Bab 34Pertanyaan Nyai Rukminiwati
Nyai Rukminiwati tidak membawanya ke balairung. Tidak ke asrama tetua. Tidak ke tempat mana pun yang punya dinding dan telinga.
Ia membawanya ke kebun obat di belakang asrama tetua, sebidang tanah kecil yang dipagari bambu, ditanami jahe, kencur, temulawak, sirih, dan belasan tumbuhan lain yang namanya tak dikenal Dira. Di tengah kebun itu ada sebuah bangku batu di bawah pohon jambu air.
Pohon jambu air.
Dira berhenti di ambang pagar bambu dan menatap pohon itu. Dahan-dahannya bengkok dan licin, buah-buahnya yang merah menggantung di ujung ranting tertinggi. Sebelas warsa lalu pohon ini lebih kecil. Sebelas warsa lalu salah satu dahannya patah di bawah berat seorang bocah berumur tujuh warsa.
Ia masih ingat rasanya. Bukan sakitnya, anehnya. Sakitnya sudah lama pudar seperti mimpi buruk yang tak lagi bisa diceritakan ulang. Yang ia ingat adalah wajah Wulansari kecil di bawah pohon, dua kuncir rambutnya bergoyang, kedua tangannya memeluk tiga butir jambu curian di dada seperti memeluk anak ayam. Wajah itu pucat ketakutan. Kangmas, Kangmas, tidak apa-apa?
Tidak apa-apa, jawabnya waktu itu, sambil menyembunyikan lengan kanannya di balik punggung. Cuma kaget.
Lalu ia berjalan pulang ke bilik bambu di belakang asrama anak asuhan, tidur dengan lengan berdenyut seperti dipukuli palu, dan keesokan harinya menimba air dengan tangan kiri. Tak seorang pun bertanya. Atau begitulah yang ia kira selama sebelas warsa.
Sekarang, menatap pohon itu, ia mulai ragu.
"Duduk," kata Nyai Rukminiwati.
Dira duduk di bangku batu. Nyai berdiri di depannya, tidak duduk, menatapnya dari atas dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun.
"Lenganmu," katanya. "Kenapa?"
"Terpeleset gabah, Nyai. Di lumbung. Semalam."
Nyai Rukminiwati tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap.
Dira menatap balik. Ia sudah menyiapkan kebohongan ini selama tiga hari. Ia sudah mengulangnya kepada Gandawasa, kepada Mbah Karta, kepada para abdi. Kebohongan itu sudah licin di mulutnya, seperti batu kali yang dihaluskan air.
Tetapi Nyai Rukminiwati bukan Gandawasa.
"Terpeleset gabah," ulang Nyai pelan. "Lalu jatuh dengan lengan di bawah. Lalu tulangnya patah."
"Ya, Nyai."
"Patah di sisi luar lengan bawah. Tulang yang kecil. Sedikit di bawah tengah."
Dira tidak menjawab.
"Di tempat yang sama," kata Nyai Rukminiwati, "dengan benjolan kecil yang selama sebelas warsa ada di lenganmu, yang kau kira tak pernah kulihat."
Angin sore bertiup pelan. Daun-daun pohon jambu air bergemeresik di atas kepala mereka. Sebutir jambu yang terlalu matang jatuh dan menggelinding di tanah dekat kaki Dira.
"Nyai tahu," bisik Dira.
"Aku membesarkanmu, Sudira. Aku memandikanmu waktu kau masih bisa kugendong dengan satu tangan. Aku tahu setiap bekas luka di tubuhmu." Nyai Rukminiwati memungut jambu yang jatuh itu dan menatapnya. "Sebulan kau menimba air dan memegang sendok dengan tangan kiri. Kau pikir aku tidak memperhatikan?"
"Kenapa Nyai tidak bilang apa-apa?"
"Karena kau tidak bilang apa-apa." Nyai meletakkan jambu itu di bangku batu di samping Dira. "Kau berumur tujuh warsa dan kau memutuskan untuk menanggungnya sendirian. Supaya Wulansari tidak dimarahi karena mencuri jambu. Supaya aku tidak repot. Aku menghormati itu. Aku pikir lenganmu akan sembuh dengan sendirinya." Ia terdiam sebentar. "Aku salah."
