sukma-mu. Apa yang kusukai, apa yang kubenci, apa yang kurindukan, semuanya merembes keluar sedikit-sedikit. Seperti asap dari tungku yang merembes ke seluruh dapur. Kau tak bisa menyalakan tungku tanpa dapurnya bau asap."

Dira berhenti memecah kayu. Ia berdiri diam dengan kapak di tangan, keringat menetes dari dagunya.

"Apa lagi yang kau sukai?" tanyanya pelan.

"Hah?"

"Apa lagi yang kau sukai, Ki Jalak? Apa lagi yang akan merembes ke dalam diriku?"

Ki Jalak tidak langsung menjawab. Dira merasakan pusaka itu mencari-cari di dalam dirinya sendiri, membuka laci-laci ingatan yang bolong.

"Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Aku tidak ingat semuanya. Mungkin cuma kacang. Mungkin ada yang lain. Kita akan tahu nanti."

"Itu tidak membuatku tenang."

"Memang tidak dimaksudkan untuk membuatmu tenang. Itu dimaksudkan untuk jujur." Ki Jalak mendengus. "Kau yang mengajariku tadi pagi, di bawah pohon sawo. Tidak bilang tidak apa-apa. Ingat?"


Menjelang sore, kacang goreng Gendhing hilang.

Gendhing selalu menyimpan sekantong kecil kacang goreng di balik tumpukan karung di sudut dapur. Itu camilan rahasianya, dibeli diam-diam dari pedagang yang lewat di jalan desa setiap pasaran Pahing, dan dimakan sedikit-sedikit sepanjang sepasar. Tak ada yang tahu tempat itu kecuali Gendhis, dan Gendhis membenci kacang goreng sama besarnya dengan Dira, dulu.

Sore itu kantong itu kosong.

"Tikus!" Gendhing menggoyang-goyangkan kantong kain itu di depan wajah saudarinya, seperti hakim menunjukkan barang bukti. "Tikus dari rak ketiga! Pasti dia! Matanya jahat seperti kambing!"

"Tikus tidak mengupas kulit kacang," kata Gendhis sambil mengulek bumbu.

"Tikus ini pintar!"

"Tikus pintar tidak meninggalkan kulit kacang yang ditumpuk rapi di balik tungku ketujuh."

Gendhing berhenti menggoyang kantongnya.

Mereka berdua menoleh perlahan ke arah tungku ketujuh. Di balik tungku itu, di celah antara batu bata dan dinding, tertumpuk kulit-kulit kacang goreng, disusun rapi seperti piramida kecil, ditutupi abu supaya tak terlihat.

Lalu, seperti dua kepala yang digerakkan satu benang, mereka menoleh ke arah Dira.

Dira sedang duduk di bangku sudut, mengupas jagung dengan wajah sangat tenang. Terlalu tenang. Dan di sudut bibirnya masih menempel sebutir remah kacang goreng.

"Dira," kata Gendhing.

"Hm?"

"Kau makan kacang gorengku?"

"Aku tidak suka kacang. Kau tahu itu."

Gendhis meletakkan ulekannya dan berjalan pelan ke arah Dira. Ia membungkuk, menatap wajahnya dari dekat, lalu mengulurkan jarinya dan mengambil remah kacang dari sudut bibir pemuda itu. Ia mengangkatnya ke depan mata Dira, seperti hakim yang mengangkat pisau berlumur darah.

"Lalu ini apa?"

Dira menatap remah itu. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

"Bilang saja tikus," bisik Ki Jalak.

"Tikus," kata Dira.

Gendhing menjerit marah dan melompat ke arahnya. Dira melompat dari bangku dan berlari mengelilingi tungku-tungku. Gendhing mengejar sambil mengayunkan kantong kosongnya seperti cambuk. Gendhis tertawa sampai terduduk di lantai. Abdi-abdi lain yang sedang bekerja di dapur berhenti dan menonton, sebagian ikut tertawa. Sebuah kuali kecil terguling. Seikat cabai kering jatuh dari gantungannya.

Di sudut dapur, Mbah Karta yang sedang mengaduk sayur sama sekali tidak menoleh. Tetapi bahunya yang kurus berguncang sedikit, sekali, dua kali, seperti orang yang menahan tawa.


Ketika keributan itu akhirnya mereda, ketika Dira sudah berjanji mengganti kacang goreng Gendhing dengan dua kantong pada pasaran Pahing berikutnya, ketika Gendhis sudah berhenti tertawa dan kembali mengulek, Dira duduk di bangku sudut dengan napas tersengal dan wajah merah.

Ia tertawa juga. Tidak bisa tidak. Sudah lama sekali ia tidak berlari-lari di dapur seperti anak kecil, dikejar kawan karena kenakalan kecil, bukan karena dibenci.

Namun di bawah tawa itu, ada sesuatu yang lain.

Seperti asap dari tungku yang merembes ke seluruh dapur.

Satu pusaka. Satu pusaka tua, pelupa, dan galak yang menyukai kacang tanah. Dan dalam sehari, Dira yang seumur hidup membenci kacang tanah kini mencuri kacang goreng kawannya sendiri.

Bagaimana kalau pusaka berikutnya tidak menyukai kacang? Bagaimana kalau pusaka berikutnya menyukai darah? Bagaimana kalau pusaka berikutnya membenci sesuatu, atau seseorang? Bagaimana kalau rembesannya tidak setetes nila, tetapi sebelanga?

Pusaka berikutnya. Ia bahkan belum memikirkan apakah akan ada pusaka berikutnya. Tetapi kata-kata itu sudah muncul di kepalanya dengan sendirinya, seperti bagian dirinya yang paling dalam, bagian yang berbatasan dengan lantai batu Balai Sukma, sudah tahu bahwa akan ada yang berikutnya. Dan yang berikutnya lagi.

Tangannya bergerak ke leher. Simpulnya.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan, seperti bisa membaca pikirannya. Mungkin memang bisa. "Jangan pikirkan itu sekarang. Kau baru menelan satu. Dan yang satu ini cuma suka kacang."

"Untuk sekarang."

"Untuk sekarang," Ki Jalak mengakui.

Dira menghela napas panjang. Lalu ia kembali mengupas jagung.


Saat matahari tergelincir, Mbah Karta berhenti mengaduk sayur. Ia meletakkan sendok kayunya, mengusap tangan di kain jariknya, lalu berjalan pelan menyeberangi dapur dengan langkahnya yang tertatih-tatih.

Ia berhenti tepat di depan bangku tempat Dira duduk.

Dira mengangkat wajah. "Mbah?"

Mbah Karta tidak menjawab. Ia memiringkan kepalanya yang hampir botak ke satu sisi. Lalu, perlahan, ia membungkuk sedikit dan mengendus udara di dekat wajah Dira. Sekali. Dua kali. Hidungnya yang besar dan keriput bergerak-gerak seperti hidung anjing pemburu yang mencium jejak kijang di semak-semak.

Si kembar berhenti bekerja dan menonton dengan heran.

Di dalam dada Dira, Ki Jalak tiba-tiba diam sama sekali.

Mbah Karta mengendus sekali lagi, lebih dalam, lebih lama. Lalu ia menegakkan badan, menatap Dira dengan mata keruhnya yang berkedip-kedip lambat, dan tersenyum.

Senyum itu aneh, tipis sekali, dan di baliknya ada sesuatu yang tidak bisa dibaca Dira, sesuatu yang dalam dan tua dan sangat, sangat lega.

"Bau besi," kata Mbah Karta pelan.