Sang Penelan Pusaka

Bab 29Tapak Bayu Bajra

Dira turun dari atap dapur dengan lutut gemetar dan jantung yang masih berdebar seperti genderang perang.

Ia tidak tahu berapa lama ia berbaring di balik cerobong asap setelah Bayuwisesa pergi. Mungkin sepeminuman teh. Mungkin lebih. Pecahan batu andesit itu masih tertanam di ijuk sejengkal dari tempat wajahnya tadi berada, ujungnya masih hangat ketika akhirnya ia memberanikan diri menyentuhnya.

"Dia tahu," bisiknya ketika kakinya kembali menyentuh tanah di balik dapur. "Dia tahu itu aku."

"Mungkin," kata Ki Jalak. "Mungkin juga tidak. Kalau dia tahu itu kau, kenapa dia tidak naik ke atap dan menyeretmu turun? Kenapa dia tidak melapor ke pelatihnya? Kenapa dia cuma menjentikkan batu dan bilang ada tikus?"

"Untuk memberi peringatan."

"Atau untuk bermain-main. Anak seperti itu suka bermain-main dengan tikus sebelum memakannya." Ki Jalak terdiam sebentar. "Atau dia memang tidak tahu siapa yang di atas, dan cuma ingin yang di atas itu tahu bahwa dia tahu."

"Itu membingungkan."

"Anak-anak bangsawan memang membingungkan. Mereka diajari bicara dengan tiga makna sejak bisa menyusu."

Dira mengambil napas panjang, membiarkannya turun ke perut dan berputar. Debar jantungnya mereda sedikit.

"Aku tidak akan naik ke atap lagi," katanya.

"Kenapa?"

"Karena dia tahu."

"Justru karena dia tahu," kata Ki Jalak, "kau harus naik lagi. Besok. Dan lusa. Dan seterusnya. Kalau kau berhenti sekarang, dia akan tahu tikusnya ketakutan. Kalau kau tetap datang, dia akan bingung kenapa tikusnya tidak takut."

Dira menatap atap dapur yang hitam oleh jelaga, ke arah bubungan timur tempat cerobong asap tungku keempat mengepulkan asap tipis.

"Kau aneh sekali, Ki Jalak."

"Aku pusaka. Pusaka memang aneh. Sekarang cuci mukamu, ada ijuk di hidungmu."


Malam itu, di depan tungku ketujuh, Dira mencoba Tapak Bayu Bajra untuk pertama kalinya.

Ia menggantung karung beras setengah penuh di tiang dapur seperti biasa. Ia berdiri di depannya dengan kaki selebar bahu. Ia memejamkan mata dan memanggil kembali semua yang ia lihat dari atap tadi subuh: tekukan lutut Ki Brajanala, putaran pinggul, tarikan lengan, luncuran lambat seperti dahan ditiup angin, ledakan cepat seperti petir.

Ia membuka mata.

Ia bergerak.

Lutut ditekuk. Pinggul diputar setengah lingkaran, seperti pelatih itu. Lengan ditarik ke belakang. Lalu meluncur ke depan, pelan, pelan...

Ia tak tahu kapan harus mengubah pelan menjadi cepat. Ia menunggu, menunggu, dan tiba-tiba telapak tangannya sudah menyentuh karung beras sebelum ia sempat meledakkan apa pun.

Karung itu bergoyang sedikit. Seperti ditepuk anak kecil.

"Hm," kata Ki Jalak.

Dira mencoba lagi. Kali ini ia meledakkan tenaganya lebih awal, sejengkal sebelum karung. Telapaknya menghantam karung lebih keras. Karung itu berayun sedikit lebih jauh. Lalu bahunya terasa seperti ditusuk jarum.

Ia meringis dan memegangi bahu.

"Ya," kata Ki Jalak. "Itu dia. Seperti si wajah bulat. Semua tenaga dari bahu."

"Aku sudah memutar pinggul."

"Kau memutar pinggul seperti pintu berkarat, persis seperti si wajah bulat. Pinggulmu berputar, tapi kakimu tidak ikut. Kakimu cuma berdiri. Seperti tiang. Kaki yang cuma berdiri tidak memberi tenaga apa-apa."

