Sang Penelan Pusaka

Bab 37Panci Beterbangan

"Bilang tikus," bisik Ki Jalak.

"Buang air," kata Dira.

Gandawasa menyipitkan mata.

"Buang air," ulang Dira, memegangi perutnya dengan wajah yang sangat menderita, dan ini sama sekali tidak sulit, karena seluruh ototnya memang masih pegal dari penempaan semalam. "Perutku melilit sejak tengah malam, Kakang. Sup tulang sapi Mbah Karta. Yang gosong itu. Aku bolak-balik ke balik kandang kambing sampai lemas."

Gandawasa menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Keringat yang membasahi tubuh Dira. Kabut tipis yang masih menguap dari kulitnya di udara subuh yang dingin. Napasnya yang pendek-pendek.

Lalu hidung kepala dapur itu bergerak. Sekali. Dua kali.

Dira menahan napas. Ia tidak tahu bau apa yang tercium dari tubuhnya. Bau prana? Bau keringat orang yang baru naik tingkat? Bau Hutan Larangan?

Gandawasa mengernyit.

"Bau apa itu?" tanyanya. "Seperti... rumput basah. Dan sesuatu yang pahit."

"Sup tulang sapi gosong," kata Dira. "Keluar lagi. Lewat keringat."

Hening sejenak.

Lalu Gandawasa mundur selangkah, wajahnya mengernyit jijik.

"Mandi," katanya. "Sebelum masuk barak. Kau bau seperti kambing yang direbus bersama rumput."

Ia berbalik dan masuk ke barak, menggerutu tentang juru masak pikun yang membuat sup beracun.

Dira berdiri diam di jalan setapak, menunggu jantungnya berhenti berdebar.

"Lihat?" kata Ki Jalak. "Sup tulang sapi gosong. Alasan terbaik di seluruh lereng Lawu. Juru masakmu itu jenius."


Masalahnya baru dimulai setelah sarapan.

Dira tidak menyadarinya sampai ia membuka pintu belakang dapur.

Pintu itu terbuat dari bambu yang diikat tali ijuk, dengan pegangan dari sepotong kayu sawo yang sudah halus dan hitam karena dipegang ribuan tangan selama puluhan warsa. Setiap pagi Dira membuka pintu itu dengan tarikan yang sama: pelan, sedikit ke atas karena engselnya agak turun.

Pagi itu ia menariknya dengan tarikan yang sama.

Pegangan kayu sawo itu copot dari pintu.

Dira berdiri di ambang pintu dengan pegangan kayu di tangan, menatapnya. Paku-paku kayu yang dulu menahannya ke pintu tercabut bersih, masih menempel di ujung pegangan seperti gigi yang dicabut dari gusi.

"Hm," kata Ki Jalak.

"Aku cuma menariknya biasa," bisik Dira.

"Tarikan biasa untuk Raga Awal. Kau sekarang Raga Madya. Ototmu sudah ditempa. Tarikan biasamu sekarang dua kali lebih kuat dari kemarin."

"Kau tidak bilang."

"Kupikir kau sudah tahu. Setiap orang yang naik tingkat pasti merusak sesuatu di hari pertama. Itu sudah biasa. Seperti anak kerbau yang baru bisa lari dan langsung menabrak pagar."

Dira menatap pegangan pintu di tangannya. Lalu menatap ke sekeliling. Tidak ada yang melihat. Si kembar masih di sumur. Mbah Karta sedang mengaduk sayur di tungku pertama, membelakanginya.

Ia menempelkan pegangan itu kembali ke pintu, menekan paku-paku kayunya ke lubang-lubang lama dengan ibu jari, pelan-pelan, sangat pelan. Paku-paku itu masuk. Pegangan itu menempel lagi. Agak miring, tetapi menempel.

"Bagus," kata Ki Jalak. "Sekarang jangan sentuh apa pun dengan kekuatan penuh hari ini."


Ia berusaha. Ia benar-benar berusaha.

Tetapi seluruh tubuhnya terasa asing, seperti memakai baju milik orang lain yang ukurannya sedikit terlalu besar. Setiap gerakan yang dulu biasa kini terlalu kuat, terlalu cepat, terlalu jauh.

Ia mengangkat timba dari sumur, dan timba itu melesat keluar dari mulut sumur begitu cepat hingga airnya tumpah ke kepalanya sendiri.

Ia mengulek cabai, dan ulekannya menghantam cobek dengan bunyi prak yang membuat Gendhis menjerit. Cobek batu itu retak kecil di pinggirnya.

