Bab 67Kyai Sapu Angin
Ki Jalak dulu masuk seperti batu yang dijatuhkan ke kolam. Pelan. Lembut. Tanpa merobek kulit, tanpa setetes darah. Seperti orang tua yang pulang ke rumahnya sendiri setelah lama merantau.
Bilah kecil ini tidak.
Bilah ini masuk seperti burung sriti yang menukik ke dalam sumur. Cepat, tajam, tanpa ragu. Ujungnya menghantam tengah telapak tangan Dira dan kulit di sana terbelah. Bukan menerima seperti permukaan air. Terbelah, seperti kain yang disayat pisau. Darah Dira menyembur, bercampur dengan darah Satyaki yang sudah melumuri tangannya, dan bilah kelabu kebiruan itu menerobos masuk, terus masuk, bilahnya, pesinya, semuanya, sampai lenyap ke dalam daging telapak tangannya dalam satu tarikan napas.
Lalu angin itu datang.
Bukan angin dari luar. Angin dari dalam. Angin yang menerobos naik dari telapak tangannya, melalui pergelangan, melalui lengan bawah, melalui siku, menyusuri pembuluh darahnya seperti badai yang menyusuri lembah sempit. Dingin. Tajam. Melengking. Setiap jengkal yang dilaluinya terasa seperti disayat dari dalam oleh ribuan pisau kecil.
Dira menjerit.
Ia tidak bisa menahannya. Jeritan itu keluar dari dadanya, panjang dan pecah, menggema di antara batang-batang pohon yang tinggi dan lurus di Hutan Larangan yang sunyi. Tubuhnya terlempar ke belakang. Ia terbanting telentang di atas lumut di samping Satyaki, lengan kanannya kejang, jari-jarinya mencakar udara.
Angin itu sampai di bahunya. Berputar di sana. Mencari.
Lalu menukik ke dalam.
Balai Sukma.
Dira tidak memutuskan untuk masuk ke sana. Ia tidak menurunkan napas, tidak memutar, tidak mencari jalan. Ia hanya tiba-tiba berada di sana, seperti orang yang terjatuh ke dalam air dan membuka mata di dasar.
Ruang yang luas tanpa ujung. Lantai batu hitam yang halus dan dingin. Kegelapan di atas, di mana seharusnya ada atap.
Dan badai.
Di tengah Balai Sukma, sesuatu berputar-putar. Kecil, kelabu, cepat. Terlalu cepat untuk dilihat dengan jelas. Hanya kelebatan sayap yang panjang dan runcing seperti bulan sabit, tubuh ramping kelabu kebiruan, dan lengkingan yang tinggi dan tajam. Seekor burung. Burung sriti. Burung kecil yang terbang lebih cepat dari burung apa pun di langit Jawa, yang tak pernah hinggap di tanah, yang tidur sambil terbang.
Burung itu mengamuk.
Ia terbang berputar-putar di dalam Balai Sukma, menabrak-nabrak kegelapan seperti menabrak dinding sangkar. Setiap kali sayapnya menyentuh sesuatu, angin menyembur ke segala arah. Lantai batu hitam retak-retak halus di bawahnya. Kegelapan di atas bergetar.
Di sudut Balai Sukma, di atas dahan yang tidak tumbuh dari mana pun, seekor jalak kebo hitam berbercak putih mengembangkan sayapnya dan berteriak.
"BERHENTI!"
Sriti itu tidak berhenti. Ia malah berbelok, menukik, dan menyambar ke arah jalak itu. Ki Jalak melompat dari dahannya tepat pada waktunya. Sayap sriti itu menyambar dahan tempat ia bertengger, dan dahan itu, dahan yang tidak tumbuh dari mana pun, terbelah dua.
"Dasar burung gila!" Ki Jalak mengepak-ngepakkan sayapnya, terbang canggung di udara Balai Sukma seperti burung tua yang sudah lama tak terbang. "Ini rumahku! Ini bukan sangkar! Berhenti mengamuk!"
