Bab 58Upeti Kadipaten
Rombongan Kadipaten Karanganom masuk ke Padepokan Argasuryan seperti sungai yang meluap masuk ke sawah.
Dira melihatnya dari sudut halaman depan, berdiri di antara para abdi yang berbaris di sepanjang jalan batu menuju balairung dengan obor di tangan. Semua abdi disuruh berbaris. Semua obor disuruh dinyalakan. Ki Ageng ingin tamunya disambut dengan cahaya, meskipun tamunya datang dua hari lebih cepat dan tak seorang pun siap.
Pertama datang para pengawal berkuda. Dua belas orang, berompi kulit kerbau, bertombak, kepala mereka diikat kain merah. Kuda-kuda mereka tinggi dan berotot, jauh lebih besar dari kuda-kuda beban di kandang padepokan, dan mereka mendengus-dengus gelisah melihat obor.
Lalu para pemikul. Puluhan. Masing-masing memikul peti kayu jati di ujung pikulan bambu, atau berdua menandu peti yang lebih besar. Peti-peti itu berukir dan bergembok perunggu. Gendhing, yang berdiri di samping Dira, menghitung dengan bibir bergerak-gerak dan akhirnya menyerah di angka dua puluh tujuh.
Lalu seekor kerbau. Bukan kerbau biasa. Kerbau bule, putih kemerahan dari ujung tanduk sampai ujung ekor, dihiasi kalung bunga melati dan kain kuning di punggungnya, dituntun dua orang berpakaian bagus. Kerbau itu berjalan dengan tenang dan berwibawa, seperti tetua yang datang ke selamatan.
"Kerbau itu," bisik Ki Jalak, "lebih sopan dari separuh murid dalam di padepokan ini."
Lalu, terakhir, sebuah kereta beratap kain yang ditarik dua ekor kuda putih. Kereta itu berhenti di depan tangga balairung. Seorang abdi kadipaten membuka tirainya, dan seorang lelaki tua turun.
Ia tidak seperti yang dibayangkan Dira. Ia tidak gemuk dan berkilau emas seperti bangsawan dalam cerita kentrung. Ia kurus, hampir kering, seperti bambu tua yang sudah lama dijemur. Rambutnya putih seluruhnya, disanggul sederhana. Ia memakai beskap hitam polos tanpa sulaman apa pun, dan satu-satunya tanda kebangsawanannya adalah sebilah keris berwarangka kayu sonokeling yang terselip di punggungnya dan sebuah tongkat berkepala perunggu di tangan kanannya.
Wajahnya tegas dan keras. Matanya kecil, tajam, dan, anehnya, ramah. Seperti mata kakek yang sudah melihat banyak hal buruk dan memutuskan untuk tetap tersenyum.
"Tumenggung Sasradipa," bisik Kang Paidi di belakang Dira, dengan nada orang yang menyebut nama gunung keramat. "Patih Adipati Karanganom. Orang paling jujur di seluruh kadipaten. Katanya dia pernah memenjarakan keponakan Adipati sendiri karena korupsi upeti."
"Dan Adipati tidak marah?"
"Adipati malah memberinya tongkat itu."
Di tangga balairung, Ki Ageng Suryadharma turun menyambut. Mereka saling membungkuk. Para tetua berdiri di belakang Ki Ageng. Nyai Rukminiwati, tegak dan dingin. Ki Brajanala, wajahnya seperti tunggul jati yang baru dipahat. Dan Ki Wiradhana, tersenyum lembut, janggutnya berkilau keperakan dalam cahaya obor, tangan kirinya terbungkus kain hitam dan tersembunyi di balik lipatan beskapnya.
Dira menatap tangan itu. Lalu menatap wajah Ki Wiradhana.
Ki Wiradhana sedang menatapnya.
Hanya sekilas. Sekejap. Lalu mata lembut itu bergeser ke obor berikutnya, ke abdi berikutnya, seperti Dira hanyalah salah satu dari dua puluh abdi yang berbaris dengan obor di tangan.
Tetapi Dira merasakannya. Seperti merasakan embusan napas dingin di tengkuk.
Malam itu dapur abdi tidak tidur.
Tamu yang datang dua hari lebih cepat adalah tamu yang harus diberi makan dua hari lebih cepat. Dan rombongan Kadipaten Karanganom bukan rombongan kecil. Dua belas pengawal. Empat puluhan pemikul. Selusin abdi dan pelayan kadipaten. Seorang juru tulis. Dua orang tabib. Dan seorang Tumenggung, yang meskipun kurus kering tetap harus disuguhi hidangan yang layak untuk patih seorang Adipati.