"Lalu bagaimana?"

Ki Jalak terdiam. Dira merasakan pusaka itu mencari-cari di dalam ingatannya yang bolong, seperti saat mencari nama langkah ketujuh. Tetapi kali ini ada yang berbeda. Kali ini, pencarian itu tidak panik. Pencarian itu pelan dan hati-hati, seperti orang meraba bentuk sesuatu yang sudah sangat dikenalnya dalam gelap.

"Lepas sandalmu," kata Ki Jalak akhirnya.

"Aku tidak pakai sandal. Abdi tidak pakai sandal."

"Oh. Bagus. Kalau begitu rasakan tanahnya. Jangan cuma berdiri di atasnya. Tekan. Seperti akar pohon yang mencengkeram tanah. Seperti jalak yang mencengkeram dahan sebelum melompat."

Dira menekan telapak kakinya ke lantai tanah dapur yang keras dan dingin. Jari-jari kakinya menekuk sedikit, mencengkeram.

"Sekarang, jangan mulai dari pinggul. Mulai dari tumit. Tumit kanan. Putar ke dalam, sedikit saja, seperti memutar tutup kendi. Lalu putaran itu naik. Ke betis. Ke lutut. Ke paha. Baru ke pinggul. Pinggulmu jangan diputar sendiri. Pinggulmu diputar oleh kakimu."

Dira mencoba. Tumit kanan diputar ke dalam. Putaran itu naik ke betis. Ia merasakannya, getaran kecil yang merambat ke atas seperti air yang naik di batang bambu. Ke lutut. Ke paha.

Pinggulnya berputar sendiri. Bukan setengah lingkaran. Lebih. Seperti putaran pinggul Bayuwisesa.

"Ya," bisik Ki Jalak. "Ya. Itu. Sekarang biarkan putaran itu naik terus. Ke punggung. Ke bahu. Jangan tahan di bahu. Biarkan lewat. Ke lengan. Ke siku. Ke pergelangan. Ke telapak."

Lengan Dira meluncur ke depan, pelan, didorong putaran yang naik dari tumitnya.

"Sekarang," bisik Ki Jalak, "napas."

Dira menarik napas. Panas di bawah pusarnya, panas yang sudah berputar seperti roda sejak malam pertama di depan tungku, tersentak naik, bergabung dengan putaran dari tumit, menyembur ke lengan...

"Lepaskan."

Telapak tangannya menghantam karung beras.

Bunyi petir kecil. Sangat kecil, seperti petir yang lahir di dalam kendi. Tapi ada.

Karung beras itu tidak berayun. Karung beras itu meledak.


Beras menyembur ke seluruh dapur seperti hujan kerikil.

Butiran-butiran putih melesat ke segala arah, memantul di dinding, berjatuhan dari balok atap, menghujani tungku-tungku, kuali-kuali, rak-rak, dan lantai. Karung yang sudah robek di bagian depannya berayun liar di tiang dapur, memuntahkan sisa isinya seperti mulut raksasa yang muntah.

Dira berdiri terpaku di tengah hujan beras, telapak tangan masih terulur ke depan, mulut ternganga.

Beras terus berjatuhan selama sepeminuman teh. Di rambutnya. Di bahunya. Di lantai, tebal seperti taburan tepung. Di dalam tungku ketujuh, di mana beberapa butir mendesis dan meletup di dalam api seperti berondong jagung.

Akhirnya, hujan itu berhenti. Karung kosong itu berayun sekali lagi di tiang, lalu diam.

Dapur sunyi.

"Hm," kata Ki Jalak. "Itu... lebih dari yang kuharapkan."

"Aku menghancurkan sekarung beras," bisik Dira.

"Setengah karung."

"Setengah karung beras dapur."

"Benar."

"Gandawasa akan membunuhku."

"Gendhis akan membunuhmu lebih dulu. Dia yang menghitung persediaan beras."

