Bab 2Anak yang Tak Tersentuh Matahari
Tawa itu datang dari barisan depan. Tidak keras dan tidak lama, tetapi di halaman yang sesunyi kuburan, tawa sependek apa pun terdengar seperti piring pecah.
Raden Bayuwisesa berdiri dengan Kyai Nagageni masih terhunus di tangan kanannya. Api tipis di bilah keris itu sudah padam, tetapi udara di sekitarnya masih bergetar karena panas. Ia memutar badan setengah, cukup untuk menatap ke barisan paling belakang, lalu tawanya mereda menjadi senyum yang lebih menyakitkan daripada tawa.
"Maafkan aku," katanya kepada para tetua dengan suara yang terdengar sopan. "Aku hanya kaget. Kukira cerita tentang anak yang tak tersentuh cahaya cuma dongeng untuk menakut-nakuti bocah."
Beberapa murid dalam di saf belakang mendengus menahan tawa. Seseorang berbisik. Bisikan itu disambut bisikan lain, lalu bisikan lain lagi, sampai halaman yang tadi sunyi dipenuhi dengung seperti sarang tawon yang diganggu.
Dira masih berdiri di tempatnya. Lehernya masih dingin.
"Tenang." Suara berat itu datang dari sisi altar. Seorang tetua bertubuh kurus dengan janggut putih panjang melangkah maju dan mengangkat kedua tangannya. Dira mengenalnya. Semua anak mengenalnya. Ki Wiradhana adalah tetua yang paling sering membagikan gula aren kepada anak-anak kecil dan paling sering tersenyum. "Tenang, anak-anakku. Matahari kadang punya kehendak yang tak kita pahami. Ada jalan kedua."
Dengungan mereda.
"Jalan kedua," lanjut Ki Wiradhana dengan suara lembut, "adalah adat lama yang jarang dipakai. Bila cahaya tak menyentuh seorang anak, anak itu boleh naik sendiri ke altar dan mengulurkan tangannya kepada pusaka. Bila ada pusaka yang bergerak sedikit saja, walau hanya sehelai rambut, itu tandanya ia dipilih." Ia menoleh ke puncak altar dan sedikit membungkuk. "Bila Ki Ageng mengizinkan."
Ki Ageng Suryadharma diam beberapa saat. Lalu ia mengangguk sekali, singkat, tanpa menurunkan tangannya dari hulu Suryamurti.
Ki Wiradhana tersenyum kepada Dira dan memberi isyarat dengan tangannya. Naiklah, ngger.
Jarak dari ujung barisan paling belakang ke kaki altar hanya tiga puluh langkah. Bagi Dira, rasanya seperti tiga puluh warsa.
Setiap langkah membuatnya merasakan tatapan yang menempel di punggungnya seperti getah nangka. Kaki telanjangnya menginjak batu yang masih basah, dan ia hampir tergelincir di anak tangga pertama. Seseorang tertawa lagi. Ia tak menoleh untuk melihat siapa.
Ia memusatkan pandangan pada anak tangga di depannya. Batu andesit itu aus di bagian tengah, dilicinkan kaki-kaki yang naik turun selama tiga ratus warsa. Di sudut anak tangga kedua ada retakan kecil berbentuk cakar ayam. Delapan belas warsa Dira melihat altar ini dari jauh dan tak pernah tahu retakan itu ada. Lucu, pikirnya, apa saja yang baru kelihatan ketika orang dipaksa berjalan pelan di depan ratusan pasang mata.
Di kaki tangga, ia melewati Wulansari. Adiknya memegang cundrik gading itu erat-erat di dadanya, matanya merah. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi jari-jarinya bergerak, menyentuh lengan Dira sekilas ketika ia lewat. Sentuhan itu hangat.
Di tingkat ketiga, ia sampai di depan rak-rak pusaka.
Dari dekat, rak-rak itu tampak jauh lebih tua daripada yang terlihat dari bawah. Batunya berlumut di sudut-sudut, ukirannya aus dimakan ratusan musim hujan. Pusaka yang tersisa masih banyak: belasan keris, beberapa tombak, sebuah pedang lurus bergagang tanduk, dan sebatang tongkat kayu hitam yang ujungnya berukir kepala burung.
Ki Ageng Suryadharma berdiri hanya lima langkah darinya. Dira bisa mencium wangi minyak cendana dari beskapnya, dan sesuatu yang lain di bawah wangi itu, sesuatu seperti logam panas.
"Ulurkan tanganmu," kata sang ketua. Suaranya datar.
Dira mengulurkan tangan kanannya ke arah rak terdekat.
Ia tak tahu apa yang harus ia rasakan. Anak-anak yang dipilih cahaya tak pernah menceritakan rasanya mengulurkan tangan, karena mereka tak pernah perlu melakukannya. Maka ia hanya membuka telapak tangannya, telapak yang kasar dan penuh bekas lecet tali timba, dan menunggu.
Angin pagi bertiup dari puncak gunung, menggoyang ujung kain putihnya.
Tidak ada yang bergerak.
