Sang Penelan Pusaka

Bab 10Hukum Dapur

Tiga hari berlalu tanpa kejadian apa-apa, dan itulah yang membuat Dira gelisah.

Gandawasa tidak lagi mengganggunya. Ia tidak lagi menancapkan pisau, tidak lagi menyuruh menimba seratus timba, tidak lagi mencabut jatah makan. Ia memberi Dira pekerjaan yang sama dengan abdi-abdi lain, berbicara kepadanya hanya bila perlu, dan selebihnya menganggap Dira tidak ada. Punggungnya masih kaku oleh bekas tiga puluh pukulan rotan. Ia berjalan sedikit membungkuk dan meringis setiap kali harus mengangkat dandang. Namun ia tidak sekali pun menatap Dira dengan marah.

Ia bahkan tersenyum sekali, saat mereka berpapasan di depan tungku.

Senyum itu yang paling mengganggu.

"Dia sudah kapok," kata Gendhing sambil mengunyah singkong rebus di sudut dapur. "Tiga puluh pukulan. Siapa yang tak kapok?"

"Kakang Ganda tak pernah kapok," kata Gendhis. "Aku kenal dia lima warsa. Dia seperti ular sawah. Kalau diam, artinya sedang menunggu."

Dira setuju dengan Gendhis. Tetapi ia tak tahu apa yang ditunggu.

Setiap pagi ia bertemu Wulansari di bawah pohon sawo. Adiknya bercerita tentang latihan murid luar: jurus-jurus dasar Argasuryan, cara bernapas sambil menahan kuda-kuda, cara mengalirkan sedikit tenaga dalam ke bilah pusaka hingga bilah itu bersinar redup. Sutarga masih menjadi pembimbingnya, tetapi sejak Wulansari berhenti membela kakaknya di depan orang, Sutarga tak lagi punya alasan menamparnya. Ia hanya mengabaikannya. Wulansari bilang itu jauh lebih baik.

Setiap pagi pula Dira menceritakan apa yang ia lihat di dapur. Senyum Gandawasa. Sutarga yang mengendap-endap ke bilik penyimpanan tetua pada malam kedua. Joyokusumo yang tak terlihat di latihan pagi karena, kata Gendhing, semalaman berjudi dadu di desa bawah. Malam itu malam pasaran Kliwon.

"Mereka merencanakan sesuatu," kata Wulansari pada pagi ketiga.

"Aku tahu."

"Hati-hati, Kangmas."

"Aku selalu hati-hati."

Wulansari menatapnya tajam. Dira mengangkat tangannya. "Janji. Tak ada 'tidak apa-apa'. Aku takut, Wulan. Aku takut dan tak tahu harus takut pada apa."

Wulansari memeluknya sebentar sebelum berlari kembali ke asrama.


Pada hari keempat, Nyai Rukminiwati turun gunung.

Kabar itu menyebar di dapur sebelum matahari setinggi tombak. Ki Ageng Suryadharma mengutus Nyai ke desa Sumberwatu di kaki Lawu untuk memeriksa sumur desa yang tiba-tiba keruh dan berbau belerang. Perjalanan ke sana memakan setengah hari jalan kaki. Pemeriksaan dan perjalanan pulang membutuhkan setidaknya dua hari.

"Aneh," kata Gendhis sambil mengulek bumbu. "Biasanya yang disuruh memeriksa sumur desa itu murid dalam. Bukan tetua."

"Mungkin sumurnya istimewa," kata Gendhing.

"Mungkin."

Dira mengupas kentang di bangku dan tidak berkata apa-apa. Tetapi ia menghitung. Nyai pergi. Nyai, satu-satunya orang yang secara terbuka melindunginya di padepokan, pergi dua hari, atas perintah Ki Ageng sendiri.

Di sudut dapur, Mbah Karta mengaduk sayur dengan sendok kayunya dan bersiul-siul seperti biasa. Namun siulannya pagi itu terdengar lain. Lebih rendah, lebih lambat, seperti kicau burung yang melihat elang berputar di langit.


