Sang Penelan Pusaka

Bab 21Tungku sebagai Guru

"Bilang tikus," bisik Ki Jalak.

"Bukan tikus," kata Dira cepat, sebelum mulutnya sempat mengikuti saran itu.

Gendhis menunggu dengan pelita terangkat dan hidung mengernyit.

Dira menelan ludah. Ia tidak berjanji apa-apa kepada Gendhis. Tetapi gadis ini mengoleskan minyak sirih ke tangannya yang berdarah, menyelamatkannya dari Gandawasa pada pagi pertamanya sebagai abdi, dan mencari-carinya sampai ke gudang angker ketika ia pingsan. Ia tak mau berbohong kepadanya kalau tak terpaksa.

Jadi ia memilih kebenaran yang tidak lengkap.

"Mbah Karta menyuruhku menjaga tungku ini semalaman," katanya. "Katanya mau merebus tulang sapi besok pagi."

Gendhis melirik tungku yang kosong tanpa dandang.

"Lalu," lanjut Dira, dan ini sepenuhnya benar, "perutku bergejolak. Hebat sekali. Aku muntah. Di sana." Ia menunjuk tanah galian di balik kandang kambing. "Lalu badanku berkeringat busuk. Jadi aku mandi. Berkali-kali."

Gendhis menatapnya lama. Lalu matanya menyipit.

"Kau makan kacang lagi?"

Dira tak menjawab. Tak perlu. Ia memang makan segenggam peyek kacang Mbah Karta sore tadi, dan dua keping lagi diam-diam sebelum tidur.

"Ya ampun." Gendhis menurunkan pelitanya dan memijat dahinya. "Seumur hidup kau benci kacang. Lalu dalam dua hari kau menghabiskan sekantong kacang goreng Gendhing, lalu setumpuk peyek Mbah Karta. Tentu saja perutmu berontak. Itu namanya hukuman Hyang karena mencuri kacang kawan."

"Hukuman Hyang," Ki Jalak mendengus. "Kalau Hyang menghukum orang karena kacang, separuh penduduk Jawa sudah jadi abu."

"Maaf," kata Dira kepada Gendhis.

"Jangan minta maaf padaku. Minta maaf pada Gendhing." Gadis itu menghela napas, lalu berjalan ke tungku ketujuh dan memasukkan sebatang kayu lagi. "Tungkunya harus tetap menyala, kan? Kata Mbah Karta?"

"Iya."

Gendhis menatap api itu dengan kening berkerut.

"Aneh," gumamnya, setengah kepada dirinya sendiri. "Lima warsa aku di dapur ini. Mbah Karta tak pernah sekali pun menyuruh siapa pun menjaga tungku ketujuh. Dia sendiri yang selalu menjaganya. Katanya tungku ini rewel."

Ia menoleh ke arah Dira, dan untuk sesaat tatapannya sama seperti tatapannya kepada Mbah Karta beberapa hari terakhir: tatapan seseorang yang sedang menghitung.

Lalu ia mengangkat bahu.

"Sudahlah. Sana tidur sebentar sebelum Kakang Ganda bangun. Biar aku yang jaga tungku." Ia mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya. "Dan jangan dekat-dekat aku sampai baumu hilang."


Sejak malam itu, tungku ketujuh selalu menyala.

Setiap malam Mbah Karta punya alasan baru. Malam kedua: menyangrai kacang tanah untuk bumbu pecel tetua, padahal tetua tak pernah makan pecel. Malam ketiga: memasak gula aren supaya mengental. Malam keempat: menghangatkan dapur supaya tikus di rak ketiga tak masuk angin.

"Tikus masuk angin, Mbah?" tanya Gendhing dengan mata membulat.

"Tentu saja. Kau pikir tikus tak punya badan? Kalau masuk angin, mereka bersin-bersin semalaman. Kau mau dengar tikus bersin-bersin sepanjang malam?"

Gendhing bergidik dan tak bertanya lagi.

Setiap malam pula, setelah menyalakan api besar dengan kayu jati yang tak pernah jelas dari mana asalnya, Mbah Karta berkata, "Darsa, jaga tungkunya," lalu pergi tidur di gudang beras. Dan setiap malam, begitu langkah tertatih-tatih juru masak tua itu menghilang, Ki Jalak berkata, "Mulai."

Ki Jalak ternyata guru yang kejam.

