Bab 26Satyaki
Semak-semak itu diam lagi. Lama.
"Aku melihatmu," kata Dira. Ia tidak benar-benar melihat siapa pun, tapi kebohongan kecil kadang lebih ampuh daripada kebenaran yang panjang. "Keluarlah. Atau aku lempar kayu bakar."
"Lempar saja," saran Ki Jalak. "Kita punya enam ikat."
Semak-semak itu bergoyang. Lalu seseorang merangkak keluar dari baliknya, perlahan, dengan kedua tangan terangkat seperti orang yang menyerah kepada prajurit.
Ia seorang pemuda. Mungkin setahun lebih tua dari Dira, mungkin dua. Tubuhnya kurus dan jangkung, terlalu jangkung untuk lebarnya, seperti batang tebu yang tumbuh terlalu cepat. Rambutnya pendek, dipotong sendiri dengan tidak rapi, dan diikat udeng biru murid luar yang sudah pudar dan bertambal di dua tempat. Wajahnya biasa saja, dengan hidung agak besar dan dagu lancip, tetapi matanya tajam. Mata orang yang terbiasa memperhatikan sesuatu dari tempat yang tidak terlihat. Ada daun kering tersangkut di rambutnya, dan lututnya kotor oleh tanah.
Di punggungnya tergantung sebatang tongkat bambu kuning, panjangnya kira-kira sepanjang lengan, ujungnya diikat kain merah yang sudah kusam.
"Jangan lempar," kata pemuda itu. "Aku tidak bawa apa-apa. Cuma ini." Ia menunjuk tongkat bambu di punggungnya dengan dagu. "Dan ini bahkan tidak bisa dibilang senjata."
Dira masih berdiri di atas tunggul pohon dengan satu kaki. Ia baru menyadarinya sekarang. Ia menurunkan kakinya pelan-pelan, mencoba terlihat seperti tak terjadi apa-apa.
"Siapa kau?"
"Satyaki." Pemuda itu menurunkan tangannya. "Murid luar. Tahun kedua."
Dira mengenali nama itu samar-samar. Pernah disebut di dapur, entah oleh siapa, dalam nada yang biasanya dipakai orang untuk membicarakan cuaca buruk atau ayam yang tidak mau bertelur. Si Satyaki itu. Kasihan. Pusakanya.
"Kau dari tadi di sana?" tanya Dira.
Satyaki ragu, lalu mengangguk. "Sejak kau berguling keluar dari hutan. Bersama kayu bakar." Ia menatap enam ikat kayu yang berserakan di rumput, lalu kembali menatap Dira, dan sudut bibirnya bergerak sedikit. "Itu pertama kalinya aku melihat orang keluar dari Hutan Larangan dengan cara seperti itu."
"Ada babi hutan."
"Aku dengar." Wajah Satyaki berubah serius. "Aku dengar dengusannya sampai sini. Lalu aku lihat dia berdiri di balik batu peringatan. Sebesar kerbau. Taringnya..." Ia menggeleng. "Aku hampir lari. Aku seharusnya lari."
"Kenapa tidak?"
Satyaki menatapnya lama.
"Karena setelah babi itu pergi," katanya pelan, "kau berdiri. Lalu kau mulai bergerak. Dan aku belum pernah melihat orang bergerak seperti itu."
Dira tidak menjawab. Di dalam dadanya, Ki Jalak berbisik, "Hati-hati, bocah."
Mereka duduk di rumput di belakang gudang rongsokan, dalam cahaya senja yang hampir habis.
Satyaki melihat luka di paha Dira dan tanpa bertanya langsung bangkit, berjalan ke pinggir semak, dan memetik segenggam daun dari sejenis tumbuhan merambat berdaun lebar. Ia meremas daun-daun itu di telapak tangannya sampai keluar getah hijau yang lengket, lalu kembali dan berlutut di samping Dira.