Sore harinya, dapur sibuk luar biasa.

Malam ini malam Jumat Legi, malam ketika para tetua Argasuryan mengadakan selamatan bulanan di balairung. Menurut adat, selamatan itu harus menyajikan ingkung: ayam kampung utuh yang direbus dalam santan dan rempah sampai dagingnya lepas dari tulang, lalu disajikan di atas tampah beralas daun pisang. Tujuh ekor ingkung untuk tujuh belas tetua, ditambah nasi gurih, urap, telur pindang, dan tumpeng kecil.

Ingkung adalah lauk paling berharga di dapur. Ayam-ayamnya dipilih khusus dari kandang tetua, dimasak sendiri oleh Mbah Karta, dan tak boleh disentuh abdi mana pun kecuali yang ditugasi mengangkutnya. Aturan dapur Argasuryan, aturan yang sudah ada sejak padepokan berdiri dan diawasi langsung oleh Ki Wiradhana sebagai tetua pengawas dapur, menyatakan dengan jelas: abdi yang mencuri lauk tetua dihukum sepuluh cambukan di depan seluruh abdi.

Sepuluh cambukan. Bukan pukulan rotan. Cambuk kulit kerbau.

Dira ditugasi menjaga api di bawah dandang ingkung. Itu tugas yang membosankan tapi penting: api harus kecil dan tetap, supaya santan tidak pecah dan daging ayam matang perlahan. Ia duduk di depan tungku sepanjang sore, menambah sebatang kayu setiap kali api mengecil, dan memperhatikan dapur di sekitarnya.

Ia melihat Gandawasa mondar-mandir memberi perintah kepada abdi-abdi lain.

Ia melihat Sutarga datang ke dapur, padahal murid dalam dilarang masuk dapur abdi tanpa izin tetua pengawas. Ia membawa selembar daun lontar bercap Ki Wiradhana, katanya surat izin untuk memeriksa persiapan selamatan.

Ia melihat Joyokusumo menyusul tak lama kemudian, tanpa surat izin, berdiri di dekat pintu belakang sambil bersiul-siul.

Dira menghitung semuanya.

Menjelang senja, Mbah Karta mengangkat ketujuh ingkung dari dandang dengan sendok kayu panjangnya, satu per satu, dan meletakkannya di atas tujuh tampah. Uap gurih memenuhi dapur. Bau santan, serai, daun salam, dan lengkuas begitu harum hingga perut semua abdi berbunyi serentak.

Lalu Gandawasa memerintahkan semua abdi keluar dapur untuk menyiapkan balairung. Menggelar tikar, menyalakan pelita, menata anglo dupa. Dira juga disuruh keluar. Hanya Mbah Karta yang tetap tinggal, tertidur di atas karung berasnya setelah seharian memasak.

Ketika Dira kembali ke dapur sepeminuman teh kemudian untuk mengambil kendi air, tujuh tampah itu masih di atas meja.

Tetapi di atas tampah ketujuh tidak ada ingkung. Hanya daun pisang yang berminyak dan basah oleh kuah santan.


"Pencuri!"

Teriakan Gandawasa menggema ke seluruh dapur, lalu keluar pintu, lalu ke halaman barak. Belum habis satu tarikan napas, belasan abdi sudah berkerumun di ambang pintu. Si kembar menyeruak di antara mereka dengan wajah pucat.

"Satu ingkung hilang!" Gandawasa menunjuk tampah kosong itu dengan tangan gemetar, entah karena marah atau karena sandiwara yang bagus. "Ingkung untuk selamatan tetua! Siapa yang berani?"

Tidak ada yang menjawab.

"Geledah barak," kata Sutarga, yang entah bagaimana sudah berdiri di samping Gandawasa. "Pencurinya pasti abdi. Ingkung sebesar itu tak bisa dimakan habis dalam sepeminuman teh. Pasti disembunyikan."

Gandawasa mengangguk dengan wajah yang terlalu cepat setuju.

