Sang Penelan Pusaka

Bab 9Kain di Leher

Dira melangkah mundur satu langkah. Gandawasa melangkah maju dua langkah.

"Kerjaan menunggu, Kakang," kata Dira tenang. "Kayu di gudang samping belum..."

"Kayu bisa menunggu." Gandawasa memiringkan kepala, menatap leher Dira seperti kucing menatap tikus di bawah lemari. "Aku cuma mau lihat sebentar. Apa salahnya? Kita kan sesama abdi. Sesama abdi tak boleh punya rahasia."

"Luka bakar, Kakang. Nyai sudah bilang di altar. Semua orang dengar."

"Ya, ya. Luka bakar." Gandawasa mengangkat lengan kanannya sendiri, memperlihatkan kulit yang belang-belang oleh bekas cipratan minyak panas, ada yang memutih, ada yang mengerut seperti kulit jeruk tua. "Lihat ini. Ini luka bakar. Aku tak menyembunyikannya. Tak ada yang menyuruhku membungkusnya. Tak ada tetua yang berbohong di depan Ki Ageng demi lenganku." Ia menurunkan lengannya. "Jadi luka bakarmu pasti istimewa sekali, ya?"

Dira tidak menjawab.

"Atau," Gandawasa merendahkan suaranya, "memang bukan luka bakar."

Ia mengulurkan tangan.

Dira berbalik dan berlari.


Ia tidak berlari ke arah dapur. Gandawasa pasti mengira ia akan ke sana, berlindung di dekat Mbah Karta atau si kembar. Ia berlari ke arah sebaliknya, ke sumur besar di belakang barak abdi, tempat setiap pagi belasan abdi berkumpul untuk menimba air dan mencuci muka. Di sana ada orang. Di depan orang, Gandawasa harus berpikir dua kali.

Itu rencananya.

Rencana itu gagal karena satu hal kecil yang tak ia perhitungkan: lumpur.

Semalam gerimis turun. Jalan setapak dari lumbung ke sumur, yang biasanya keras dan berdebu, berubah menjadi licin seperti punggung belut. Kaki telanjang Dira tergelincir di tikungan dekat kandang kambing. Ia terjatuh dengan bahu lebih dulu ke tanah, dan sebelum sempat bangkit, sebuah lutut seberat karung beras menekan punggungnya.

"Mau ke mana, Anak Matahari?"

Napas Gandawasa berbau arak semalam. Tangannya yang besar mencengkeram tengkuk Dira dan membalikkan tubuhnya dengan mudah, seperti membalik ikan di atas wajan.

Dira meronta. Ia menendang, mencakar, memukul dengan tangannya yang terbalut kain. Namun Gandawasa empat warsa lebih tua, dua kali lebih berat, dan sudah bertahun-tahun mengangkat dandang berisi air mendidih. Pukulan Dira mengenai dadanya seperti kepalan tangan anak kecil yang mengenai tiang rumah.

"Diam."

Kambing-kambing di kandang mengembik ribut. Di arah sumur, beberapa kepala menoleh. Abdi-abdi yang sedang menimba air berhenti, berdiri dengan timba di tangan, dan menonton.

Tak ada yang mendekat.

Gandawasa menahan kedua pergelangan tangan Dira di atas kepalanya dengan satu tangan. Tangan lainnya menuju leher Dira, ke simpul kain itu.

Jari-jarinya yang tebal meraba-raba simpul itu, mencari ujung yang bisa ditarik. Ia mengumpat ketika tak menemukannya.

"Simpul apa ini? Simpul tali kerbau?"

"Lepaskan!"

"Kalau tak bisa dibuka..." Gandawasa mencabut pisau dapur dari pinggangnya. Bilahnya berkilat kusam di bawah cahaya pagi yang kelabu. "...ya dipotong saja."

Dira berhenti meronta.

Bukan karena takut pada pisau itu. Ia sudah melihat pisau itu ditancapkan di samping kepalanya dua malam lalu. Ia berhenti karena sesuatu yang lain. Saat bilah pisau mendekati lehernya, rasa dingin itu kembali, rasa dingin yang sama seperti di altar, ketika cahaya fajar membelok, ketika ia mengulurkan tangan ke rak pusaka. Kali ini lebih tajam. Dingin itu menjalar dari kulit di bawah kain ke tengkuk, ke bahu, ke tulang belakang, seperti air sumur yang dituang perlahan dari kepala.