Ia mengupas bawang, dan pisau kupasnya menembus bawang, menembus talenan kayu di bawahnya, dan tertancap di bangku.

"Dira," kata Gendhis pelan, menatap pisau yang tertancap di bangku, "kau kenapa hari ini?"

"Tidak tahu," kata Dira jujur. "Badanku aneh."

"Aneh bagaimana?"

"Seperti... terlalu bertenaga."

Gendhis menatapnya lama, lalu menatap cobeknya yang retak, lalu menatap pisau di bangku.

"Kau makan apa semalam?"

"Sup tulang sapi gosong."

Gendhis menoleh perlahan ke arah Mbah Karta, yang sedang mencicipi sayur dari ujung sendok kayunya sambil bersiul.

"Mbah," katanya. "Sup tulang sapi gosongmu itu ada apanya?"

"Tulang sapi," kata Mbah Karta tanpa menoleh. "Gosong."

"Itu saja?"

"Garam. Sedikit. Atau banyak. Aku lupa." Mbah Karta menaburkan garam lagi ke kuali sayurnya. "Kenapa?"

Gendhis tidak menjawab. Ia hanya menatap Dira dengan mata menyipit, dan Dira bisa melihat kepala gadis itu bekerja, menghitung, sama seperti dirinya sendiri sering menghitung.


Bencana besar terjadi menjelang siang.

Rak kuali di dinding barat dapur adalah rak paling tua di seluruh padepokan. Terbuat dari kayu jati yang sudah hitam dan bengkok, empat tingkat, setinggi dua kali tubuh orang dewasa, dan di atasnya bertumpuk puluhan kuali, panci, dandang, wajan, dan tutup-tutupnya. Setiap kali ada yang mengambil sesuatu dari tingkat paling atas, seluruh rak itu bergoyang dan berderit seperti kakek-kakek yang batuk.

Dira hanya ingin mengambil sebuah panci kecil dari tingkat ketiga.

Ia mengulurkan tangan kanan. Ia memegang gagang panci itu. Ia menariknya pelan. Sangat pelan. Lebih pelan dari tarikan apa pun yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.

Panci itu terlepas dari rak dengan sentakan kecil.

Sentakan kecil itu menggoyang rak.

Rak itu berderit.

Sebuah tutup panci di tingkat keempat bergeser sejengkal dan jatuh.

Tutup panci itu menimpa wajan di tingkat ketiga. Wajan itu terguling dan menabrak dandang. Dandang itu bergoyang, miring, dan menabrak tumpukan panci di sebelahnya. Tumpukan panci itu runtuh seperti tumpukan genting yang ditendang kerbau.

Lalu semuanya jatuh.

Dira berdiri di bawah rak dengan satu panci kecil di tangan kanan dan menyaksikan hujan perabot dapur turun di sekelilingnya. Panci-panci berdentang menghantam lantai tanah. Tutup-tutup panci berputar di udara seperti gasing yang terlempar dan menggelinding ke segala arah. Sebuah wajan besi melayang melewati telinganya dan menancap di karung beras. Dandang tembaga berguling di lantai, berputar-putar, dan menabrak kaki tungku dengan bunyi seperti gong pecah.

Ia tidak berpikir. Tubuhnya bergerak sendiri. Tangan kirinya terulur dan menangkap sebuah panci yang jatuh tepat ke arah kepalanya. Lalu panci kedua. Lalu panci ketiga, ditangkap dengan jari kelingking di gagangnya, ketiganya bertumpuk di lengan kirinya seperti penjual gerabah di pasar.

Di pintu depan dapur, Gandawasa melangkah masuk.

Ia masuk tepat ketika sebuah panci kecil terakhir, panci tembikar berisi sisa lemak goreng, jatuh dari tingkat tertinggi rak, melayang dengan anggun di udara, berputar sekali, dan mendarat tepat di atas kepalanya.

Tok.

Bunyinya kecil, nyaring, dan sangat memuaskan, seperti kentongan yang dipukul sekali.

Panci itu tidak pecah. Panci itu terbalik di atas kepala Gandawasa seperti caping petani, dan sisa lemak goreng yang kental dan kekuningan mengalir perlahan dari ubun-ubunnya, turun ke dahi, ke alis, ke hidungnya, dan menetes dari ujung dagunya.

Dapur menjadi sunyi senyap.

Bahkan dandang tembaga yang tadi berguling-guling berhenti berputar.


Gendhing yang pertama bersuara.