"Berdiri. Kuda-kuda. Kaki selebar bahu, lutut ditekuk, seperti orang duduk di atas dingklik yang tak ada. Di depan mulut tungku. Sedekat itu. Ya. Jangan mundur."

Dira berdiri dengan kuda-kuda di depan mulut tungku ketujuh. Panas api menjilat wajah, dada, dan pahanya. Keringat menetes dari dagunya ke lantai dan menguap sebelum menyentuh tanah.

"Tahan. Bernapas. Putar panasnya. Tulang ekor, punggung, belok di leher, dada, perut. Lagi."

Pahanya mulai gemetar setelah sepeminuman teh. Setelah dua, seluruh kakinya bergetar seperti daun pisang ditiup angin. Setelah tiga, ia jatuh.

"Bangun."

Ia bangun.

"Lagi."

Ketika kakinya sudah tak bisa lagi berdiri, ketika tubuhnya basah kuyup oleh keringat dan kulitnya merah seperti udang rebus, Ki Jalak berkata, "Sekarang gentong."

Gentong besar di sudut dapur selalu penuh air sumur yang dingin. Dira melompat masuk ke dalamnya, seluruh tubuhnya, sampai kepala tenggelam.

Rasanya seperti dilempar dari tungku ke dasar sendang gunung di musim bediding.

Ia menjerit di dalam air, gelembung-gelembung naik ke permukaan. Lalu ia muncul lagi, terengah-engah, menggigil, dan Ki Jalak berkata, "Keluar. Kembali ke tungku."

"Kenapa..." gigi Dira bergemeletuk, "...kenapa harus begini?"

"Kau tahu bagaimana empu membuat keris?" tanya Ki Jalak. "Besi dipanaskan di tungku sampai merah. Dipukul. Dicelupkan ke air sampai mendesis. Dipanaskan lagi. Dipukul lagi. Dicelup lagi. Ratusan kali. Ribuan kali. Setiap kali, besi itu menjadi lebih keras, lebih padat, lebih kuat. Kotoran di dalamnya keluar. Yang tersisa hanya baja." Jeda. "Kau besi, bocah. Besi mentah. Besi karatan yang tergeletak di dapur. Aku sedang menempamu."

"Lalu pukulnya mana?"

"Oh. Itu." Ki Jalak terdengar sedikit malu. "Aku keris, bukan palu. Aku tak bisa memukulmu. Tapi..."

Dira melihat ke sekeliling dapur. Matanya berhenti di tumpukan karung beras di sudut.


Sejak malam kelima, latihannya bertambah satu bagian.

Setelah tungku, sebelum gentong, Dira memukuli karung beras.

Ia menggantung sebuah karung beras berisi setengah penuh di tiang dapur dengan tali ijuk, lalu memukulnya dengan kepalan tangan, dengan lengan bawah, dengan bahu. Mula-mula karung itu tak bergeming, dan buku-buku jarinya yang memar. Lama-lama karung itu mulai berayun. Lalu berayun lebih jauh.

"Bukan cuma tanganmu yang memukul," kata Ki Jalak. "Seluruh tubuhmu. Dari kaki. Dari pinggul. Dari punggung. Napas dulu, baru pukul. Biarkan panas di perutmu mengalir ke kepalan tanganmu. Seperti air bah yang menjebol bendungan, bukan seperti anak kecil yang memukul kambing."

Dira memukul. Karung itu berayun. Ia memukul lagi.

Di tengah malam keenam, ketika ia sedang melakukan kuda-kuda di depan tungku dengan kedua lengan terentang ke depan, keringat membanjir, napas mengalir berputar seperti roda, mata setengah terpejam, terdengar jeritan dari ambang pintu belakang.

Dira membuka mata.

Gendhing berdiri di sana dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar, pelita gemetar di tangannya. Rupanya anak itu terbangun karena ingin buang air dan melihat cahaya api dari celah pintu dapur.

Dari sudut pandang Gendhing, pemandangan di depannya pasti sangat mengerikan: Dira, berdiri dengan lutut tertekuk aneh dan kedua lengan terentang kaku ke depan, di depan tungku yang menyala besar tanpa dandang apa pun di atasnya, tubuhnya basah mengkilat dan merah menyala, matanya setengah terpejam, napasnya keluar masuk dengan bunyi mendesis yang panjang dan teratur, seperti ular atau pandai besi.

Dan karung beras di belakangnya berayun-ayun sendiri dari tiang dapur.

