Bab 22Langkah Jalak Ngumbara
Jalan patah kaki memang pantas dinamai begitu.
Dira berdiri di bibir tebing di belakang lumbung, dalam gelap sebelum subuh, dan menatap ke bawah. Jalan setapak itu menuruni lereng seperti ular yang jatuh dari pohon, berkelok-kelok tajam ke kiri dan ke kanan, kadang menghilang di balik semak, kadang muncul lagi di atas bongkahan batu yang licin oleh lumut dan embun. Di beberapa tempat, jalan itu tak lebih lebar dari telapak kaki, diapit tebing di satu sisi dan jurang di sisi lain. Di tempat lain, jalan itu putus sama sekali dan digantikan oleh batu-batu besar yang harus dilompati satu per satu.
Jauh di dasar tebing, di antara pepohonan yang masih gelap, terdengar gemericik air. Sendang Kalimas.
Udara subuh berbau lumut dan tanah basah. Di timur, di balik punggung gunung, langit masih hitam pekat, belum ada tanda-tanda fajar.
Di samping kaki Dira berjajar tiga puluh kendi tanah liat kosong, masing-masing sebesar kepala kerbau. Ia hanya bisa membawa dua sekaligus, satu di setiap tangan, atau satu di pundak dan satu di pinggang. Itu berarti lima belas kali turun dan lima belas kali naik. Sebelum matahari terbit.
"Bagus," kata Ki Jalak. "Sangat bagus."
"Kau terus bilang bagus."
"Karena memang bagus. Kau tahu kenapa jalak bisa hinggap di dahan yang paling tipis tanpa jatuh? Kenapa jalak bisa melompat dari batu ke batu di tepi sungai tanpa tergelincir?"
"Karena jalak punya sayap."
"Bukan karena sayap!" Ki Jalak terdengar sangat tersinggung. "Sayap itu untuk terbang. Untuk hinggap, untuk melompat, untuk berjalan di tempat yang mustahil, jalak memakai kakinya. Kaki yang ringan. Kaki yang tahu kapan menekan dan kapan melepaskan. Kaki yang tidak pernah berat di satu tempat lebih lama dari satu kedipan mata."
Dira menatap jalan setapak di bawahnya. "Dan aku harus belajar itu sambil membawa kendi."
"Tentu saja. Kalau kau bisa melakukannya sambil membawa kendi, kau bisa melakukannya sambil membawa apa pun. Sambil membawa keris. Sambil membawa adikmu. Sambil dikejar musuh." Ki Jalak berhenti sebentar. "Ambil dua kendi. Turun. Pelan dulu. Aku akan mengajarimu langkah pertama."
Langkah pertama ternyata sederhana. Terlalu sederhana.
"Jangan menginjak dengan tumit," kata Ki Jalak. "Tumit itu berat. Tumit itu kaki kerbau. Injak dengan bagian depan telapak kaki. Ujung-ujung jari. Seperti jalak hinggap."
Dira menuruni tebing dengan berjinjit, satu kendi di setiap tangan. Ia merasa sangat bodoh.
"Bukan berjinjit seperti penari ronggeng! Telapak depan, bukan ujung kuku! Dan lututmu jangan kaku. Lentur. Seperti pegas bambu."
Dira menekuk lututnya sedikit. Langkahnya menjadi aneh: setengah berjinjit, setengah berjongkok, seperti orang yang mengendap-endap mencuri mangga.
"Lebih baik. Sedikit. Sekarang, setiap kali kakimu menyentuh tanah, jangan biarkan berat badanmu tinggal di sana. Langsung pindahkan ke kaki berikutnya. Seperti air yang mengalir di atas batu. Air tidak pernah diam di satu batu."
Dira mencoba. Ia melangkah, memindahkan berat, melangkah lagi.
Kakinya menginjak batu berlumut.
Ia tergelincir.
Ia tidak jatuh ke jurang. Ia jatuh terduduk di jalan setapak dengan bunyi gedebuk keras, dan kendi di tangan kirinya terlepas, berguling dua kali di atas batu, lalu pecah berkeping-keping.
Dira duduk di atas pantatnya yang sakit, menatap pecahan kendi di depannya.
"Ah," kata Ki Jalak.
"Satu hari tanpa makan," kata Dira datar.
"Itu baru kendi pertama. Masih ada dua puluh sembilan."
"Itu tidak membantu."
"Memang tidak dimaksudkan untuk membantu. Itu dimaksudkan untuk jujur."
Pagi pertama, Dira memecahkan empat kendi.
Ia baru membawa dua puluh enam kendi penuh air ke dapur ketika matahari sudah setinggi tombak, jauh melewati batas waktu Gandawasa. Kakinya lecet, lututnya memar, pantatnya biru, dan tangannya tergores di belasan tempat oleh batu dan duri. Ia berdiri di depan Gandawasa dengan napas tersengal, tubuh basah oleh keringat dan air sendang yang tumpah, dan menunggu hukumannya.
"Empat kendi pecah," kata Gandawasa dengan senyum lebar. "Empat hari tanpa makan. Dan kau terlambat. Itu satu hari lagi. Lima."
