Bab 4Kerak Nasi dan Tungku
Pisau itu masih bergetar di tiang bambu ketika Gandawasa berbalik dan kembali ke tikarnya. Para abdi lain buru-buru menunduk ke mangkuk masing-masing dan pura-pura tak melihat apa-apa. Seseorang menyendok nasi terlalu keras, dan bunyi sendoknya terdengar nyaring di tengah kesunyian.
Tak ada yang menawari Dira makan.
Ia meletakkan buntelannya di sudut barak yang paling dekat dengan pintu, sudut yang lantainya paling lembap karena tempias hujan. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia keluar menuju dapur.
Dapur Argasuryan adalah bangunan terbesar kedua di padepokan setelah balairung, meskipun tak ada murid yang mau mengakuinya. Atapnya tinggi dan menghitam oleh jelaga ratusan warsa. Di sepanjang dinding timur berderet tujuh tungku batu bata, masing-masing cukup besar untuk memanggang seekor kerbau. Di dinding barat bergantungan sendok kayu, sutil besi, saringan bambu, dan ikatan-ikatan cabai kering seperti tirai merah yang tak pernah ditarik.
Di tengah-tengah lantai tanah, di bawah cahaya bulan yang masuk dari celah atap, tertumpuk kuali-kuali itu.
Dira menghitungnya. Tujuh belas kuali besi. Yang terkecil sebesar tampah, yang terbesar cukup lebar untuk menampung dua anak kecil duduk bersila. Semuanya bekas memasak nasi dan gulai untuk jamuan upacara pagi tadi, ketika ratusan murid dan tetua makan merayakan pusaka-pusaka yang baru memilih tuannya.
Ratusan orang makan untuk merayakan hari ketika matahari menolaknya. Dan sekarang ia yang harus mencuci sisanya.
Dira berdiri lama di depan tumpukan itu. Lalu ia tertawa pelan, tawa yang lebih mirip napas yang terlepas.
"Baiklah," katanya kepada kuali-kuali itu. "Kita mulai dari mana?"
Kuali-kuali itu tidak menjawab.
Ia memulai dengan cara yang semua orang akan lakukan: mengambil sabut kelapa, menimba air dari sumur di belakang dapur, lalu menggosok.
Kerak di kuali pertama setebal kuku jempol, hitam dan mengilap seperti batu kali. Dira menggosoknya sampai lengannya terasa terbakar. Setelah sepeminuman teh, ia baru berhasil mengikis seperempat dasar kuali. Sabutnya sudah gundul. Kukunya patah dua. Di sela-sela jarinya, kulit yang sudah kapalan karena tali timba mulai terkelupas dan berdarah.
Ia duduk di lantai tanah dan menatap tangannya.
Enam belas kuali lagi. Dengan cara ini, ia baru akan selesai lusa, kalau tangannya masih utuh.
Jangan bicara. Hitung.
Dira menutup mata dan berpikir. Ia sudah bertahun-tahun mengangkut air dan kayu bakar untuk dapur ini. Ia sudah ratusan kali melihat abdi-abdi tua bekerja. Bagaimana mereka membersihkan kuali setelah pesta besar? Mereka tidak menggosok semalaman. Ia ingat itu. Mereka selalu tampak santai, mengobrol sambil mengunyah sirih, dan esok paginya kuali-kuali sudah bersih.
Apa yang mereka lakukan?
Ia membuka mata dan menatap tungku-tungku yang sudah padam.
Abu.
Ia ingat sekarang. Mbok Sarini, abdi tua yang meninggal dua musim hujan lalu, selalu mengeruk abu dari tungku ke dalam kuali kotor, menuangkan air mendidih di atasnya, lalu meninggalkannya semalam. Dulu Dira kecil pernah bertanya kenapa. Mbok Sarini tertawa dengan mulut ompongnya dan berkata, "Abu itu tangan yang tak kelihatan, Le. Dia menggosok waktu kita tidur."
Dira bangkit.
Tungku-tungku itu sudah dingin, tetapi abunya masih banyak, menggunung abu-abu pucat di setiap mulut tungku. Ia mengeruknya dengan sekop kayu, mengisi kuali-kuali sampai seperempatnya. Lalu ia menyalakan tungku terbesar, sesuatu yang diam-diam dilarang bagi abdi baru tanpa izin kepala dapur, dan menjerang air dalam dandang tembaga raksasa.
Itu pekerjaan yang berat. Dandang itu harus diisi dua puluh timba air. Kayu bakar di gudang samping dapur sudah tinggal sedikit, jadi ia harus memecah sendiri kayu-kayu gelondongan dengan kapak yang gagangnya longgar. Saat air akhirnya mendidih, bulan sudah bergeser dari celah atap yang satu ke celah atap berikutnya.
Ia menuangkan air mendidih itu ke kuali pertama. Abu dan air bergolak, mengepulkan uap yang baunya tajam dan getir, menyengat hidung dan membuat matanya berair. Dira menggerakkan campuran itu dengan sendok kayu panjang, lalu menunggu.