Dira menatap tetua itu. Untuk sesaat, sangat singkat, ia melihat sesuatu melintas di wajah yang selalu datar itu. Sesuatu seperti penyesalan.
Lalu sesuatu itu lenyap.
"Jadi," kata Nyai Rukminiwati, "jangan bohong padaku lagi. Kau tidak terpeleset gabah."
Dira menarik napas panjang. Membiarkannya turun ke bawah pusar. Berputar sekali.
Ia bisa mengatakan yang sebenarnya. Tentang Ki Jalak. Tentang keris retak di gudang rongsokan. Tentang Balai Sukma. Tentang kata Wadah yang naik dari dasar dirinya. Tentang tulang yang harus dipatahkan supaya ia bisa naik tingkat.
Jangan beri tahu siapa pun, kata Ki Jalak. Nyai Rukminiwati sudah tahu sesuatu. Biarkan dia tahu apa yang sudah dia tahu. Jangan tambahkan.
"Aku sedang berlatih, Nyai," katanya akhirnya.
Itu bukan kebohongan.
Nyai Rukminiwati menunggu.
"Aku berlatih sendiri. Malam-malam. Di dapur. Napas, kuda-kuda, pukulan. Aku mengintip latihan murid luar dan murid dalam, lalu menirunya." Dira menatap lengannya. "Waktu aku memukul dengan sepenuh tenaga, tulangku retak. Di tempat benjolan itu. Karena tulangnya bengkok dan tipis. Aku tahu kalau tidak diperbaiki, aku tak akan pernah bisa naik tingkat. Jadi aku mematahkannya lagi. Dan menatanya lurus."
Ia mengangkat wajah dan menatap Nyai Rukminiwati.
"Aku sendiri yang melakukannya."
Hening lama.
Nyai Rukminiwati menatapnya tanpa berkedip. Wajahnya tak berubah sedikit pun. Tetapi Dira, yang sudah delapan belas warsa mengenal wajah itu, melihat sesuatu bergerak di bawah permukaannya, seperti ikan besar yang berenang di bawah kolam yang tenang.
"Kau mematahkan lenganmu sendiri," katanya akhirnya. Suaranya sangat pelan.
"Ya, Nyai."
"Dengan tanganmu sendiri."
"Ya."
"Lalu menatanya sendiri."
"Ya."
"Dengan satu tangan."
"Dan tali ijuk yang diikat ke tiang dapur. Untuk menarik."
Nyai Rukminiwati memejamkan mata. Untuk sesaat ia tampak sangat tua. Lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Seperti seseorang yang baru saja diberitahu bahwa anaknya terjun ke sumur, dan anak itu muncul kembali dengan selamat sambil tersenyum.
Lalu ia membuka mata.
"Kenapa?" tanyanya.
"Karena aku tak mau jadi abdi dapur selamanya."
"Banyak orang hidup bahagia sebagai abdi dapur."
"Aku tahu. Mbok Sarini bahagia. Mbah Karta mungkin bahagia." Dira menggeleng pelan. "Tapi mereka tidak harus berdiri di depan Wulansari waktu Raden Bayuwisesa menyalakan Nagageni. Mereka tidak harus mendengar Sutarga bilang Ki Ageng punya rencana untuk mereka. Mereka tidak..."
Ia berhenti. Ia hampir mengatakan terlalu banyak.
Nyai Rukminiwati menatapnya. Lalu, perlahan sekali, tetua itu duduk di bangku batu di samping Dira. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak menatap Dira dari atas.
"Sutarga bilang begitu?" tanyanya pelan. "Ki Ageng punya rencana untukmu?"
Dira mengangguk.
"Kapan?"
"Malam kedua aku jadi abdi. Kepada Wulansari. Sebelum menamparnya."
Nyai Rukminiwati tidak berkata apa-apa. Tetapi tangannya, yang terletak di pangkuan, mengepal perlahan di atas kain kembennya.
