Sang Penelan Pusaka

Bab 43Rencana Kecil

"Aku tidak mengerti," kata Satyaki, "kenapa kita mengintip orang minum arak."

Mereka berbaring telungkup di atas atap kandang kuda, di balik tumpukan jerami kering yang ditaruh di sana untuk musim hujan. Dari tempat itu, dalam cahaya bulan yang hampir penuh, mereka bisa melihat tiga hal: jendela belakang bilik penyimpanan tetua di balik balairung, jalan setapak yang menurun dari sana ke halaman belakang, dan kandang kambing di ujung jalan setapak itu.

"Bukan mengintip orang minum arak," bisik Dira. "Mengintip orang mencuri arak."

"Bedanya?"

"Yang satu urusan dia sendiri. Yang lain urusan semua orang."

Satyaki diam sebentar, memikirkannya dengan wajah datar yang selalu ia pakai saat memikirkan sesuatu.

"Kau masih belum bilang apa yang terjadi di Hutan Larangan," katanya akhirnya.

"Aku tersesat. Aku jatuh ke jurang kecil."

"Kau tidak pernah tersesat. Kau hafal setiap batu di jalan ke Hutan Larangan. Kau lolos dari babi bertaring besi di sana." Satyaki tidak menoleh. Matanya tetap tertuju ke jendela bilik penyimpanan. "Dan kakimu terkilir seperti kaki orang yang mendarat dari tempat yang sangat tinggi. Bukan seperti kaki orang yang terpeleset di jurang kecil."

Dira tidak menjawab.

"Tidak apa-apa," kata Satyaki. "Ayahku bilang, kawan yang menyimpan rahasia darimu biasanya sedang menyimpannya untukmu." Ia menggeser sebutir kerikil di antara jari-jarinya. "Tapi kalau suatu hari kau perlu orang untuk mengangkat batu besar dari atas sesuatu, panggil aku."

Dira menoleh kepadanya dengan cepat. Satyaki tetap menatap jendela.

"Bocah ini," bisik Ki Jalak, "suatu hari akan menjadi panglima. Atau maling paling hebat di seluruh Jawadwipa. Aku belum bisa menebak yang mana."


Ini malam ketiga mereka mengintip.

Sejak hari Dira kembali dari sumur, ia menghabiskan setiap malam yang bisa ia curi untuk satu hal: menghitung Sutarga.

Di bilah bambu di balik bata tungku ketujuh, Sutarga hanya punya satu baris. Lingkaran penuh: arak beras dari bilik penyimpanan tetua tiap tiga malam, kendi kosong di kandang kambing. Baris itu sudah ada sejak hari-hari pertama Dira menjadi abdi, ketika ia pertama kali melihat murid dalam berwajah bulat itu mengendap-endap ke balik balairung. Tetapi satu baris tidak cukup. Satu baris hanya memberi tahu apa. Dira butuh bagaimana. Dan kapan. Dan yang paling penting, di mana celahnya.

Jadi ia menghitung lagi, kali ini dengan sangat teliti, seperti Mbah Karta menghitung takaran garam untuk sekuali sayur.

Malam pertama, ia dan Satyaki hanya melihat. Malam kedua, mereka melihat lebih dekat. Malam ketiga, malam ini, mereka sudah tahu apa yang akan terjadi sebelum terjadi.

"Sekarang," bisik Dira.

Kentongan kedua berbunyi dari arah gerbang depan. Tung. Tung.

Tepat setelah gema kentongan itu hilang, sesosok bayangan bulat muncul dari balik pojok asrama murid dalam. Ia berjalan menyusuri dinding balairung tanpa pelita, cepat dan agak membungkuk, seperti tikus gemuk yang tahu jalan pulang. Ia berhenti di bawah jendela belakang bilik penyimpanan. Ia menoleh ke kiri, ke kanan.

Lalu ia mengangkat tangan dan mendorong bilah jendela yang paling kiri.

Bilah kayu itu bergeser ke samping tanpa suara. Engselnya sudah lama longgar, dan seseorang, mungkin Sutarga sendiri, sudah meminyakinya.

Sutarga memasukkan lengan kanannya ke dalam lewat celah itu. Sampai bahu. Ia meraba-raba sebentar dengan wajah menempel ke dinding, matanya terpejam, seperti orang mencari sendok di dasar gentong.

Dira menghitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga. Empat.