"Jangan bergerak," bisik Ki Jalak. "Kalau bergerak, dia makin takut."

Dira tidak bergerak.

Gendhing makin takut.

"Jin..." bisik anak itu dengan suara gemetar. "Jin... jin tungku..."

"Gendhing," kata Dira. "Ini aku."

Mungkin karena suaranya serak oleh panas dan napasnya masih mendesis. Yang jelas, mendengar suara Dira justru membuat Gendhing menjerit lebih keras lagi.

"JIN TUNGKU MERASUKI DIRA!"

Ia menjatuhkan pelitanya dan lari, menjerit sepanjang jalan ke barak.


Keesokan paginya, seluruh barak abdi sudah mendengar kabar itu.

"Kata Gendhing, matanya merah menyala," bisik seorang abdi perempuan di sumur.

"Kata Gendhing, tangannya terentang seperti mayat," kata yang lain.

"Kata Gendhing, karung beras di belakangnya terbang sendiri!"

"Kata Gendhing, jin itu bicara dengan suaranya!"

Dira mendengarkan semua itu sambil menimba air, wajahnya tenang dan polos.

"Ini bagus," kata Ki Jalak dengan suara puas. "Sangat bagus. Biarkan mereka percaya kau kesurupan jin tungku."

"Bagus dari mana?"

"Kalau mereka percaya ada jin di dapur tengah malam, tak akan ada yang berani datang ke dapur tengah malam. Kita bisa berlatih dengan tenang. Lagi pula," Ki Jalak terkekeh, "lihat wajah kepala dapurmu itu."

Dira melirik ke arah barak. Gandawasa sedang berdiri di depan pintu, mendengarkan cerita Gendhing yang sudah diulang untuk kesepuluh kalinya dengan tambahan-tambahan baru. Kini jin itu juga bertanduk dan berkuku panjang. Wajah kepala dapur itu pucat. Ketika matanya bertemu mata Dira di seberang halaman, Gandawasa buru-buru memalingkan muka dan masuk ke barak.

"Dia takut hantu," bisik Dira.

"Dia takut ular, takut hantu, dan takut kehilangan kekuasaannya," kata Ki Jalak. "Tambahkan ke bilah bambumu."

Dira tersenyum dan menambahkannya malam itu: sebuah titik kecil kedua di samping lingkaran bergaris.

Hanya Gendhis yang tidak ikut bergosip. Ketika Gendhing selesai bercerita untuk kesebelas kalinya, Gendhis menarik saudaranya ke sudut dapur dan berbisik dengan suara yang tak bisa didengar orang lain. Dira tak tahu apa yang dikatakannya. Tetapi sejak hari itu, Gendhing berhenti bercerita tentang jin tungku, dan setiap kali melihat Dira, ia memberinya senyum canggung yang separuh takut, separuh minta maaf.

Dan di sudut dapur, Mbah Karta, yang mendengar semua gosip itu sambil mengupas bawang, sesekali bergumam sendiri, "Jin tungku. Hm. Jin tungku. Bagus juga namanya."


Wulansari menyadarinya pertama kali di bawah pohon sawo, pada pagi kedelapan.

"Kangmas," katanya, menatap kakaknya dengan kening berkerut. "Kangmas kelihatan lain."

"Lain bagaimana?"

"Tidak tahu. Lain saja." Ia mengamati Dira dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Bahu Kangmas lebih lebar. Lengan Kangmas..." Ia menyentuh lengan kakaknya dan terkejut. "Kangmas, ini keras sekali! Seperti kayu!"

"Aku mengangkat banyak karung."

"Kangmas sudah mengangkat karung sejak umur tujuh warsa. Tak pernah sekeras ini." Matanya menyipit, persis seperti mata Gendhis. "Dan alis Kangmas."

"Kenapa alisku?"

"Alis kiri Kangmas tinggal separuh."

Dira mengangkat tangan dan meraba alisnya. Benar. Alis kirinya terasa pendek dan kasar di ujung luarnya. Ia tak menyadarinya. Pasti hangus terbakar api tungku saat ia terlalu dekat di malam keenam.

"Itu tanda kehormatan," kata Ki Jalak. "Empu-empu besar semuanya tak beralis. Terbakar api tempaan."

"Aku bukan empu," bisik Dira.

"Apa?" tanya Wulansari.

"Tidak... maksudku, aku terlalu dekat ke tungku. Waktu menjaga api untuk Mbah Karta."

