Bab 14Darah di Bilah Retak
Darah itu tidak mengalir di atas bilah. Darah itu masuk.
Dira melihatnya dengan jelas dalam cahaya sumbu yang sekecil kunang-kunang. Tetes darah gelap itu menyentuh retakan di tengah bilah, dan retakan itu meminumnya seperti tanah kering di musim kemarau meminum hujan pertama. Sebelum Dira sempat berkedip, tak ada lagi setetes pun di permukaan logam hitam itu. Tak ada noda, tak ada bekas.
Lalu retakan itu menyala.
Kali ini bukan bara yang jauh di dalam abu. Kali ini merah tua, seperti logam di tungku empu yang hampir siap ditempa. Cahaya itu merambat dari tengah bilah ke ujung, lalu dari tengah ke pangkal, mengikuti setiap lekuk retakan yang halus seperti rambut, sampai seluruh bilah kecil itu tampak dililit benang api.
Burung jalak di ganjanya menyala paling terang.
Dira mundur. Ia ingin mundur. Ia memerintahkan tubuhnya untuk mundur. Tubuhnya tidak mau.
Tangannya yang terluka masih terangkat di udara, jari telunjuknya masih menunjuk ke arah keris itu, dan luka kecil di ujungnya kini tidak lagi meneteskan darah. Luka itu berdenyut, dan setiap denyut menarik sesuatu dari dalam dirinya. Bukan darah. Sesuatu yang lebih dalam dari darah. Hangat, seperti uap dari nasi baru. Dingin, seperti air sendang. Keduanya sekaligus.
"Tidak," bisiknya. "Tunggu..."
Keris kecil itu terangkat dari tumpukan besi.
Pelan. Tidak seperti Nagageni yang melonjak, tidak seperti cundrik gading Wulansari yang melayang lembut. Keris itu terangkat seperti orang tua yang bangun dari tidur panjang, dengan susah payah dan tersendat-sendat, sejengkal, lalu dua jengkal, lalu berhenti melayang di udara tepat setinggi telapak tangan Dira yang terbuka.
Ujung bilahnya berputar perlahan, mencari arah, seperti kepala ular yang mencium bau mangsa, menoleh-noleh ke kiri, ke kanan, lalu berhenti.
Menunjuk tepat ke tengah telapak tangan Dira.
"Tunggu," bisik Dira lagi.
Keris itu tidak menunggu.
Ia tak sempat melihat keris itu bergerak. Satu saat keris itu melayang sejengkal dari tangannya. Saat berikutnya, ujung bilahnya menyentuh kulit telapak tangannya, tepat di tengah, di garis tangan yang menurut Mbok Sarini dulu adalah garis umur.
Dira menunggu rasa sakit. Rasa sakit ditusuk keris. Ia sudah membayangkannya sejak keris itu berputar mencari arah: bilah logam yang menembus daging dan tulang, darah yang menyembur, jeritannya sendiri.
Rasa sakit itu tidak datang.
Yang datang adalah sesuatu yang jauh lebih aneh.
Keris itu tidak menembus telapak tangannya. Keris itu masuk ke dalamnya, seperti batu yang dijatuhkan ke kolam. Ujung bilahnya lenyap ke dalam kulit tanpa merobeknya, lalu badannya, lalu luk-luknya yang tak beraturan, lalu ganja dengan ukiran burung jalaknya, satu per satu, perlahan tenggelam ke dalamnya.
Dira menatapnya dengan mata terbelalak. Kulitnya beriak. Benar-benar beriak, seperti air, di sekeliling titik tempat keris itu masuk.
Lalu keris itu hilang sepenuhnya.
Telapak tangannya kosong. Kulitnya utuh. Tak ada luka, tak ada darah, tak ada lubang. Hanya, di tengah telapak itu, di atas garis umur, ada bekas tipis yang kemerahan, panjangnya tak sampai sejari, bentuknya seperti retakan halus pada bilah keris.
Untuk satu tarikan napas, gudang pusaka rusak benar-benar sunyi.
Lalu dunia meledak.
Dingin datang lebih dulu.
Dingin yang selama ini hanya bersembunyi di lehernya, yang bangun dan tidur seperti hewan malas, kini menyembur keluar dari bawah kain lurik seperti air bah yang menjebol bendungan. Dingin itu mengalir turun ke dadanya, ke perutnya, ke lengan-lengannya, ke ujung jari kaki. Rasanya seperti seluruh darahnya diganti air sumur tujuh depa dalamnya.
Lalu panas datang menyusul.
Panas dari telapak tangannya, dari bekas retakan merah itu, menjalar ke atas lengannya seperti api yang merambat di sepanjang sumbu. Panas itu bertemu dingin di siku, dan di sana keduanya berbenturan.
Dira menjerit.
Ia tak tahu apakah suaranya keluar atau tidak. Ia tak tahu apakah ada yang bisa mendengarnya dari barak atau dapur. Ia hanya tahu tubuhnya tiba-tiba menjadi medan perang. Dingin dan panas saling dorong di setiap urat, di setiap tulang, di setiap tarikan napas. Rasanya seperti dicambuk seribu kali sekaligus dari dalam.