Ia memindahkan tangannya ke rak kedua. Lalu ke rak ketiga. Ia bahkan mengulurkannya ke arah tongkat hitam berkepala burung yang tampak paling tak diinginkan, yang pasti tak dipilih siapa pun selama bertahun-tahun, yang ujungnya sudah retak.
Tidak ada yang bergerak. Tidak sehelai rambut pun.
Yang aneh, semakin lama ia mengulurkan tangan, semakin dalam rasa dingin di lehernya. Dingin itu tidak menyakitkan. Rasanya seperti seseorang meniup kulitnya dengan napas dari dasar sumur. Dan pusaka-pusaka itu, yang tadi bergetar ketika cahaya membelok, kini benar-benar diam. Terlalu diam. Seperti napas yang ditahan.
"Cukup."
Suara Suryadharma memotong udara. Dira menurunkan tangannya.
"Tak satu pun."
Kali ini Bayuwisesa tidak tertawa. Ia sudah naik ke tingkat kedua altar tanpa diminta, berdiri dengan Nagageni tersarung kembali di pinggangnya, menatap Dira dari bawah dengan alis terangkat.
"Tak satu pun," ulangnya lebih keras, cukup keras untuk didengar seluruh halaman. "Bahkan tongkat retak itu, yang sudah tak dipilih siapa pun sejak kakekku masih menyusu, tak mau disentuh tangannya." Ia memiringkan kepala. "Kalian tahu apa artinya?"
Tak ada yang menjawab. Tetapi semua orang mendengarkan.
"Artinya matahari sendiri tak mau menyentuhnya." Bayuwisesa membentangkan tangan ke arah timur, ke arah matahari yang kini sudah setinggi tombak di atas gunung seberang. "Kita murid Argasuryan. Gunung matahari. Kita memuja cahaya, kita berlatih di bawah cahaya, pusaka kita dipilih oleh cahaya. Dan di antara kita ada anak yang tak tersentuh matahari."
Ia menyebut empat kata terakhir itu pelan-pelan, satu per satu, seperti meletakkan batu di atas makam.
Anak yang tak tersentuh matahari.
Seseorang di saf murid luar mengulanginya. Lalu orang lain. Lalu kata-kata itu bergulir dari mulut ke mulut seperti bola api yang dilempar di antara jerami kering. Dira bisa melihatnya menyebar: anak-anak yang tadi berdiri di barisan yang sama dengannya, yang kemarin masih makan bersama di serambi asrama, kini menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Bukan benci, tetapi jarak, seperti menatap orang yang membawa penyakit menular.
"Raden." Suara Ki Wiradhana terdengar lunak. "Sudahlah. Anak ini tidak berdosa."
"Tentu saja tidak, Ki." Bayuwisesa membungkuk sopan kepada tetua itu. "Aku tidak menuduhnya berdosa. Aku hanya menyebut apa yang dilihat semua orang." Ia kembali menatap Dira. "Tapi aku bertanya-tanya. Delapan belas warsa ia makan nasi Argasuryan. Nasi yang ditanak dengan api dari kayu yang dipotong murid-murid kita. Nasi yang dibeli dengan kepeng dari pusaka-pusaka yang kita jaga. Kalau matahari menolaknya, apakah Argasuryan masih wajib memberinya makan?"
Kali ini dengung di halaman terdengar berbeda. Lebih tajam.
Dira membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia ingin menjawab. Ia ingin mengatakan bahwa ia sudah membayar setiap butir nasi itu dengan punggungnya sendiri, dengan air yang ia timba sejak umur tujuh warsa, dengan kayu bakar yang ia pikul dari hutan setiap pagi sebelum murid-murid lain bangun. Namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokan, di bawah kain yang dingin, dan ia tahu apa pun yang ia ucapkan hanya akan menjadi bahan tawa baru.
Maka ia diam. Ia menunduk, dan menghitung.
Itu kebiasaan lama, yang ia pelajari ketika anak-anak yang lebih besar dulu suka menyembunyikan timba airnya. Saat marah, jangan bicara. Hitung. Hitung siapa yang tertawa, siapa yang diam, siapa yang menatap ke tempat lain karena malu. Hitung, dan ingat.
Bayuwisesa tertawa paling keras. Dua murid dalam di belakangnya ikut tertawa, yang satu berwajah bulat, yang satu bermata sipit. Ki Wiradhana tersenyum sedih. Anak pendiam yang tadi dipilih keris lurus menatap tanah. Seorang tetua perempuan di sisi kiri altar, Nyai Rukminiwati, tidak tertawa dan tidak menatap tanah. Ia menatap leher Dira dengan mata yang tajam seperti mata elang.
Dan di ambang pintu dapur di ujung halaman, setengah tersembunyi di balik tiang, berdiri seorang lelaki tua berbadan bungkuk dengan sebatang sendok kayu di tangannya. Ia tidak menatap Dira. Ia menatap rak-rak pusaka, lama sekali, lalu berbalik dan menghilang ke dalam asap dapur.
"Kangmas Dira bukan pengemis!"
Suara itu melengking dari tingkat kedua.
