Sang Penelan Pusaka

Bab 35Kecurigaan yang Melindungi

Dira membuka mulut.

"Terpeleset gabah," kata Nyai Rukminiwati, sebelum satu suara pun keluar dari bibir Dira.

Ki Wiradhana menoleh kepadanya dengan alis terangkat.

"Di lumbung," lanjut Nyai dengan suara datar, seperti sedang menyebut harga cabai di pasar. "Semalam. Lantai lumbung penuh gabah tumpah. Kepala dapur lupa menyuruh menyapunya. Anak ini terpeleset waktu menumbuk padi dan jatuh menimpa lengannya sendiri. Tulangnya patah."

"Ah." Ki Wiradhana menggeleng-geleng penuh iba. "Kasihan, kasihan. Gabah memang licin." Ia melangkah masuk ke kebun obat, mendekat ke bangku batu. "Siapa yang menatanya, ngger? Tabib padepokan? Aku tidak dengar ada abdi yang dibawa ke balai tabib semalam."

"Aku," kata Nyai Rukminiwati.

Dira menoleh kepadanya dengan cepat, lalu buru-buru menunduk lagi sebelum Ki Wiradhana melihat wajahnya.

"Nyai?" Ki Wiradhana terdengar benar-benar terkejut. "Nyai sendiri yang menata tulang abdi dapur?"

"Aku kebetulan lewat lumbung semalam," kata Nyai. "Menuju kebun obat ini, mencari daun sirih untuk ramuan sakit kepalaku. Aku dengar ada yang mengerang. Aku masuk. Kutemukan anak ini terduduk di lantai lumbung memegangi lengannya." Ia mengangkat bahu sedikit. "Balai tabib sudah tutup. Tabib jaga sedang mabuk arak di asrama murid dalam, seperti biasa setiap malam Rabu. Jadi aku menatanya sendiri."

Setiap kata yang diucapkan Nyai mengalir lancar, tenang, tanpa jeda dan tanpa keraguan, seperti air yang mengalir di saluran yang sudah lama digali. Dira mendengarkannya dengan perasaan yang aneh, campuran kagum dan takut.

Ia tidak tahu tabib jaga mabuk arak setiap malam Rabu. Ia bahkan tidak tahu semalam malam Rabu.

Nyai Rukminiwati tahu. Atau Nyai Rukminiwati membuatnya terdengar seperti tahu.

"Nyai pandai menata tulang?" tanya Ki Wiradhana, masih dengan senyum ramahnya.

"Ayahku tabib di kadipaten. Sebelum aku masuk Argasuryan." Nyai menatap lurus ke mata Ki Wiradhana. "Ki pasti sudah tahu. Ada di lontar catatan murid. Aku masuk padepokan ini empat puluh tiga warsa lalu, sebelum Ki menjadi tetua."

"Ah, ya, ya." Ki Wiradhana tertawa kecil. "Tentu saja. Ingatanku sudah tidak setajam dulu, Nyai. Orang tua memang begitu."

Ia membungkuk sedikit di atas lengan Dira, menatap bidai bambu itu dari dekat. Dira bisa mencium bau tubuhnya: dupa cendana, minyak rambut, dan di bawah keduanya, sangat samar, bau arak beras.

"Bidainya bagus," gumam Ki Wiradhana. "Bambu tua. Halus sekali. Ini bidai tabib sungguhan, bukan bambu dari tumpukan kayu bakar."

"Bidai lama ayahku," kata Nyai tanpa ragu sekejap pun. "Aku menyimpannya."

Dira menahan napas. Bidai itu milik ayah Satyaki. Satyaki menebusnya dari pedagang dengan jatah tempe sepasar.

"Dan ikatannya." Ki Wiradhana menyentuh simpul di dekat siku Dira dengan ujung telunjuknya yang panjang dan berkuku terawat. Persis di tempat yang tadi disentuh Nyai. "Simpul ini. Aku belum pernah melihat simpul seperti ini, Nyai. Tiga lilitan yang saling mengunci. Bukan simpul tabib biasa."

Hening sejenak.

