Bab 1Fajar Pilih Pusaka
Kentongan pertama berbunyi ketika langit di atas Gunung Lawu masih sehitam tinta lontar.
Tiga ketukan pelan, jeda, lalu tiga ketukan lagi. Itu bukan tanda bahaya. Itu tanda bahwa hari yang ditunggu delapan belas warsa telah tiba.
Sudira sudah terjaga jauh sebelum kentongan itu. Ia duduk di ambang pintu bilik bambu di belakang asrama anak asuhan, memeluk lutut, menatap kabut yang merayap turun dari puncak seperti kain putih yang ditarik perlahan. Udara lereng menggigit kulitnya, tetapi ia tak beranjak masuk. Di dalam, Wulansari masih tidur dengan mulut sedikit terbuka. Kebiasaan itu sudah ada sejak ia berumur lima warsa, dan Dira tak pernah tega menegurnya.
Hari ini Upacara Pilih Pusaka.
Hari ini, katanya, hidup mereka akan berubah.
"Kangmas." Suara serak dari dalam bilik. "Kangmas sudah bangun dari tadi, ya?"
"Belum lama."
"Bohong." Wulansari keluar sambil membetulkan jariknya yang kusut, rambutnya masih awut-awutan. Gadis itu lebih muda beberapa candra dari Dira. Wajahnya bulat, matanya selalu tampak hendak tertawa. "Kangmas selalu bilang 'belum lama' kalau sudah duduk dari tengah malam."
Dira tersenyum kecil. "Aku cuma memikirkan sesuatu."
"Memikirkan pusaka mana yang akan memilih Kangmas?" Wulansari duduk di sebelahnya, menggosok-gosok lengan karena dingin. "Aku sudah memutuskan. Kangmas akan dipilih tombak. Tombak yang panjang dan gagah. Lalu Kangmas jadi senapati, dan aku jadi adik senapati yang boleh makan di balairung tiap hari."
"Kalau aku dipilih sapu lidi?"
"Ih!" Wulansari menepuk bahunya. "Jangan bicara begitu di hari baik. Nanti didengar Hyang."
Dira tertawa, tetapi tawanya pendek. Ada sesuatu di dadanya yang terasa seperti batu dingin sejak semalam, dan ia tak bisa menamainya.
Delapan belas warsa ia tinggal di Padepokan Argasuryan, dan selama itu ia hanya tahu satu hal tentang asal-usulnya: Nyai Rukminiwati, salah satu tetua padepokan, membawanya ke sini sebagai bayi di tengah musim hujan. Tidak ada surat, tidak ada nama orang tua, tidak ada cerita. Hanya sebuah nama, Sudira, dan kebiasaan aneh yang tak pernah dijelaskan: sehelai kain yang selalu harus melilit lehernya.
Tangannya bergerak tanpa sadar ke leher. Kain lurik cokelat tua itu masih di tempatnya.
"Sini." Wulansari sudah berdiri di belakangnya, seperti setiap pagi. "Ikatannya miring. Kalau Nyai lihat, Kangmas bisa diomeli sampai matahari tinggi."
Jari-jari adiknya cekatan membuka simpul, merapikan lilitan, lalu mengikatnya kembali dengan simpul yang hanya mereka berdua tahu cara membukanya. Selama itu Dira menunduk dan memandangi telapak tangannya sendiri. Telapak itu kasar karena bertahun-tahun mengangkut air dan kayu bakar untuk dapur padepokan, sebab anak asuhan tanpa keluarga harus membayar nasinya dengan kerja.
"Sudah," kata Wulansari. "Sekarang Kangmas tampan. Sedikit."
"Sedikit?"
"Jangan serakah."
Kentongan kedua berbunyi.
Jalan setapak dari asrama anak asuhan ke halaman utama berupa undakan batu yang licin oleh lumut. Pagi itu undakan itu penuh. Anak-anak berkain putih turun berbondong-bondong, ada yang komat-kamit merapal doa, ada yang berjalan sambil memegangi perut. Seorang anak muntah di balik rumpun bambu, menyeka mulutnya dengan ujung kain, lalu ikut turun lagi tanpa bicara.
Wulansari menggandeng lengan Dira sepanjang jalan. Genggamannya makin erat setiap kali mereka melewati obor yang ditancapkan di sisi undakan.
"Kau gemetar," kata Dira.
"Dingin."
"Kau gemetar sejak di bilik."
"Dingin sejak di bilik." Wulansari mendongak dan cemberut. "Kangmas sendiri? Tangannya sedingin kendi."
Dira tidak menjawab. Ia memang tidak merasa takut. Yang ia rasakan lebih ganjil: semacam keengganan, seperti kaki yang menolak masuk ke sungai padahal airnya hanya semata kaki. Ia menyingkirkan perasaan itu dan terus turun.