"Lima hari," kata Ki Jalak. "Hm. Itu cukup lama. Tapi tidak apa-apa. Lapar membuat orang lebih ringan. Kau akan melompat lebih jauh."
"Kau tidak membantu," bisik Dira.
Ternyata ia tidak kelaparan lima hari.
Malam itu, setelah semua abdi tertidur dan Dira berlatih di depan tungku ketujuh, ia menemukan sebungkus daun pisang di atas karung beras. Isinya nasi, tempe, dan peyek kacang. Tak ada yang tahu siapa yang meletakkannya. Mbah Karta mendengkur di gudang beras. Si kembar mendengkur di barak.
Malam kedua, bungkusan yang sama muncul lagi.
Malam ketiga juga.
Pagi keempat, Wulansari datang ke pohon sawo dengan bungkusan dua kali lebih besar dari biasanya dan wajah yang sangat marah.
"Gendhis memberitahuku," katanya sambil menyodorkan bungkusan itu ke dada kakaknya. "Lima hari tanpa makan? Karena kendi pecah? Kakang Gandawasa itu..." Ia mengatakan sesuatu tentang Gandawasa yang sangat tidak pantas diucapkan oleh murid Argasuryan yang baik. "Makan. Sekarang. Semuanya. Aku tak mau dengar Kangmas bilang tidak lapar."
"Aku tidak bilang tidak lapar."
"Bagus. Karena Kangmas sudah janji."
Dira makan semuanya. Wulansari menungguinya sampai butir nasi terakhir, tangan bersedekap, persis tetua yang mengawasi murid menjalani hukuman. Baru setelah daun pisangnya bersih ia mau tersenyum.
Pagi kedua, ia memecahkan tiga kendi.
Pagi ketiga, dua.
"Kau terlalu banyak berpikir," kata Ki Jalak pada pagi ketiga, ketika Dira berdiri di atas sebongkah batu besar di tengah jalan patah kaki, menatap batu berikutnya yang berjarak dua langkah di bawahnya, licin dan miring, dengan jurang di sebelah kanannya. "Kau menatap batu itu seperti menatap musuh. Kau menghitung jaraknya, menghitung kemiringannya, menghitung licinnya. Lalu kau ragu. Lalu kakimu kaku. Lalu kau jatuh."
"Aku selalu menghitung."
"Ya. Dan itu bagus untuk napas. Bagus untuk membalas dendam. Bagus untuk mencuri kacang tanpa ketahuan, walaupun kau tetap ketahuan." Ki Jalak mendengus. "Tapi untuk melompat, kau harus berhenti menghitung. Kau harus percaya pada kakimu."
"Bagaimana caranya?"
Ki Jalak terdiam sebentar. Lalu ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Ia bersiul.
Siulan itu kecil dan serak, terdengar dari dalam dada Dira dan bukan dari telinganya. Siulan jalak kebo yang pendek-pendek, naik turun, terputus-putus. Persis seperti siulan Mbah Karta.
"Dengarkan iramanya," kata Ki Jalak di sela siulannya. "Jangan dengarkan batunya. Dengarkan iramanya. Satu, dua, lompat. Satu, dua, hinggap. Satu, dua, lompat. Biarkan kakimu ikut irama. Jangan kepalamu."
Dira memejamkan mata.
Satu, dua, lompat.
Ia melompat ke batu berikutnya.
Satu, dua, hinggap.
Kakinya menyentuh batu yang licin dan miring itu dengan bagian depan telapak. Lututnya melentur. Berat badannya tidak tinggal di sana, langsung mengalir ke depan.
Satu, dua, lompat.
Ia sudah melompat lagi, ke batu berikutnya, lalu berikutnya, lalu berikutnya, sebelum ia sempat berpikir. Mata masih setengah terpejam. Siulan Ki Jalak di dalam dadanya. Dua kendi penuh air di tangannya, berayun-ayun, tetapi airnya tidak tumpah.
Ia membuka mata.
Ia sudah berada di dasar tebing. Di tepi Sendang Kalimas. Batu-batu besar yang licin itu ada di belakangnya, di atasnya, dan ia sama sekali tak ingat bagaimana ia melewati sebagian besarnya.
Kendi di tangannya utuh. Airnya penuh sampai ke bibir.
Dira berdiri diam di tepi sendang. Lalu ia tertawa keras sekali, sampai burung-burung di pohon-pohon sekitarnya terbang ketakutan.
"Jangan sombong dulu," kata Ki Jalak, tetapi suaranya juga terdengar tersenyum. "Itu baru turun. Naik lebih sulit."
Naik memang lebih sulit.
Tetapi pada pagi kelima, Dira hanya memecahkan satu kendi. Pada pagi keenam, tidak satu pun. Ia membawa tiga puluh kendi penuh ke dapur sebelum matahari terbit, dan masih punya waktu untuk mandi di sumur sebelum Gandawasa bangun.
Gandawasa menghitung kendi-kendi itu dua kali. Lalu tiga kali. Lalu ia menatap Dira dengan mata yang semakin sipit.
"Tidak ada yang pecah?" katanya.
