Bab 39Jebakan di Sumur
"Jangan pergi," kata Ki Jalak.
Dira sedang berjongkok di depan tungku ketujuh, menatap bara yang meredup. Barak abdi sudah tidur sejak kentongan kedua. Bulan tinggal separuh, tergantung miring di atas punggung Lawu seperti kuku orang tua.
"Itu jebakan," lanjut Ki Jalak. "Kau tahu itu jebakan. Aku tahu itu jebakan. Kambing bermata jahat di kandang belakang pun tahu itu jebakan."
"Aku tahu."
"Lalu?"
"Bagaimana kalau bukan?" Dira mengambil sebatang kayu jati kecil dan memutarnya di antara jari-jarinya. "Bagaimana kalau Wulan memang mengirim pesan? Bagaimana kalau Sutarga menamparnya lagi? Bagaimana kalau Raden Bayuwisesa menyalakan Nagageni di depannya lagi, dan dia tak punya siapa pun untuk dimintai tolong selain aku, dan aku malah duduk di depan tungku karena takut pada Ki Caping?"
Ki Jalak tidak menjawab.
"Kalau itu jebakan," kata Dira pelan, "aku akan tahu yang memasangnya. Kalau bukan, Wulan tidak akan menunggu sendirian di bawah pohon angker tengah malam."
"Kau terlalu mirip seseorang," gumam Ki Jalak. "Aku tidak ingat siapa. Tapi aku ingat aku sangat kesal padanya."
Ia tidak pergi lewat jalan biasa.
Jalan biasa ke pohon sawo melewati belakang lumbung, menyusuri parit, lalu menembus pagar bambu yang bolong di belakang kandang kambing. Itu jalan yang dipakai Wulansari. Itu juga jalan yang akan diawasi siapa pun yang memasang jebakan.
Jadi Dira naik ke atap.
Ia memanjat tiang sudut dapur seperti waktu ia mengintip latihan murid dalam: Hinggap, Lompat, Jalak Mematuk Batu. Ia merayap di sepanjang bubungan ijuk yang hitam oleh jelaga, lalu melompat ke atap lumbung yang lebih rendah. Langkahnya ringan, telapak depan saja, berat badan tak pernah tinggal di satu tempat. Dari atap lumbung ia bisa melihat seluruh halaman belakang padepokan dalam cahaya bulan separuh: kandang kambing, parit yang berkilat, dan pohon sawo tua yang bengkok seperti punggung kakek-kakek, dengan sumur kering di sampingnya yang menganga seperti mulut tanpa gigi.
Tak ada siapa pun di bawah pohon sawo.
Dira berbaring telungkup di atas ijuk dan menunggu. Ijuk yang gatal menusuk-nusuk dadanya, tetapi kali ini ia nyaris tak merasakannya. Seluruh perhatiannya ada di bawah sana.
"Napasmu," bisik Ki Jalak. "Turun. Pelan. Dengarkan."
Dira menurunkan napasnya ke bawah pusar dan memutarnya sekali. Lalu ia mendengarkan, seperti yang diajarkan Ki Jalak: bukan dengan telinga saja, tetapi dengan seluruh kulit.
Jangkrik di parit. Kambing yang mendengkur di kandang. Angin yang menggoyang daun-daun sawo. Kelelawar yang mencicit di atas pohon.
Dan napas.
Napas orang. Berat, pendek-pendek, agak tersendat, seperti napas orang yang sedang menahan diri untuk tidak batuk. Datangnya dari balik batang sawo, di sisi yang tak terlihat dari jalan setapak.
Napas yang berbau arak, meskipun Dira tak mungkin menciumnya dari atap lumbung. Ia hanya tahu. Sejak kecil ia sudah mendengar napas itu dari jarak dekat.
"Satu orang," bisik Ki Jalak. "Hanya satu."
Tak ada Wulan.
"Tak ada Wulan."
