Sang Penelan Pusaka

Bab 30Tulang yang Salah

"Salah bagaimana?"

Dira berbisik karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Rasa sakit di lengan kanannya sudah tidak sehebat tadi. Kini rasa itu tinggal denyutan dalam yang berat, seperti ada palu kecil yang memukul-mukul tulangnya dari dalam setiap kali jantungnya berdetak. Tetapi rasa takut di dadanya justru makin besar.

"Diam dulu. Biar aku lihat lebih jelas."

Dira diam. Ia duduk bersandar di tiang dapur, di bawah karung pasir yang masih bergoyang pelan, lengan kanannya terkulai di pangkuan, tangan kirinya menopangnya dengan hati-hati seperti menopang anak burung yang patah sayap.

Ia merasakan Ki Jalak bergerak di dalam lengannya. Bukan seperti tadi, ketika pusaka itu menyusuri lengannya dengan cepat untuk mencari retakan. Kali ini lambat. Sangat lambat. Seperti orang tua yang meraba-raba ukiran pada batu nisan dengan ujung jarinya dalam gelap, membaca huruf demi huruf.

Lama sekali.

Bara di tungku ketujuh meredup. Dira menambah sebatang kayu dengan tangan kiri, tanpa menggerakkan lengan kanannya.

"Tulang lengan bawah manusia ada dua," kata Ki Jalak akhirnya, pelan. "Satu besar, satu kecil. Keduanya berjajar dari siku sampai pergelangan, seperti dua batang bambu yang diikat bersama. Kalau lengan diputar, kedua tulang itu berputar bersama, saling menyilang sedikit. Kalau lengan didorong, kedua tulang itu menahan bersama, seperti dua tiang yang menyangga satu atap."

"Lalu?"

"Lalu tulangmu tidak begitu." Jeda. "Tulang yang kecil, di sisi luar lenganmu, bengkok. Sedikit. Tidak banyak. Kalau dilihat dari luar, tidak ada yang akan tahu. Tapi di dalamnya, tulang itu tidak lurus. Tulang itu melengkung ke dalam, sedikit di bawah tengah, seperti bambu yang tumbuh di tanah miring."

Dira menatap lengan kanannya. Lengan itu tampak sama seperti biasa. Kurus, kecokelatan, berbekas luka-luka kecil dari pisau dapur dan tali timba. Tidak ada yang bengkok.

"Sejak kapan?"

"Lama. Bertahun-tahun. Tulang yang bengkok baru-baru ini akan terasa lain. Masih lunak di bengkokannya, masih panas. Ini sudah dingin. Sudah keras. Sudah lama sekali tumbuh begini." Ki Jalak terdiam sebentar. "Dan bukan cuma itu. Di tempat bengkoknya ada benjolan kecil. Seperti bekas sambungan. Seperti tulang yang pernah patah, lalu sembuh sendiri tanpa ditata, dan sambungannya tumbuh miring."

Pernah patah.

Dira memejamkan mata, mencoba mengingat. Ia tidak ingat pernah mematahkan lengannya. Ia ingat luka-luka kecil, terkilir, memar, ribuan goresan dan lecet yang biasa dialami anak yang tumbuh di antara tungku dan timba. Tetapi patah?

"Dan ada yang lain lagi," lanjut Ki Jalak, suaranya lebih pelan. "Ini bukan cuma soal lenganmu. Aku sudah merasakannya sejak pertama bangun di dalam dirimu, tapi aku pikir tidak penting. Sekarang aku tahu ini penting."

"Apa?"

"Tulangmu. Semuanya. Lebih tipis dari seharusnya. Lebih ringan. Lebih rapuh. Seperti tulang orang yang... yang..." Ki Jalak mencari kata. "Seperti tulang orang yang waktu kecilnya kurang makan. Bertahun-tahun. Tulang anak-anak tumbuh dari apa yang mereka makan. Kalau yang mereka makan cuma nasi tipis dan sayur bening, tulang mereka tumbuh tipis juga. Seperti rumah yang dibangun dari bambu muda, bukan bambu tua."

Dira terdiam.