Sriti itu berputar di udara, naik ke kegelapan di atas, lalu berhenti. Melayang. Dan Dira, yang berdiri di lantai batu hitam di tengah Balai Sukma tanpa tahu bagaimana ia bisa berdiri di sana, merasakan burung itu menatapnya.
Lalu menatap melewatinya.
Ke ujung lain Balai Sukma. Ke dinding.
Dinding beku yang menjulang dari lantai sampai ke kegelapan tak berujung. Bening, biru pucat, sangat tebal. Dengan satu titik di tengahnya, setinggi leher, yang masih menyimpan bekas merah dari malam purnama. Dan retakan setipis rambut yang belum menutup.
Sriti itu melengking. Bukan lengking marah. Lengking yang lain. Lapar.
Lalu ia menukik. Lurus ke dinding beku. Lurus ke retakan itu.
"JANGAN!"
Ki Jalak terbang. Lebih cepat dari yang Dira kira bisa dilakukan burung tua itu. Ia melesat melintasi Balai Sukma, sayap hitam berbercak putihnya mengepak keras, dan menghadang sriti itu di udara, sejengkal sebelum paruh runcingnya menyentuh dinding itu.
Kedua burung itu bertabrakan. Bulu-bulu hitam dan kelabu beterbangan. Angin menyembur. Lantai batu hitam retak lagi.
"Bukan ke sana!" teriak Ki Jalak, mencengkeram sayap sriti itu dengan cakarnya. "Apa pun yang kau cium di sana, bukan untukmu! Bukan untuk siapa pun! Jangan sentuh!"
Sriti itu meronta, melengking, mematuk. Ki Jalak tidak melepaskannya. Mereka berputar-putar di udara di depan dinding beku, saling cengkeram, saling patuk, seperti dua ekor ayam aduan di dalam kurungan.
Dan Dira, berdiri di tengah Balai Sukma, melakukan satu-satunya hal yang ia tahu.
Ia bernyanyi.
Turua, turu, cah bagus...
Suaranya keluar dari mulutnya di Hutan Larangan, serak dan pecah, di antara erang kesakitan. Tetapi di Balai Sukma suaranya terdengar jernih. Jernih dan pelan, menggema di ruang yang luas tanpa ujung, seperti suara Wulansari di depan tungku ketujuh pada malam ia paling hancur.
...lintang sumebar ing langit peteng...
Sriti itu berhenti meronta.
Ki Jalak tidak melepaskan cengkeramannya, tetapi ia berhenti mematuk. Kedua burung itu melayang di udara di depan dinding beku, sayap-sayap mereka masih terkembang, tetapi tidak lagi bertarung.
...sanadyan donya lali marang kowe...
Sriti itu menoleh. Kepalanya yang kecil dan ramping berputar ke arah suara itu. Ke arah Dira. Matanya, dua titik hitam kecil yang berkilat, menatap Dira dengan sesuatu yang bukan lagi lapar, bukan lagi marah.
Sesuatu yang seperti kerinduan.
...aja nganti kowe lali marang jenengmu.
Meski dunia melupakanmu, jangan sampai kau lupa namamu.
Sriti itu melengking pelan. Sangat pelan. Bukan lengking. Lebih seperti cicit. Seperti anak burung yang memanggil induknya dari dalam sarang.
Lalu, dengan suara yang tipis dan kecil dan sangat muda, seperti suara bocah yang baru belajar bicara, burung itu berbicara.
"Sapu," katanya.
Diam.
"Angin."
Diam lagi.
"Sapu Angin." Suara kecil itu bergetar. "Sapu Angin. Namaku. Aku... ingat. Namaku."
Ki Jalak perlahan melepaskan cengkeramannya.
Sriti itu tidak terbang ke dinding beku lagi. Ia melayang di udara sebentar, lalu, sangat pelan, sangat ragu, ia terbang turun. Bukan ke dinding. Bukan ke Dira. Ke dahan yang terbelah dua, dahan tempat Ki Jalak tadi bertengger, yang kini tergeletak patah di lantai batu hitam.
Ia hinggap di salah satu potongannya. Melipat sayapnya yang panjang dan runcing. Lalu diam.