Dira memejamkan mata sebentar. Sesuatu yang tegang di dadanya, yang sejak sore mencengkeram seperti tangan, mengendur. Wulansari aman. Wulansari tidur di asrama murid luar, tak tahu apa-apa, tak menunggu siapa pun.
Lalu sesuatu yang lain menggantikannya. Sesuatu yang lebih dingin.
Dia memakai nama Wulan.
"Pulang," kata Ki Jalak. "Sekarang. Lewat atap. Dia tidak akan pernah tahu kau datang."
Dira membuka mata.
Kalau ia pulang sekarang, Gandawasa akan menunggu sampai subuh di bawah pohon sawo, kedinginan dan mabuk. Besok ia akan mencoba lagi dengan cara lain. Lusa dengan cara lain lagi. Dan suatu hari, cara itu mungkin melibatkan Wulansari sungguhan.
Tetapi kalau ia turun...
"Bocah. Jangan."
"Dia bilang 'kalau dia dibawa demit'," bisik Dira. "Dia sudah memutuskan. Kalau tidak malam ini, malam lain. Kalau tidak di sini, di Hutan Larangan, di lumbung, di jalan ke sumur. Aku lebih suka tahu di mana dan kapan."
"Dan kalau dia membawa pisau?"
"Dia tidak membawa pisau." Dira mendengarkan lagi. "Dia memegang sesuatu. Napasnya berat di sebelah kanan. Seperti orang memegang benda panjang. Alu, mungkin. Atau pentung."
Ki Jalak terdiam lama.
"Aku tidak suka betapa cepatnya kau belajar," katanya akhirnya. "Baik. Turun. Tapi dengar: apa pun yang terjadi, jangan pukul dia. Jangan tunjukkan Tapak Bayu Bajra. Jangan tunjukkan apa pun yang tidak bisa dilakukan abdi dapur. Kalau dia melihat jurus padepokan di tanganmu, besok pagi Ki Wiradhana juga akan melihatnya."
"Aku tahu."
"Dan kalau semuanya gagal, lari. Kau lebih cepat. Jauh lebih cepat."
"Aku tahu."
Ia turun dari atap lumbung di sisi yang tak terlihat, lalu berjalan ke pohon sawo lewat jalan setapak biasa. Langkahnya keras dan menyeret, langkah abdi yang lelah. Ia bahkan menginjak ranting kering dua kali dengan sengaja.
Napas di balik batang sawo tertahan.
Dira berhenti di bawah dahan-dahan rendah dan berbisik ke kegelapan, "Wulan?"
Hening.
"Wulan, kau di sini?"
Gandawasa keluar dari balik batang sawo.
Ia tidak bersembunyi lagi. Ia berdiri tegak di bawah cahaya bulan yang menembus celah-celah daun, kain sarung terselempang di bahu, sebatang alu penumbuk padi di tangan kanannya. Matanya merah dan berair. Bau arak menguar darinya begitu kuat sampai Dira bisa menciumnya dari lima langkah.
"Wulan tidak datang," kata Gandawasa. "Wulan tidak pernah datang. Wulan sedang tidur nyenyak memeluk bantalnya, dan dia tidak tahu kau di sini." Ia menyeringai. Giginya merah oleh sirih. "Tapi aku tahu kau akan datang. Anak Matahari dan gadis murid luarnya. Di bawah pohon angker. Seperti dalam cerita kentrung."
"Kakang," kata Dira. Suaranya keluar pelan dan bergetar. Ia tidak perlu berpura-pura untuk itu. "Ini... ini bukan..."