"Tunjukkan lenganmu," kata Nyai akhirnya.
Dira mengulurkan lengan kanannya. Nyai Rukminiwati memeriksanya dengan tangan yang cekatan dan dingin, seperti waktu ia memeriksa demam Dira dulu. Ia menekan bagian atas dan bawah bidai dengan ujung jarinya. Ia memeriksa jari-jari tangan Dira, menekan kukunya satu per satu untuk melihat apakah darahnya mengalir baik. Ia mencium bau ramuan di balutan.
Lalu ia menatap tali ijuk yang mengikat bidai itu.
Tiga lilitan yang saling mengunci. Ujungnya diselipkan ke bawah. Rapi. Sangat rapi.
Nyai Rukminiwati menatap ikatan itu lama sekali. Lebih lama dari ia menatap apa pun hari itu.
"Kau bilang kau sendiri yang menatanya," katanya pelan.
"Ya, Nyai."
"Kau sendiri yang mengikat bidai ini."
Dira ragu.
"Dengan satu tangan," lanjut Nyai, "dan gigimu."
"Ya."
Nyai Rukminiwati menyentuh simpul di dekat siku Dira dengan ujung telunjuknya. Simpul yang tiga lilitannya saling mengunci, ujungnya terselip begitu rapi hingga hampir tak terlihat.
"Ini bukan simpul yang bisa dibuat dengan gigi," katanya.
Dira tidak menjawab.
"Ini juga bukan simpul abdi dapur. Bukan simpul tabib desa. Bukan simpul yang diajarkan di Argasuryan." Nyai Rukminiwati tidak mengangkat wajahnya dari simpul itu. "Aku hanya pernah melihat simpul seperti ini sekali seumur hidupku."
"Di mana, Nyai?"
Lama sekali Nyai tidak menjawab. Angin sore bertiup lagi. Daun-daun jambu air bergemeresik.
"Delapan belas warsa lalu," kata Nyai akhirnya, sangat pelan, seperti berbicara kepada dirinya sendiri. "Di tepi hutan. Di bawah hujan. Di lengan seseorang yang..."
Ia berhenti.
Dira menahan napas. Di tepi hutan. Di bawah hujan. Malam Nyai menemukannya. Malam yang tak pernah diceritakan, kecuali satu kalimat di depan Ki Ageng di altar.
"Di lengan siapa, Nyai?"
Nyai Rukminiwati mengangkat wajahnya. Matanya bertemu mata Dira. Untuk sesaat, sangat singkat, Dira melihat sesuatu di mata tetua itu yang belum pernah ia lihat sebelumnya, lain dari takut di depan sumur dan lain dari penyesalan tadi.
Duka. Duka yang sangat tua, sangat dalam, dan sangat sabar.
Lalu Nyai Rukminiwati memalingkan wajah.
"Siapa yang mengikat bidaimu, Sudira?" tanyanya, kembali dengan suara tetua yang datar. "Jangan bohong padaku lagi."
Dira membuka mulut. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia sendiri tidak tahu. Ia hanya ingat sepasang tangan dalam kabut setengah sadar, bisikan sedikit lagi ke dalam, nah, begitu, bau ramuan hutan, lumut, dan madu tua. Dan siulan jalak kebo yang bukan siulan Ki Jalak.
"Aku tidak tahu, Nyai," katanya jujur. "Aku pingsan setelah memasang bidai. Waktu aku bangun, ikatannya sudah begini."
Nyai Rukminiwati menatapnya, menimbang setiap kata.
"Kau tidak tahu."
"Aku tidak tahu."
"Ada yang datang ke dapur waktu kau pingsan. Membetulkan bidaimu. Mengikat ulang talinya. Lalu pergi tanpa kau lihat."
"Ya."
"Dan kau tidak tahu siapa."
Dira ragu sebentar. Lalu ia berkata pelan, "Ada yang bersiul, Nyai. Seperti burung jalak."
Nyai Rukminiwati tidak bergerak. Tidak berkedip. Tidak bernapas, sepanjang yang bisa dilihat Dira.
