Bab 38Gandawasa Mencium Perubahan
Dira menatap kepala dapur itu dan, untuk sesaat yang sangat panjang, tidak tahu harus berkata apa.
Di dalam dadanya Ki Jalak berhenti tertawa. Pusaka tua itu tadi masih berguling-guling di lantai Balai Sukma soal topi panci. Sekarang ia diam, setegang burung yang melihat bayangan elang melintas di atas sawah.
"Jangan diam terlalu lama," bisiknya. "Orang yang diam terlalu lama sedang mengarang."
"Aku tidak tahu, Kakang," kata Dira.
Gandawasa menunggu.
"Aku takut." Dira menurunkan sapu ijuknya dan memandangi panci-panci yang sudah tersusun di rak darurat. Sebisa mungkin ia membuat suaranya terdengar seperti suara abdi bodoh yang masih kaget. "Waktu rak itu runtuh, aku cuma berpikir, kalau panci-panci itu pecah, Kakang akan memotong jatah makanku sebulan. Jadi tanganku bergerak sendiri." Ia mengangkat bahu. "Kata Mbok Darsih, orang yang dikejar macan bisa memanjat pohon kelapa tanpa tangan. Orang takut bisa melakukan hal aneh-aneh."
"Mbok Darsih," ulang Gandawasa pelan.
"Inggih."
"Mbok Darsih juga bilang ada wewe gombel di lumbung yang suka mencuri bayi."
"Inggih, Kakang."
"Dan kau percaya?"
Dira tidak menjawab. Ia menunduk, membiarkan rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah, dan menunggu.
Gandawasa menatapnya lama sekali. Sisa lemak goreng masih mengilat di batang hidungnya dan di cuping telinga kirinya, tempat ia lupa mengelap. Di belakangnya, di ambang pintu, dua orang abdi lelaki yang lewat membawa karung beras berhenti, melihat lemak di hidung itu, lalu buru-buru berjalan lagi dengan bahu berguncang menahan tawa.
Gandawasa mendengar. Rahangnya mengeras.
"Lanjutkan menyapu," katanya akhirnya. "Lalu cuci semua panci itu. Satu-satu. Pakai abu. Sampai pantatnya mengilat seperti kepala Mbah Karta."
"Inggih, Kakang."
Gandawasa berbalik dan keluar. Ia tidak membanting pintu. Ia menutupnya pelan-pelan, dan itu jauh lebih mengerikan.
Hari-hari berikutnya, dapur abdi mendapat permainan baru. Tak seorang pun mengucapkannya keras-keras, tetapi semua orang memainkannya.
Namanya Ki Caping.
Entah siapa yang memulai. Mungkin Gendhing, karena mulutnya selalu lebih cepat dari kepalanya. Mungkin salah satu abdi kandang yang melihat panci mendarat di kepala Gandawasa dengan bunyi tok yang sempurna. Yang jelas, sebelum matahari terbenam hari itu, separuh abdi di barak sudah tahu. Sebelum matahari terbit keesokan harinya, separuh lagi juga tahu.
Tak ada yang berani menyebutnya di depan Gandawasa. Tetapi setiap kali kepala dapur itu lewat, ada saja yang tiba-tiba mengangkat tangan ke kepala seperti membetulkan caping yang tak ada, atau batuk-batuk dengan bunyi yang sangat mirip tok. Mbok Darsih bahkan menamai anak kambing yang baru lahir di kandang belakang "Si Caping", dan bersumpah demi arwah suaminya bahwa itu cuma kebetulan.
Gandawasa tahu. Orang selalu tahu kalau sedang ditertawakan, sama seperti orang selalu tahu kalau sedang ditatap dari belakang.
Ia tidak bisa menghukum seisi barak. Jadi ia mencari satu orang yang bisa ia hukum.
Dan Dira, yang tidak pernah mengucapkan kata caping sekali pun, menjadi orang itu.
Ujian pertama datang pada pagi hari kedua.