"Daun binahong," katanya. "Ibuku selalu memakainya kalau ayahku tergores sabit di sawah. Getahnya menutup luka." Ia menempelkan remasan daun itu ke paha Dira, menekannya dengan telapak tangan, lalu membungkusnya dengan sehelai kain dari kantongnya. "Jangan dibuka sampai besok pagi."
"Terima kasih."
"Sama-sama." Satyaki duduk kembali dan memeluk lututnya. "Anggap saja bayaran karena aku mengintip."
Mereka diam sebentar. Matahari sudah tenggelam. Langit di barat berwarna ungu tua, dan bintang pertama mulai muncul. Dari arah padepokan terdengar sayup-sayup suara murid luar yang pulang dari lapangan, bercanda dan saling memanggil.
"Kau bilang murid luar tahun kedua," kata Dira akhirnya. "Kenapa kau di sini? Di belakang gudang rongsokan, di pinggir Hutan Larangan, menjelang malam?"
Satyaki tertawa kecil. Tawa yang tidak sampai ke matanya.
"Karena tak ada yang datang ke sini," katanya. "Aku berlatih di sini. Setiap sore, setelah latihan resmi selesai. Sudah setahun."
"Kenapa tidak di lapangan bersama yang lain?"
Satyaki tidak langsung menjawab. Ia meraih ke punggungnya dan menurunkan tongkat bambu kuning itu, lalu meletakkannya di rumput di antara mereka.
Tongkat itu tampak seperti tongkat bambu biasa. Sangat biasa. Bambu kuning sebesar ibu jari, panjangnya kira-kira sepanjang lengan, ruas-ruasnya rapat dan sedikit berdebu. Di ujungnya diikat kain merah kusam. Tak ada ukiran, tak ada hiasan, tak ada kilau seperti bilah keris. Kalau diletakkan di samping tumpukan kayu bakar, orang akan mengira itu salah satu kayu bakar.
"Kyai Pring Kuning," kata Satyaki. "Pusakaku. Dia memilihku di Upacara Pilih Pusaka setahun lalu."
Dira menatap tongkat itu.
"Itu pusaka?" kata Ki Jalak dengan nada tidak percaya. "Itu tongkat jemuran."
"Mereka menyebutnya tongkat penggembala bebek," kata Satyaki, seperti mendengar Ki Jalak. Wajahnya datar. "Waktu dia melayang ke tanganku di altar, semua orang tertawa. Lebih keras daripada waktu kau tak tersentuh cahaya fajar, kurasa. Raden Bayuwisesa bilang Hyang pasti sedang bercanda. Kakang Sutarga bilang mungkin aku harus beternak bebek saja daripada belajar silat."
"Sutarga," ulang Dira datar.
"Kau kenal dia?"
"Aku kenal dia."
Satyaki menatap wajah Dira, lalu mengangguk pelan, seperti mengerti sesuatu tanpa perlu dijelaskan.
"Kyai Pring Kuning tidak bisa mengeluarkan api seperti Nagageni," lanjutnya. "Tidak bisa memanggil angin, tidak bisa membelah batu. Kalau kualirkan tenaga dalamku ke dalamnya, dia cuma bergetar sedikit dan bersinar kuning pucat seperti kunang-kunang yang sakit." Ia tertawa getir. "Pembimbing kelompokku bilang dia tak punya waktu mengajari murid yang pusakanya tongkat bebek. Jadi aku belajar sendiri. Di sini. Di tempat yang tak dilihat siapa pun."
Ia mengangkat tongkat bambu itu dan memutarnya sekali di antara jari-jarinya. Gerakannya cepat dan terlatih, seperti orang yang sudah ribuan kali memutarnya.
"Setahun," katanya. "Dan aku masih di Raga Madya. Teman-teman seangkatanku sudah di Prana Awal. Beberapa sudah di Prana Madya."
Dira mengangguk pelan. Ia tidak tahu apa artinya Raga Madya dan Prana Madya dalam hal kekuatan, tapi ia tahu persis bagaimana rasanya ditertawakan di depan seluruh padepokan.