Dira menatap lantai dapur yang tertutup beras dari ujung ke ujung. Lalu ia menatap telapak tangannya. Telapak itu merah, berdenyut, tetapi tidak sakit. Bahunya tidak sakit. Lengannya terasa ringan dan hangat, seperti baru saja melepaskan sesuatu yang lama tertahan di dalamnya.

Lalu, perlahan, ia mulai tertawa.

"Kenapa kau tertawa? Kau baru saja bilang Gandawasa akan membunuhmu."

"Aku melakukannya," kata Dira di sela tawanya. "Ki Jalak, aku melakukannya. Tapak Bayu Bajra. Aku melakukannya."

"Kau melakukan sesuatu yang mirip Tapak Bayu Bajra," koreksi Ki Jalak. Tapi suaranya juga tersenyum. "Tumitmu masih kaku. Putaranmu masih tersendat di lutut. Napasmu terlambat setengah kedipan. Dan karungnya meledak karena tenagamu keluar berantakan, bukan karena tenagamu besar." Ia terdiam sebentar. "Tapi ya. Kau melakukannya. Lebih benar dari si wajah bulat."

Dira masih tertawa ketika ia mengambil sapu ijuk dan mulai menyapu beras.


Butuh hampir sepanjang malam untuk membersihkan beras dari setiap sudut dapur. Ia menyapunya ke tengah, mengumpulkannya dengan tampah, menampinya dari debu dan pasir, lalu memasukkannya kembali ke karung yang ia jahit seadanya dengan tali ijuk. Beras yang jatuh ke dalam tungku sudah hangus. Beras yang jatuh ke genangan air di dekat gentong sudah basah dan lembek. Ia memisahkan semua itu ke dalam bakul tersendiri.

Ketika selesai, karung itu hanya terisi seperempat. Seperempat lagi hilang. Hangus, basah, atau entah ke mana.

Ia meletakkan karung itu di tumpukan karung lain di sudut dapur, di bagian paling belakang, berharap tak ada yang memperhatikan.

Gendhis memperhatikan.

Ia memperhatikan pada pagi harinya, sebelum sarapan, ketika ia menghitung persediaan beras seperti yang ia lakukan setiap pagi selama lima warsa. Ia menghitung karung-karung di sudut. Lalu menghitung lagi. Lalu menarik karung paling belakang, karung yang dijahit dengan tali ijuk, karung yang isinya hanya seperempat.

Lalu ia menemukan bakul berisi beras hangus dan beras basah di balik tungku ketujuh.

Lalu ia menemukan sebutir beras di rambut Dira, yang sedang mengupas bawang di bangku sudut dengan wajah sangat polos.

Gendhis berjalan pelan ke arah Dira. Ia berhenti di depannya. Ia mengambil butir beras itu dari rambut Dira dengan dua jari, mengangkatnya ke depan mata pemuda itu, persis seperti waktu ia mengangkat remah kacang goreng dulu.

"Dira," katanya dengan suara sangat tenang. Ketenangan sebelum badai.

"Ya, Gendhis?"

"Setengah karung beras."

"Ya?"

"Hilang. Lalu seperempatnya muncul lagi di karung yang dijahit pakai tali ijuk. Lalu ada sebakul beras hangus di balik tungku ketujuh. Lalu ada beras di rambutmu." Ia menatap Dira lurus-lurus. "Kau mau menjelaskan?"

Dira membuka mulut.

"Bilang tikus," bisik Ki Jalak.

"Jin tungku," kata Dira.

Gendhis menatapnya. Lama.

Lalu, di belakangnya, Gendhing, yang sejak tadi menguping sambil pura-pura mencuci bakul, menjatuhkan bakulnya dan berseru dengan suara gemetar, "Jin tungku lagi? Jin tungku makan beras?"

Gendhis menutup matanya. Ia menarik napas panjang. Ia menghembuskannya pelan-pelan.

"Gendhing," katanya tanpa membuka mata, "jin tungku tidak makan beras."

"Tapi kata Dira..."

"Dira bohong."

"Dira tidak pernah bohong!"

"Dira," kata Gendhis, membuka matanya dan menatap Dira dengan tatapan yang bisa membuat susu menjadi masam, "baru saja belajar bohong. Dan dia sangat buruk dalam hal itu."

