Sang Penelan Pusaka

Bab 15Demam Tiga Malam

Pada malam pertama, Dira bermimpi tentang seekor burung.

Burung itu kecil, hitam legam, dengan bulu-bulu kusut yang mencuat ke segala arah seperti sapu ijuk yang sudah terlalu lama dipakai. Paruhnya kuning pucat dan agak bengkok di ujungnya. Matanya juga kuning, bulat, dan galak. Ia hinggap di atas lantai batu di tengah ruangan yang sangat besar dan sangat gelap, ruangan yang sama yang Dira lihat ketika keris kecil itu masuk ke telapak tangannya.

Dan burung itu sedang memarahinya.

"Bocah bodoh!" pekik burung itu, mengepak-ngepakkan sayapnya yang kusut hingga beberapa helai bulu terlepas dan melayang-layang di udara. "Bocah dungu! Bocah ingusan! Siapa yang menyuruhmu berdarah di atas besi orang, hah? Siapa? Kau tahu apa yang terjadi kalau orang sembarangan meneteskan darah di atas pusaka? Kau tahu?"

"Tidak," jawab Dira dalam mimpinya.

"Tentu saja kau tidak tahu! Karena kau bodoh! Kalau kau tahu, kau tidak akan melakukannya!" Burung itu melompat-lompat di lantai batu dengan kaki kecilnya yang kurus. "Yang terjadi adalah... yang terjadi adalah..."

Ia berhenti. Kepalanya miring ke satu sisi. Matanya yang kuning berkedip.

"...apa tadi yang mau kukatakan?"

Dira menunggu.

"Ah! Ya! Yang terjadi adalah..." Burung itu berhenti lagi. Bulu-bulunya mengembang sedikit, lalu mengempis. "Hm. Sebentar. Tadi ada di ujung paruhku."

"Yang terjadi kalau orang meneteskan darah di atas pusaka," bantu Dira.

"Aku tahu apa yang kutanyakan, bocah! Aku tidak pikun!" Burung itu mengepak marah. "Aku cuma... lupa sebentar. Itu beda. Pikun itu kalau lupa terus. Ini cuma sebentar."

"Baik, Mbah."

"Jangan panggil aku Mbah! Aku bukan... aku bukan..." Burung itu terdiam lagi. Kali ini lebih lama. Matanya yang kuning menatap ke kejauhan, ke kegelapan ruangan yang tak berujung, dan untuk sesaat ia tampak sangat kecil, sangat tua, dan sangat sendirian.

"Aku bukan apa, ya?" gumamnya.

Lalu mimpi itu buyar seperti asap ditiup angin.


Dira terbangun di atas karung beras di sudut dapur, bermandi keringat dingin.

Atap dapur yang hitam oleh jelaga ada di atasnya. Bara tungku memancarkan cahaya merah di sebelah kirinya. Di sebelah kanannya, Gendhis tertidur sambil duduk bersila, kepalanya terkulai ke dada, tangannya masih memegang kain basah.

Tubuh Dira terasa seperti bukan miliknya. Lengan dan kakinya berat seperti diganduli batu. Kepalanya berdenyut. Dan di dalam tubuhnya, di bawah kulit, di dalam urat, dingin dan panas masih berperang, tidak lagi sedahsyat semalam, tetapi masih ada, saling dorong seperti dua ekor kerbau yang beradu kepala di lumpur sawah.

Ia mencoba mengangkat tangan kanannya. Bekas kemerahan di telapak tangannya masih ada, tipis, berbentuk seperti retakan halus. Ketika ia menyentuhnya dengan jari tangan kiri, bekas itu terasa hangat.

"Kau sudah bangun."

Dira menoleh. Mbah Karta duduk di bangku dekat tungku ketujuh, mengupas bawang putih seperti biasa, satu siung demi satu siung.

"Mbah..."

"Jangan bicara. Tenggorokanmu kering." Lelaki tua itu bangkit, mengambil kendi air, dan membantu Dira minum sedikit demi sedikit. Air itu dingin dan manis, lebih manis dari air sumur biasa. "Kau demam. Dari tadi malam. Si Gendhis menemukanmu di gudang rongsokan."

"Mbah..." Dira menelan air dengan susah payah. "Keris itu... keris di gudang..."

"Keris apa?"

"Keris kecil. Ada ukiran jalaknya. Dia... masuk..."