Halaman utama Argasuryan dibangun di atas pelataran batu yang dipahat langsung dari tubuh gunung. Di ujung timurnya berdiri altar pusaka, sebuah panggung batu andesit bertingkat tiga yang menghadap tepat ke arah matahari terbit. Di tingkat teratas berjajar rak-rak batu berukir, dan di atasnya terbaring puluhan pusaka yang belum bertuan: keris berluk dan keris lurus, tombak berlandean kayu sawo, cundrik, kujang, bahkan sepasang gelang perunggu yang konon pernah dipakai seorang pendekar perempuan dari Wengker.
Semuanya menunggu.
Tiga puluh tujuh anak berusia delapan belas warsa berdiri dalam tiga barisan di depan altar. Mereka memakai kain putih tanpa hiasan, kaki telanjang di atas batu yang masih basah oleh embun. Di belakang mereka, ratusan murid padepokan berdiri bersaf-saf mengikuti tingkatnya: murid luar dengan ikat kepala biru, murid dalam dengan udeng merah, para tetua dengan beskap hitam bersulam benang emas berbentuk matahari.
Dira berdiri di ujung barisan paling belakang. Bukan karena disuruh. Ia memang selalu memilih tempat paling belakang, sebab orang di belakang jarang diperhatikan, dan orang yang jarang diperhatikan lebih jarang dipukul.
Wulansari berdiri tiga orang di depannya. Sesekali gadis itu menoleh dan menggerakkan bibirnya tanpa suara: tombak. Dira membalas dengan gerakan bibir yang sama: sapu lidi. Wulansari menggembungkan pipi menahan tawa.
Gamelan mulai ditabuh. Gending pembuka mengalun pelan, bonang dan saron bersahutan seperti burung-burung yang baru bangun. Asap dupa cendana naik dari empat anglo tembaga di sudut altar, bergulung di udara dingin, membawa wangi yang membuat kepala terasa ringan.
Lalu semua orang menunduk.
Ki Ageng Suryadharma, ketua Padepokan Argasuryan, melangkah naik ke altar.
Ia lelaki berusia lima puluhan dengan tubuh tegap dan janggut yang dipotong rapi. Beskapnya putih bersih, satu-satunya di antara para tetua. Di pinggangnya terselip pusaka yang membuat Argasuryan disegani di seluruh lereng Lawu: Kanjeng Kyai Suryamurti, keris luk sembilan yang warangkanya berlapis emas tipis. Orang bilang, bila keris itu dihunus di siang hari, bayangannya tidak jatuh ke tanah.
Dira tak pernah melihatnya dihunus. Hampir tak ada yang pernah.
"Anak-anakku."
Suara Suryadharma tidak keras, tetapi terdengar jelas sampai ke saf paling belakang. Tenaga dalam yang mengalir di balik suara itu membuat dada Dira bergetar.
"Delapan belas warsa kalian makan nasi Argasuryan, minum air Lawu, dan tidur di bawah atap yang sama. Hari ini, matahari akan memperkenalkan kalian kepada pusaka yang sudah menunggu. Ingatlah: bukan kalian yang memilih pusaka. Pusakalah yang memilih kalian. Dan matahari adalah saksinya."
Ia berbalik menghadap timur.
Langit di balik punggung gunung seberang sudah memerah seperti bara yang ditiup. Gamelan melambat, lalu berhenti sama sekali. Ratusan orang menahan napas.
Dira ikut menahan napasnya.
Ia sudah mendengar cerita ini ratusan kali dari anak-anak yang lebih tua, dari abdi dapur yang suka membual, dari Wulansari yang menghafal setiap detailnya seperti tembang. Saat sinar pertama matahari menyentuh cermin perunggu di puncak altar, cahaya itu akan pecah menjadi puluhan berkas. Setiap berkas akan mencari seorang anak dan menyentuh keningnya. Lalu, satu per satu, pusaka di rak akan bergetar, terangkat, dan melayang ke tangan tuan barunya.
Tak pernah ada anak yang tidak tersentuh. Tidak dalam tiga ratus warsa sejarah Argasuryan.
Puncak matahari muncul.
Sinarnya melesat lurus ke cermin perunggu, dan seluruh halaman tenggelam dalam cahaya keemasan. Dira menyipitkan mata. Dari cermin itu memancar berkas-berkas tipis seperti benang emas yang ditarik ke segala arah, menari di udara sebentar, lalu turun ke barisan anak-anak.
Berkas pertama menyentuh kening seorang pemuda di barisan depan.
Pemuda itu tidak perlu dikenalkan. Semua orang di Argasuryan tahu siapa dia: Raden Bayuwisesa, putra tunggal Ki Ageng Suryadharma. Tubuhnya tinggi, wajahnya tampan dengan dagu yang selalu sedikit terangkat, dan sejak berumur dua belas warsa ia sudah mengalahkan murid-murid luar yang dua kali lebih tua darinya.
Cahaya di keningnya tidak sekadar menyentuh. Cahaya itu menyala.
Dari rak tertinggi, sebilah keris berwarangka merah tua tiba-tiba melonjak sendiri ke udara. Bilahnya keluar dari warangka dengan desis panjang, dan nyala api tipis membungkusnya seperti kulit kedua. Keris itu berputar tiga kali di atas altar. Pada putaran ketiga, bayangan seekor naga berapi melingkar di sekelilingnya, sebentar saja, tetapi cukup untuk membuat ratusan orang terkesiap.