Ia berbalik dan kembali ke karung-karung berasnya. Tetapi sebelum pergi, ia berhenti sebentar dan menoleh lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan, hanya untuk Dira.

"Seperempat karung," katanya. "Kau ganti dengan kerja. Dua wuku menumbuk padi di lumbung, setiap sore setelah semua pekerjaanmu selesai. Aku yang akan bilang ke Kakang Ganda bahwa tikus masuk ke karung. Tikus besar." Matanya menyipit. "Dan apa pun yang kau lakukan di dapur tengah malam, lain kali lakukan dengan karung berisi pasir. Bukan beras."

Dira menatapnya, terkejut.

Gendhis sudah berbalik dan kembali menghitung.

"Gadis itu," kata Ki Jalak pelan, "jauh lebih pintar daripada yang dia tunjukkan."


Malam berikutnya, Dira mengisi karung dengan pasir dari tepi sumur.

Ia memukulnya dengan Tapak Bayu Bajra. Lagi. Dan lagi. Karung berisi pasir tidak meledak, karena pasir lebih berat dan lebih padat daripada beras. Karung itu hanya berayun, sedikit lebih jauh setiap kali tumitnya berputar lebih benar, putarannya naik lebih lancar, napasnya datang tepat pada waktunya.

Ki Jalak membetulkan setiap kesalahan. Tumitnya terlalu cepat. Lututnya terlalu kaku. Bahunya menahan putaran. Napasnya terlambat. Dira mengulang, dan mengulang, dan mengulang, sampai kakinya gemetar dan telapak tangannya merah dan perih.

Menjelang tengah malam, ia berhasil membuat karung pasir itu berayun begitu jauh hingga membentur balok atap dapur.

"Lagi," kata Ki Jalak. "Kali ini dengan sepenuh tenaga. Semua yang kau punya. Aku ingin melihat seberapa jauh kau bisa sampai."

Dira mengambil napas. Ia menekan telapak kakinya ke lantai. Ia memutar tumit kanannya ke dalam.

Putaran itu naik. Betis. Lutut. Paha. Pinggul. Punggung. Bahu. Lengan.

Panas di bawah pusarnya menyembur naik, lebih besar dari sebelumnya, bergabung dengan putaran itu.

Telapak tangannya meluncur ke depan, pelan, pelan, lalu...

Krak.

Bunyi itu bukan bunyi petir kecil.

Bunyi itu datang dari dalam lengan kanannya. Dari tulang lengan bawahnya, di antara siku dan pergelangan. Bunyi seperti ranting kering yang diinjak.

Karung pasir itu berayun, membentur balok atap, berayun kembali.

Dira tidak melihatnya. Ia sudah jatuh berlutut di lantai dapur, memegangi lengan kanannya dengan tangan kiri, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membanjir dari dahinya. Rasa sakit menjalar dari lengan bawahnya ke seluruh tubuh, bukan rasa sakit seperti dicambuk atau dibakar, melainkan rasa sakit yang dalam dan aneh, seperti sesuatu di dalam dirinya sendiri memberontak.

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak tidak lagi tersenyum.

"Bocah," katanya dengan suara yang sangat pelan dan sangat serius. "Diam. Jangan gerakkan lenganmu. Biar aku lihat."

Dira merasakan pusaka itu terulur dari dalam dadanya, menyusuri bahunya, menyusuri lengan atasnya, sampai ke siku. Lalu ke lengan bawah. Lalu berhenti.

Lama sekali Ki Jalak tidak berkata apa-apa.

"Ki Jalak?" bisik Dira, giginya bergemeletuk. "Patah?"

"Tidak," kata Ki Jalak. "Belum patah. Retak. Retak kecil." Jeda. "Tapi bukan itu yang membuatku khawatir."

"Lalu apa?"

Ki Jalak tidak langsung menjawab. Ketika akhirnya ia berbicara, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat tidak ingin ia temukan.

"Tulangmu, bocah," katanya. "Tulang lengan bawahmu. Bentuknya salah."