Lengan itu keluar lagi membawa sebuah kendi tembikar kecil bertutup daun pisang yang diikat tali ijuk.

Empat tarikan napas. Sama seperti malam sebelumnya. Sama seperti malam sebelumnya lagi.

"Dia tidak melihat," bisik Dira. "Dia meraba. Rak paling bawah, paling dekat jendela. Dia ambil yang pertama tersentuh tangannya."

"Bagaimana kau tahu itu rak paling bawah?"

"Bahunya. Dia harus membungkuk dan memasukkan lengan sampai ketiak. Kalau rak atas, dia tidak perlu membungkuk."

Satyaki menatapnya sebentar, lalu kembali menatap Sutarga, dan tidak berkata apa-apa.

Sutarga menggeser bilah jendela kembali ke tempatnya. Ia mendekap kendi itu di dada seperti mendekap bayi, lalu berjalan menuruni jalan setapak ke arah kandang kambing.


Bagian berikutnya selalu sama.

Sutarga duduk di balik kandang kambing, di tempat yang tak terlihat dari asrama mana pun. Ia membuka tutup daun pisang itu dengan gigi. Ia meneguk sekali, panjang, lalu bersendawa pelan. Lalu meneguk lagi.

Dari dalam kandang, seekor kambing jantan berbulu hitam belang putih menjulurkan kepalanya di antara bilah-bilah pagar dan menatap Sutarga dengan sepasang mata kuning yang pupilnya melintang seperti garis.

"Itu dia," bisik Dira tanpa sadar.

"Siapa?"

"Kambing bermata jahat."

Satyaki menatapnya. "Kau kenal kambing itu?"

"Semua orang kenal kambing itu. Dia menggigit Wulan waktu umur sembilan. Dia menggigit Gendhing tiga kali. Dia makan sandal kayu Mbok Darsih. Sebelah. Hanya yang kiri."

"Kenapa hanya yang kiri?"

"Tidak ada yang tahu. Itu bagian yang paling menakutkan."

Di bawah sana, Sutarga mengusir kepala kambing itu dengan kibasan tangan. Kambing itu tidak bergerak. Sutarga mengibas lagi. Kambing itu menatapnya. Sutarga mengalah, menggeser duduknya sejengkal menjauh, dan meneguk araknya lagi.

Ia meminum habis isi kendi itu dalam waktu yang dibutuhkan untuk menanak nasi. Lalu ia berdiri, agak goyah, dan melemparkan kendi kosong itu ke balik tumpukan jerami busuk di sudut kandang. Bunyi tembikar beradu dengan tembikar terdengar pelan dari sana, klotak, seperti kendi itu jatuh ke atas kendi-kendi lain.

Lalu ia mengunyah sesuatu dari kantong ikat pinggangnya. Cengkih, kata hidung Dira, yang sejak Raga Madya bisa mencium bau dari jarak dua puluh langkah kalau angin bertiup ke arahnya. Cengkih dan daun sirih, untuk menutupi bau arak. Lalu Sutarga berjalan kembali ke asrama murid dalam dengan langkah yang hampir lurus.

Dira dan Satyaki berbaring diam sampai bayangan bulat itu lenyap.

"Jadi," kata Satyaki. "Dia mencuri arak. Setiap tiga malam. Dari jendela yang longgar. Minum di balik kandang kambing. Membuang kendinya di bawah jerami. Mengunyah cengkih. Pulang." Ia berhenti. "Lalu apa? Kau mau melapor? Ke siapa? Bilik penyimpanan itu di bawah pengawasan Ki Wiradhana. Sutarga membawa surat izin bercap Ki Wiradhana ke dapur waktu kau difitnah ingkung. Kalau kau melapor ke Ki Wiradhana, kau yang akan dicambuk lagi."

"Aku tidak akan melapor ke Ki Wiradhana."

"Lalu ke siapa?"

Dira menatap ke arah timur, ke arah lapangan latihan murid dalam di balik tembok batu tinggi. Lapangan yang ia intip dari atap dapur sejak Satyaki menunjukkan jalannya. Lapangan dengan tiang-tiang batu penuh bekas telapak, dan seorang tetua bertubuh lebar seperti tunggul jati yang berjalan di antara barisan murid sambil menepuk siku dan bahu mereka.

"Aku tidak akan melapor ke siapa pun," katanya.


Potongan terakhir datang dari tempat yang tak terduga.