Ia teringat masa kecilnya di asrama anak asuhan. Bukan masa yang buruk. Nyai Rukminiwati merawatnya, Wulansari menemaninya, ia punya tikar untuk tidur dan atap di atas kepalanya. Tetapi ia juga ingat jatah makan anak asuhan yang tak pernah cukup. Nasi jagung yang dicampur air supaya kelihatan banyak. Sayur bening dengan dua potong labu. Lauk yang hanya datang pada hari pasaran Kliwon, sepotong kecil tempe atau ikan asin. Ia ingat sering membagi jatahnya dengan Wulansari, karena adiknya selalu lebih lapar. Ia ingat sering tidur dengan perut berbunyi.

Itu biasa. Semua anak asuhan begitu. Ia tak pernah berpikir itu penting.

"Apa artinya?" tanyanya pelan.


Ki Jalak menjelaskan sambil Dira duduk bersandar di tiang, menatap bara di tungku ketujuh.

"Tingkat Raga," katanya, "adalah tingkat menempa tubuh. Raga Awal: membuka napas, membersihkan meridian. Itu sudah kau lakukan. Raga Madya: menempa otot dan daging, membuatnya keras seperti kayu jati. Kau sudah mulai melakukannya di depan tungku. Raga Puncak..." Ia berhenti sebentar. "Raga Puncak adalah menempa tulang. Membuat tulang sekeras besi. Supaya tubuh bisa menahan tenaga yang lebih besar. Supaya ketika kau naik ke Prana dan mulai menarik tenaga alam ke dalam dirimu, tubuhmu tidak hancur seperti kendi tanah liat yang diisi air mendidih."

"Dan tulangku tipis."

"Tipis dan bengkok."

"Jadi aku tidak bisa naik ke Raga Puncak."

"Kau bahkan tidak bisa naik ke Raga Madya dengan benar." Suara Ki Jalak terdengar berat. "Ototmu sudah mulai mengeras. Bagus. Tapi otot yang keras di atas tulang yang rapuh seperti kerbau yang menarik bajak dari bambu muda. Makin kuat kerbaunya, makin cepat bajaknya patah. Itulah yang terjadi tadi. Tapak Bayu Bajramu sudah cukup kuat untuk mematahkan tulangmu sendiri. Dan tulang yang bengkok itu yang patah duluan, karena di sanalah tempat paling lemah."

Dira menatap lengannya lagi.

"Kalau aku terus berlatih?"

"Tulangmu akan retak lagi. Dan lagi. Lalu suatu hari tidak retak, tapi patah betul. Dan kalau patah di tengah pertarungan..." Ki Jalak tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Kalau aku berhenti berlatih?"

"Kau akan tetap di Raga Awal selamanya. Atau mungkin naik sedikit ke Raga Madya, lalu berhenti di sana seperti air yang mentok di bendungan. Kau akan tetap abdi dapur. Gandawasa akan tetap memukulmu. Sutarga akan tetap menampar adikmu. Dan apa pun yang mencari Wadah," suara Ki Jalak merendah, "akan menemukanmu dalam keadaan seperti itu."

Hening.

Bara di tungku ketujuh berderak pelan. Karung pasir di atas kepala Dira sudah berhenti bergoyang.

"Ada jalan lain?" tanya Dira akhirnya.

Ki Jalak tidak menjawab. Bukan karena tidak tahu. Dira bisa merasakannya. Pusaka itu tahu jawabannya. Ia hanya tidak mau mengatakannya.

"Ki Jalak."

"...ada."

"Apa?"

"Nanti. Besok. Kau harus tidur. Lenganmu harus dibalut. Kau harus berpikir dengan kepala yang tidak sedang kesakitan."

"Ki Jalak, katakan sekarang."

"Besok, bocah." Suara Ki Jalak terdengar sangat tua dan sangat lelah. "Biarkan aku memikirkannya dulu. Siapa tahu ada jalan yang lebih baik. Aku harus mencari di bolong-bolong ingatanku dulu."

Dira tidak memaksa. Ia membalut lengannya dengan sobekan jarik, mengikatnya dengan tali ijuk ke sebilah bambu tipis supaya tidak bergerak, lalu berbaring di atas karung beras dengan lengan di atas dada.

Ia tidak tidur sampai kentongan subuh.


Wulansari langsung melihat balutan itu ketika Dira datang ke pohon sawo pagi itu.

"Lenganmu kenapa?"

"Retak."

Wulansari terdiam. Matanya membesar. Lalu, perlahan, ia mengangguk, menarik napas panjang, dan duduk di samping kakaknya tanpa berteriak, tanpa menangis, tanpa mengancam akan menyerbu asrama murid dalam.

