Bab 44Arak Tetua
Dira tidak bernapas.
Ia meringkuk di atas rak paling atas, di antara karung padi sesaji yang berbau apak dan gulungan tikar pandan yang dipenuhi debu. Lututnya menempel di dada, dagunya di lutut. Tubuhnya rata dengan rak sebisa mungkin. Di bawahnya, cahaya pelita menari-nari di dinding bilik penyimpanan, melemparkan bayangan dua orang yang memanjang sampai ke langit-langit, sampai ke tempatnya bersembunyi.
"Turunkan napasmu," bisik Ki Jalak, sangat pelan. "Bukan ditahan. Ditahan itu berbunyi. Turunkan sampai ke bawah pusar dan biarkan diam di sana. Seperti batu di dasar kolam."
Dira menurunkannya. Napasnya mengendap di bawah pusar, tidak berputar, tidak bergerak. Seperti batu di dasar kolam.
Di bawah, Ki Wiradhana berjalan perlahan di antara rak-rak dengan pelita terangkat. Ia tidak terburu-buru. Ia tak pernah terburu-buru. Langkahnya nyaris tanpa suara, seperti malam ketika ia berbisik kepada Gandawasa di balik dinding dapur.
Pemuda di belakangnya tidak dikenal Dira. Dari sudut matanya, lewat celah di antara dua karung padi, Dira hanya bisa melihat sebagian: tubuh kurus tinggi, kain hitam polos tanpa sulaman, dan rambut panjang yang diikat ke belakang. Wajahnya tak terlihat. Tetapi Dira melihat tangannya ketika pemuda itu mengangkat sebuah peti kayu kecil dari rak tengah. Jari-jari panjang dan pucat. Di punggung tangan kirinya ada bekas luka bakar berbentuk aneh, melingkar seperti cincin.
"Hati-hati," kata Ki Wiradhana lembut. "Isinya mudah patah."
Pemuda itu membuka peti di atas rak tengah. Dari tempatnya, Dira tak bisa melihat isinya. Tetapi ia bisa menciumnya.
Bau yang dingin. Seperti bau abu dupa yang dibakar di tempat yang tak pernah kena matahari.
Bau yang sama yang dicium Ki Jalak di bawah bau dupa cendana dan arak beras Ki Wiradhana, di kebun obat, di hari bidai.
"Itu," bisik Ki Jalak, nyaris tak bersuara. "Itu dia."
Pemuda itu mengambil sesuatu dari dalam peti. Seikat batang-batang tipis, panjang dan hitam, yang dibungkus kain. Dupa. Dupa hitam. Ia menyelipkannya ke balik bajunya, lalu menutup peti dan mengembalikannya ke rak.
"Tiga malam sebelum purnama," kata Ki Wiradhana. "Bakar di tempat biasa. Tiga batang setiap malam. Jangan lebih. Jangan kurang."
"Dan kalau Nyai itu mencium baunya lagi?"
Hening sebentar.
"Nyai itu," kata Ki Wiradhana dengan suara yang tidak berubah sedikit pun, tetap lembut, tetap ramah, "sudah terlalu banyak mencium."
Pemuda itu tidak berkata apa-apa.
Mereka berjalan kembali ke pintu. Tetapi di tengah jalan Ki Wiradhana berhenti. Ia berhenti tepat di depan rak paling bawah, di ujung yang paling dekat dengan jendela.
Ia menurunkan pelitanya.
Cahaya kuning menyiram rak itu. Dua puluh kendi arak beras bertutup daun pisang. Dan di ujungnya, paling dekat jendela, sebuah kendi kecil yang perutnya dililit kain merah, tutupnya tanah liat dengan bekas telapak tangan yang lebar.
Dira merasakan seluruh tubuhnya menjadi dingin.
Ki Wiradhana menatap kendi itu. Lama.
"Brajanala," gumamnya, "dan arak sucinya." Ia terkekeh pelan, kekeh orang tua yang geli melihat kebiasaan aneh kawan lamanya. "Orang keras kepala itu. Setiap tahun. Untuk guru yang sudah lama mati."
Ia mengangkat pelitanya lagi dan berjalan ke pintu.
Pintu tertutup. Anak kunci perunggu diputar. Klik. Langkah kaki menjauh di lorong belakang balairung, satu nyaris tanpa suara, yang lain lebih berat.
Dira tetap meringkuk di atas rak lama sekali setelah langkah-langkah itu lenyap.
"Dia tidak tahu letak semula kendi itu," kata Ki Jalak akhirnya, dengan suara orang yang baru saja selamat dari tebing. "Dia tidak pernah memperhatikan. Untuk orang seperti dia, arak sesaji arwah guru adalah urusan orang bodoh."
Tiga malam sebelum purnama, pikir Dira. Bakar di tempat biasa. Nyai itu sudah terlalu banyak mencium.
Ia turun dari rak, menyelinap keluar lewat jendela, menggeser bilah kayu itu kembali ke tempatnya, dan berjalan pulang ke dapur di bawah bulan yang hampir penuh.