"Ingkung!" Mbah Karta berlari-lari kecil di antara tungku dengan sendok kayunya, kaki telanjangnya menepuk-nepuk lantai tanah, berteriak dengan suara melengking orang tua yang panik. "Ingkung belum! Ayamnya masih di kandang! Siapa yang menyembelih ayam? Gendhing! Kau!"
"Aku Gendhis, Mbah."
"Itu yang kubilang! Sembelih ayam!"
"Aku tidak bisa menyembelih ayam, Mbah! Aku kasihan!"
"Kalau begitu panggil Gendhing! Gendhing tidak pernah kasihan pada apa pun!"
Mbok Darsih menggoreng tempe dan tahu di dua wajan sekaligus, tangannya bergerak seperti penari. Para abdi cuci melipat daun pisang menjadi takir begitu cepat sehingga tumpukannya tumbuh seperti jamur. Dira membelah kayu, menimba air, memikul karung, mengulek sambal, mengangkat kuali, sampai ia tidak tahu lagi berapa kali ia sudah bolak-balik dari sumur ke dapur.
Dan di tengah semua itu, perang besar pecah di depan tungku keempat.
Rombongan Kadipaten Karanganom membawa juru masak sendiri. Seorang perempuan setengah baya bertubuh bulat, berkebaya lurik ungu, rambutnya disanggul tinggi-tinggi dan dihiasi tusuk konde perak. Namanya Nyai Lembah, dan ia memasuki dapur abdi seperti seorang ratu memasuki pasar.
Ia menatap tungku-tungku yang hitam oleh jelaga. Ia menatap kuali-kuali tua yang penyok. Ia menatap Mbok Darsih yang sedang menggoreng tempe.
Lalu ia mencicipi sambal Gendhis.
Lalu ia meludahkannya.
"Ini," katanya, dengan suara yang bisa didengar sampai ke kandang kambing, "sambal?"
Seluruh dapur berhenti bergerak.
Gendhis, yang sedang mengulek cobek sambal keempat, menurunkan ulekannya pelan-pelan. Wajahnya memerah, lalu memutih, lalu memerah lagi.
"Itu sambal Lawu," kata Mbok Darsih dengan suara yang sangat, sangat tenang. Suara yang belum pernah Dira dengar keluar dari mulutnya. Suara yang membuat Gandawasa sendiri, yang sedang mengangkat karung bawang di sudut, berhenti di tengah jalan. "Cabai rawit gunung. Terasi dari desa bawah. Garam dari pantai selatan. Gula aren yang dimasak sendiri. Resep turun-temurun."
"Terlalu pedas," kata Nyai Lembah. "Tumenggung tidak bisa makan sepedas ini. Lidah beliau halus. Beliau makan sambal mangga. Manis. Sedikit cabai merah, tanpa biji." Ia mengibaskan tangannya. "Buang ini. Buatkan sambal mangga."
Hening.
Lalu Mbok Darsih, yang empat puluh warsa memasak di dapur abdi Argasuryan, yang tidak pernah sekali pun dalam hidupnya tidak memasak sambal, kecuali satu hari ketika ia mengira Dira mati, meletakkan sutil gorengnya di atas bangku.
"Sambal mangga," ulangnya.
"Sambal mangga," kata Nyai Lembah.
"Di dapur ini," kata Mbok Darsih, "tidak ada yang namanya sambal mangga. Mangga itu buah. Buah tidak dijadikan sambal. Buah dimakan setelah sambal, untuk mendinginkan lidah."
"Di kadipaten..."
"Ini bukan kadipaten. Ini lereng Lawu."
"Oh, tidak," bisik Ki Jalak dengan nada orang yang baru saja mendapat tempat duduk paling depan di pertunjukan wayang. "Oh, ini akan lebih bagus dari tembang Sri."
Pertempuran itu berlangsung lama. Lebih lama dari yang dibutuhkan untuk menanak sepanci nasi. Nyai Lembah menyebut sambal Lawu kasar seperti orang gunung. Mbok Darsih menyebut sambal mangga makanan bayi yang belum tumbuh gigi. Nyai Lembah menyebut tempe goreng Mbok Darsih terlalu kering. Mbok Darsih menyebut kebaya ungu Nyai Lembah warnanya seperti terung busuk. Nyai Lembah menjerit. Mbok Darsih mengangkat sutilnya. Gendhing bersembunyi di balik karung beras. Gendhis berdiri di antara mereka berdua dengan ulekan terangkat seperti pedang, tidak jelas sedang membela siapa.
Akhirnya, yang mengakhirinya bukan siapa-siapa dari mereka.
"Ada apa ini ramai-ramai?"