"Simpul keluarga," kata Nyai Rukminiwati. "Ayahku yang mengajarkannya. Supaya bidai tidak lepas meskipun orang yang sakit gelisah dalam tidur."

"Ah." Ki Wiradhana menegakkan badan. Senyumnya masih sama, lembut dan penuh iba. "Simpul keluarga. Indah sekali. Sayang kalau hilang. Nyai harus mengajarkannya ke tabib padepokan."

"Kalau ada waktu."

"Tentu, tentu."


Dira tidak tahu berapa lama percakapan itu berlangsung. Rasanya seperti seumur hidup. Ia duduk di bangku batu dengan kepala tertunduk, lengan kanan di pangkuan, dan mendengarkan dua tetua Argasuryan berbicara di atas kepalanya dengan nada ramah dan sopan, seperti dua orang yang sedang membicarakan cuaca.

Tetapi di bawah kesopanan itu, Dira merasakannya. Sama seperti di altar, ketika Nyai dan Ki Ageng saling menatap di atas kepalanya. Seperti dua pisau yang saling digesek pelan-pelan.

"Bocah," bisik Ki Jalak, sangat pelan, seperti takut terdengar. "Lelaki berjanggut itu."

Dira tidak bisa menjawab. Ia hanya menunggu.

"Waktu dia membungkuk tadi. Waktu dia menyentuh simpulmu." Ki Jalak ragu. "Aku mencium sesuatu di bawah bau dupanya. Di bawah bau araknya juga."

Apa? pikir Dira, berharap Ki Jalak bisa mendengar pikirannya.

Rupanya bisa, sedikit.

"Bau yang sama seperti di Hutan Larangan," kata Ki Jalak. "Di batu sesaji. Bunga kantil dan kenanga. Dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak kukenal. Bau yang dingin. Seperti bau abu dupa yang dibakar di tempat yang tidak pernah kena matahari."

Dira teringat secarik kain hitam halus di kantongnya, tersimpan bersama sebungkus garam dan tiga siung bawang putih. Ia teringat kata-kata Satyaki di persimpangan jalan: beskap hitam, sulaman matahari, rambut putih, janggut sangat panjang. Ia teringat pelita yang padam tanpa angin.

Ia tidak berani mengangkat wajahnya.


"Nyai," kata Ki Wiradhana akhirnya, "saya mencari Nyai karena Ki Ageng ingin bicara. Soal persiapan selamatan purnama. Beliau menunggu di balairung."

"Aku akan ke sana."

"Sekarang, kalau Nyai berkenan. Beliau sudah menunggu sejak tadi."

Nyai Rukminiwati mengangguk. Ia menoleh kepada Dira, dan suaranya kembali menjadi suara tetua kepada abdi, dingin dan berjarak.

"Kembali ke dapur. Jangan angkat beban dengan tangan kanan. Kalau bidainya longgar, datang ke kebun obat ini. Aku yang akan membetulkannya. Jangan ke balai tabib. Tabib jaga tidak bisa dipercaya."

"Inggih, Nyai."

"Pergi."

Dira bangkit dan membungkuk dalam-dalam kepada kedua tetua, lalu berjalan keluar kebun obat. Ia melewati Ki Wiradhana di ambang pagar bambu, cukup dekat untuk mencium lagi bau dupa cendana dan arak beras, dan di bawah keduanya, bau dingin yang tak bisa dinamai Ki Jalak.

Ki Wiradhana menepuk bahunya ketika ia lewat. Pelan. Hangat. Seperti kakek kepada cucunya.

"Hati-hati dengan gabah, ngger," katanya lembut. "Lumbung itu memang licin. Banyak yang jatuh di sana dan tidak bangun lagi."

Dira tidak menoleh.

Ia tidak berani.


Ia tidak kembali ke dapur.

Ia berjalan sampai ke balik lumbung, ke tempat yang tak terlihat dari kebun obat, lalu bersandar ke dinding lumbung yang terbuat dari papan kayu tua dan memejamkan mata. Napasnya pendek-pendek. Lututnya gemetar sedikit.