Dan menunggu.
Saat ia menggosok lagi dengan sabut baru, kerak itu tidak lagi keras seperti batu kali. Kerak itu lunak seperti tanah liat basah dan terlepas dalam lembaran-lembaran tebal.
Dira hampir bersorak. Ia menutup mulutnya sendiri dengan tangan yang berlumur abu, lalu tertawa tanpa suara sampai bahunya berguncang.
Abu itu tangan yang tak kelihatan, Le.
"Terima kasih, Mbok," bisiknya kepada udara.
Malam semakin dalam.
Dari arah asrama murid, sesekali terdengar sisa kegembiraan upacara: tawa yang terbawa angin, kendang yang ditabuh asal-asalan, seseorang menyanyikan tembang dengan nada sumbang lalu disoraki teman-temannya. Lama-lama suara itu padam satu per satu, sampai yang tersisa hanya jangkrik, desis api, dan napas Dira sendiri.
Dira bekerja dengan irama yang ia temukan sendiri: kuali diisi abu, air dijerang, air dituang, kuali didiamkan, lalu pindah ke kuali berikutnya sementara yang pertama merendam. Ketika kuali kelima sedang direndam, ia kembali ke kuali pertama untuk menggosok. Ketika kuali pertama selesai, ia membilasnya di sumur dan mengeringkannya terbalik di atas rak bambu. Lalu ke kuali kedua. Begitu terus.
Masalahnya kayu bakar.
Menjelang tengah malam, persediaan kayu di gudang samping benar-benar habis. Dira berdiri di depan tungku yang apinya mulai mengecil, menatap dandang yang airnya baru setengah panas, dan menghitung. Masih sembilan kuali. Sembilan kuali butuh setidaknya tiga kali menjerang air lagi. Tiga kali menjerang air butuh kayu yang tidak ia punya.
Ia bisa pergi ke hutan di belakang padepokan untuk mencari ranting kering. Tetapi itu makan waktu, dan hutan di malam hari bukan tempat yang aman bagi anak tanpa pusaka. Ia juga ingat larangan sang ketua tadi pagi: tak boleh meninggalkan lereng Lawu. Apakah hutan di belakang padepokan termasuk meninggalkan lereng? Ia tak tahu. Ia tak mau Gandawasa punya alasan.
Sempat terpikir olehnya untuk membongkar pagar bambu tua di belakang kandang ayam. Pagar itu sudah reyot dan tak akan ada yang merindukannya. Tetapi pagar itu juga satu-satunya penghalang musang, dan Dira bisa membayangkan dengan jelas apa kata Gandawasa besok pagi kalau tiga ekor ayam dapur hilang.
Dira duduk di depan tungku dan menghela napas panjang.
Ia hanya berniat memejamkan mata sebentar.
Ketika ia membuka mata lagi, api di tungku menyala besar.
Dira tersentak dan hampir terjengkang ke belakang. Ia menatap tungku itu dengan bingung. Tadi apinya tinggal bara. Ia yakin itu. Sekarang api itu menjilat-jilat dasar dandang dengan nyala kuning yang sehat, dan di mulut tungku tertumpuk kayu-kayu jati kering yang dipotong rapi, kayu yang bukan dari gudang samping, karena gudang samping hanya berisi kayu mahoni dan randu.
Air di dandang sudah mendidih penuh.
Dira bangkit dan berputar, mencari-cari di kegelapan dapur. Tidak ada siapa-siapa. Hanya bayangan rak-rak, gantungan cabai, dan bulan yang sudah condong ke barat.
Lalu ia mendengarnya. Dengkuran.
Di sudut paling gelap dapur, di samping tungku ketujuh yang sudah bertahun-tahun tak dipakai, seorang lelaki tua tidur meringkuk di atas tumpukan karung beras. Tubuhnya kurus dan bungkuk, berselimut kain jarik yang sudah pudar warnanya. Di dekat tangannya tergeletak sebatang sendok kayu, dan ia mendengkur dengan suara seperti gergaji tumpul yang ditarik pelan-pelan.
Dira mengenalnya, tentu saja. Semua orang di Argasuryan mengenal Mbah Karta, juru masak tertua di padepokan, yang selalu salah menyebut nama orang dan sering lupa apakah ia sudah menggarami sayur atau belum. Gandawasa menyebutnya pikun. Murid-murid menyebutnya lucu. Para tetua tak menyebutnya apa-apa, karena mereka hampir tak pernah ingat bahwa ia ada.
Tadi pagi Dira melihat lelaki tua itu berdiri di ambang pintu dapur, menatap rak-rak pusaka di altar.
Dira berdiri di tempatnya, menatap tumpukan kayu jati, lalu menatap Mbah Karta yang mendengkur, lalu menatap kayu jati lagi.
"Mbah?" panggilnya pelan.
Dengkuran itu tidak berubah iramanya.
Dira menunggu sebentar. Lalu ia membungkuk dalam-dalam ke arah sudut itu, seperti membungkuk kepada tetua, dan kembali bekerja.