Pisau itu menyelinap di antara kain dan kulitnya.

Satu tarikan.

Kain lurik cokelat tua yang sudah melilit lehernya selama delapan belas warsa robek dan terlepas.


Untuk sesaat, tak terjadi apa-apa.

Gandawasa membungkuk dan menatap leher Dira dari dekat. Matanya menyipit. Di arah sumur, beberapa abdi yang penasaran melangkah satu atau dua langkah lebih dekat, menjulurkan leher.

Dira tidak bisa melihat lehernya sendiri. Ia hanya bisa melihat wajah Gandawasa yang menatapnya, dan ia mencoba membaca apa yang dilihat lelaki itu dari ekspresinya.

Pertama, kebingungan.

Lalu kekecewaan.

Lalu tawa.

"Ini?" Gandawasa terbahak, suaranya menggema sampai ke kandang kambing. "Ini yang disembunyikan? Ini?"

Ia menoleh ke arah abdi-abdi di sumur. "Lihat! Lihat semua! Luka bakar istimewa si Anak Matahari!"

Beberapa abdi mendekat. Dira bisa melihat wajah mereka dari bawah: penasaran, lalu bingung, lalu sebagian ikut tertawa, sebagian mengernyit seperti melihat sesuatu yang tak mereka pahami.

"Cuma memar," kata seorang abdi perempuan.

"Seperti bekas dicekik," kata yang lain.

"Bukan, itu seperti urat," kata yang ketiga. "Urat biru. Seperti urat di tangan orang tua."

"Tanda lahir?"

"Ah, itu penyakit kulit. Keponakanku punya yang seperti itu. Gara-gara mandi di kali waktu musim pancaroba."

Gandawasa masih tertawa. "Delapan belas warsa dibungkus kain seperti barang pusaka, ternyata cuma memar biru! Nyai Rukminiwati berbohong di depan Ki Ageng untuk memar biru!"

Dira tak tahu harus merasa lega atau malu. Mereka melihatnya, dan mereka hanya melihat memar. Penyakit kulit. Tanda lahir. Tak ada yang menjerit, tak ada yang lari ketakutan, tak ada yang menyebut nama-nama aneh. Hanya memar.

Lalu kenapa Nyai merahasiakannya begitu lama?

Lalu kenapa dingin itu tidak pergi?

Dingin itu justru makin dalam. Kini bukan hanya di lehernya, tetapi juga di udara di sekitarnya. Embun di rumput dekat kepalanya sempat memutih, seperti membeku, lalu mencair lagi sebelum ada yang memperhatikan.

Gandawasa masih tertawa ketika ia mengulurkan jari telunjuknya dan menyentuh leher Dira, menekan memar biru itu seperti menekan buah busuk untuk mengetahui seberapa lunak.

Tawanya berhenti.

Ia menarik tangannya dengan cepat, seperti menyentuh bara. Namun bukan bara. Dira melihat wajah Gandawasa berubah, dari geli menjadi bingung, lalu menjadi sesuatu yang lain. Lelaki itu menatap jari telunjuknya. Ujung jari itu pucat. Bukan merah seperti terbakar, tetapi putih kebiruan, seperti jari orang yang terlalu lama merendam tangan di sungai pegunungan di musim kemarau.

Gandawasa menggosok-gosok jarinya dengan jari lain. Ia mengepalkan tangan, membukanya, mengepalkannya lagi.

"Apa..." gumamnya.

"Gandawasa."

Suara itu datang dari belakang, dari arah jalan setapak menuju balairung. Tidak keras. Tidak tinggi. Namun suara itu memotong udara pagi seperti pisau memotong benang, dan semua abdi di sekitar sumur langsung menunduk serempak.

Nyai Rukminiwati berdiri di jalan setapak dengan kemben gelap dan selendang kelabu di bahu. Rambutnya yang beruban disanggul rapi. Wajahnya tak menunjukkan apa pun, persis seperti di altar dua hari lalu, ketika ia berbohong di depan Ki Ageng tanpa berkedip.