Mbah Karta meletakkan kendi di lantai dan menatap Dira dengan mata keruh yang berkedip-kedip lambat.

"Darsa," katanya dengan nada sabar seperti berbicara kepada anak kecil. "Kau demam tinggi semalaman. Orang demam tinggi sering mimpi aneh-aneh. Dulu, waktu aku muda, aku demam dan mimpi menikah dengan putri raja. Bangun-bangun aku sedang memeluk kambing."

"Tapi Mbah..."

"Tidur." Mbah Karta menarik selimut jarik pudar sampai ke dagu Dira. "Kau butuh tidur. Ramuanku bekerja paling baik kalau orangnya tidur."

Dira ingin membantah. Ia ingin bertanya tentang lontar tua di lemari jati, tentang siulan jalak kebo, tentang ramuan yang sudah mendidih sebelum ia dibawa ke dapur. Tetapi kelopak matanya terlalu berat. Dan sebelum ia sempat menyusun kata-kata, ia sudah kembali tenggelam ke dalam gelap.


Pada hari kedua, Wulansari datang.

Ia tidak datang lewat parit dan pagar bambu yang bolong. Ia datang lewat pintu depan dapur, di siang bolong, di depan semua abdi yang sedang bekerja. Ia melanggar janjinya untuk berpura-pura tak kenal di depan orang, dan ia tidak peduli.

Gendhing yang memberitahunya. Anak itu berlari sampai ke pinggir lapangan latihan murid luar, menunggu sampai Wulansari selesai jurus, lalu berbisik kepadanya. Wulansari langsung meninggalkan latihan. Sutarga berteriak memanggil namanya. Ia tidak menoleh.

Ia berlutut di samping karung beras dan menggenggam tangan kakaknya. Dira sedang tertidur, atau setengah tertidur, matanya bergerak-gerak di balik kelopak.

"Kangmas," bisik Wulansari. "Kangmas, ini aku."

Bibir Dira bergerak. "...Wulan..."

"Iya. Aku di sini."

"...aku bilang... tidak apa-apa..." Ia tersenyum lemah dengan mata terpejam. "...bohong. Maaf. Aku... sakit."

Wulansari tertawa dan menangis sekaligus. "Bagus. Bagus. Kangmas menepati janji."

Ia tinggal sampai matahari tergelincir. Ia mengganti kain basah di dahi Dira, menyuapinya bubur nasi yang dibuat Gendhis, dan menceritakan latihan murid luar meski kakaknya tak benar-benar mendengar. Ketika Sutarga akhirnya datang ke ambang pintu dapur untuk menyeretnya kembali ke asrama, Wulansari berdiri dan menatap pembimbingnya dengan mata yang membuat Sutarga, untuk pertama kalinya, mundur setengah langkah.

"Aku akan menerima hukumanku besok, Kakang," katanya tenang. "Hari ini aku di sini."

Sutarga membuka mulut. Lalu ia melihat Mbah Karta, yang sedang mengaduk kuali di tungku dekat pintu, menoleh perlahan ke arahnya. Juru masak tua itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Sutarga dengan mata keruh yang berkedip lambat, sendok kayu di tangannya, wajahnya tak menunjukkan apa pun.

Sutarga menutup mulutnya lagi dan pergi.

Gendhis, yang menyaksikan dari sudut, menatap Mbah Karta lama sekali.


Malam itu, ketika Wulansari sudah kembali ke asrama dan Gendhing sudah tertidur di barak, Gendhis duduk di bangku dekat tungku ketujuh, di samping Mbah Karta yang sedang merebus ramuan untuk kesekian kalinya.

Ia sudah menahan pertanyaan itu selama sehari semalam. Ia tak tahan lagi.

"Mbah," katanya.

"Hm."

"Kemarin subuh. Waktu kami membawa Dira ke sini. Mbah memegang tangannya."

"Masa?"

"Mbah bilang sesuatu."

Mbah Karta mengaduk ramuan di kendil dengan sendok kayunya. Uap hijau naik dan menari-nari dalam cahaya bara.

"Orang tua suka bicara sendiri, Gendhis."

"Mbah bilang, 'Akhirnya, Guru.'"

Sendok kayu itu berhenti mengaduk.

Hanya sebentar, sekejap mata, tetapi Gendhis melihatnya. Lalu sendok itu bergerak lagi, mengaduk dengan irama yang sama seperti sebelumnya, seperti tak pernah berhenti.