Ki Jalak mendarat di potongan dahan yang lain. Ia menatap sriti itu lama. Bulu-bulunya acak-acakan. Satu bulu di sayap kirinya patah.
"Kyai Sapu Angin," katanya akhirnya. Pelan. Seperti orang tua yang menyebut nama tamu yang baru tiba.
Sriti itu menunduk. "Tuan," cicitnya. "Tuan... mati. Di kabut. Lama. Lama sekali. Memanggil... ibu." Sayapnya bergetar. "Aku... terbang. Terbang. Terbang. Mencari. Tidak ada. Tidak ada siapa-siapa. Lama."
Ki Jalak tidak berkata apa-apa.
"Lalu... bau," cicit Sapu Angin. Kepalanya yang kecil menoleh ke dinding beku. "Bau itu. Hangat. Seperti... rumah. Aku lapar. Lama sekali lapar."
"Aku tahu," kata Ki Jalak pelan. "Aku juga pernah."
Dira membuka mata.
Ia berbaring telentang di atas lumut di Hutan Larangan, menatap dahan-dahan tinggi yang saling bertaut di atasnya. Berkas-berkas cahaya kelabu menembus di sela-selanya. Tak ada pusaran udara. Tak ada lengkingan. Tak ada daun yang berputar-putar.
Ia mengangkat tangan kanannya ke depan wajah.
Darah. Darahnya sendiri dan darah Satyaki, mengering menjadi kerak merah kecokelatan di sepanjang lengan sampai siku. Dan di tengah telapak tangannya, di tempat bilah kecil itu masuk, ada garis. Garis tipis yang lurus, sepanjang ruas jari telunjuk, putih keperakan seperti bekas luka lama yang sudah sembuh bertahun-tahun.
Ki Jalak tidak meninggalkan bekas apa pun. Sapu Angin meninggalkan garis.
Lalu ia merasakan lehernya.
Dingin. Bukan panas seperti tadi. Dingin yang pelan, merayap, seperti akar yang tumbuh di dalam tanah yang basah. Ia merasakan sesuatu menjalar di bawah kain biru tua, di bawah kulit, dari bawah rahangnya ke arah belakang telinga. Sedikit. Sangat sedikit. Setengah ruas jari. Tetapi ia merasakannya.
Setiap kali kau menelan sesuatu, akarnya tumbuh. Satu cabang. Dua cabang.
"Bocah," kata Ki Jalak dari dalam dadanya. Suaranya lelah, serak, seperti orang yang baru saja bergulat dengan kerbau. "Kau masih hidup?"
"Masih."
"Bagus. Karena aku baru saja bergulat dengan burung gila di dalam rumahku dan kehilangan satu bulu, dan aku ingin seseorang tahu." Jeda. "Dia sudah tenang. Dia tidur. Di dahanku. Dahanku yang dia belah dua. Aku tidak tahu harus marah atau kasihan."
"Dua-duanya."
"Itu jawabanku untuk semua hal akhir-akhir ini."
Lalu Dira teringat. Dan seluruh tubuhnya menjadi dingin.
Satyaki.
Ia berguling ke samping.
Satyaki terbaring di sana, telentang di atas lumut yang merah oleh darah. Matanya setengah terbuka. Wajahnya putih seperti nasi yang terlalu lama direndam air, bibirnya kebiruan. Dadanya naik turun, pendek-pendek, cepat, dan di setiap tarikan napas, desis basah itu terdengar lagi. Seperti kendi retak.
Tetapi matanya terbuka. Setengah. Dan mata itu tidak menatap dahan-dahan di atas. Mata itu menatap Dira.
Menatap tangan kanan Dira. Telapak tangannya. Garis tipis putih keperakan di tengahnya.
Bibir Satyaki bergerak.
"...masuk..." bisiknya. Napasnya mendesis. "...keris... masuk... ke... tanganmu..."
Dira tidak menjawab. Ia tidak sempat. Mata Satyaki berputar ke atas, kelopaknya bergetar, lalu tertutup lagi.
Dira bergerak.
Ia merobek jarik cadangan dari bungkusannya menjadi beberapa jalur panjang. Ia membuka bungkusan bekal Mbah Karta dan mengeluarkan tiga bungkusan kecil ramuan. Merah, hijau, kuning.
