Sang Penelan Pusaka

Bab 5Si Kembar Gendhing dan Gendhis

Dua sosok berdiri di ambang pintu belakang dapur, dan untuk sesaat Dira mengira matanya yang kurang tidur sedang mempermainkannya.

Wajah mereka sama persis. Hidung kecil yang sedikit mendongak, pipi bulat seperti kue apem, alis tebal yang melengkung seperti orang yang selalu kaget. Tinggi mereka sama, dan cara mereka berdiri pun sama, bertolak pinggang dengan kepala dimiringkan ke arah yang sama. Bedanya hanya satu. Yang di kiri berambut pendek dengan udeng lusuh dan membawa kendang kecil yang diikat tali ijuk di punggungnya. Yang di kanan berambut panjang dikepang satu dan menenteng cobek batu beserta ulekannya, seperti orang lain menenteng senjata.

Kembar dampit. Laki-laki dan perempuan, lahir dalam satu hari. Dira pernah mendengar tentang mereka, dua abdi dapur yang konon tak pernah diam lebih lama dari sepeminuman teh, tetapi selama ini ia selalu bekerja di sumur dan gudang kayu, bukan di dalam dapur. Ini pertama kalinya ia melihat mereka dari dekat.

"Gendhing," kata Gandawasa dengan gigi terkatup. "Gendhis. Ini bukan urusan kalian."

"Oh, tentu bukan, Kakang," kata si rambut pendek, Gendhing, dengan wajah polos.

"Sama sekali bukan," sambung si kepang, Gendhis. "Kami cuma lewat."

"Mau ambil cabai."

"Untuk sambal."

"Untuk sarapan para tetua."

"Yang harus siap sebelum matahari setinggi galah."

"Yaitu..." Gendhing menengadah ke celah atap, tempat langit sudah berubah dari biru tua menjadi kelabu pucat, "...kira-kira sepenanak nasi lagi."

"Kurang," koreksi Gendhis.

"Kurang," Gendhing mengangguk sedih.

Gandawasa membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Gendhis melangkah masuk dan memandangi tujuh belas kuali yang kini hitam berminyak, sebagian bergelimpangan di genangan abu. Ia menghela napas panjang, persis pemain ketoprak yang baru melihat kerajaannya terbakar.

"Waduh, waduh," katanya. "Semua kuali kotor. Lalu kita masak nasi tetua pakai apa, Kakang? Pakai tameng prajurit?"

"Pakai udeng," usul Gendhing.

"Pakai kendangmu."

"Jangan kendangku."

"Diam." Gandawasa menunjuk Dira dengan pisaunya. "Anak ini gagal. Dia harus dihukum. Kuali bisa dibersihkan abdi lain."

"Abdi lain mana, Kakang?" Gendhis memiringkan kepala. "Abdi lain masih tidur. Kakang sendiri yang bilang semalam: biar si Anak Matahari kerja sendirian, yang lain istirahat. Kami dengar kok. Dinding barak tipis."

"Tipis sekali," Gendhing mengangguk.

"Jadi kalau sarapan tetua terlambat," Gendhis meneruskan dengan suara manis seperti gula aren, "lalu Ki Ageng bertanya kenapa, siapa yang akan menjawab, Kakang? Kepala dapur, kan?"

"Yaitu Kakang," kata Gendhing membantu.

"Dan kalau Ki Ageng bertanya kenapa semua kuali kotor padahal semalam sudah dibersihkan..." Gendhis melirik ke arah dua murid dalam yang masih berdiri di dekat rak, keranjang kosong di tangan si mata sipit, "...kami terpaksa jujur, toh. Kami melihat dua murid dalam masuk ke dapur abdi sebelum kentongan subuh. Padahal murid dalam dilarang masuk dapur abdi tanpa izin tetua pengawas. Itu aturan Ki Wiradhana sendiri, kan, Kakang Sutarga? Kakang Joyokusumo?"

Si wajah bulat, yang ternyata bernama Sutarga, langsung pucat. Si mata sipit, Joyokusumo, buru-buru menyembunyikan keranjang bambu di balik punggungnya, gerakan yang sama sekali tak berguna karena semua orang sudah melihatnya.

"Kami tidak..." Sutarga mulai bicara.