Dira sedang berjongkok di depan tungku ketiga, meniup bara, ketika Gandawasa lewat di belakangnya membawa sendok sayur besar yang baru diangkat dari kuali. Sendok itu masih mengepulkan uap. Kuah santan mendidih menetes dari ujungnya.
Lalu, persis di atas kaki telanjang Dira, sendok itu tergelincir dari tangan Gandawasa.
Dira melihatnya jatuh. Ia melihatnya dengan sangat jelas, dengan kejelasan baru yang aneh, yang datang bersama Raga Madya. Dunia terasa melambat sedikit di sekitar sendok itu. Ia bisa melihat tetesan kuah berputar di udara. Ia bisa menghitung, dengan tenang, bahwa ia punya cukup waktu untuk menarik kakinya, berdiri, berputar, dan menangkap sendok itu sebelum menyentuh tanah.
"Jangan," kata Ki Jalak.
Dira tidak bergerak.
Sendok itu menghantam punggung kakinya. Kuah santan mendidih menyiram kulitnya.
Ia menjerit. Jeritan itu tidak perlu dibuat-buat sama sekali. Ia terjengkang ke belakang, mencengkeram kakinya, dan berguling di lantai tanah.
"Aduh!" seru Gandawasa. "Licin sekali sendok ini! Maaf, maaf, Anak Matahari."
Gendhis berlari membawa air dingin dari gentong. Mbok Darsih mengomel sambil mencari minyak kelapa. Dira duduk di lantai dengan kaki di dalam baskom, menahan napas, dan di antara rambutnya yang jatuh ia melihat Gandawasa memungut sendok itu dari tanah.
Kepala dapur itu tidak memperhatikan kaki Dira yang melepuh. Ia memperhatikan sesuatu yang lain: jarak antara tempat sendok jatuh dan tempat kaki Dira tadi berada. Lalu ia menatap Dira, lama, dengan mata yang tidak marah dan tidak puas.
Mata orang yang sedang berhitung.
"Bagus," bisik Ki Jalak, suaranya serak. "Itu tadi sangat bagus, bocah. Dan sangat bodoh. Kakimu."
Kakiku tidak apa-apa, pikir Dira, dan menggigit bibir supaya tidak menjerit lagi ketika Mbok Darsih mengoleskan minyak ke kulitnya yang melepuh.
Ujian kedua datang sore harinya.
"Sepuluh karung beras," kata Gandawasa, "dari lumbung ke gudang dapur. Sebelum matahari terbenam."
Itu hukuman yang biasa. Dira sudah mengangkut sepuluh karung beras puluhan kali sejak ia berumur dua belas warsa. Dulu itu menghabiskan seluruh sore dan membuat punggungnya sakit tiga hari.
Sekarang ia bisa mengangkat dua karung sekaligus dan berlari.
Ia tidak berlari.
Ia mengangkat satu karung, seperti dulu. Ia menyeretnya di atas bahu, seperti dulu. Ia berhenti setiap dua puluh langkah untuk menarik napas, seperti dulu. Dan Ki Jalak, yang tiba-tiba menganggap dirinya dalang wayang paling berpengalaman di seluruh Lawu, terus berbisik di telinga batinnya sepanjang jalan.
"Lututmu. Tekuk sedikit. Orang lelah lututnya goyah... Bukan begitu, itu seperti orang mabuk... Nah. Sekarang napas. Napas yang berat. Dari mulut... Jangan dari perut! Orang Raga Madya napasnya dari perut, orang lelah napasnya dari mulut, seperti anjing di musim kemarau... Bagus. Sekarang mengeluh sedikit... Bukan begitu. Itu seperti kambing melahirkan."
"Aku tidak pernah dengar kambing melahirkan," desis Dira di antara napas yang dibuat-buat.
"Kau baru saja menirukannya dengan sempurna."
Masalahnya keringat. Keringat tidak bisa dibuat-buat. Dulu, setelah karung ketiga, tubuh Dira sudah basah kuyup. Sekarang, setelah karung kelima, kulitnya hanya lembap sedikit. Ototnya yang baru ditempa bahkan belum terasa hangat.