Ia muncul dari pintu belakang dengan seikat kayu bakar di tangan, menatap dapur yang porak-poranda, menatap rak kuali yang setengah kosong, menatap Dira yang berdiri di tengah kekacauan dengan empat panci di kedua tangan, menatap Gandawasa yang memakai panci sebagai caping dan berlumur lemak.

Kayu bakar di tangannya jatuh.

"Kutukan," bisiknya dengan suara gemetar. "Dira mengutuk dapur."

"Aku tidak mengutuk apa-apa," kata Dira.

"Jin tungku!" Gendhing menunjuk Dira dengan jari gemetar. "Jin tungku pindah ke tangannya! Kemarin pisau tertancap di bangku! Pagi ini cobek retak! Timba melompat dari sumur! Sekarang panci terbang!"

"Gendhing..."

"Gendhis! Gendhis, lihat! Panci terbang!"

Gendhis muncul di belakang saudaranya, membawa bakul berisi sayur yang baru dicuci. Ia menatap dapur itu dengan wajah yang sangat datar. Ia menatap rak kuali. Ia menatap Dira. Ia menatap Gandawasa.

Bahunya bergetar.

Ia meletakkan bakul sayur di lantai dengan hati-hati, berbalik, berjalan keluar pintu belakang, dan dari luar terdengar bunyi yang sangat mirip orang yang menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan sambil terguncang-guncang tertawa.

Di dalam dada Dira, Ki Jalak tertawa terbahak-bahak. Tawa jalak kecil yang serak, berderai, terguling-guling di atas keris retaknya di lantai Balai Sukma.

"Topi!" pekiknya di sela tawa. "Dia pakai topi! Topi panci! Bocah, lihat lemaknya! Lemaknya menetes dari hidungnya!"

Dira menggigit bibirnya keras-keras. Ia tidak boleh tertawa. Ia benar-benar tidak boleh tertawa.

Gandawasa perlahan-lahan mengangkat tangannya dan melepaskan panci tembikar dari kepalanya. Lemak goreng menetes dari rambutnya ke bahunya. Ia menatap panci itu. Lalu menatap Dira.

Wajahnya merah. Bukan merah karena marah. Merah karena lemak goreng dan rasa malu yang begitu besar hingga tak bisa ditampung.

Para abdi lain yang mulai berkerumun di ambang pintu dapur menahan tawa mereka dengan berbagai cara: menunduk, menggigit lengan baju, berpura-pura batuk. Seorang abdi tua di belakang tak bisa menahannya dan tawanya meledak, lalu buru-buru ia ubah menjadi bersin yang sangat panjang.

"Siapa," kata Gandawasa dengan suara rendah dan bergetar, "yang menjatuhkan rak itu?"

Semua mata menoleh ke Dira.

Dira mengangkat panci kecil di tangan kanannya, panci yang tadi ia ambil dari tingkat ketiga. "Aku cuma mau ambil ini, Kakang."

"Lalu kenapa raknya runtuh?"

"Raknya sudah tua."

"Raknya sudah tua sejak kakekku masih menyusu! Tak pernah runtuh!"

Dari sudut dapur, di depan tungku pertama, Mbah Karta tidak menoleh. Ia masih mengaduk sayurnya dengan sendok kayu, masih membelakangi semua orang. Tetapi suaranya terdengar jelas, serak dan mengantuk seperti biasa.

"Panci-panci itu sudah tua, Ganda," katanya. "Seperti aku. Sudah capek. Sudah bosan ditumpuk di rak puluhan warsa tanpa ditanya mau atau tidak. Kalau sudah capek, mereka pengin terbang sebentar. Seperti aku. Kalau aku capek, aku pengin terbang ke gudang beras, tidur."

Ia menaburkan garam ke sayurnya.

"Biarkan saja," lanjutnya. "Nanti juga turun sendiri. Panci itu kalau terbang tidak bisa jauh-jauh. Kakinya pendek."

Kali ini abdi tua di belakang benar-benar tidak bisa menahan diri. Tawanya meledak, lalu menular ke abdi di sebelahnya, lalu ke sebelahnya lagi, sampai seluruh ambang pintu dapur dipenuhi abdi yang tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut.

Gandawasa menatap mereka semua dengan wajah berlumur lemak.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia berbalik dan berjalan keluar dapur dengan langkah berat, meneteskan lemak goreng di sepanjang jalan, menuju sumur.


Dira membereskan semua panci itu sendirian, karena si kembar tak bisa berhenti tertawa cukup lama untuk membantu.