"Kami cuma..." Joyokusumo menyambung.

"Oh, tentu," kata Gendhis. "Kakang-kakang cuma lewat. Seperti kami."

Hening sebentar. Dira, yang sejak tadi berdiri diam dengan tangan berdarah terkepal, nyaris tak bisa menahan senyum.

Joyokusumo yang pertama mundur. Ia menyikut Sutarga, berbisik sesuatu, dan keduanya berbalik keluar pintu dengan langkah yang terlalu cepat untuk disebut santai. Gandawasa memandangi kepergian mereka, lalu menoleh kembali ke dalam dapur dengan wajah merah padam.

"Kalian berdua," desisnya kepada si kembar, "akan menyesal."

"Kami sudah menyesal setiap hari, Kakang," kata Gendhing. "Sejak lahir kembar."

Gandawasa mengacungkan pisaunya ke udara kosong, seperti mencari sesuatu untuk ditikam, lalu menyarungkannya dengan kasar. Ia melangkah ke arah Dira dan berhenti begitu dekat hingga Dira kembali mencium bau arak murahan.

"Urusan kita belum selesai, Anak Matahari," katanya pelan. "Belum sama sekali."

Ia keluar. Pintu bambu dapur berderak terbanting di belakangnya.


Begitu langkah Gandawasa menjauh, Gendhis menjatuhkan cobeknya ke lantai dengan bunyi gedebuk dan langsung jongkok di depan Dira.

"Tunjukkan tanganmu."

"Tidak apa-apa, Mbakyu."

"Jangan panggil aku Mbakyu, kita seumuran. Kira-kira. Tunjukkan tanganmu."

Dira ragu, lalu membuka telapaknya. Gendhis meringis seperti dirinya sendiri yang terluka.

"Ya ampun. Ya ampun ya ampun. Gendhing, ambil minyak kelapa dan daun sirih di rak ketiga."

"Rak ketiga ada tikus."

"Ambil saja!"

Gendhing mengambilnya sambil menggerutu. Gendhis mengoleskan minyak kelapa yang sudah dicampur tumbukan daun sirih ke sela-sela jari Dira dengan gerakan cepat dan cekatan, seperti orang yang sudah ratusan kali merawat luka dapur. Rasanya perih bukan main. Dira menggigit bibir.

"Kami dengar semuanya semalam," kata Gendhing sambil berjongkok di sisi lain. "Waktu Kakang Ganda menancapkan pisau itu. Kami mau bantu, tapi kalau kami keluar waktu itu, dia pasti mengamuk."

"Makanya kami tunggu sampai subuh," kata Gendhis. "Waktu dia tak bisa berbuat apa-apa karena sarapan tetua."

"Kalian sudah merencanakannya?"

Si kembar saling pandang, lalu menjawab bersamaan, "Tentu saja."

"Kenapa?" tanya Dira. "Kalian tak kenal aku."

"Kami kenal kau," kata Gendhing. "Kau anak yang tiap pagi menimba dua puluh timba air ke gentong dapur sebelum ayam berkokok."

"Dan tak pernah mengeluh," tambah Gendhis.

"Dan sekali waktu, tiga musim kemarau lalu, kau menolong Gendhis waktu dia jatuh ke parit di belakang lumbung."

Dira mengerjap. Ia sudah lupa sama sekali. Seorang gadis abdi tergelincir di parit lumpur, dan ia mengulurkan tangan. Itu saja. Ia bahkan tak sempat melihat wajahnya karena gadis itu langsung lari sambil menangis malu.

"Itu kau?"

"Itu aku." Gendhis tersenyum lebar. "Aku lari karena jarikku robek sampai paha. Malu sekali. Tapi aku ingat wajahmu. Dan kain di lehermu."

Dira tanpa sadar menyentuh kain itu.

"Kenapa kau selalu memakainya?" tanya Gendhing. Pertanyaan itu meluncur polos, tanpa niat buruk.

"Luka bakar," jawab Dira. "Sejak bayi, kata Nyai Rukminiwati."

Kedua saudara kembar itu saling pandang lagi. Dira tak bisa membaca arti pandangan itu.

"Aneh," gumam Gendhis.

"Apanya?"