Tetapi Dira, yang mengenal Nyai sejak bisa mengingat, melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain. Napasnya tersengal sedikit, napas orang yang baru berjalan sangat cepat, terlalu cepat untuk seorang tetua yang katanya sedang bersemadi pagi di balairung.

Bagaimana ia tahu? Balairung jauh dari sumur ini. Tak ada yang berlari memanggilnya.

"Nyai." Gandawasa buru-buru bangkit, melepaskan pergelangan tangan Dira, dan menyembunyikan pisaunya di balik punggung. "Nyai, saya cuma... ini cuma..."

Nyai Rukminiwati tidak menatapnya. Ia berjalan melewati Gandawasa seperti melewati tiang bambu, berlutut di samping Dira di atas lumpur tanpa memedulikan kembennya yang langsung kotor, dan memungut kain lurik cokelat tua yang robek itu dari tanah.

Ia tidak berkata apa-apa kepada Dira. Ia hanya mengangkat kepala pemuda itu dengan satu tangan, lembut sekali, lalu melilitkan kain itu kembali ke lehernya. Kainnya robek, jadi ia melilitnya dua kali dan menyelipkan ujungnya dengan gerakan cepat dan terlatih, gerakan orang yang sudah ribuan kali melakukannya.

Begitu kain itu kembali menutupi kulitnya, dingin itu surut, perlahan-lahan, seperti air pasang yang mundur.

Nyai Rukminiwati membungkuk lebih dekat. Bibirnya hampir menyentuh telinga Dira.

"Jangan pernah," bisiknya. Suaranya begitu pelan hingga hanya Dira yang bisa mendengar, dan begitu keras hingga Dira merasa kata-kata itu dipahat langsung ke tulangnya. "Jangan pernah biarkan siapa pun melihatnya lagi. Siapa pun."

Lalu ia berdiri, membersihkan lumpur dari tangannya dengan ujung selendang, dan untuk pertama kalinya menoleh kepada Gandawasa.


"Kepala dapur," kata Nyai Rukminiwati.

"Nyai."

"Siapa yang memberimu izin menyentuh anak asuhanku?"

"Dia bukan anak asuhan lagi, Nyai. Ki Ageng sendiri yang..."

"Dia anak yang kubawa ke padepokan ini dengan tanganku sendiri." Suara Nyai tidak meninggi sedikit pun. "Selama aku masih bernapas di lereng Lawu, ia tetap anak asuhanku. Abdi atau bukan."

Gandawasa menelan ludah. Wajahnya memerah, setengah malu, setengah marah. "Saya cuma mau tahu apa yang disembunyikan. Dia bisa saja membawa penyakit menular, Nyai. Semua abdi tidur satu barak dengannya. Saya kepala dapur, saya wajib..."

"Kau wajib memasak."

Gandawasa terdiam.

"Hukumannya tiga puluh pukulan rotan," kata Nyai Rukminiwati, "di halaman barak, di depan semua abdi. Siang ini, sebelum makan siang. Lalu kau berpuasa sampai besok pagi."

"Tiga puluh?" Gandawasa terbelalak. "Nyai, itu... itu hukuman untuk abdi yang mencuri pusaka! Saya cuma membuka kain! Apa salah saya?"

"Kesalahanmu," kata Nyai, "adalah melanggar perintah tetua."

"Perintah yang mana? Tak pernah ada perintah soal kain itu!"

"Sekarang ada."

Nyai Rukminiwati berbalik dan menatap abdi-abdi yang berkerumun di sekitar sumur. Mereka semua langsung menunduk lebih dalam lagi.

"Kalian semua mendengarnya," katanya. "Mulai hari ini, siapa pun yang menyentuh kain di leher Sudira, siapa pun yang mencoba membukanya, siapa pun yang membicarakan apa yang ada di bawahnya, akan menerima hukuman yang sama. Tiga puluh pukulan. Tak peduli abdi, murid luar, atau murid dalam."

Tak ada yang menjawab. Tak ada yang berani.

"Dan apa yang kalian lihat pagi ini," lanjutnya, suaranya kini lebih pelan dan karena itu lebih menakutkan, "adalah memar. Penyakit kulit biasa. Tak ada yang istimewa. Tak ada yang perlu diceritakan kepada siapa pun. Benar?"