"Kangmas tidak bilang tidak apa-apa," katanya pelan.

"Aku sudah janji."

"Siapa yang melakukannya?"

"Aku sendiri."

Wulansari menatapnya lama. Ia tidak bertanya bagaimana. Ia tidak bertanya kenapa. Gadis itu sudah belajar sesuatu sejak Dira mengatakan aku belum bisa menceritakannya di bawah pohon yang sama. Ia hanya meraih lengan kanan kakaknya dengan sangat hati-hati dan memeriksa balutannya.

"Balutannya jelek," katanya. "Bambunya kependekan. Talinya terlalu kencang di pergelangan, nanti tanganmu kebas."

Ia membuka balutan itu, pelan-pelan, dan membalutnya kembali dengan lebih rapi, menggunakan sehelai kain bersih dari sabuknya sendiri.

Saat jari-jarinya menekan bagian luar lengan bawah Dira, ia berhenti.

"Di sini," katanya. "Ada benjolan kecil."

Dira menahan napas.

"Kangmas ingat?" tanya Wulansari pelan, matanya masih tertuju ke benjolan itu. "Waktu kita kecil. Umurku enam, umur Kangmas tujuh. Waktu kita memanjat pohon jambu air di belakang asrama tetua."

Dira mengerjap. Lalu, perlahan, ingatan itu muncul. Kabur dan jauh, seperti bayangan di dasar air keruh.

Pohon jambu air dengan dahan-dahan yang licin. Buah-buah merah yang menggantung di ujung dahan tertinggi. Wulansari kecil yang menangis di bawah karena ingin jambu. Dira kecil yang memanjat ke dahan tertinggi untuk mengambilkannya. Dahan yang patah. Tanah yang menghantam dari bawah.

"Lengan Kangmas bengkak sebesar kendi," kata Wulansari. "Sepasar lebih. Warnanya ungu, lalu hijau, lalu kuning. Kangmas tidak bisa memegang timba. Tapi Kangmas tidak mau bilang ke Nyai. Kangmas bilang kalau Nyai tahu, Nyai akan marah karena kita mencuri jambu di kebun tetua. Kangmas bilang..."

"Tidak apa-apa," bisik Dira.

Wulansari mengangguk. Matanya basah.

"Kangmas bilang tidak apa-apa. Kangmas membalutnya sendiri dengan sobekan jarik dan sebilah bambu. Persis seperti ini." Ia menyentuh bambu tipis di balutan semalam yang sudah ia lepaskan. "Kangmas menimba air pakai tangan kiri selama sebulan. Dan Kangmas tidak pernah mengeluh."

Dira terdiam.

Ia tidak ingat semua itu. Atau lebih tepatnya, ia sudah lupa. Ia sudah memasukkan ingatan itu ke dalam tumpukan tidak apa-apa yang begitu tinggi sehingga ingatan itu tenggelam di dasarnya.

Tulang lengan yang patah waktu umur tujuh warsa. Sembuh sendiri, tanpa ditata, karena ia tak mau dimarahi Nyai soal jambu curian. Tumbuh miring. Lalu tumbuh tipis, karena nasi jagung yang dicampur air.

"Aku ingat sekarang," katanya pelan.

"Ini karena itu?" tanya Wulansari. "Lengan Kangmas retak sekarang karena dulu patah?"

Dira mengangguk.

Wulansari menatap benjolan kecil di lengan kakaknya. Lalu, tanpa peringatan, ia menangis. Bukan tangis keras seperti di depan tungku. Tangis yang pelan, hampir tanpa suara, dengan air mata yang jatuh satu per satu ke balutan kain di lengan Dira.

"Itu salahku," bisiknya. "Aku yang menangis minta jambu. Kangmas memanjat karena aku."

"Wulan."

"Kalau aku tidak menangis..."

"Wulan." Dira mengangkat tangan kirinya dan menyeka air mata adiknya dengan ibu jari, seperti waktu mereka kecil. "Aku memanjat karena aku mau. Aku jatuh karena dahannya patah. Aku tidak bilang ke Nyai karena aku bodoh. Itu bukan salahmu. Tak satu pun."

"Tapi..."

"Tak satu pun." Ia menatap adiknya lurus-lurus. "Dan kau tahu apa yang paling kuingat dari hari itu, sekarang, setelah kau mengingatkanku?"

Wulansari menggeleng.