Mereka menggeledah barak abdi. Satu per satu tikar dibalik, satu per satu buntelan dibuka. Para abdi berdiri berjajar di luar dengan wajah cemas. Dira berdiri di ujung barisan. Ia tahu apa yang akan ditemukan sebelum ada yang menemukannya.

Joyokusumo yang menemukannya.

Di bawah tikar pandan di sudut barak yang paling lembap, di bawah buntelan berisi dua helai jarik, satu baju lurik, sebuah sisir kayu yang giginya patah tiga, dan sebuah kendi kecil dari tanah liat, tergeletak bungkusan daun pisang yang berminyak. Di dalamnya ada tulang-tulang ayam yang sudah setengah dikunyah, sisa daging yang berlumur santan, dan kepala ayam yang matanya masih melotot.

"Ini tikarnya siapa?" tanya Joyokusumo keras-keras, meski semua orang tahu jawabannya.

Semua kepala menoleh ke ujung barisan.


Ki Wiradhana datang ke halaman barak dengan langkah pelan dan wajah sedih.

Ia mengenakan beskap hitam bersulam benang emas berbentuk matahari, janggut putihnya yang panjang bergoyang ditiup angin senja. Di belakangnya mengikuti dua murid dalam yang bertugas sebagai penegak aturan. Ia melihat bungkusan tulang ayam di tangan Joyokusumo. Ia melihat tampah kosong yang dibawa Gandawasa. Lalu ia melihat Dira.

"Ah, ngger," katanya, menggeleng-geleng dengan suara yang penuh iba. "Ah, ngger, ngger."

"Bukan saya, Ki," kata Dira.

"Semua yang tertangkap selalu bilang begitu."

"Saya menjaga api di bawah dandang sepanjang sore. Semua orang melihat saya. Lalu Kakang Gandawasa menyuruh semua abdi keluar ke balairung. Saya keluar bersama yang lain. Saya baru kembali untuk mengambil kendi air, dan ingkung itu sudah hilang."

"Ada yang bisa memastikan kau tak menyelinap kembali ke dapur di antaranya?"

"Kami!" Gendhis melangkah maju, Gendhing di sampingnya. "Kami bersamanya terus di balairung, Ki. Kami menggelar tikar bersama-sama. Dia tak ke mana-mana."

"Terus? Sepanjang sepeminuman teh itu? Tak sekejap pun kalian berpaling?"

Si kembar saling pandang. Ragu. Mereka memang sempat berpencar, Gendhis menyalakan pelita di sudut timur, Gendhing mengangkut anglo di sudut barat. Dira menata tikar di tengah. Tak ada yang terus-menerus memperhatikannya.

"Saya melihatnya," kata Gandawasa tiba-tiba. "Saya melihatnya menyelinap keluar dari balairung lewat pintu samping, Ki. Ke arah dapur."

"Bohong!" Gendhis berteriak.

"Gendhis," tegur Ki Wiradhana lembut. "Jangan berteriak di depan tetua."

Dira menatap tulang-tulang ayam di tangan Joyokusumo. Lalu ia menatap tangannya sendiri, yang masih dibalut sobekan kain jarik berminyak sirih.

"Ki," katanya, suaranya tenang. "Boleh saya bicara?"

Ki Wiradhana mengangguk. "Silakan, ngger."

"Tulang-tulang itu berlumur santan yang masih basah dan berminyak. Siapa pun yang makan ingkung itu, tangannya pasti berlumur minyak santan juga. Bau serai dan lengkuas susah hilang dari kulit, apalagi dari kain." Ia mengangkat kedua tangannya yang terbalut. "Kain di tangan saya hanya berbau sirih dan minyak kelapa. Silakan Ki cium sendiri. Tak ada bau santan. Tak ada bau serai."

Hening sejenak. Beberapa abdi saling berbisik.

Ki Wiradhana mendekat. Ia membungkuk dan mencium balutan di tangan Dira. Wajahnya tak berubah.