"Raga Madya," gumam Ki Jalak. "Lebih tinggi darimu. Sedikit."
"Lebih tinggi dariku," kata Dira tanpa berpikir.
Satyaki mengernyit. "Apa?"
"Tidak. Maksudku..." Dira menggaruk kepalanya. "Kau lebih kuat dariku. Aku cuma abdi dapur."
Satyaki menatapnya lama dengan mata tajam itu.
"Abdi dapur," ulangnya pelan, "yang menghindari babi hutan sebesar kerbau sebelas kali dengan langkah seperti burung. Yang memancing babi itu menabrak beringin sampai taringnya patah. Yang keluar dari Hutan Larangan hidup-hidup dengan enam ikat kayu bakar." Ia memiringkan kepala. "Lalu menari di atas tunggul pohon dengan jurus yang tidak pernah diajarkan di Argasuryan."
"Kau melihat semua itu?"
"Aku melihat yang terakhir dengan jelas. Yang di hutan aku cuma dengar. Tapi aku mengintip sedikit dari balik batu peringatan." Satyaki menunduk dan menatap tongkat bambunya. "Langkah itu. Langkah yang kau pakai tadi. Itu bukan jurus Argasuryan. Aku sudah setahun mengintip latihan murid dalam dari balik pohon. Aku tahu semua jurus langkah Argasuryan. Langkah Surya Tumapak. Langkah Bayu Mangsa. Langkah Geni Sumebar. Tak ada yang seperti itu."
"Bocah ini pintar," kata Ki Jalak dengan nada yang tidak sepenuhnya senang. "Terlalu pintar."
Dira tidak tahu harus menjawab apa. Ia bisa berbohong. Ia bisa bilang ia menemukan lontar tua di gudang rongsokan. Itu masuk akal. Satyaki mungkin percaya.
Tapi ia sudah terlalu banyak menyimpan rahasia akhir-akhir ini. Dan sesuatu di wajah Satyaki, sesuatu di cara pemuda itu memegang tongkat bambu kuningnya dengan sangat hati-hati, seperti tongkat itu lebih berharga daripada keris berlapis emas, membuatnya tidak ingin berbohong.
"Aku belajar dari burung jalak," katanya.
Itu bukan kebohongan.
Satyaki menatapnya, lalu tertawa. Kali ini tawanya sampai ke mata.
"Dari burung jalak," ulangnya. "Baiklah. Burung jalak. Kalau begitu burung jalak itu guru yang lebih baik daripada pembimbing kelompokku."
"Tentu saja," kata Ki Jalak dengan bangga.
Gelap sudah turun sepenuhnya. Dari arah padepokan terdengar kentongan senja, tanda para murid harus kembali ke asrama.
Satyaki bangkit dan menyampirkan tongkat bambunya di punggung. Dira juga bangkit, meringis karena pahanya, dan mulai memungut ikat-ikat kayu bakar yang berserakan.
"Kau akan cerita?" tanya Dira tanpa menoleh.
"Cerita apa?"
"Tentang yang kau lihat. Langkah itu. Babi hutan. Aku di Hutan Larangan."
Satyaki tidak langsung menjawab. Dira menunggu, ikat kayu di tangannya.
"Kalau aku cerita," kata Satyaki akhirnya, pelan, "apa yang akan terjadi?"
"Aku tidak tahu."
"Aku tahu." Satyaki menatap ke arah padepokan, ke arah cahaya-cahaya pelita yang mulai menyala di jendela-jendela asrama. "Kalau aku cerita bahwa abdi dapur yang tak tersentuh cahaya fajar bisa bergerak dengan jurus yang tak dikenal, para murid dalam akan datang. Mereka akan memaksamu mengajari mereka. Atau mereka akan mengambil apa pun yang kau temukan, lontar, guru, atau burung jalakmu itu. Lalu mereka akan bilang itu milik mereka. Lalu kau akan dihukum karena mencuri ilmu padepokan. Lalu kau akan dicambuk lagi."