Yang merah untuk luka.
Ia membuka bungkusan merah. Isinya pasta kental berwarna merah kecokelatan, berbau kunyit, getah pisang, dan sesuatu yang tajam seperti jahe hutan. Ia mengoleskannya ke luka di bawah tulang selangka Satyaki, lalu membalik tubuh Satyaki dengan hati-hati dan mengoleskannya ke luka di punggungnya. Darah yang merembes melambat. Lalu melambat lagi. Lalu hampir berhenti.
Ia membebat kedua luka itu dengan jalur-jalur jarik, kencang, melilit dada dan bahu Satyaki, dan mengikatnya. Simpulnya tiga lilitan yang saling mengunci. Ia tidak tahu kapan ia belajar simpul itu. Tangannya hanya tahu.
Lalu ia membalik Satyaki telentang lagi dan mendengarkan.
Desis itu tidak berhenti.
Napas Satyaki makin pendek. Makin cepat. Makin dangkal. Seperti orang yang tenggelam dan mencoba bernapas di bawah air. Bibirnya makin biru. Dan desis basah di setiap tarikan napas makin keras, makin basah, makin...
"Paru-parunya," kata Ki Jalak pelan. "Bocah. Ramuan merah menutup lukanya dari luar. Tapi di dalam, paru-parunya..." Ia tidak menyelesaikannya.
"Berapa lama?"
Ki Jalak diam.
"Berapa lama?"
"Sebelum matahari terbenam," bisik Ki Jalak. "Mungkin kurang."
Dira menatap dua bungkusan yang tersisa. Hijau dan kuning.
Yang hijau untuk racun.
Ini bukan racun.
Yang kuning aku lupa. Pokoknya jangan dimakan kecuali sudah mau mati.
Ia menatap Satyaki. Bibir yang biru. Dada yang naik turun terlalu cepat. Desis yang makin basah. Tangan yang tergeletak lemas di samping tubuh, jari-jarinya masih setengah melingkar, seperti masih menggenggam tongkat bambu kuning yang kini tergeletak di lumut sejengkal darinya.
Tongkat bebek menangkis pusaka.
Dira membuka bungkusan kuning.
Isinya bukan pasta. Bukan bubuk. Sebutir sesuatu yang kecil, bulat, seukuran biji kemiri, berwarna kuning keemasan dan sedikit bening seperti damar yang sudah lama mengeras. Ketika Dira mengangkatnya ke depan matanya, cahaya kelabu dari sela dahan menembusnya dan berpendar di dalamnya, hangat dan berkilau, seperti matahari yang terperangkap di dalam tetesan madu.
Dan baunya.
Di dalam dadanya, Ki Jalak tersentak begitu keras sampai Dira terbatuk.
"Getah," bisiknya. Suaranya pecah. "Bocah, itu getah. Getah kuning yang kental. Yang baunya seperti madu dicampur besi. Getah dari... dari..."
Ringin Sungsang, pikir Dira. Bilah bambu itu masih terselip di ikat pinggangnya. Ia tidak perlu membacanya.
"Dari mana orang tua itu mendapatkannya? Pohon itu terbakar ratusan warsa lalu! Getahnya tidak mungkin masih..."
Dira tidak mendengarkan lagi.
Ia menyelipkan butir getah kuning keemasan itu ke antara bibir Satyaki yang biru, mendorongnya ke balik lidahnya dengan ujung jari, lalu menuangkan sedikit air dari kendi bekal ke mulutnya. Ia menutup mulut Satyaki dengan telapak tangan dan mengangkat dagunya, seperti Nyai Rukminiwati dulu memaksanya menelan ramuan pahit ketika ia demam tiga malam.
Tenggorokan Satyaki bergerak. Sekali. Menelan.
Lalu Dira menunggu.
Satu tarikan napas. Desis basah.
Dua tarikan napas. Desis basah.
Tiga tarikan napas. Desis basah, lebih pelan.
Empat.
Dada Satyaki naik. Lalu turun.
Lalu tidak naik lagi.