Suara itu tenang, tua, dan sedikit serak. Seluruh dapur menoleh ke pintu.
Tumenggung Sasradipa berdiri di ambang pintu belakang dapur abdi, bersandar pada tongkat berkepala perunggunya. Sendirian. Tanpa pengawal. Tanpa pelayan. Dengan beskap hitam polos dan rambut putih yang disanggul sederhana. Ia menatap seisi dapur dengan mata kecil yang ramah, seperti kakek yang mendengar cucu-cucunya bertengkar dan datang untuk melihat.
Nyai Lembah langsung berlutut. Mbok Darsih tidak tahu harus berlutut atau tidak, jadi ia setengah berlutut sambil masih memegang sutil. Seluruh dapur menyusul, berlutut di lantai tanah, kepala menunduk.
"Gusti Tumenggung," kata Nyai Lembah dengan suara bergetar, "hamba sedang memastikan hidangan untuk Gusti..."
"Ya, ya, aku dengar. Sampai ke balairung." Tumenggung Sasradipa melangkah masuk, tongkatnya mengetuk lantai tanah. Ia berjalan pelan di antara tungku-tungku, menatap kuali-kuali, mencium uap yang mengepul. Lalu ia berhenti di depan cobek Gendhis.
"Ini sambal yang diributkan?"
"Inggih, Gusti," bisik Gendhis, tidak berani mengangkat wajah.
Tumenggung Sasradipa mengambil sejumput sambal itu dengan ujung jari. Lalu, di depan seisi dapur yang menahan napas, di depan Nyai Lembah yang wajahnya memucat, ia memasukkannya ke mulut.
Ia mengunyah. Pelan. Matanya terpejam.
Lalu matanya terbuka, dan berair. Wajahnya memerah dari leher sampai dahi. Ia terbatuk sekali, dua kali, tiga kali.
Lalu ia tertawa.
"Ini," katanya dengan suara serak, menyeka air mata dengan punggung tangan, "ini sambal yang dimakan ibuku waktu aku kecil. Di desa di kaki Lawu sebelah utara. Sebelum aku jadi tumenggung, sebelum aku jadi apa-apa." Ia menatap Gendhis yang masih berlutut. "Sudah empat puluh warsa aku tidak makan sambal seperti ini. Empat puluh warsa aku makan sambal mangga karena semua orang di kadipaten bilang lidahku halus."
Ia menoleh ke Nyai Lembah.
"Lidahku tidak halus, Lembah. Lidahku cuma rindu rumah."
Ia tidak segera pergi.
Ia duduk di bangku bambu di samping tungku ketiga, menolak semua tawaran untuk kembali ke balairung, dan meminta air minum. Dira yang paling dekat dengan gentong. Ia mengambil air dengan batok kelapa, berlutut, dan menyerahkannya dengan kedua tangan.
Tumenggung Sasradipa menerimanya. Matanya yang kecil dan tajam menyapu wajah Dira sekilas. Lalu turun ke lehernya. Ke kain biru tua yang melilit di sana.
Hanya sekilas. Lalu kembali ke wajahnya.
"Terima kasih, ngger."
Dira mundur dan menunduk, jantungnya berdebar. Jangan di depan tamu. Jangan di depan orang yang matanya tidak kau kenal sejak kecil.
Kain itu masih terikat. Simpul Mbah Karta masih rapat. Tak ada yang terlihat. Tetapi tatapan Tumenggung itu terasa seperti tangan yang menyentuh.
Tumenggung minum perlahan. Lalu ia menatap Mbah Karta, yang sedang berdiri di depan tungku ketujuh mengaduk kuali ingkung, membelakangi mereka semua, bersiul pelan seperti tidak ada apa-apa.
"Juru masak tua itu," kata Tumenggung Sasradipa kepada Mbok Darsih. "Sudah lama di sini?"
"Lebih lama dari siapa pun, Gusti. Lebih lama dari hamba. Lebih lama dari Ki Ageng."
"Hm."
Tumenggung menatap punggung Mbah Karta lama. Mbah Karta tidak menoleh. Ia terus mengaduk dan bersiul.
Lalu Tumenggung menghabiskan airnya dan berbicara, setengah kepada Mbok Darsih, setengah kepada dirinya sendiri. Suaranya pelan, tetapi telinga Dira menangkap setiap katanya.
"Kau tahu kenapa aku datang dua hari lebih cepat, Mbok?"
"Hamba tidak tahu, Gusti."