Maka di belakang lumbung, di tempat yang tak terlihat, Dira menyiramkan setengah kendi air ke kepala dan punggungnya sendiri.
Lalu ia mengangkat karung keenam dan berjalan terhuyung-huyung ke gudang dapur. Gandawasa sedang duduk di bangku bambu di depan pintu, mengunyah sirih, menatapnya datang.
"Panas, Anak Matahari?" tanya Gandawasa.
"Inggih, Kakang," kata Dira terengah-engah.
Gandawasa menengadah ke langit. Langit sore itu kelabu. Angin dari puncak Lawu bertiup dingin, cukup dingin sampai Gandawasa sendiri memakai kain sarung yang diselempangkan di bahu.
"Panas sekali, ya," katanya pelan.
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengunyah sirihnya dan menatap tetesan air yang mengalir dari rambut Dira. Air yang, kalau dicium dari dekat, tidak berbau asin sama sekali.
Ujian ketiga datang malam itu. Itu bukan ujian, atau Gandawasa tidak merencanakannya sebagai ujian.
Seorang abdi kandang mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri dengan buku jari, tok, tok, tepat ketika Gandawasa masuk ke ruang makan abdi. Seisi ruangan meledak tertawa. Gandawasa tidak bisa menemukan siapa yang mengetuk. Ketika ia berbalik dengan wajah merah padam, matanya mendarat pada orang terdekat yang tidak tertawa.
Dira, yang sedang menyendok nasi jagung di pojok, dan yang tidak tertawa karena kakinya yang melepuh masih berdenyut.
"Kau," kata Gandawasa.
Ruangan menjadi hening.
"Kau pikir lucu?"
"Tidak, Kakang."
"Kau tidak tertawa. Kenapa kau tidak tertawa? Karena kau pikir kau lebih baik dari mereka?"
Dira tidak tahu jawaban yang benar untuk pertanyaan itu. Mungkin memang tidak ada.
Gandawasa menamparnya.
Itu tamparan yang biasa, tamparan yang sudah Dira terima ratusan kali sejak kecil, telapak tangan yang lebar dan kapalan menghantam pipi kirinya dengan bunyi plak yang keras. Dulu tamparan seperti itu membuat telinganya berdenging dan kepalanya terlempar ke samping.
Sekarang kepalanya tidak bergerak.
Tidak sedikit pun. Otot leher dan rahangnya yang baru ditempa menahan tamparan itu begitu saja, seperti tiang jati menahan angin. Rasa sakitnya ada, panas dan pedas, tetapi kepalanya diam di tempat, seperti Gandawasa baru saja menampar batang pohon.
"Jatuh!" teriak Ki Jalak. "Jatuh, bocah, jatuh!"
Dira menjatuhkan diri ke samping. Terlambat. Sangat sedikit terlambat. Sekejap yang begitu singkat sehingga mungkin tak seorang pun di ruangan itu memperhatikannya.
Ia terkapar di lantai bersama piring nasi jagungnya, memegangi pipi, dan dari lantai ia melihat Gandawasa.
Kepala dapur itu tidak menatapnya. Gandawasa menatap telapak tangannya sendiri.
Telapak tangan yang lebar dan kapalan itu memerah. Gandawasa mengepalkan dan membukanya beberapa kali, seperti orang yang baru saja meninju tembok dan bertanya-tanya apakah ada jarinya yang retak. Lalu tatapannya bergeser perlahan ke Dira yang tergeletak di lantai. Ke pipi Dira yang hanya merah sedikit. Ke leher Dira, ke kain lurik cokelat tua yang masih terikat rapat dengan simpul Nyai.
Ia teringat sesuatu. Dira bisa melihatnya di wajah itu. Sepotong ingatan lama naik ke permukaan: hari ketika ia merobek kain itu dan menyentuh kulit di bawahnya, lalu jari-jarinya menjadi pucat dan kebas selama tiga hari.
Gandawasa mundur selangkah. Tanpa sadar ia menggosok-gosokkan telapak tangannya ke kain sarung di bahunya, seperti hendak menghapus sesuatu.