"Bocah," kata Ki Jalak. "Bernapas. Turun ke perut. Putar."

Dira bernapas. Turun ke perut. Berputar sekali, dua kali, tiga kali. Lututnya berhenti gemetar.

"Nyai berbohong untukku," bisiknya. "Di depan Ki Wiradhana. Dia bilang dia yang menata lenganku. Dia bilang bidai itu milik ayahnya. Dia bilang simpul itu simpul keluarganya."

"Ya."

"Kenapa?"

"Untuk melindungimu."

"Tapi dia tahu itu bohong. Aku baru saja bilang padanya bahwa aku tidak tahu siapa yang mengikat bidai ini. Aku baru saja bilang ada siulan jalak. Dia bahkan menyebut nama Mbah Karta." Dira membuka mata dan menatap langit sore yang mulai memerah. "Lalu tiba-tiba dia berbohong untuk menutupi semua itu. Di depan tetua lain. Dengan lancar sekali, seperti sudah bertahun-tahun latihan berbohong."

"Mungkin memang sudah," kata Ki Jalak pelan. "Delapan belas warsa. Sejak dia membawamu ke padepokan ini dan berkata dia menemukanmu di tepi hutan di bawah hujan."

Dira terdiam.

"Dia tidak tahu siapa yang mengikat bidaimu," lanjut Ki Jalak. "Dia curiga. Dia mungkin curiga pada orang yang sama yang kau curigai. Tapi dia tidak tahu pasti. Dan karena dia tidak tahu pasti, dia lebih takut lagi. Orang yang tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan akan melindungi apa yang dia sayangi dengan cara apa pun. Termasuk dengan berbohong kepada semua orang."

"Termasuk Ki Wiradhana."

"Terutama Ki Wiradhana."

Dira menatap kedua tangannya. Yang kiri utuh. Yang kanan terbidai, dengan simpul tiga lilitan yang saling mengunci.

"Kecurigaannya melindungiku," bisiknya.

"Ya. Dan kau tahu apa artinya itu?"

"Apa?"

"Artinya dia juga curiga pada lelaki berjanggut itu." Ki Jalak terdiam sebentar. "Orang tidak berbohong selancar itu di depan kawan."


Satyaki berada di sumur ketika matahari sudah tenggelam separuh di balik punggung Lawu. Anak kurus itu sedang menimba air untuk kandang kuda. Melihat Dira datang dengan wajah pucat, ia menurunkan timbanya pelan-pelan.

"Kau dipanggil Nyai," katanya. Bukan pertanyaan. "Seisi barak sudah tahu. Gendhing bilang kau pasti dicambuk sampai punggungmu seperti tikar pandan."

"Tidak dicambuk."

"Lalu?"

Dira menimbang-nimbang sebentar, lalu berjongkok di samping bibir sumur dan berbicara sangat pelan. "Kalau ada yang bertanya soal bidai ini, siapa pun, bilang kau tidak tahu apa-apa. Bilang kau tidak pernah melihatnya."

Satyaki mengerutkan kening. "Itu bidai ayahku."

"Mulai hari ini bukan," kata Dira. "Mulai hari ini itu bidai milik ayah Nyai Rukminiwati, seorang tabib di kadipaten. Nyai sendiri yang bilang begitu. Di depan Ki Wiradhana."

Satyaki menatapnya lama. Wajahnya yang biasanya kaku dan tenang bergerak sedikit, seperti permukaan air yang dilempari kerikil kecil.

"Nyai berbohong untukmu," katanya akhirnya.

"Ya."

"Di depan tetua."

"Ya."

Satyaki diam lagi. Lalu ia mengangkat timbanya, menuang airnya ke ember kayu dengan hati-hati supaya tak setetes pun tumpah, dan berkata tanpa menoleh, "Ayahku dulu bilang, di medan perang, kalau seorang perwira berbohong untuk seorang prajurit rendahan, itu artinya salah satu dari dua hal."

"Apa?"

"Prajurit itu sangat berharga," kata Satyaki. "Atau ada orang di perkemahan sendiri yang lebih berbahaya daripada musuh di seberang sungai."