"Sirih," katanya. "Benar."

"Lalu..."

"Lalu kau bisa saja melepas balutanmu sebelum makan," kata Ki Wiradhana lembut, "lalu mencuci tanganmu di sumur, lalu memakai balutan itu lagi. Itu tak sulit, ngger. Anak secerdas dirimu pasti terpikir."

Dira membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

"Aku tak meragukan kecerdasanmu," lanjut Ki Wiradhana, dan suaranya masih begitu lembut, begitu penuh iba, seperti kakek yang menegur cucunya. "Justru karena kau cerdas, ngger, aku tak bisa menganggap kebersihan tanganmu sebagai bukti. Yang kumiliki di sini adalah tulang ayam di bawah tikarmu dan kesaksian kepala dapur. Itu bukti yang cukup menurut aturan dapur."

"Mbah Karta," kata Dira cepat. "Mbah Karta ada di dapur sepanjang waktu. Dia pasti melihat siapa yang mengambil ingkung itu."

Semua kepala menoleh ke ambang pintu dapur.

Mbah Karta berdiri di sana, rupanya terbangun oleh keributan. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang hampir botak dan menatap kerumunan itu dengan mata keruh yang berkedip-kedip.

"Mbah," kata Ki Wiradhana dengan suara yang lebih keras, seperti bicara kepada orang tuli. "Apa Mbah melihat siapa yang mengambil ingkung?"

"Ingkung?" Mbah Karta mengernyit. "Hari ini kita masak ingkung?"

Beberapa abdi menahan tawa. Gandawasa menyeringai.

"Tujuh ingkung, Mbah. Untuk selamatan tetua."

"Ooh." Mbah Karta mengangguk-angguk lambat. "Pantas baunya enak. Kukira aku mimpi." Ia menguap lebar. "Aku tidur dari tadi, Ki. Tua-tua begini kalau sudah tidur, gajah lewat pun tak terasa."

Ia berbalik dan masuk kembali ke dapur, menyeret kakinya.

Dira menatap punggung lelaki tua itu. Ia tak tahu apa yang ia harapkan. Mbah Karta yang menahan dandang mendidih dengan satu tangan. Mbah Karta yang memasak sambal rahasia orang lain. Mbah Karta yang menyalakan tungku dengan kayu jati yang katanya tak ada di padepokan. Ia berharap Mbah Karta berbalik dan berkata sesuatu. Apa saja.

Mbah Karta tidak berbalik.


"Sepuluh cambukan," kata Ki Wiradhana dengan suara berat. "Sesuai aturan dapur Argasuryan. Di halaman ini, di depan semua abdi, malam ini juga, setelah selamatan selesai."

Gendhis menjerit. Gendhing menahan saudarinya dengan kedua tangan.

"Yang menjalankan hukuman," lanjut Ki Wiradhana, menoleh ke dua murid dalam penegak aturan di belakangnya, lalu berubah pikiran, "biar Joyokusumo saja. Dia yang menemukan barang bukti. Sudah adat, penemu bukti yang menjalankan hukuman."

Joyokusumo membungkuk. Matanya yang sipit nyaris tak terlihat ketika ia tersenyum.


Mereka melakukannya di halaman barak, di bawah cahaya dua obor bambu yang ditancapkan di tanah. Belasan abdi berdiri melingkar. Sebagian menunduk, sebagian menonton dengan wajah tak tega, sebagian lagi, Dira bisa melihatnya, menonton dengan rasa ingin tahu yang lapar, seperti orang menonton sabung ayam.

Dira disuruh berlutut dengan kedua tangan memeluk tiang bambu yang ditanam di tengah halaman. Bajunya dibuka sampai pinggang. Kain di lehernya tidak disentuh siapa pun. Larangan Nyai masih berlaku, dan tak ada yang mau menerima tiga puluh pukulan rotan.