Lalu ia menoleh perlahan, sangat perlahan, ke arah dapur abdi. Dari kebun obat di belakang asrama tetua, dapur itu terlihat jauh di bawah lereng, atapnya yang hitam oleh jelaga, cerobong-cerobong asapnya yang mengepul tipis di udara sore.
Ia menatap dapur itu lama sekali.
"Juru masak tua itu," katanya pelan. "Mbah Karta."
"Mbah Karta tidur di gudang beras semalam. Katanya nyenyak."
"Tentu saja katanya nyenyak."
Ada sesuatu di cara Nyai mengucapkan kalimat itu, sesuatu yang tidak bisa dibaca Dira. Nadanya seperti nada orang yang baru saja menemukan potongan terakhir sebuah teka-teki yang sudah lama ia susun, dan tidak suka dengan gambar yang terbentuk.
Nyai Rukminiwati berdiri dari bangku batu.
"Lenganmu ditata dengan benar," katanya. "Lebih benar dari yang bisa dilakukan tabib mana pun di Argasuryan. Ramuannya juga benar. Jangan dibuka bidainya sampai dua puluh hari. Jangan angkat beban dengan tangan kanan. Makan yang banyak. Aku akan bilang ke Gandawasa..."
Ia berhenti. Menatap Dira lagi.
"Tidak," katanya. "Aku tidak akan bilang apa-apa ke Gandawasa. Kalau aku membelamu lagi, terang-terangan, untuk kedua kalinya dalam sebulan, orang-orang akan bertanya kenapa. Dan pertanyaan itu bisa sampai ke telinga yang salah."
"Telinga siapa, Nyai?"
Nyai Rukminiwati tidak menjawab. Ia mengulurkan tangannya dan, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, menyentuh kain di leher Dira.
Ia mengendurkannya sedikit, hanya cukup untuk melihat ke bawahnya. Lalu matanya menyipit sedikit. Dira menahan napas, menunggu wajah itu memucat seperti waktu demam tiga malam, ketika Nyai berbisik ini lebih lebar.
Wajah Nyai tidak memucat.
"Tidak bertambah," gumamnya, sangat pelan, hampir tak terdengar. "Sejak yang terakhir."
"Apa yang tidak bertambah, Nyai?"
Nyai Rukminiwati mengencangkan kembali kain itu dengan simpulnya sendiri, rapat dan cepat. Ia tidak menjawab pertanyaan Dira.
"Sudira," katanya. "Dengarkan aku baik-baik. Kau boleh berlatih. Aku tidak akan melarangmu. Aku tidak bisa melarangmu, dan aku tidak mau. Tapi apa pun yang kau lakukan, siapa pun yang mengajarimu, apa pun yang..."
Ia berhenti sebentar, seperti memilih kata dengan sangat hati-hati.
"...apa pun yang terjadi padamu," lanjutnya, "jangan beri Ki Ageng alasan untuk memanggilmu. Jangan beri siapa pun di sekitarnya alasan untuk bertanya. Jadilah abdi dapur yang membosankan. Abdi dapur yang terpeleset gabah. Paham?"
"Paham, Nyai."
"Bagus."
Nyai Rukminiwati berbalik untuk pergi. Lalu ia berhenti.
Di ambang pagar bambu kebun obat, menghalangi jalan keluar, berdiri seseorang yang tidak mereka dengar datangnya. Seseorang dengan beskap hitam bersulam matahari. Seseorang dengan rambut putih dan janggut yang sangat panjang, berkilau keperakan dalam cahaya sore.
Ki Wiradhana tersenyum ramah kepada mereka berdua.
"Ah, Nyai," katanya dengan suara yang lembut seperti gula aren yang dilelehkan. "Di sini rupanya. Saya mencari Nyai ke mana-mana."
Matanya, yang biasanya sayu dan penuh iba, beralih dari wajah Nyai Rukminiwati ke lengan kanan Dira. Ke bidai bambu. Ke tali ijuk dengan tiga lilitan yang saling mengunci.
Senyumnya tidak berubah sedikit pun.
"Ah, ngger," katanya. "Lenganmu kenapa?"