Wulansari menatapnya lama dengan ekspresi yang sama seperti waktu Dira berkata aku belum bisa menceritakannya. Lalu ia menghela napas dan, tanpa berkata apa-apa, mengeluarkan sesuatu dari balik sabuk kainnya: sebatang arang kecil.

"Sini," katanya. "Diam."

Ia menggambar separuh alis kiri Dira dengan arang itu, hati-hati, dengan lidah menjulur di sudut bibir seperti waktu kecil kalau sedang menggambar di atas pasir.

"Sudah," katanya akhirnya. "Sekarang Kangmas kelihatan normal. Kurang lebih."

"Dia menggambar alismu miring," kata Ki Jalak. "Kau sekarang terlihat seperti orang yang selalu terkejut sebelah."

Dira tidak peduli. Ia tersenyum kepada adiknya dan memakan nasi jagung yang dibawakannya, dan untuk sesaat dunia terasa baik.


Siang harinya, saat dapur sedang paling sibuk, penyangga dandang tembaga besar di tungku ketiga patah lagi.

Kali ini Mbah Karta tidak berada di dekatnya. Ia sedang di lumbung mengambil beras. Dandang raksasa berisi air mendidih itu miring di atas tungku, dan para abdi menjerit berhamburan, sama seperti dulu.

Dira berdiri paling dekat.

Ia tidak berpikir. Ia melangkah maju, menarik napas, membiarkan panas di bawah pusarnya mengalir ke lengan, dan memegang gagang dandang dengan kedua tangan.

Dandang itu berhenti miring.

Lalu, sementara para abdi masih menjerit-jerit mencari penyangga baru, Dira mengangkat dandang itu, dandang yang biasanya diangkat dua abdi dewasa, dan menurunkannya pelan-pelan dari atas tungku ke lantai tanah.

Air mendidih di dalamnya bergoyang, tetapi tidak tumpah setetes pun.

Dapur menjadi sunyi.

Dira menegakkan badan, mengibas-ngibaskan tangannya yang merah karena panas gagang dandang, dan baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan ketika melihat belasan pasang mata yang menatapnya.

Gandawasa berdiri di ambang pintu dapur. Wajahnya tidak lagi pucat seperti pagi tadi. Wajahnya keras, mata menyipit, rahang mengeras.

"Sejak kapan," katanya pelan, "Anak Matahari kuat mengangkat dandang sendirian?"

"Bilang jin tungku," bisik Ki Jalak.

Dira tidak bilang apa-apa.

Gandawasa berjalan pelan mendekat. Ia berhenti di depan Dira dan menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, seperti Wulansari pagi tadi. Tetapi tatapannya bukan tatapan ingin tahu. Ada curiga di sana, dan di bawahnya, takut.

"Rupanya kau punya tenaga lebih," kata Gandawasa. "Bagus. Bagus sekali. Tenaga sebanyak itu sayang kalau cuma dipakai menjaga tungku semalaman."

Ia tersenyum, senyum lebar dan kuning yang sudah lama tidak muncul.

"Sumur dapur akan dikuras mulai besok," katanya. "Adat pergantian wuku. Tujuh hari tak bisa dipakai. Selama itu, air untuk dapur harus diambil dari Sendang Kalimas."

Beberapa abdi saling pandang. Sendang Kalimas terletak di dasar tebing di bawah lereng padepokan. Jalan setapak menuju ke sana curam, berbatu, licin, dan berkelok-kelok seperti ular. Abdi-abdi tua menyebutnya jalan patah kaki.

"Tiga puluh kendi," kata Gandawasa. "Setiap pagi, sebelum matahari terbit. Kau sendiri yang memikul." Senyumnya melebar. "Dan setiap kendi yang pecah, satu hari tanpa makan."

Dira menunduk. Ia mulai menghitung.

Tetapi di dalam dadanya, alih-alih menggerutu, Ki Jalak justru tertawa. Tawa yang kecil, kasar, dan sangat senang, seperti burung jalak yang baru menemukan seekor ulat besar di dahan.

"Sendang di dasar tebing," katanya. "Jalan setapak yang curam dan berbatu. Tiga puluh kendi setiap pagi." Ia terkekeh. "Bocah, kepala dapurmu itu bodoh sekali. Dia baru saja memberimu tempat latihan terbaik di seluruh lereng ini."

"Untuk apa?"

"Untuk belajar berjalan," kata Ki Jalak. "Seperti jalak."