"Tidak ada, Kakang."
Gandawasa berjalan mengelilingi kendi-kendi itu, mengetuk beberapa dengan buku jarinya, seperti memeriksa apakah kendi itu asli atau buatan jin. Lalu ia menatap kaki Dira, yang lecet dan memar tetapi berdiri tegak dan ringan, tidak gemetar sedikit pun.
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berbalik dan masuk ke barak.
"Lihat itu," kata Ki Jalak dengan puas. "Dia makin takut."
Pada pagi ketujuh, pagi terakhir sebelum sumur dapur selesai dikuras, Dira bangun lebih awal dari biasanya. Ia berdiri di bibir tebing, menatap jalan patah kaki di bawahnya dengan mata yang kini bisa melihat setiap batu dalam gelap, setiap akar, setiap genangan lumut.
"Hari ini," kata Ki Jalak, "aku akan mengajarimu jurusnya."
"Jurus? Bukannya yang kemarin-kemarin itu jurus?"
"Yang kemarin-kemarin itu berjalan. Hari ini jurus." Ki Jalak terdiam, dan Dira merasakan sesuatu di dalam Balai Sukma bergerak, laci-laci ingatan yang dibuka pelan-pelan, hati-hati sekali, seperti orang membuka peti tua yang engselnya sudah berkarat. "Langkah ini punya nama. Aku baru ingat. Tadi malam, waktu kau tidur, namanya muncul dari bolong ingatanku."
"Apa namanya?"
"Langkah Jalak Ngumbara."
Kata-kata itu bergema di dalam Balai Sukma. Di leher Dira, dingin itu berdenyut sekali, pelan, seperti mengangguk.
"Langkah jalak yang mengembara," bisik Dira.
"Tujuh langkah. Tujuh cara menginjak. Tujuh cara melompat. Yang kemarin-kemarin itu langkah pertama dan kedua saja. Hinggap dan lompat. Hari ini kita pelajari sisanya." Ki Jalak berhenti sebentar. "Dulu ada seorang bocah yang belajar langkah ini dariku. Bocah keras kepala. Lebih keras kepala darimu. Dia jatuh berkali-kali. Ratusan kali. Kakinya patah dua kali. Tapi dia tidak menyerah."
Dira membeku. "Siapa?"
"Tidak ingat." Suara Ki Jalak terdengar bingung, sedikit sedih. "Wajahnya tidak ada. Namanya tidak ada. Hanya jatuhnya yang kuingat. Dan keras kepalanya." Jeda. "Sudahlah. Ambil dua kendi. Langkah ketiga: Jalak Menyibak Daun. Kaki kiri menyamping, menyapu, seperti sayap yang menyibak dedaunan..."
Mereka turun. Langkah ketiga. Langkah keempat, Jalak Mematuk Batu, sebuah hentakan pendek dengan ujung kaki untuk melompat lebih tinggi. Langkah kelima, Jalak Berbalik di Dahan, putaran di atas satu kaki yang membuat Dira jatuh tiga kali sebelum berhasil. Langkah keenam, Jalak Menukik, lompatan turun yang begitu jauh hingga Dira menjerit di udara dan mendarat di atas batu berlumut dengan kedua kendi masih utuh, entah bagaimana.
Matahari belum terbit. Dira berdiri di atas sebongkah batu tinggi di tengah jalan patah kaki, napasnya mengalir berputar seperti roda, kedua kendi penuh air di tangannya, tubuhnya ringan seperti bulu.
Di depannya, dua langkah jauhnya, ada celah selebar tiga depa di antara dua batu. Di bawah celah itu, jurang. Gelap dan dalam. Jauh di dasarnya, sungai kecil yang mengalir ke Sendang Kalimas berkilau samar.
"Langkah ketujuh," kata Ki Jalak. "Langkah terakhir. Langkah yang paling sulit. Dengan langkah ini, kau bisa menyeberangi celah yang mustahil, berjalan di atas air sejengkal, melompat dari satu atap ke atap lain seperti burung."
Dira menatap celah itu. Tiga depa. Jurang di bawahnya.
"Apa namanya?"
"Jalak..." Ki Jalak memulai, lalu berhenti. "Jalak..."
Dira menunggu.
"Ambil ancang-ancang dulu," kata Ki Jalak cepat. "Dua langkah mundur. Ya. Sekarang lari. Langkah ketujuh dimulai dengan lari."
Dira mundur dua langkah. Ia menarik napas. Ia berlari.
Satu langkah. Dua langkah. Tepi batu sudah di depannya. Celah tiga depa terbentang. Jurang menganga di bawah.
Ia melompat.
Tubuhnya melayang di udara di atas jurang, kedua kendi terayun di tangannya, angin subuh menerpa wajahnya, dan untuk sekejap ia merasa benar-benar seperti burung.
"Ki Jalak!" teriaknya di udara. "Sekarang apa? Kakiku harus bagaimana?"
Hening.
"Ki Jalak!"
"...bocah," kata Ki Jalak dengan suara yang sangat kecil.
"Apa?"
"Aku lupa langkah ketujuh."