"Bersihkan nasimu," katanya serak, lalu keluar dari ruang makan.
Tak ada yang tertawa lagi malam itu.
Larut malam, ketika barak abdi sudah dipenuhi dengkuran, Dira berbaring telentang di atas tikarnya dengan mata terbuka.
Pipinya sudah tidak sakit. Kakinya masih berdenyut. Tetapi bukan itu yang membuatnya tidak bisa tidur.
"Dia tahu," kata Ki Jalak pelan.
Dia tidak tahu apa-apa.
"Dia tidak tahu APA. Tapi dia tahu ADA. Itu lebih berbahaya." Ki Jalak terdiam sebentar. "Orang seperti dia tidak berpikir dengan kepala, bocah. Dia berpikir dengan hidung, seperti anjing. Dan hidungnya sudah mencium sesuatu."
Dari luar, dari balik dinding gedek di ujung barak, terdengar bunyi kendi diletakkan di tanah. Lalu suara orang meneguk. Lalu gumaman, pelan dan berat oleh arak.
Dira memiringkan kepala. Telinganya, yang sejak Raga Awal bisa mendengar napas orang lain, kini bisa menangkap bisikan dari balik dinding.
"...kalau Ki Wiradhana tahu... aku tak becus... sebulan mengawasi, tak dapat apa-apa... tok... anak kambing pun dinamai... anak demit itu..."
Teguk lagi.
"...dulu tamparanku bisa bikin dia terbang... sekarang... tanganku... seperti waktu itu... kain itu..."
Teguk lagi. Lalu hening yang panjang.
"...jangan sentuh, katanya... jangan sentuh... untuk sementara... sementara apanya..." Suara itu menjadi lebih pelan, lebih dingin, dan entah bagaimana lebih sadar. "...kalau dia hilang sendiri... kalau dia dibawa demit... bukan aku yang menyentuh..."
Kendi diletakkan lagi. Langkah kaki menyeret menjauh.
Dira berbaring sangat diam.
"Bocah," kata Ki Jalak.
Aku dengar.
Tiga hari kemudian, ketika kaki Dira sudah sembuh dan Gandawasa sudah berhenti mengujinya, berhenti menatapnya, dan berhenti mempedulikannya dengan cara yang membuat Dira lebih gelisah daripada semua sendok panas di dunia, Gendhing datang kepadanya di belakang dapur.
Anak itu membawa seikat daun pisang dan wajah orang yang sedang memegang rahasia besar.
"Ada pesan," bisiknya, celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan. "Dari murid luar. Perempuan."
Jantung Dira melompat.
"Aku tidak tahu namanya," lanjut Gendhing. "Aku tidak lihat wajahnya. Dia titip lewat abdi kandang, abdi kandang titip ke aku. Katanya penting." Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Dira dan berbisik penuh semangat, "Malam ini. Tengah malam. Di bawah pohon sawo angker. Katanya kau pasti tahu."
Lalu ia mundur dan menatap Dira dengan seringai lebar.
"Siapa dia, Dira? Cantik? Murid luar mau sama abdi dapur? Wah, wah. Jangan-jangan kau memang dukun..."
Dira tidak mendengar sisanya.
Pohon sawo. Tengah malam. Kau pasti tahu.
Hanya ada satu murid luar perempuan yang tahu tentang pohon sawo itu. Dan Wulansari tak pernah meminta bertemu tengah malam. Tak pernah, selama lebih dari sebulan mereka bertemu di sana setiap subuh.
Kecuali kalau ada yang sangat salah.
"Bocah," kata Ki Jalak dengan suara yang sangat pelan dan sangat hati-hati, "siapa lagi selain Wulansari yang tahu kalian bertemu di bawah pohon sawo?"
Dira mengangkat wajah.
Di ujung halaman belakang, di depan pintu gudang beras, Gandawasa sedang duduk di bangku bambunya, mengunyah sirih, menatap ke arah lain.
Ia tidak menatap Dira. Ia sudah tiga hari tidak menatap Dira.
Tetapi bibirnya, merah oleh sirih, melengkung sedikit. Hampir seperti senyum.