"Benar, Nyai," jawab mereka serempak, terbata-bata.

"Bagus."

Ia menoleh kembali kepada Dira, yang sudah duduk di atas lumpur sambil memegangi lehernya. Untuk sesaat, sangat singkat, Dira melihat sesuatu melintas di mata tetua itu, sesuatu yang belum pernah ia lihat di wajah itu.

Takut.

Lalu sesuatu itu lenyap, dan Nyai Rukminiwati kembali menjadi Nyai Rukminiwati yang biasa: dingin, tegak, tak tersentuh.

"Bangun," katanya kepada Dira. "Mandi. Kau bau kambing."

Ia berjalan pergi ke arah balairung tanpa menoleh lagi.


Gandawasa menerima tiga puluh pukulan rotan siang itu di halaman barak abdi.

Dira tidak menonton. Ia berada di gudang samping, memecah kayu, dan ia sengaja memukulkan kapaknya keras-keras setiap kali terdengar bunyi rotan beradu dengan kulit, supaya ia tak perlu mendengar jeritan Gandawasa. Ia tidak merasa menang. Yang ia rasakan hanyalah ada sesuatu yang salah, dan sesuatu itu jauh lebih besar daripada Gandawasa.

Tiga puluh pukulan untuk membuka kain.

Jangan pernah biarkan siapa pun melihatnya lagi.

Takut.

Setelah selesai memecah kayu, ia pergi ke sumur dan menimba air untuk mandi, seperti yang diperintahkan Nyai. Ia membasuh lumpur dari punggungnya, dari lengannya, dari rambutnya. Lalu, dengan hati-hati, ia mengendurkan kain di lehernya sedikit dan membasuh kulit di bawahnya dengan telapak tangan.

Kulit itu terasa biasa. Halus, sedikit dingin, tak ada bekas luka, tak ada keriput bekas terbakar.

Ia menunduk ke dalam timba berisi air. Permukaannya bergoyang, memantulkan langit kelabu dan wajahnya yang kabur. Ia mencoba menarik kain itu lebih rendah supaya bisa melihat lehernya di pantulan air.

Lalu ia berhenti.

Jangan pernah biarkan siapa pun melihatnya lagi. Siapa pun.

Apakah siapa pun juga berarti dirinya sendiri?

Dira menatap pantulan wajahnya yang bergoyang di air timba. Lalu ia mengencangkan kembali kain itu, menuang air timba ke tanah, dan kembali ke dapur.


Malam itu, ketika bulan sudah tinggi dan barak abdi sudah gelap, Gandawasa tidak tidur di tikarnya.

Ia duduk di balik kandang kambing, di tempat yang sama tempat Sutarga biasa membuang kendi-kendi arak kosong. Punggungnya terbakar oleh tiga puluh garis merah yang membengkak. Perutnya kosong karena puasa. Dan jari telunjuk kanannya, jari yang menyentuh leher Dira pagi tadi, masih terasa kebas. Sepanjang hari ia menggosoknya, merendamnya di air hangat, mendekatkannya ke api tungku. Jari itu tidak sakit. Hanya kebas, seperti bukan miliknya lagi.

Dua sosok berudeng merah muncul dari kegelapan dan berjongkok di depannya.

"Kudengar kau dipukul tiga puluh kali," kata Sutarga, dengan nada yang separuh simpati, separuh geli.

"Gara-gara si Anak Matahari," tambah Joyokusumo.

Gandawasa tidak menjawab. Ia menatap jari telunjuknya dalam gelap.

"Nyai Rukminiwati melindunginya," katanya akhirnya. Suaranya serak dan rendah. "Selama Nyai ada, kita tak bisa menyentuhnya secara terang-terangan."

"Lalu?"

Gandawasa mengangkat wajah. Matanya berkilat dalam cahaya bulan, kilat yang membuat Sutarga dan Joyokusumo saling pandang.

"Lalu kita butuh cara yang tak bisa dibela Nyai," katanya. "Cara yang membuat dia dihukum oleh aturan padepokan sendiri. Aturan yang bahkan Nyai tak bisa langgar."

Joyokusumo tersenyum pelan. "Aku punya ide."