Keesokan harinya, Dira sedang memotong lobak di bangku dapur ketika Mbah Karta lewat di belakangnya sambil mengaduk kuali besar berisi sayur lodeh dengan sendok kayu panjangnya. Juru masak tua itu bersiul pelan seperti biasa, siulan jalak kebo. Lalu, tanpa menoleh, tanpa berhenti mengaduk, tanpa alasan apa pun, ia mulai bergumam.

Bukan kepada Dira. Kepada kuali lodeh, tampaknya.

"Purnama sebentar lagi. Selamatan purnama. Sibuk, sibuk." Aduk. "Ki Brajanala tahun ini mau sesaji arak lagi untuk arwah gurunya. Arak tua. Dari desa gurunya di lereng timur. Dibawa sendiri. Satu kendi kecil saja, dibungkus kain merah, dicap telapak tangannya di tutup tanah liatnya." Aduk. "Disimpan di bilik penyimpanan tetua sampai malam purnama. Rak paling bawah. Supaya tidak jatuh. Arak itu umurnya lebih tua dari aku. Kalau jatuh, Ki Brajanala bisa memecah tiang balairung."

Dira berhenti memotong lobak.

"Arak itu keras sekali, kabarnya," lanjut Mbah Karta kepada kualinya. "Sekali teguk, kerbau bisa nembang. Dua teguk, kerbaunya bisa ndalang. Tiga teguk..." Ia terkekeh. "Tiga teguk, kerbaunya tidur tiga hari dan bangun-bangun lupa dia kerbau."

Ia mencicipi lodehnya dari ujung sendok, mengecap-ngecap, lalu menambahkan sejumput garam.

"Dan Ki Brajanala," gumamnya, sambil berjalan pergi menyeret kakinya, "orangnya tidak suka murid yang minum. Sama sekali tidak suka. Dulu, belum lama Ki Brajanala jadi pelatih, ada murid dalam yang berlatih dalam keadaan mabuk dan mati tertimpa tiang batunya sendiri. Sejak itu Ki Brajanala bersumpah: murid dalam yang ketahuan minum, dicabut gelarnya hari itu juga, di depan semua orang. Tidak ada ampun. Tidak ada tawar-menawar. Bahkan kalau Ki Ageng sendiri yang minta."

Ia menghilang ke gudang beras. Siulannya sayup-sayup terdengar dari sana.

Dira menatap lobak di depannya lama sekali.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Juru masak itu baru saja..."

Aku tahu.

"Dia tidak bicara kepada lodeh."

Aku tahu.

"Siapa sebenarnya orang tua itu?"

Dira tidak menjawab. Ia mengambil pisau kupas dan melanjutkan memotong lobak, irisan demi irisan, setipis daun, serata papan. Tetapi di dalam kepalanya, potongan-potongan itu mulai tersusun sendiri, seperti langkah-langkah Langkah Jalak Ngumbara yang mengalir setelah ia berhenti menghitung.

Sutarga meraba. Rak paling bawah. Kendi pertama yang tersentuh tangannya. Dalam gelap.

Arak tua Ki Brajanala. Kendi kecil. Rak paling bawah.

Sekali teguk, kerbau nembang. Tiga teguk, tidur tiga hari.

Sutarga selalu menghabiskan satu kendi.


"Itu jahat," kata Ki Jalak malam itu.

Mereka di depan tungku ketujuh. Barak sudah tidur. Dira sedang menggambar sesuatu di atas abu dengan sebatang lidi: kotak bilik penyimpanan, garis-garis rak, lingkaran-lingkaran kendi.

"Aku tidak memaksanya mencuri," kata Dira.

"Kau akan membuatnya mencuri kendi yang salah."

"Aku tidak akan membuatnya mencuri apa pun. Dia akan memasukkan tangannya ke jendela itu lusa malam, seperti setiap tiga malam selama setahun. Itu pilihannya. Aku hanya akan memindahkan satu kendi sejengkal ke kiri." Dira menghapus satu lingkaran di abu dan menggambarnya lagi di tempat lain. "Kalau dia tidak mencuri, dia tidak akan menyentuh kendi itu. Kalau dia mencuri, dia akan menemukan apa yang dicarinya. Hanya saja, sedikit lebih keras dari biasanya."

Ki Jalak diam lama.

"Dan kalau Ki Brajanala bertanya bagaimana kendinya bisa pindah?"