"Nyai Rukminiwati tak pernah melilitkan kain di leher siapa pun selain kau. Padahal banyak anak abdi yang punya luka bakar. Lihat lengan Kakang Gandawasa." Ia mengangkat bahu. "Ya sudah. Mungkin lukamu istimewa."

Ia bangkit dan menepuk-nepuk jariknya.

"Sekarang," katanya, nadanya berubah menjadi nada seorang senapati yang memimpin pasukan, "kita punya tujuh belas kuali kotor dan sepenanak nasi untuk memasak sarapan tujuh belas tetua. Gendhing, kendangmu."


Dira tak pernah membayangkan bahwa membersihkan kuali bisa terasa seperti menari.

Gendhing duduk bersila di atas karung beras, menabuh kendang kecilnya dengan irama cepat dan riang. Gendhis menggosok mengikuti irama itu: dua kali gosok, satu kali bilas, dua kali gosok, satu kali bilas. Dira menuang air mendidih dan abu mengikuti irama yang sama, dan anehnya, pekerjaan itu jadi jauh lebih ringan. Tangan yang perih seperti lupa pada lukanya ketika telinga sibuk mendengarkan tabuhan.

Dan sepanjang pekerjaan itu, si kembar tak berhenti bicara.

"Kau tahu kenapa Kakang Sutarga wajahnya bulat begitu?" tanya Gendhing di sela tabuhan.

"Kenapa?"

"Karena tiap malam ia menyelinap ke bilik penyimpanan para tetua dan mencuri arak beras Ki Wiradhana. Satu kendi kecil, tiap tiga hari. Dikira tak ada yang tahu."

"Semua abdi tahu," sambung Gendhis. "Kami yang membersihkan kendi kosongnya di balik kandang kambing."

"Dan Kakang Joyokusumo," lanjut Gendhing, "matanya sipit begitu bukan dari lahir. Itu karena tiap malam pasaran Kliwon ia turun ke desa di bawah, main dadu di warung Mbok Sumi sampai subuh. Utangnya sudah sebesar kerbau."

"Dua kerbau," koreksi Gendhis.

"Dua kerbau. Dan kalau Ki Wiradhana tahu, ia bisa dicopot dari murid dalam."

Dira menggosok kuali tanpa berkata apa-apa. Tetapi di dalam kepalanya, ia mengulangi setiap kata itu. Arak beras. Bilik penyimpanan tetua. Tiga hari sekali. Dadu. Warung Mbok Sumi. Malam Kliwon. Dua kerbau.

Hitung. Ingat.

"Dan semalam," kata Gendhis lebih pelan, sambil melirik ke pintu, "ada yang lebih menarik lagi."

"Gendhis," tegur Gendhing.

"Apa? Dia harus tahu."

"Tahu apa?" tanya Dira.

Gendhis berhenti menggosok. "Waktu aku mengantar wedang jahe ke balairung tengah malam tadi, Ki Ageng dan Nyai Rukminiwati ada di sana. Berdua saja. Mereka tidak bertengkar. Para tetua tak pernah bertengkar. Tapi suara mereka..." Ia mengernyitkan hidung, mencari kata yang tepat. "Suara mereka seperti dua pisau yang saling digesek pelan-pelan."

"Mereka membicarakan apa?"

"Aku tak dengar jelas. Begitu aku masuk, mereka diam. Tapi sebelum itu aku dengar Ki Ageng bilang satu kata."

"Kata apa?"

Gendhis menatap Dira lurus-lurus. "Hujan."

Kendang Gendhing berhenti.

Dira merasakan dingin merayap di lehernya, di bawah kain lurik yang basah oleh keringat. Kemarin pagi, di atas altar, Nyai Rukminiwati berkata ia menemukan bayi itu di tepi hutan, di bawah hujan.

"Sudahlah," kata Gendhing cepat, dan kendangnya berbunyi lagi, lebih keras dari sebelumnya. "Para tetua bicara soal hujan kan biasa. Musim tanam sebentar lagi. Ayo, Gendhis, kualinya tinggal tiga."

Mereka bekerja lagi. Tetapi untuk beberapa saat, tak ada yang bicara.


Ketika nasi untuk para tetua sudah mengepul di dalam bakul-bakul bambu, sayur lodeh sudah mendidih di kuali tanah, dan ikan asin sudah digoreng renyah, Gendhis menarik Dira duduk di bangku kayu di sudut dapur.