"Kyai Nagageni," bisik seseorang di dekat Dira. "Pusaka terkuat di rak itu."
Keris itu meluncur turun dan menancap tegak di tanah di depan kaki Bayuwisesa. Pemuda itu mencabutnya tanpa ragu. Api di bilahnya meredup seperti binatang buas yang menunduk kepada pawangnya.
Sorak-sorai pecah. Suryadharma tidak tersenyum, tetapi dagunya sedikit terangkat, persis seperti dagu putranya.
Berkas-berkas lain menyusul. Seorang gadis bertubuh mungil dipilih sepasang gelang perunggu dari Wengker. Seorang pemuda gemuk yang terkenal suka mencuri jagung bakar dari dapur dipilih tombak pendek bernama Kyai Mega Rinonce. Ia menangis tersedu-sedu, dan orang-orang menertawakannya dengan sayang. Satu per satu, anak-anak di barisan depan dan tengah disentuh cahaya, dan satu per satu pusaka melayang turun.
Lalu berkas emas menyentuh kening Wulansari.
Dira melihat adiknya memejamkan mata. Dari rak tengah, sebilah cundrik kecil berhulu gading bergetar pelan, terangkat seperti daun yang diangkat angin, dan melayang lembut ke tangan gadis itu. Tidak ada api, tidak ada naga. Hanya cahaya pucat seperti sinar bulan yang menyelimuti bilahnya sebentar.
Wulansari membuka mata dan menatap cundrik di tangannya. Lalu ia menoleh ke belakang, mencari Dira, dengan senyum terlebar yang pernah Dira lihat.
Bukan tombak, bibirnya bergerak. Tapi cantik.
Dira mengangguk keras, dan untuk sesaat batu dingin di dadanya terasa lebih ringan.
Gadis itu dulu takut gelap sampai umur dua belas warsa dan selalu menyuruh Dira berjaga di ambang bilik sampai ia tertidur. Sekarang ia memegang pusaka. Dira bangga, sungguh bangga, dan di bawah rasa bangga itu terselip sesuatu yang lebih kecil dan memalukan: rasa orang yang tertinggal selangkah di belakang.
Berkas-berkas cahaya terus turun. Barisan belakang mulai disentuh. Anak di sebelah kiri Dira, si pendiam yang selalu membantu menimba air, dipilih keris lurus sederhana. Ia gemetar sampai hampir menjatuhkannya. Anak di sebelah kanan dipilih kujang kecil yang berdenting seperti lonceng.
Tinggal Dira.
Ia mengangkat wajah. Satu berkas cahaya terakhir masih melayang di udara di atas altar, berputar pelan seperti sedang mencari. Ia bisa merasakan seluruh halaman menoleh ke arahnya. Anak terakhir di barisan terakhir. Anak tanpa nama keluarga. Anak yang lehernya selalu terbungkus kain.
Berkas itu turun.
Dira memejamkan mata dan menunggu kehangatan yang diceritakan semua orang. Rasanya seperti dicium matahari, kata Wulansari. Seperti air hangat yang dituang ke kepala.
Ia menunggu.
Ada kehangatan, tetapi tipis dan tidak di keningnya. Kehangatan itu lewat di samping pipinya seperti napas seseorang yang berjalan melewatinya.
Dira membuka mata.
Berkas cahaya terakhir itu melengkung. Ia tidak berhenti di depan Dira. Ia membelok halus, nyaris lembut, mengitari kepala Dira seperti air sungai yang mengalir mengitari batu, lalu meluncur terus ke belakang dan jatuh ke lantai batu kosong di belakang tumitnya. Di sana cahaya itu memudar dan padam.
Halaman Argasuryan menjadi sunyi sekali.
Tidak ada gamelan. Tidak ada sorak. Burung-burung di pucuk cemara pun berhenti berkicau. Ratusan pasang mata menatap satu titik: pemuda kurus berkain lurik di ujung barisan paling belakang, yang masih berdiri dengan wajah setengah terangkat, menunggu sesuatu yang tidak datang.
Dira tidak bergerak. Ia tidak tahu harus bergerak ke mana.
Lalu, di balik kain yang melilit lehernya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Dingin. Sedingin air sendang di musim kemarau, menjalar pelan dari kulit lehernya ke tengkuk.
Pada saat yang sama, untuk satu helaan napas yang begitu singkat sehingga ia yakin hanya membayangkannya, Dira merasakan seluruh pusaka di atas altar bergetar. Getarannya lain dari yang ia lihat ketika Nagageni melonjak ke udara. Kecil dan rapat, seperti binatang-binatang yang meringkuk ketika mendengar langkah sesuatu yang jauh lebih besar.
Lalu getaran itu lenyap.
Di puncak altar, Ki Ageng Suryadharma menurunkan tangannya perlahan. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Namun jari-jarinya, yang sejak tadi bertumpu santai di hulu Kanjeng Kyai Suryamurti, kini menggenggam hulu itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Di tengah kesunyian itu, seseorang di barisan depan mulai tertawa.