Malam itu, di bilah bambu Ki Wiradhana, di bawah gula aren, surat izin, dan kata belum, ia memahat dua tanda baru. Sebatang dupa hitam. Dan sebuah lingkaran kecil seperti cincin.
Dua malam kemudian, kentongan kedua berbunyi.
Dira dan Satyaki sudah berbaring di atap kandang kuda sejak kentongan pertama. Kali ini Dira tidak menjelaskan apa-apa kepada Satyaki. Ia hanya berkata: Malam ini akan lain.
Bayangan bulat itu muncul dari balik pojok asrama murid dalam, tepat waktu. Berjalan menyusuri dinding balairung. Berhenti di bawah jendela. Menoleh ke kiri, ke kanan. Menggeser bilah paling kiri. Memasukkan lengan sampai ketiak.
Satu.
Lengan itu langsung keluar.
Satu tarikan napas, bukan empat. Kendi pertama yang tersentuh tangannya, di ujung rak yang paling dekat.
Sutarga tidak memperhatikannya. Ia tidak memperhatikan bahwa kendi itu lebih kecil. Ia tidak memperhatikan bahwa kendi itu lebih berat. Ia tidak memperhatikan kain merah yang melilit perutnya, karena dalam gelap kain merah sama hitamnya dengan tembikar. Ia mendekapnya di dada, menggeser bilah jendela, dan berjalan menuruni jalan setapak ke kandang kambing.
Ia memperhatikan satu hal: tutupnya.
Di balik kandang kambing, di bawah cahaya bulan, Sutarga mencoba membuka tutup kendi itu dengan gigi, seperti biasa. Giginya beradu dengan tanah liat keras. Ia mengernyit, menatap tutup itu, mengetuknya dengan buku jari. Lalu, karena ia sudah memikirkan arak itu sejak pagi dan tak ada yang lebih penting di dunia ini, ia mengetuk tutup tanah liat itu ke tiang kandang.
Krak.
Tutup itu pecah. Bau yang menguar dari mulut kendi begitu kuat sampai Dira, dua puluh langkah jauhnya di atas atap kandang kuda, bisa menciumnya dengan jelas. Bukan bau arak beras yang asam dan tipis. Bau yang manis, berat, dalam, seperti madu yang dibakar, seperti kayu cendana yang direndam di dalam api.
Satyaki mengernyit. "Itu bukan arak beras."
"Bukan," bisik Dira.
Sutarga tampaknya juga menyadari itu. Ia mengendus mulut kendi, mengangkat alisnya tinggi-tinggi, lalu tersenyum lebar, senyum orang yang merasa baru saja menemukan harta karun.
Ia meneguk.
Satu teguk panjang.
Lalu ia diam. Kendi itu masih di bibirnya. Matanya terbelalak. Wajah bulatnya, dalam cahaya bulan, berubah warna perlahan-lahan: dari pucat menjadi merah muda, dari merah muda menjadi merah, dari merah menjadi ungu seperti terung yang kelewat matang.
Ia menurunkan kendi itu.
Ia membuka mulut.
Dan Sutarga, murid dalam Padepokan Argasuryan, yang selama setahun mencuri arak tanpa pernah sekali pun mengeluarkan suara lebih keras dari sendawa, mulai nembang.
Dira kelak tidak bisa memastikan tembang apa itu. Mungkin Asmaradana. Mungkin Dhandhanggula. Mungkin tembang yang belum pernah ada sebelumnya dan tidak akan pernah ada lagi sesudahnya. Suara Sutarga naik dan turun tanpa aturan, seperti gerobak tanpa roda yang menggelinding menuruni bukit, dan liriknya kebanyakan tentang bulan, tentang kendi, dan anehnya, tentang seorang gadis penjual tempe di pasar desa yang bernama Sri.
"Duh Sri, Sri, tempemu ayu... ayu kaya rembulan... nanging rembulan ora isa digoreng..."
Satyaki menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang.
Di dalam dada Dira, Ki Jalak membuat suara yang belum pernah Dira dengar sebelumnya, suara tercekik seperti kendi bocor.
"Dua teguk," kata Ki Jalak di antara kekeh. "Kerbau bisa ndalang."
Sutarga meneguk lagi.
Ia berhenti nembang. Ia berdiri, terhuyung, merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, dan mulai ndalang. Tangannya menjadi wayang. Tangan kiri menjadi Arjuna, tangan kanan menjadi Buta Cakil. Ia memainkan perang kembang dengan kedua tangannya sendiri sambil menirukan bunyi kendang dengan mulut, dhang, dhang, tak, dhung, dan ketika Buta Cakil kalah, ia menampar pipinya sendiri dengan tangan kiri dan menjerit seperti raksasa yang tertusuk keris.
Lalu ia membutuhkan seorang penonton. Ia berbalik ke kandang.
Kambing bermata jahat menatapnya dari balik pagar dengan sepasang mata kuning yang tak berkedip.
"Kanjeng Gusti," kata Sutarga sambil membungkuk dalam-dalam kepada kambing itu, sangat sopan. "Kanjeng Gusti yang mulia. Hamba mohon izin mempersembahkan lakon..."