Ia memungut tutup-tutup panci dari setiap sudut dapur. Ia menarik wajan besi dari karung beras, dengan sangat hati-hati supaya karungnya tidak robek. Ia menegakkan dandang tembaga yang penyok. Ia menyusun kembali semua perabot di rak kuali, satu per satu, menempatkan yang paling berat di tingkat paling bawah supaya rak itu tidak lagi bergoyang seperti kakek-kakek yang batuk.

Lalu Mbah Karta memanggilnya.

"Darsa."

"Inggih, Mbah?"

Lelaki tua itu menunjuk sebuah bakul bambu di lantai dengan sendok kayunya. Bakul itu penuh telur ayam kampung, mungkin empat puluh butir, ditumpuk di atas jerami.

"Bawa ke lumbung," kata Mbah Karta. "Taruh di rak telur. Jangan pecah satu pun."

"Inggih."

"Satu pun, Darsa."

Dira mengangkat bakul itu dengan kedua tangan. Pelan. Sangat pelan.

Dua butir telur di bagian atas langsung pecah di antara jari-jarinya.

Ia membeku, kuning telur menetes dari tangannya.

Mbah Karta menatap telur yang pecah itu, lalu menatap Dira, dan matanya yang keruh berkedip-kedip lambat.

"Itu dua," katanya. "Coba lagi. Lebih pelan. Pegang bakulnya seperti memegang anak burung. Bukan seperti memegang kapak."

Dira mencoba lagi. Lebih pelan. Ia memegang bakul itu seperti memegang anak burung, dengan ujung-ujung jarinya, nyaris tidak menyentuh. Ia berjalan ke lumbung, pelan, selangkah demi selangkah, dan menaruh bakul itu di rak telur.

Tak ada yang pecah.

Ketika ia kembali ke dapur, ada bakul kedua menunggunya. Juga empat puluh butir telur.

"Satu lagi," kata Mbah Karta. "Lumbung butuh banyak telur hari ini."

Dira membawa bakul kedua. Tak ada yang pecah.

Lalu bakul ketiga. Lalu keempat.

Pada bakul kelima, ia menyadari sesuatu. Ia tidak lagi memegang bakul itu seperti memegang anak burung. Ia memegangnya dengan biasa. Dengan tenaga biasa. Tetapi tenaga biasanya kini sudah berbeda. Sudah menyesuaikan. Tubuhnya sudah mulai mengerti seberapa kuat ia sekarang, seberapa lembut ia harus menyentuh.

Ia menatap Mbah Karta, yang sedang mengupas bawang putih di bangku sudut, satu siung demi satu siung.

"Bocah," bisik Ki Jalak pelan. "Lumbung tidak butuh dua ratus telur dalam sehari."

"Aku tahu."

"Itu latihan."

"Aku tahu."

"Juru masakmu itu baru saja melatihmu mengendalikan tenaga Raga Madya. Dengan telur." Ki Jalak terdiam. "Itu cara yang sangat bagus. Sangat tua. Sangat... sangat..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.


Gandawasa kembali dari sumur ketika matahari sudah tergelincir ke barat. Rambutnya basah, dan kulitnya merah karena digosok keras-keras, tetapi masih ada sedikit bau lemak goreng di sekitarnya.

Ia berdiri di ambang pintu dapur, menatap rak kuali yang sudah tersusun rapi, menatap lantai dapur yang sudah bersih, menatap Dira yang sedang menyapu sisa jerami dari lantai.

Ia tidak berteriak. Ia tidak menyuruh Dira melakukan apa pun.

Ia hanya menatap.

Lalu ia berkata pelan, dengan suara yang tidak lagi marah, melainkan dingin dan sangat hati-hati:

"Tadi. Waktu raknya runtuh."

Dira berhenti menyapu.

"Panci-panci itu jatuh dari atas kepalamu. Puluhan. Dari empat tingkat." Gandawasa melangkah masuk, pelan-pelan. "Aku lihat dari pintu sebelum panci sialan itu menimpa kepalaku. Kau menangkap tiga panci sekaligus. Dengan satu tangan. Tangan kiri. Yang satu dengan jari kelingking."

Dira tidak menjawab.

Gandawasa berhenti di depannya. Begitu dekat hingga Dira bisa mencium sisa bau lemak goreng dan arak semalam.

"Sejak kapan," kata Gandawasa pelan, matanya menyipit hingga tinggal segaris, "tanganmu bisa secepat itu, Anak Matahari?"