Ia mengangkat embernya dan berjalan menuju kandang kuda tanpa berkata apa-apa lagi. Tetapi sebelum menghilang di tikungan, ia berhenti sebentar.

"Aku tidak pernah melihat bidai itu," katanya. "Seumur hidupku."

Lalu ia pergi.

Dira menatap punggungnya, dan untuk pertama kalinya sejak siang tadi, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

"Anak itu," gumam Ki Jalak, "akan menjadi orang yang berbahaya kalau dia besar nanti. Dalam arti yang baik."


Malam itu, Dira tidak berlatih.

Ia tidak bisa berlatih Tapak Bayu Bajra dengan satu tangan. Ia tidak bisa berlatih Langkah Jalak Ngumbara dengan lengan yang tak boleh terguncang. Jadi ia hanya duduk bersila di depan tungku ketujuh yang dinyalakan Mbah Karta dengan alasan "menghangatkan sup tulang sapi yang gosong kemarin", dan bernapas.

"Ke tulang," kata Ki Jalak. "Arahkan napasmu ke lengan kanan. Ke tempat patahan. Jangan paksa. Biarkan mengalir pelan, seperti air hangat yang dituang ke kain yang membalut luka."

Dira mengarahkannya. Panas di bawah pusarnya berputar sekali, lalu, alih-alih naik ke tulang punggung seperti biasa, ia membiarkannya menyimpang ke bahu kanan, turun ke lengan atas, ke siku, dan berhenti di tempat patahan.

Di sana, panas itu berputar pelan, seperti pusaran air kecil.

Rasanya hangat. Gatal. Seperti ribuan semut kecil yang berjalan di dalam tulangnya, menjahit sesuatu.

"Bagus," bisik Ki Jalak. "Itu tulangmu yang sedang tumbuh. Biarkan saja."

Dira membiarkannya.

Ia duduk di sana lama, sampai bara di tungku ketujuh meredup, sampai seluruh barak sudah lama tertidur. Lalu ia bangkit untuk menambah kayu, dan baru saat itulah ia mendengar suara-suara.

Bukan dari dapur. Dari luar. Dari balik dinding gedek di sisi barat dapur, tempat jalan setapak dari barak abdi menuju sumur.

Dua suara. Pelan. Berbisik.

Dira membeku dengan sebatang kayu jati di tangan kiri.

"...setiap malam," kata suara pertama. Lembut. Seperti gula aren yang dilelehkan. "Siapa yang keluar masuk dapur setelah tengah malam. Siapa yang datang ke kebun obat. Siapa yang menemui anak itu."

"Saya mengerti, Ki." Suara kedua. Berat. Serak oleh arak. Gandawasa.

"Juru masak tua itu juga."

"Mbah Karta? Dia cuma orang pikun, Ki. Kerjanya cuma tidur."

"Awasi juga." Jeda. "Orang pikun kadang melihat lebih banyak daripada yang mereka ingat."

"Baik, Ki."

"Dan Gandawasa."

"Ya, Ki?"

"Jangan sentuh anak itu lagi. Tidak sebelum aku bilang. Tidak ada cambuk. Tidak ada pukulan. Tidak ada kendi pecah atau babi hutan. Biarkan dia menjadi abdi dapur yang membosankan." Suara lembut itu tertawa kecil. "Untuk sementara."

"Tapi Ki, dia..."

"Untuk sementara, Gandawasa."

Langkah kaki menjauh. Dua pasang. Yang satu berat dan menyeret. Yang satu ringan, nyaris tanpa suara, seperti langkah orang yang sudah bertahun-tahun berjalan diam-diam di malam hari.

Dira berdiri diam di depan tungku ketujuh, kayu jati di tangan kiri, tak berani bernapas, sampai langkah-langkah itu benar-benar hilang ditelan malam.

Lalu, di gudang beras di seberang halaman, dengkuran Mbah Karta yang sejak tadi terdengar pelan dan teratur tiba-tiba berhenti.

Sejenak saja.

Lalu terdengar lagi. Pelan. Teratur. Terlalu teratur.