Ia mencoba memanggil nama, siapa saja. Wulansari. Nyai. Mbah. Yang keluar dari mulutnya hanya napas yang terpatah-patah. Jari-jarinya mencakar lantai tanah dan mencengkeram apa saja yang bisa digenggam: segumpal debu, sepotong ijuk yang jatuh dari atap, ujung karung goni yang hancur di tangannya.
Ia jatuh ke samping, ke lantai tanah yang sudah ia sapu bersih tadi siang. Sumbu kecil di tangannya terlepas dan padam. Gudang menjadi gelap gulita.
Dalam gelap itu, ia melihat sesuatu.
Bukan dengan matanya. Matanya terpejam rapat, berair, dan berkunang-kunang. Ia melihat dengan bagian lain dirinya, bagian yang tak pernah ia sadari punya.
Ia melihat sebuah ruangan.
Ruangan yang luas dan kosong, berlantai batu, berlangit-langit tinggi yang hilang dalam kegelapan. Ruangan itu begitu besar hingga dindingnya tak terlihat, dan begitu sunyi hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri bergema di dalamnya. Tak ada perabot, tak ada pelita, tak ada pintu. Hanya lantai batu yang tak berujung dan kegelapan yang tak berujung di atasnya. Udara di sana tidak bergerak. Tak ada bau, tak ada bunyi selain detak itu.
Ruangan itu terasa sangat tua. Lebih tua dari padepokan. Lebih tua dari Gunung Lawu. Dan anehnya, ruangan itu juga terasa seperti miliknya, seperti bilik bambu di belakang asrama tempat ia tumbuh besar, yang setiap sudutnya ia kenal dengan mata terpejam.
Di tengah ruangan itu, jauh sekali, sesuatu yang kecil jatuh dari kegelapan di atas.
Sebilah keris kecil, terbungkus benang-benang api merah. Keris itu jatuh pelan, berputar-putar seperti daun kering, lalu mendarat di lantai batu dengan bunyi ting yang bergema ke seluruh ruangan, memantul dari dinding-dinding yang tak terlihat, berulang-ulang, makin lama makin pelan.
Ting... ting... ting...
Lalu, dari keris kecil yang tergeletak di lantai batu itu, naiklah sesuatu.
Asap? Bayangan? Dira tak tahu. Bentuknya samar dan berubah-ubah, seperti nyala lilin yang ditiup angin. Sebentar tampak seperti burung kecil dengan sayap setengah terkembang. Sebentar tampak seperti sosok lelaki tua yang bungkuk. Sebentar tidak tampak seperti apa pun.
Sosok samar itu berdiri di atas keris, dan Dira merasakan, entah bagaimana, bahwa sosok itu sedang menoleh ke sekeliling. Ke lantai batu yang tak berujung. Ke kegelapan di atas. Ke dinding-dinding yang tak terlihat.
Lalu sosok itu menoleh ke arahnya.
Ke tempat Dira berdiri, atau melayang, atau entah apa, di tengah ruangan yang sangat besar itu.
Dan dari sosok samar itu terdengar suara. Bukan bisikan dari seberang dinding tebal seperti di tumpukan besi. Suara yang jelas, serak, sangat tua, dan sangat bingung.
"...di mana ini?"
Lalu, setelah jeda yang panjang:
"...dan siapa bocah ingusan yang berani-beraninya..."
Ruangan itu runtuh ke dalam gelap.
Gendhis menemukannya menjelang subuh.
Gadis itu bangun lebih awal dari biasanya karena bermimpi buruk. Ia memimpikan kambing bermata jahat itu memakan Dira. Ia pergi ke barak untuk memastikan Dira baik-baik saja, dan menemukan tikarnya kosong.
Ia mencari ke dapur. Kosong. Mbah Karta mendengkur di karung berasnya.
Ia mencari ke sumur. Kosong. Ia bahkan menengok ke balik kandang kambing, tempat Kakang Gandawasa biasa duduk kalau tak bisa tidur, dan hanya disambut dengusan kambing bermata jahat.
Lalu ia melihat pintu gudang pusaka rusak terbuka sedikit, dan anak kunci perunggu tergeletak di tanah di depannya.
Gendhis, yang seumur hidupnya tak pernah mendekat dalam jarak sepuluh langkah dari gudang itu, berlari masuk tanpa berpikir.
Dira terbaring meringkuk di lantai tanah di sudut paling dalam, di samping tumpukan besi yang sudah dibongkar. Tubuhnya gemetar hebat. Kulitnya basah oleh keringat, tetapi ketika Gendhis menyentuh dahinya, dahi itu terasa seperti batu kali di musim hujan. Dingin. Sangat dingin. Lalu, sejenak kemudian, ketika Gendhis menyentuhnya lagi, panas seperti bara.
Dingin. Panas. Dingin. Panas. Berganti-ganti setiap beberapa tarikan napas.