Ia menoleh ke Dira.
"Aku sudah setahun di sini, Sudira. Aku tahu bagaimana padepokan ini memperlakukan orang yang tak dianggap. Mereka tidak membiarkan kita punya apa pun. Kalau kita punya sesuatu yang berharga, mereka akan merebutnya. Seperti mereka merebut jatah makanku setiap kali aku lengah. Seperti mereka merebut tempat latihanku di lapangan. Seperti mereka merebut..." Ia berhenti, menggeleng. "Pokoknya, aku tidak akan cerita."
"Kenapa?"
Satyaki tersenyum miring. "Karena kalau aku cerita, mereka yang menang. Dan aku tidak suka mereka menang."
Dira menatap pemuda jangkung itu dalam gelap. Ia teringat kalimatnya sendiri kepada Wulansari, di bawah pohon sawo: Kalau kau datang ke asrama murid dalam dengan pisau, apa yang kita dapat? Mereka tetap menjadi murid dalam.
"Terima kasih," katanya.
"Jangan terima kasih. Anggap saja aku menabung." Satyaki mengangkat bahu. "Siapa tahu nanti burung jalakmu mau mengajariku juga."
"Tidak," kata Ki Jalak tegas.
"Mungkin," kata Dira.
"Bocah!"
Mereka berjalan bersama ke arah padepokan, Dira dengan enam ikat kayu dan Satyaki membawakan dua di antaranya tanpa diminta. Di persimpangan jalan setapak tempat asrama murid luar dan dapur abdi berpisah, Satyaki berhenti.
"Satu hal lagi," katanya.
"Apa?"
Satyaki ragu. Ia melirik ke kiri dan ke kanan, ke arah balairung yang gelap kecuali satu pelita di jendela tertingginya, ke arah asrama tetua, ke arah gudang rongsokan dan barisan batu peringatan di belakangnya.
"Kau bukan orang pertama yang kulihat melewati batu peringatan," katanya pelan.
Dira membeku.
"Semalam," lanjut Satyaki, suaranya hampir berbisik, "aku berlatih sampai larut di belakang gudang. Aku mau pulang, lalu aku dengar langkah kaki. Aku sembunyi di balik semak yang sama tempat aku sembunyi tadi. Lalu ada orang lewat. Dua orang."
"Siapa?"
"Aku tak lihat wajahnya. Gelap. Yang satu memakai beskap hitam, seperti beskap tetua. Ada sulaman di dadanya yang berkilau sedikit kena cahaya bulan. Bentuknya seperti matahari. Dia membawa sesaji di atas tampah. Bunga, nasi kuning, dupa." Satyaki menelan ludah. "Rambutnya putih. Janggutnya panjang. Sangat panjang."
Dira merasakan kantong kainnya, tempat secarik kain hitam halus itu tersimpan bersama garam Gendhis dan bawang putih Gendhing, tiba-tiba terasa sangat berat.
"Yang satu lagi?" tanyanya.
Satyaki menggeleng. "Itu yang aneh. Yang satu lagi memakai jubah hitam. Bukan beskap. Jubah panjang sampai mata kaki, dengan kerudung menutupi kepala. Aku tak lihat wajahnya. Aku tak lihat tangannya. Aku tak lihat apa pun selain hitam."
"Mereka masuk ke hutan?"
"Melewati batu peringatan. Seperti tak ada apa-apa." Satyaki terdiam sebentar. "Dan ada satu hal lagi. Aku tak tahu apakah ini penting."
"Apa?"
"Waktu mereka lewat di depan semak tempatku sembunyi, aku sedang memegang pelita kecil yang sudah kututup dengan tangan supaya tidak terlihat." Satyaki menatap Dira lurus-lurus. "Waktu yang berjubah hitam lewat, pelitaku padam sendiri. Tanpa angin. Seperti ada yang meniupnya dari dalam."