Entah sejak kapan Wulansari menyusul naik. Ia melangkah maju dan berdiri di antara Bayuwisesa dan tangga menuju puncak altar. Tubuhnya gemetar, cundrik gading masih di tangannya, wajahnya merah sampai ke telinga.
"Ia menimba air untuk seluruh asrama sejak kecil," katanya, suaranya pecah di tengah. "Ia memikul kayu bakar untuk dapur. Ia tak pernah makan nasi Argasuryan dengan percuma. Raden tak boleh..."
"Tak boleh?" Bayuwisesa menoleh perlahan kepadanya. Senyumnya tidak hilang, tetapi matanya mendingin. "Diajeng, kau baru dipilih pusaka sepeminuman teh yang lalu. Kau bahkan belum tahu cara menghunusnya. Dan kau mau mengajariku apa yang boleh dan tak boleh di padepokan ayahku?"
Ia melangkah satu langkah mendekat. Udara di sekitar Wulansari tiba-tiba terasa panas. Tidak ada api yang terlihat, tetapi ujung jarik gadis itu bergoyang seperti tertiup angin dari mulut tungku.
Wulansari tidak mundur. Tetapi lututnya mulai goyah.
Dira tidak ingat kapan ia memutuskan untuk bergerak. Ia hanya tahu bahwa satu saat ia berdiri di puncak altar, dan saat berikutnya ia sudah berada di tingkat kedua, di depan adiknya, dengan punggung menghadap Wulansari dan wajah menghadap Bayuwisesa.
Panas itu langsung menyerangnya. Rasanya seperti berdiri terlalu dekat dengan mulut tungku di dapur, saat api sedang besar-besarnya. Kulit wajahnya perih. Matanya berair.
Namun lehernya, anehnya, tetap dingin.
"Dia adikku," kata Dira pelan. Suaranya serak, tetapi tidak gemetar. "Kalau Raden mau menghina, hina aku saja."
Bayuwisesa menatapnya lama. Untuk sesaat, sangat singkat, sesuatu melintas di matanya, sesuatu yang hampir mirip keheranan. Ia seperti baru sadar bahwa panas di sekitarnya tidak membuat anak tanpa pusaka ini mundur selangkah pun.
Lalu sesuatu itu lenyap, digantikan senyum yang lebih lebar.
"Menghinamu?" katanya. "Untuk apa? Matahari sudah melakukannya untukku."
Ia berbalik dan melangkah turun dari altar. Panas di udara pun ikut pergi. Di belakangnya, tawa-tawa kecil kembali bermunculan, lalu bisik-bisik, lalu empat kata yang sama berulang-ulang seperti tembang yang baru dihafal.
Anak yang tak tersentuh matahari.
Dira berdiri diam. Di belakangnya, Wulansari terisak tanpa suara, dahinya menempel di punggung kakaknya.
Gamelan tidak ditabuh lagi.
Biasanya, kata cerita yang ia dengar, upacara ditutup dengan gending kemenangan dan arak-arakan para murid baru mengelilingi halaman. Pagi ini tidak ada gending. Para tetua saling bertukar pandang. Beberapa berbisik di balik lengan beskap. Murid-murid baru berdiri canggung dengan pusaka di tangan, tidak tahu apakah mereka boleh bergembira.
Murid gemuk pencuri jagung bakar itu, yang tadi menangis bahagia memeluk Kyai Mega Rinonce, kini berdiri kaku dan tak berani menatap siapa pun. Seorang tetua menegur anak perempuan yang gelang perunggunya berdenting terlalu nyaring, dan anak itu buru-buru menahan pergelangannya dengan tangan yang lain.
Lalu langkah kaki terdengar di atas batu.
Dira mengangkat wajah.
Ki Ageng Suryadharma turun dari puncak altar. Ia melangkah lambat, satu anak tangga demi satu anak tangga, dan setiap langkahnya membuat halaman yang riuh kembali sunyi. Beskap putihnya tampak menyala di bawah matahari pagi. Tangan kanannya masih tergantung di hulu Kanjeng Kyai Suryamurti, tetapi kini jari-jarinya tidak lagi memutih. Jari-jari itu longgar dan tenang, seperti tangan orang yang baru saja selesai menimbang sesuatu.
Ia berhenti di tingkat kedua, tepat di depan Dira.
Dari jarak sedekat itu, Dira bisa melihat mata sang ketua dengan jelas untuk pertama kalinya. Mata itu cokelat gelap, hampir hitam, dan apa yang ada di dalamnya membuat dada Dira sesak. Tidak ada amarah di sana, tidak juga belas kasihan. Tatapan itu lebih mirip tatapan orang yang menemukan barang lama hilang di tempat yang tak pernah ia duga.
Ki Ageng Suryadharma menatapnya, sedikit terlalu lama.
Lalu tatapan itu turun ke leher Dira, ke kain lurik cokelat tua yang melilitnya.
"Sudira," kata sang ketua akhirnya. Itu pertama kalinya dalam delapan belas warsa ia menyebut nama itu. "Lepaskan kain di lehermu."
Di sisi kiri altar, Nyai Rukminiwati melangkah maju begitu cepat hingga ujung kembennya berdesir.