"Sekarang," katanya, "kau harus makan."

Ia menyendokkan nasi hangat ke atas daun pisang. Lalu, dengan gerakan seorang empu yang menyerahkan keris pusaka, ia menaruh sesendok sambal di sampingnya.

Sambal itu merah tua, hampir kehitaman, berkilat oleh minyak. Baunya saja sudah membuat mata Dira berair dari jarak sejengkal.

"Ini Sambal Lawu Murka," kata Gendhis bangga. "Resepku sendiri. Cabai rawit dari kebun belakang, bawang merah dibakar, terasi dari pesisir, dan rahasia yang tak akan kuberitahukan pada siapa pun sampai aku mati."

"Bahkan padaku," kata Gendhing dengan wajah sedih.

"Terutama padamu."

"Kenapa namanya Lawu Murka?" tanya Dira.

"Coba saja," jawab si kembar bersamaan.

Dira mencubit sedikit nasi, mencoleknya ke sambal, dan memasukkannya ke mulut.

Selama dua tarikan napas tidak terjadi apa-apa.

Lalu Gunung Lawu meletus di dalam mulutnya.

Panas menyembur dari lidah ke ubun-ubun, dari tenggorokan ke perut, dari perut ke ujung jari kaki. Matanya mengucurkan air seperti pancuran. Hidungnya berair. Telinganya berdenging. Ia terbatuk, tersedak, lalu terbatuk lagi, dan tanpa sadar menyambar gentong air di sampingnya dan menenggak langsung dari bibirnya.

Si kembar tertawa sampai terguling dari bangku.

"Murka," kata Gendhing sambil terengah-engah, memegangi perutnya. "Lawu Murka!"

"Kau masih hidup?" tanya Gendhis, menyeka air mata tawanya.

Dira menurunkan gentong dengan wajah merah seperti kepiting rebus. Air menetes dari dagunya. Ia menatap si kembar, menatap sambal itu, lalu meraih sejumput nasi lagi dan mencoleknya ke sambal, kali ini lebih banyak.

Si kembar berhenti tertawa.

Dira mengunyah. Air matanya mengalir lagi. Tapi ia tidak berhenti.

"Ini," katanya dengan suara serak, "sambal paling enak yang pernah kumakan."

Gendhis menatapnya lama, lalu tersenyum sangat lebar, senyum seseorang yang baru saja menemukan saudara baru.

"Gendhing," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari Dira, "dia boleh ikut kita."

"Sudah kubilang dari semalam," kata Gendhing.


Matahari sudah setinggi galah ketika bakul-bakul sarapan diangkut ke balairung oleh abdi-abdi lain yang akhirnya bangun. Si kembar ikut mengantar, saling berebut membawa bakul paling ringan. Dapur kembali sepi.

Dira duduk sendirian di bangku sudut. Perutnya kenyang, mulutnya masih terbakar, tangannya berdenyut di bawah olesan minyak sirih. Untuk pertama kalinya sejak kemarin pagi, sejak cahaya fajar membelok di sekitar kepalanya, dadanya tidak terasa seperti batu.

Ia memejamkan mata. Hanya sebentar.

Lalu dengkuran di sudut dapur berhenti.

Dira membuka mata.

Mbah Karta sudah duduk di atas tumpukan karung berasnya. Lelaki tua itu menggaruk-garuk kepalanya yang hampir botak, menguap lebar memperlihatkan gusi yang tinggal berisi tiga gigi, lalu menoleh ke arah Dira dengan mata yang masih setengah terpejam.

Untuk waktu yang lama, ia hanya menatap.

Bukan ke wajah Dira. Bukan ke kain di lehernya.

Ke tangannya. Ke sela-sela jari yang luka, yang masih berkilat oleh minyak dan darah kering.

"Sayang," gumam Mbah Karta dengan suara serak seperti engsel pintu tua. "Tangan seperti itu."

Ia bangkit dengan lutut berderak, mengambil sendok kayunya, dan berjalan tertatih-tatih ke arah tungku.

"Tangan seperti itu," ulangnya pelan sambil membelakangi Dira, "tidak dibuat untuk menggosok kerak."