"Guru?" Mbah Karta mengernyit, lalu terkekeh dengan mulutnya yang tinggal berisi tiga gigi. "Ah, kau salah dengar, Ndhuk. Aku bilang gurih. Akhirnya gurih. Ramuan ini susah sekali dibuat gurih. Biasanya pahit seperti empedu kerbau. Tapi kemarin, entah kenapa, rasanya gurih."

"Mbah menangis."

"Asap." Mbah Karta mengibaskan tangan ke arah tungku. "Tungku ini asapnya banyak. Mataku sudah tua, kena asap sedikit saja langsung berair. Kau juga, kan? Waktu ngulek cabai?"

Gendhis menatapnya. Lama. Mbah Karta menatap balik dengan mata keruh yang berkedip-kedip polos, seperti kura-kura yang baru bangun tidur.

Gendhis tidak percaya sepatah kata pun.

Tetapi ia juga tahu, dengan naluri seorang abdi dapur yang sudah lima warsa hidup di antara orang-orang yang lebih berkuasa darinya, bahwa ada pertanyaan yang lebih aman tidak ditanyakan dua kali.

"Baik, Mbah," katanya akhirnya. "Gurih."

"Gurih," ulang Mbah Karta, mengangguk puas.

Ia kembali mengaduk. Dan setelah lama, sambil membelakangi Gendhis, ia mulai bersiul pelan, siulan jalak kebo yang naik turun.

Di atas karung beras, dalam tidurnya, Dira tersenyum.


Pada malam kedua, burung itu kembali.

Ruangan batu yang luas dan gelap itu masih sama. Burung jalak kecil yang kusut itu masih bertengger di atas keris yang tergeletak di lantai. Tetapi kali ini ia tidak memarahi Dira. Ia sedang berjalan mondar-mandir dengan kaki kecilnya, menggerutu sendiri.

"...bukan Lawu. Aku kenal Lawu. Lawu tidak segelap ini. Lawu ada pohonnya. Pohon besar, tinggi sekali, daunnya..." Ia berhenti dan menggaruk kepalanya dengan kaki. "...daunnya apa, ya? Hijau. Ya. Daunnya hijau. Semua daun hijau, bodoh. Itu bukan ingatan, itu cuma akal sehat."

"Mbah," kata Dira.

Burung itu terlonjak dan mengembang seperti bola bulu. "Jangan mengagetkan orang tua!"

"Maaf."

"Sudah kubilang jangan panggil aku Mbah!"

"Lalu harus kupanggil apa?"

Burung itu membuka paruhnya, lalu menutupnya lagi. Ia membuka paruhnya lagi. Ia menutupnya lagi.

"Nanti," katanya akhirnya, dengan suara yang tiba-tiba sangat kecil. "Nanti kuberitahu. Kalau aku sudah... kalau sudah..."

Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya duduk di atas keris itu, meringkuk, sayap-sayapnya merapat ke tubuh, dan menatap kegelapan.

Dira, dalam mimpinya, duduk di lantai batu di sampingnya. Lantai itu dingin. Ruangan itu sunyi. Burung itu kecil.

Untuk waktu yang lama, mereka hanya duduk bersama di sana tanpa berkata apa-apa.


Pada hari ketiga, Nyai Rukminiwati datang.

Ia datang ketika dapur sedang paling sepi, menjelang sore, ketika para abdi sedang mengangkut jemuran dan menimba air untuk masak malam. Ia berlutut di samping karung beras dan memeriksa Dira dengan tangan yang cekatan dan dingin: dahinya, nadinya di pergelangan tangan, napasnya, matanya yang ia buka dengan ibu jari.

Lalu ia menyentuh kain di leher Dira.

Mbah Karta, yang sedang mengupas bawang di bangku seberang, tidak berkata apa-apa. Tetapi tangannya berhenti mengupas.

Nyai Rukminiwati mengendurkan kain itu sedikit, hanya sedikit, cukup untuk melihat ke bawahnya. Ia menatap kulit di leher Dira lama sekali.

Lalu wajahnya berubah.

Dira, yang setengah sadar, tidak bisa melihat apa yang dilihat Nyai. Ia hanya bisa melihat wajah tetua itu dari bawah, dan wajah itu kehilangan warnanya perlahan-lahan, seperti kain yang dicelup ke air kapur. Bibir Nyai yang tipis terkatup rapat. Tangannya yang memegang ujung kain gemetar, sangat sedikit, tetapi gemetar.