"Kendi itu tidak akan kelihatan pindah. Kendi itu ada di rak paling bawah. Akan tetap di rak paling bawah. Dalam gelap, sejengkal ke kiri atau ke kanan tidak ada bedanya. Orang hanya akan bertanya kenapa Sutarga mencuri arak sesaji arwah guru Ki Brajanala." Dira meletakkan lidinya. "Dan Sutarga sendiri tidak akan bisa menjawab. Karena dia sendiri tidak tahu."

"Kau tidak menyentuhnya."

"Aku tidak menyentuhnya. Seperti dia tidak menyentuh Wulan malam itu."

Ki Jalak tidak bertanya apa maksudnya. Ia tahu. Malam kedua Dira menjadi abdi. Tamparan di pipi Wulansari, yang dilakukan dengan tangan Sutarga tetapi diperintahkan oleh kata-kata. Ki Ageng sudah punya rencana untuknya.

"Bagaimana kau masuk ke bilik penyimpanan?" tanya Ki Jalak akhirnya.

"Lewat jendela yang sama."


Malam berikutnya, kentongan pertama baru saja berbunyi ketika Dira menggeser bilah jendela paling kiri bilik penyimpanan tetua.

Bilah itu bergeser tanpa suara. Minyak Sutarga.

Ia menyelinap masuk seperti asap. Bilik itu gelap dan berbau tanah liat, padi kering, dupa, dan arak yang meresap ke dalam kayu rak selama bertahun-tahun. Dira menunggu matanya terbiasa dengan gelap, lalu meraba-raba di sepanjang rak paling bawah, persis seperti yang dilakukan Sutarga.

Kendi. Kendi. Kendi. Semua sama besar, sama dingin, bertutup daun pisang dan tali ijuk. Arak beras untuk tetua. Kira-kira dua puluh buah.

Lalu, di ujung rak, di tempat yang lebih jauh dari jendela, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang lain.

Kain. Kain halus yang dililitkan di perut sebuah kendi yang lebih kecil. Dan di atasnya, bukan tutup daun pisang, tetapi tutup tanah liat yang keras, dengan cekungan di permukaannya. Dira meraba cekungan itu. Jari-jari. Telapak tangan. Bekas telapak tangan yang lebar sekali, ditekankan ke tanah liat basah lalu dibiarkan mengeras.

Telapak tangan yang bisa memecah tiang batu.

Dira mengangkat kendi kecil itu dengan sangat hati-hati, dengan kedua tangan, seperti mengangkat telur di latihan lima bakul Mbah Karta. Kendi itu berat. Lebih berat dari ukurannya. Isinya bergoyang pelan, kental, seperti madu.

Ia membawanya ke ujung rak yang paling dekat dengan jendela. Ke tempat yang akan disentuh lengan Sutarga pada tarikan napas kedua. Lalu ia memindahkan kendi arak beras yang tadi ada di situ ke tempat kosong di ujung rak.

Sejengkal ke kiri. Sejengkal ke kanan.

Selesai.

Ia baru akan berbalik ke jendela ketika mendengar suara.

Bukan dari jendela. Dari pintu. Pintu depan bilik penyimpanan, yang menghadap ke lorong di belakang balairung. Bunyi anak kunci perunggu yang berat diputar di lubangnya.

Klik.

Dira membeku.

"Ke atas," bisik Ki Jalak tajam. "Rak paling atas. Sekarang."

Dira melompat. Hinggap. Telapak depan di rak paling bawah, rak kedua, rak ketiga, tanpa suara, tanpa berat, seperti burung kecil yang naik dari dahan ke dahan. Ia meringkuk di atas rak paling atas, di antara karung-karung padi sesaji dan gulungan-gulungan tikar pandan berdebu, tepat ketika pintu bilik penyimpanan terbuka.

Cahaya pelita menyiram masuk. Kuning, bergoyang.

Dua pasang kaki melangkah masuk.

"...purnama nanti," kata sebuah suara. Lembut. Seperti gula aren yang dilelehkan. "Semuanya harus siap sebelum itu. Kau mengerti?"

"Saya mengerti, Ki." Suara kedua. Muda. Asing. Bukan Gandawasa. Bukan Sutarga. Bukan Joyokusumo.

"Dan anak itu," kata Ki Wiradhana, dan Dira bisa mendengar senyumnya dalam gelap. "Pastikan anak itu ada di dapur malam itu. Apa pun yang terjadi."