"Jambunya manis," kata Dira. "Kau memberiku yang paling besar. Kau bilang aku pantas dapat yang paling besar karena aku yang jatuh."

Wulansari tertawa di sela tangisnya. Tawa yang sengau dan basah.

"Kangmas bodoh," katanya.

"Aku tahu."


Satyaki melihat balutan itu sore harinya, ketika Dira sedang menumbuk padi di lumbung sebagai hukuman dari Gendhis, menumbuk dengan tangan kiri saja, pelan dan canggung.

Ia tidak bertanya. Ia hanya mengambil alu kedua dari dinding lumbung dan mulai menumbuk di lesung sebelah, dengan irama yang sama.

"Kalau kau perlu daun binahong lagi," katanya setelah lama, tanpa menoleh, "ibuku juga tahu tumbuhan lain. Untuk tulang. Daun patah tulang. Akar sambung. Kunyit hutan. Aku hafal semuanya."

Dira berhenti menumbuk sebentar. Lalu melanjutkan.

"Terima kasih," katanya.

"Utang nasi," kata Satyaki. "Belum lunas."


Malam itu, di depan tungku ketujuh, Dira tidak berlatih.

Ia duduk bersila dengan lengan kanan terbalut di pangkuan, menatap bara, dan menunggu.

"Kau sudah memikirkannya," katanya akhirnya. Itu bukan pertanyaan.

"Sudah."

"Sudah kau cari di bolong-bolong ingatanmu?"

"Sudah."

"Ada jalan yang lebih baik?"

Lama sekali Ki Jalak tidak menjawab. Bara di tungku berderak. Di gudang beras di seberang halaman, dengkuran Mbah Karta terdengar pelan dan teratur.

"Tidak," kata Ki Jalak akhirnya.

"Lalu jalan yang ada?"

Ki Jalak menghela napas, kalau pusaka bisa menghela napas. Lalu ia berbicara, pelan, berat, setiap kata seperti batu yang diletakkan satu demi satu di atas meja.

"Tulang yang tumbuh salah tidak bisa diluruskan dengan latihan. Tidak bisa diluruskan dengan ramuan. Tidak bisa diluruskan dengan doa. Tulang itu sudah keras. Sudah jadi. Seperti bambu yang sudah tua dan tumbuh miring. Kau tidak bisa meluruskan bambu tua dengan menariknya pelan-pelan."

"Lalu?"

"Lalu kau harus mematahkannya."

Dira tidak bergerak.

"Di tempat yang sama," lanjut Ki Jalak. "Di benjolan itu. Di tempat sambungan lama yang miring. Patahkan lagi. Lalu tata lurus. Lalu biarkan sembuh dengan benar. Dengan ramuan yang tepat, dengan makanan yang cukup, dengan napas yang mengalir ke tulang itu setiap malam, supaya ketika tumbuh kembali, ia tumbuh tebal dan lurus dan keras."

Bara di tungku ketujuh meletup kecil. Sepercik bunga api melayang ke udara, lalu padam.

"Siapa yang mematahkannya?" tanya Dira pelan.

Ki Jalak tidak menjawab.

Dira tidak perlu jawaban. Ia sudah tahu. Ia tidak bisa meminta Mbah Karta, karena ia tidak tahu siapa sebenarnya Mbah Karta. Ia tidak bisa meminta si kembar, karena mereka akan menjerit sampai seluruh padepokan bangun. Ia tidak bisa meminta Satyaki, karena Satyaki sudah cukup banyak menanggung masalah. Ia tidak bisa meminta Wulansari. Tidak akan pernah.

Ia menatap tangan kirinya.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Kau tidak harus melakukannya. Kau bisa memilih tetap di Raga Awal. Banyak orang hidup bahagia di Raga Awal. Petani. Pedagang. Juru masak."

"Dan apa pun yang mencari Wadah," kata Dira, "akan menemukanku dalam keadaan seperti itu."

Ki Jalak terdiam.

"Kau sendiri yang bilang," kata Dira. Suaranya tenang. Lebih tenang dari yang ia rasakan. "Tadi malam."

"Aku tahu apa yang kubilang."

Dira menatap bara di tungku ketujuh lama sekali. Lalu ia menatap benjolan kecil di lengan kanannya, di balik kain sabuk Wulansari, di tempat yang dulu patah karena sebutir jambu air merah untuk adiknya.

"Bagaimana caranya?" tanyanya.