"Ini," bisik Nyai. Suaranya hampir tak terdengar. "Ini lebih lebar."

Ia menoleh ke arah Mbah Karta. Dan untuk pertama kalinya, Dira mendengar Nyai Rukminiwati berbicara kepada juru masak tua itu dengan suara yang bukan suara tetua kepada abdi.

"Apa yang terjadi padanya?"

Mbah Karta meletakkan bawang putih di mangkuk tembikar. Ia menatap Nyai Rukminiwati dengan mata yang tidak keruh lagi. Mata itu jernih, sangat jernih, sangat tua.

"Demam, Nyai," katanya pelan. "Cuma demam. Anak muda kalau kena hujan tengah malam sering demam."

Mereka saling menatap. Dira merasakan udara di dapur berubah, seperti di altar dulu, ketika Nyai dan Ki Ageng saling menatap di atas kepalanya. Tetapi kali ini tidak terasa seperti dua batu penggiling. Kali ini terasa seperti dua orang yang sedang berbicara dalam bahasa yang tidak diucapkan dengan mulut.

Akhirnya Nyai Rukminiwati yang lebih dulu memalingkan wajah.

Ia mengencangkan kembali kain di leher Dira, dengan simpulnya sendiri, rapat dan cepat. Lalu ia berdiri.

"Pastikan ia tidak bekerja sampai demamnya turun," katanya, kembali dengan suara tetua yang biasa. "Kalau Gandawasa memaksanya, katakan padaku."

"Inggih, Nyai."

Nyai Rukminiwati berjalan ke pintu. Di ambangnya, ia berhenti tanpa menoleh.

"Mbah," katanya pelan. "Sudah berapa lama Mbah di dapur ini?"

Mbah Karta mengambil siung bawang putih berikutnya dan mulai mengupasnya.

"Lama, Nyai," jawabnya. "Lama sekali. Sudah lupa."

Nyai Rukminiwati berdiri diam di ambang pintu beberapa tarikan napas lagi. Lalu ia pergi.


Demam itu pecah pada malam ketiga.

Dira terbangun tengah malam karena keringat yang membanjiri tubuhnya, keringat yang tidak lagi dingin dan tidak lagi panas. Keringat biasa, keringat orang yang demamnya baru turun. Kepalanya ringan. Lengan dan kakinya tidak lagi berat seperti diganduli batu. Perang di dalam urat-uratnya sudah berhenti. Dingin dan panas tidak lagi saling dorong. Mereka kini mengalir berdampingan, tenang, seperti dua sungai yang bertemu di muara dan memutuskan untuk berdamai.

Dapur gelap. Bara di tungku hampir padam. Mbah Karta mendengkur di bangku dekat tungku ketujuh, kepalanya terkulai ke dinding. Gendhis tidak ada. Pasti sudah kembali ke barak.

Dira duduk perlahan di atas karung beras. Tubuhnya tidak protes. Ia mengangkat tangan kanannya dan menatap telapaknya dalam cahaya bara yang sekarat. Bekas kemerahan itu masih ada, tipis seperti retakan halus.

Ia menghela napas panjang dan lega.

Mimpi, pikirnya. Semuanya cuma mimpi demam. Burung jalak yang memarahiku. Ruangan batu. Keris yang masuk ke tanganku. Cuma mimpi.

Ia hampir percaya.

Lalu sebuah suara berbicara di dalam kepalanya. Bukan dalam mimpi. Ia sedang terjaga sepenuhnya, duduk di atas karung beras, di dapur yang gelap, dengan mata terbuka lebar.

Suara itu serak, tua, kesal, dan sangat, sangat jelas.

"Akhirnya bangun juga, bocah."

Dira membeku.

"Tiga malam aku menunggu," lanjut suara itu. "Tiga malam aku duduk di ruangan gelapmu yang dinginnya minta ampun itu, tanpa pelita, tanpa tikar, tanpa sebutir nasi pun. Kau tahu berapa lama aku sudah menunggu di bawah karat sebelum itu?"

Hening sejenak.

"...aku juga tidak tahu. Tapi lama. Lama sekali. Jadi jangan berani-berani tidur lagi sebelum kau menjelaskan, kenapa aku ada di dalam tubuh bocah ingusan kurus kering yang baunya seperti bawang merah!"