"Aku juga tidak tahu." Tumenggung Sasradipa memutar batok kelapa kosong di tangannya. "Seorang utusan datang ke kadipaten lima hari lalu. Membawa surat bercap Argasuryan. Katanya Ki Ageng memohon kami datang lebih cepat karena ada urusan mendesak setelah purnama." Ia berhenti. "Tadi aku tanya Ki Ageng soal urusan mendesak itu. Dia terlihat bingung. Katanya dia tidak pernah mengirim surat seperti itu."
Mbok Darsih tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Tidak apa-apa," kata Tumenggung, bangkit dengan bantuan tongkatnya. "Mungkin salah paham. Orang tua sering salah paham." Ia mengembalikan batok itu kepada Dira. "Lagi pula, aku memang punya urusan sendiri dengan Argasuryan. Adipati mengutusku bertanya sesuatu."
"Bertanya apa, Gusti?" tanya Gendhing, sebelum Gendhis sempat menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Tumenggung Sasradipa tersenyum. Senyum kakek yang sabar.
"Di desa-desa kaki Lawu sebelah barat, ngger," katanya, "dua belas orang hilang dalam tiga purnama terakhir. Petani. Pencari kayu. Seorang gadis penggembala. Semuanya hilang di dekat hutan. Tak ada mayat. Tak ada jejak." Senyumnya memudar sedikit. "Dan tiga di antara yang ditemukan kembali, tidak ingat nama mereka sendiri."
Ia berjalan ke pintu belakang dapur, tongkatnya mengetuk lantai.
"Adipati ingin tahu apakah Argasuryan, yang menjaga lereng ini, tahu sesuatu." Ia berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit. "Besok malam di pesta, aku akan bertanya kepada para tetua. Di depan semua orang. Supaya tak ada yang salah paham lagi."
Lalu ia pergi, dan dapur abdi tetap berlutut lama setelah langkah tongkatnya menghilang di kegelapan.
Tiga yang ditemukan kembali tidak ingat nama mereka sendiri.
Dira menatap bara di tungku ketiga dan memikirkan Kertapati, murid dalam yang pingsan di pos jaga dan lupa namanya selama orang mengunyah sekapur sirih. Murid yang kini lupa jalan ke sumur.
Surat bercap Argasuryan yang tidak pernah dikirim Ki Ageng.
Dua hari lebih cepat. Seseorang memanggil mereka lebih cepat.
"Bocah," bisik Ki Jalak. "Tumenggung itu akan bertanya di depan semua orang. Besok malam. Di pesta."
Dan seseorang tidak ingin dia bertanya.
"Dan seseorang ingin tanganmu yang membawa piringnya."
Dira menatap kedua tangannya.
Menjelang tengah malam, ketika ingkung sudah masak dan para abdi kadipaten sudah diberi makan dan dapur akhirnya mulai tenang, seorang murid dalam datang ke ambang pintu dapur abdi.
"Gandawasa," katanya. "Pesan dari Ki Wiradhana."
Gandawasa, yang sedang menggosok kuali di bak cuci, berdiri. Tangannya, yang buku-buku jarinya masih dibalut kain lusuh sejak malam di lumbung, gemetar sedikit.
"Besok malam, pesta besar di balairung untuk Gusti Tumenggung," kata murid dalam itu. "Ki Wiradhana sudah menentukan abdi yang mengantar hidangan ke meja kehormatan." Ia membaca dari selembar lontar kecil. "Untuk meja Ki Ageng, Gusti Tumenggung, dan para tetua: abdi dapur bernama Sudira."
Seluruh dapur menoleh ke Dira.
"Kenapa dia?" Gendhing bertanya, terlalu keras. "Dia kan... maksudku, mukanya baru sembuh, dan dia..."
"Ki Wiradhana bilang," murid dalam itu melanjutkan, membaca dari lontarnya dengan suara datar, "Sudira abdi yang paling cekatan dan paling tenang. Dan Ki Wiradhana ingin Gusti Tumenggung melihat bahwa abdi Argasuryan bisa dipercaya."
Ia menggulung lontarnya dan pergi.
Gandawasa berdiri di depan bak cuci. Ia tidak menatap Dira. Ia menatap air cucian di bak, yang keruh oleh abu dan lemak. Kedua tangannya yang terbalut kain lusuh mencengkeram bibir bak batu itu begitu erat sampai buku-buku jarinya yang belum sembuh mulai berdarah lagi, merembes merah di balik kain.
Pastikan tangan dia yang membawa piringnya. Supaya semua orang ingat siapa yang membawanya.
Di depan tungku ketujuh, Mbah Karta berhenti bersiul.
Dan dari arah balairung, di kejauhan, terdengar tawa yang lembut dan ramah. Tawa seperti gula aren yang dilelehkan.