"Dira! Dira, bangun!"
Bibir Dira bergerak. Matanya terpejam, tetapi bola matanya bergerak-gerak cepat di balik kelopak, seperti orang yang bermimpi sangat dalam.
"...siapa..." gumamnya. "...siapa bocah ingusan..."
"Dira! Ini aku! Gendhis!"
Tangan kanan Dira terkepal sangat erat di dadanya. Gendhis mencoba membukanya, karena tangan itu terlalu kaku, terlalu tegang, seperti menggenggam sesuatu. Jari-jari itu tidak mau terbuka. Ia menariknya lebih kuat. Satu jari terbuka, lalu dua, lalu seluruh telapak.
Kosong. Tak ada apa-apa di tangan Dira.
Hanya, di tengah telapaknya, sebuah bekas tipis kemerahan sepanjang kurang dari sejari, berbentuk seperti retakan halus. Bekas itu tidak tampak seperti luka. Lebih mirip tanda lahir, atau garis tangan yang tak biasa.
Gendhis tak tahu apa itu. Ia tak punya waktu memikirkannya.
Ia berlari ke luar gudang dan menjerit membangunkan saudaranya.
Jeritannya memantul di dinding lumbung dan membuat burung-burung di pohon sawo beterbangan. Gendhing keluar dari barak dengan rambut mencuat ke segala arah, dan langsung berlari ke arah suara itu tanpa bertanya, meski arah itu menuju gudang yang selama ini paling ia takuti.
Mereka menggotong Dira ke dapur, karena barak terlalu dingin dan terlalu jauh dari tungku. Gendhing memegang kakinya, Gendhis memegang bahunya, dan keduanya hampir terjatuh dua kali di jalan setapak yang licin oleh embun. Tubuh Dira yang kurus ternyata seberat karung gabah basah, dan bergantian dingin dan panas di tangan mereka. Sepanjang jalan Gendhis terus bicara kepadanya, apa saja, soal kambing, soal sambal, soal dengkuran Kakang Gandawasa, seperti takut kalau ia berhenti bicara, Dira akan ikut berhenti bernapas.
Ketika mereka masuk ke dapur, Mbah Karta sudah bangun.
Ia berdiri di depan tungku ketujuh, membelakangi pintu, mengaduk sesuatu di kendil tanah dengan sendok kayunya. Bau hijau yang tajam memenuhi dapur, bau hutan dan lumut sehabis hujan, bercampur madu yang sangat tua. Ramuan yang sama yang dulu ia oleskan di punggung Dira.
Ramuan itu sudah mendidih, seperti ia sudah tahu sejak tadi bahwa ramuan itu akan dibutuhkan.
"Mbah!" seru Gendhis. "Mbah, Dira... dia..."
"Baringkan di karung," kata Mbah Karta tanpa menoleh.
Mereka membaringkan Dira di atas tumpukan karung beras. Pemuda itu masih gemetar, bibirnya masih bergerak-gerak menggumamkan kata-kata yang tak jelas. Mbah Karta mengangkat kendil dari tungku, menuang isinya ke mangkuk tembikar, lalu berjalan tertatih-tatih ke arah karung beras.
Ia berlutut di samping Dira. Ia tidak melihat wajahnya. Ia tidak melihat kain di lehernya.
Ia meraih tangan kanan Dira, membalikkannya, dan menatap bekas kemerahan di tengah telapak tangan itu.
Lama sekali. Bara di tungku ketujuh berderak. Di luar, ayam jantan pertama berkokok, lalu yang lain menyahut dari arah kandang tetua.
Si kembar saling pandang. Mereka belum pernah melihat Mbah Karta diam selama itu tanpa tertidur.
Lalu, sangat pelan, begitu pelan hingga Gendhis yang berdiri paling dekat pun hampir tak bisa mendengarnya, Mbah Karta berkata dengan suara yang bukan suara serak juru masak tua yang pikun. Suara itu dalam, tenang, dan bergetar seperti dawai rebab yang dipetik sekali.
"Akhirnya," katanya. "Akhirnya, Guru."
Lalu ia menunduk, menempelkan dahinya yang keriput ke punggung tangan Dira yang dingin, dan bahunya yang kurus berguncang, sekali, dua kali, tanpa suara.
Gendhis membuka mulut untuk bertanya.
Saat itu juga, Dira membuka mata.
Bukan matanya yang biasa. Untuk sekejap, sekejap saja, sebelum ia mengerjap dan semuanya kembali normal, Gendhis bersumpah melihat mata pemuda itu berkilat kuning keemasan di bawah cahaya tungku, seperti mata burung yang menatap dari dahan tinggi.
Lalu suara keluar dari bibir Dira. Bukan suaranya. Suara itu serak, tua, dan sangat marah.
"Siapa," kata suara itu, "yang berani-beraninya menyimpanku di bawah karung goni?"
Lalu mata Dira terpejam lagi, dan tubuhnya terkulai lemas di atas karung beras.