"Diam." Gandawasa melangkah maju. Alu di tangannya berayun pelan, seperti ekor kucing. "Sebulan, Anak Matahari. Sebulan aku mengawasimu. Siang, malam, tengah malam, subuh. Tak dapat apa-apa. Tak ada yang bisa kulaporkan." Ia meludahkan sirihnya ke tanah. "Tahu kau rasanya? Disuruh mengawasi seekor tikus, dan tikusnya tak pernah keluar dari lubang. Lalu orang yang menyuruhmu mulai menatapmu dengan mata yang... yang..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia menatap Dira dengan mata merah yang berair, dan di balik kemarahan mabuk itu Dira melihat sesuatu yang tak terduga: Gandawasa takut. Bukan pada Dira, tetapi pada orang lain.
"Lalu kau mulai menangkap panci," lanjut Gandawasa dengan suara lebih keras. "Kau mulai tidak berkeringat. Kepalamu tak bergerak waktu kutampar. Dan seisi barak memanggilku..." Ia tidak sanggup mengucapkan kata itu. "...memanggilku dengan nama itu. Karena kau."
"Aku tidak pernah..."
"KARENA KAU!"
Alu itu berayun.
Dira melihatnya datang. Ia melihat semuanya: ayunan yang lebar dan mabuk, bahu kanan Gandawasa yang terbuka, kaki kiri yang tak seimbang di atas akar sawo yang menonjol. Ia bisa menghindarinya dengan setengah langkah. Ia bisa menangkapnya dengan satu tangan. Ia bisa, kalau mau, memukul siku Gandawasa dengan Tapak Bayu Bajra dan membuat alu itu terbang ke parit.
Jangan tunjukkan apa pun yang tidak bisa dilakukan abdi dapur.
Ia mundur. Tidak dengan Langkah Jalak. Dengan langkah canggung abdi yang ketakutan, terhuyung ke belakang, tangan terangkat melindungi kepala.
Alu itu menyerempet lengan bawahnya yang baru sembuh. Sakit. Tidak patah.
"Kakang, berhenti!"
Gandawasa tidak berhenti. Ia mengayunkan alu lagi, lebih liar, dan Dira mundur lagi, terhuyung, tersandung akar sawo dengan sengaja. Dua langkah ke belakang. Tiga langkah.
Tumitnya menyentuh sesuatu yang keras.
Batu. Batu bata merah tua yang berlumut, tersusun melingkar setinggi lutut.
Bibir sumur kering.
"Bocah," kata Ki Jalak tajam. "Di belakangmu..."
Aku tahu.
Ia tahu. Ia sudah tahu sejak Gandawasa mulai menggiringnya. Setiap ayunan alu tadi tidak diarahkan ke kepalanya. Ayunan itu diarahkan ke sisi kiri dan kanannya, menutup jalan keluar, menggiringnya mundur ke satu tempat. Seperti penggembala menggiring kambing ke kandang.
Gandawasa tidak mau memukulnya sampai mati. Ia mau Dira jatuh.
Kalau dia dibawa demit, bukan aku yang menyentuh.
Dira berhenti mundur. Ia berdiri dengan tumit menempel ke bibir sumur, dan untuk pertama kalinya malam itu ia menurunkan tangannya dan menatap Gandawasa lurus-lurus.
"Kakang," katanya. Suaranya tidak bergetar lagi. "Kakang tidak perlu melakukan ini."
Gandawasa berhenti. Alu terangkat di udara.
Untuk sesaat, sangat singkat, sesuatu melintas di wajah kepala dapur itu, sesuatu yang lebih tua dan lebih kecil daripada amarah maupun takut. Seperti wajah bocah lelaki gemuk yang dulu, bertahun-tahun lalu, sebelum menjadi kepala dapur, pernah juga menjadi abdi yang ditampar orang lain.
Lalu sesuatu itu lenyap.
"Kau tahu apa yang paling kubenci darimu, Anak Matahari?" bisik Gandawasa. "Matamu. Dari kecil. Kau selalu menatap seperti itu. Seperti kau tahu sesuatu yang aku tidak tahu."
Tangan kirinya, yang sejak tadi tersembunyi di balik lipatan kain sarung, bergerak.
Dira melihat gerakan itu terlambat. Sekejap saja. Sekejap yang sama yang terlambat ketika ia menjatuhkan diri setelah ditampar.