Ia tidak menoleh ketika mendengar Joyokusumo melangkah ke belakangnya. Ia tidak menoleh ketika mendengar cambuk kulit kerbau itu diurai dan dilecutkan sekali ke udara sebagai percobaan, bunyinya seperti dahan patah.

Ia memejamkan mata.

Jangan bicara. Hitung.

Cambukan pertama.

Rasanya seperti seseorang menempelkan besi membara di punggungnya, dari bahu kanan sampai pinggang kiri. Napasnya terhenti. Tangannya mencengkeram tiang bambu begitu kuat hingga balutan kain di jari-jarinya robek dan luka lamanya terbuka lagi.

Satu.

Ia tidak berteriak.

Cambukan kedua menyilang di atas yang pertama.

Dua.

Cambukan ketiga.

Tiga. Sutarga di sisi kiri, tersenyum. Gandawasa di sisi kanan, tangan bersedekap, tidak tersenyum, hanya menatap.

Cambukan keempat.

Empat. Gendhis menangis keras dan dipeluk Gendhing. Gendhing tidak menangis. Matanya basah dan merah, menatap Joyokusumo seperti menatap ular.

Cambukan kelima. Keenam.

Lima. Enam. Di ambang pintu dapur, gelap. Tak ada siapa-siapa di sana. Tidak ada Mbah Karta.

Cambukan ketujuh membuatnya hampir terjatuh. Pandangannya berkunang-kunang. Ia menggigit bibirnya sampai berdarah.

Tujuh. Ki Wiradhana di bawah obor, janggut putihnya berkilau keemasan oleh api. Wajahnya sedih. Masih sedih. Terlalu tenang untuk benar-benar sedih.

Cambukan kedelapan. Kesembilan.

Delapan. Sembilan. Dingin di lehernya. Dingin yang kembali, merayap dari bawah kain, turun ke bahu, ke punggungnya yang terbakar, seperti air sumur yang dituang di atas luka. Untuk sesaat, sesaat saja, panas di punggungnya mereda.

Cambukan kesepuluh.

Sepuluh.

Dira tidak berteriak sekali pun.


Ketika semuanya selesai, ia tak bisa berdiri. Ia tetap berlutut memeluk tiang bambu, kepalanya tertunduk di antara kedua lengannya, napasnya pendek-pendek dan bergetar. Darah menetes dari punggungnya ke tanah dan bercampur dengan debu.

Para abdi mulai bubar. Ki Wiradhana sudah pergi sejak cambukan terakhir, kembali ke balairung untuk melanjutkan selamatan. Gendhis berlari ke arah Dira tetapi ditahan Gandawasa. "Belum," kata kepala dapur itu. "Dia harus tetap di situ sampai obor padam. Itu adat."

Obor masih tinggi. Setidaknya sepenanak nasi lagi.

Dira mendengar langkah-langkah menjauh. Ia mendengar Gendhis memaki-maki dan diseret pergi oleh saudaranya. Ia mendengar pintu barak ditutup. Lalu sunyi, hanya desis obor dan angin malam yang mengusap punggungnya yang terbuka.

Hampir sunyi.

Di balik tiang, tak jauh di belakangnya, dua orang berdiri dalam bayangan, mengira Dira sudah tak sadarkan diri. Suara mereka rendah, tetapi angin malam membawanya dengan jelas.

"Kau terlalu keras di cambukan ketujuh," kata suara Sutarga. "Dia hampir pingsan."

"Biar saja," jawab suara Joyokusumo, terengah-engah dan puas. "Utang dadu dua kerbau, sekarang sudah lunas setengah. Kata Ki Wiradhana, setengah lagi kalau..."

"Ssst."

"Dia tak dengar. Lihat, kepalanya sudah terkulai."

Hening sejenak. Lalu Joyokusumo melanjutkan, lebih pelan:

"Lagi pula Ki Wiradhana sudah pesan. Pukul secukupnya, supaya dia jera. Tapi jangan sampai mati."

"Kenapa?"

Joyokusumo terkekeh pelan.

"Belum," katanya. "Itu kata Ki Wiradhana. Belum."