Ketika kuali ketujuh belas akhirnya terbalik di rak bambu dan meneteskan air bilasan terakhir, langit di celah atap sudah berubah dari hitam menjadi biru tua. Belum ada kokok ayam.
Dira berdiri di tengah dapur dan memandangi hasil kerjanya. Tujuh belas kuali besi berjajar di rak, dasarnya hitam bersih dan basah, memantulkan cahaya bulan terakhir seperti cermin-cermin bundar yang gelap.
Tangannya gemetar. Kulit di sela-sela jarinya lecet dan berdarah di belasan tempat. Punggungnya terasa seperti dipukul dengan alu. Namun ia tak bisa menahan senyum.
Ia menunduk ke salah satu kuali dan melihat wajahnya sendiri di dasar yang mengilap: pemuda kurus berwajah coreng-moreng abu, rambut lepek oleh keringat, kain lurik cokelat yang sudah tak jelas warnanya melilit leher.
Sampai aku bisa bercermin di dasarnya, kata Gandawasa.
"Silakan bercermin," gumam Dira kepada bayangannya.
Di sudut dapur, dengkuran Mbah Karta berhenti sejenak, lalu berlanjut lagi.
Langkah kaki terdengar dari arah barak.
Bukan satu orang. Tiga. Dira mengenali langkah pertama, berat dan menyeret, langkah orang bertubuh lebar yang sengaja membuat lantai berbunyi. Dua langkah lainnya lebih ringan dan lebih teratur, langkah orang yang terbiasa berlatih jurus.
Gandawasa muncul di ambang pintu dapur dengan mata merah dan rambut kusut, seperti orang yang baru bangun dari tidur nyenyak. Di belakangnya berdiri dua pemuda berudeng merah. Dira mengenali mereka dari upacara kemarin: murid dalam yang tertawa paling keras di samping Raden Bayuwisesa, yang satu berwajah bulat, yang satu bermata sipit.
Gandawasa berhenti di tengah dapur. Matanya menyapu deretan kuali di rak, satu per satu, dari ujung ke ujung. Dira melihat rahangnya mengeras.
"Siapa yang membantumu?" tanyanya.
"Tidak ada."
"Bohong." Gandawasa melangkah ke rak dan mengangkat kuali terbesar dengan satu tangan, semudah orang mengangkat tampah. Ia membaliknya dan menatap dasarnya lama. Tak ada setitik kerak pun. "Tak ada abdi baru yang bisa membersihkan tujuh belas kuali dalam semalam. Tak ada."
"Abu dan air panas," kata Dira. "Mbok Sarini yang mengajari."
"Mbok Sarini sudah mati."
"Ilmunya belum."
Si wajah bulat mendengus menahan tawa. Gandawasa menoleh kepadanya dengan tatapan membunuh, dan tawa itu langsung tertelan.
Untuk sesaat Dira berpikir ia sudah menang. Bahwa Gandawasa akan menggerutu, mengumpat, lalu menyuruhnya ke barak untuk tidur barang sepenanak nasi sebelum pekerjaan pagi dimulai.
Lalu si mata sipit melangkah maju.
Ia membawa sebuah keranjang bambu besar yang sejak tadi ia sembunyikan di balik punggungnya. Isinya hitam, berminyak, dan berbau gosong. Dira mengenali bau itu: kerak dari kuali-kuali dapur murid dalam, yang dimasak terpisah di dapur kecil di sisi utara.
"Kebetulan," kata si mata sipit dengan suara ramah yang dibuat-buat, "dapur murid dalam juga baru selesai jamuan. Kuali-kuali kami sudah dibersihkan abdi di sana. Tapi keraknya..." Ia menggoyangkan keranjang. "Sayang kalau dibuang begitu saja."
Ia melangkah ke rak.
Dan sebelum Dira sempat bergerak, ia membalikkan keranjang itu di atas kuali pertama.
Kerak hitam berminyak tumpah, memercik ke kuali kedua, ketiga, keempat. Si wajah bulat tertawa dan ikut menendang kuali-kuali di rak bawah hingga berguling ke lantai tanah, ke genangan air bilasan bercampur abu.
Belum habis sepuluh tarikan napas, tujuh belas kuali yang tadi bersih seperti cermin sudah kembali hitam. Lebih kotor daripada semalam.
Gandawasa menatap Dira. Senyumnya kembali, lebar dan kuning.
"Lihat itu," katanya. "Masih ada kerak. Kau gagal, Anak Matahari." Ia mencabut pisau dapur dari pinggangnya dan memainkannya di antara jari-jari. "Dan kau tahu apa yang kubilang semalam soal satu titik kerak..."
Dira tidak bergerak. Tangannya yang berdarah terkepal di sisi tubuhnya. Ia menunduk, dan mulai menghitung.
Lalu dari arah pintu belakang dapur terdengar dua suara sekaligus, hampir sama persis, seperti satu suara yang bergema:
"Kakang Gandawasa..."
"...kalau semua kualinya kotor..."
"...siapa yang mau masak sarapan untuk para tetua?"