Segenggam serbuk merah menghantam wajahnya.
Cabai. Cabai rawit kering yang ditumbuk halus, dicampur abu dapur. Serbuk itu masuk ke mata, ke hidung, ke mulut, dan dunia meledak menjadi api.
Dira menjerit. Ia terhuyung, kedua tangan mencakar matanya, dan untuk sesaat Raga Madya, Langkah Jalak Ngumbara, semua yang diajarkan Ki Jalak, semua yang ia pelajari di atap dapur, lenyap. Yang tersisa hanya rasa terbakar, buta, dan napas yang tersedak.
Lalu sebuah tangan yang lebar dan kapalan mendorong dadanya.
Tidak keras. Tidak perlu keras.
Tumitnya kehilangan bibir sumur. Tubuhnya miring ke belakang. Udara malam yang dingin menyapu punggungnya, lalu tak ada lagi yang menyapu, tak ada lagi tanah, tak ada lagi apa pun.
Ia jatuh.
Kejatuhan itu terasa lebih lama dari yang seharusnya.
Dinding sumur melesat di sampingnya dalam gelap. Ia bisa merasakannya meski tak bisa melihatnya: hawa lembap, bau lumut, bau tanah yang tak pernah kena matahari. Bahunya menghantam dinding sekali, dua kali, memantul seperti kerikil yang dijatuhkan ke dalam tabung bambu.
"KAKIMU!" teriak Ki Jalak. "Jalak Menukik! Lutut! Tekuk lututmu!"
Ia menekuk lutut. Tubuhnya berputar di udara tanpa ia sadari bagaimana, dan sesaat sebelum dasar sumur menghantamnya, ia sempat menyentakkan kaki ke dinding untuk memperlambat jatuhnya.
Lalu dasar sumur menghantamnya.
Dunia menjadi putih. Lalu hitam. Lalu putih lagi, berdenging, dan dari kejauhan yang sangat jauh ia mendengar sesuatu.
Suara Gandawasa. Dari atas. Kecil dan bergema, seperti suara dari dalam kendi.
"...Anak Matahari?"
Dira tak bisa menjawab. Mulutnya penuh debu dan cabai. Dadanya tak mau bernapas.
"...Sudira?"
Hening yang lama.
Lalu suara Gandawasa lagi, sangat pelan, seperti orang yang berbicara kepada dirinya sendiri. "...dibawa demit. Semua orang tahu sumur ini angker. Dibawa demit."
Bunyi sesuatu yang berat diseret di atas batu. Kayu. Papan-papan kayu tua. Tutup sumur yang dulu dipasang para abdi supaya tak ada anak yang terperosok, dan yang sudah bertahun-tahun tergeletak di semak-semak di samping pohon sawo.
Seberkas cahaya bulan yang jatuh dari mulut sumur menyempit. Menyempit lagi. Lalu hilang.
Bunyi batu besar diletakkan di atas papan. Duk.
Lalu langkah kaki yang menjauh. Tergesa-gesa. Hampir berlari.
Lalu tak ada apa-apa lagi.
Hanya gelap.
Gelap yang sempurna. Gelap yang lebih pekat dari malam tanpa bulan, lebih pekat dari gudang rongsokan dengan pintu tertutup. Gelap yang terasa punya berat dan menekan dada.
Dira terbaring di dasar sumur, terbatuk-batuk, matanya terbakar, setiap tulang di tubuhnya berdenyut.
Ia hidup.
Ia tidak tahu bagaimana, tetapi ia hidup.
"Bocah," kata Ki Jalak.
Suaranya aneh, seperti suara orang yang baru terbangun dari mimpi yang sangat panjang dan belum yakin di mana ia berada.
"Bocah. Dinding ini."
Dira membuka matanya yang terbakar. Tak ada apa pun untuk dilihat.
"Aku kenal dinding ini."