Kambing itu menggigit udengnya.
Sutarga tidak peduli. Ia membiarkan kambing itu menarik udengnya sampai lepas, mengunyahnya, menelannya separuh. Ia hanya tertawa, terbahak-bahak, sampai ia jatuh terduduk di tanah, lalu mengangkat kendi itu sekali lagi ke bibirnya.
Teguk ketiga.
Tiga teguk, kerbaunya tidur tiga hari dan bangun-bangun lupa dia kerbau.
Sutarga tidak sempat menurunkan kendinya. Ia jatuh ke belakang, perlahan, seperti pohon pisang yang ditebang, ke atas tumpukan jerami busuk di sudut kandang. Tepat ke atas tumpukan kendi kosong yang ia kumpulkan selama setahun. Kendi kecil berkain merah itu masih didekapnya di dada.
Lalu dengkurnya terdengar. Keras, dalam, berirama, dan sangat, sangat panjang.
Kambing bermata jahat menjulurkan kepalanya di antara bilah-bilah pagar dan mulai mengunyah ujung kain merah yang melilit kendi itu.
Satyaki melepaskan tangan dari mulutnya. Matanya basah oleh tawa yang ditahan.
"Kau," bisiknya kepada Dira, "adalah orang paling menakutkan yang pernah kukenal."
Dira tidak menjawab. Ia menatap Sutarga yang mendengkur di atas tumpukan kendi, dan ia tidak tertawa. Ia teringat pipi Wulansari, malam kedua.
"Bocah," kata Ki Jalak, lebih pelan sekarang. "Kau tidak senang?"
Aku tidak tahu, pikir Dira. Tanyakan besok.
Besoknya, Sutarga tidak datang ke latihan subuh.
Dira tahu karena ia ada di atap dapur, telungkup di balik bubungan, seperti setiap subuh. Ia melihat barisan murid dalam berdiri di depan tiang-tiang batu. Ia melihat Ki Brajanala berjalan ke depan barisan dan menatap murid-muridnya satu per satu, seperti biasa. Ia melihat tatapan itu berhenti di satu tempat kosong di barisan tengah.
"Sutarga," kata Ki Brajanala.
Tak ada jawaban.
"Joyokusumo. Di mana Sutarga?"
Joyokusumo, yang berdiri di sebelah tempat kosong itu, menelan ludah. "Sakit perut, Ki. Mungkin. Saya... saya tidak tahu, Ki. Dia tidak pulang ke asrama semalam."
Ki Brajanala menyipitkan mata.
Tetapi sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, jeritan terdengar dari arah halaman belakang. Jeritan perempuan tua, melengking, panjang, disusul teriakan yang bisa didengar sampai ke lapangan murid dalam di balik tembok batu tinggi.
"MAYAT! ADA MAYAT DI KANDANG KAMBING! KAMBINGNYA MAKAN MAYAT!"
Mbok Darsih.
Itu bukan mayat. Tetapi dari jauh, dalam cahaya subuh yang kelabu, memang mirip.
Sutarga tergeletak telentang di atas tumpukan jerami busuk, kaki terbuka, mulut menganga, kendi kecil masih didekap erat di dada. Udengnya hilang. Separuh kain merah di perut kendi sudah dimakan kambing. Di sekelilingnya, jerami yang tersibak memperlihatkan apa yang tersembunyi di bawahnya selama ini: kendi-kendi. Puluhan. Kendi tembikar kosong bertali ijuk, bertumpuk-tumpuk, ada yang pecah, ada yang utuh, ada yang sudah berlumut. Dan semuanya, kalau diperhatikan, diikat dengan tali yang sama: tali ijuk berkepang tiga, tanda kendi dari bilik penyimpanan tetua.
Ketika Ki Brajanala tiba di halaman belakang, setengah abdi padepokan sudah berkerumun di sekitar kandang kambing, diikuti setengah murid dalam yang lari meninggalkan latihan.
Kerumunan itu menyibak seperti air dibelah perahu.
Ki Brajanala berjalan lurus ke tumpukan jerami. Ia tidak bicara. Ia membungkuk, mencabut kendi kecil itu dari dekapan Sutarga dengan satu tarikan, dan mengangkatnya ke depan matanya.
Kain merah yang separuh termakan kambing. Sisa-sisa tutup tanah liat yang pecah, masih menempel di mulut kendi. Dan di sisa tutup itu, sebagian bekas telapak tangan yang lebar.
Telapak tangannya sendiri.
Tak seorang pun di kerumunan itu bernapas.
Ki Brajanala mengguncang kendi itu pelan. Kosong. Hampir kosong. Hanya ada sedikit cairan kental berbau madu terbakar di dasarnya.
Lalu ia menatap Sutarga.
Ia mencengkeram kerah baju Sutarga dengan satu tangan dan mengangkatnya dari tumpukan jerami seperti mengangkat sekarung kapuk. Sutarga menggantung di udara, kakinya terseret di jerami. Kepalanya terkulai. Matanya terbuka setengah, merah dan berair.
"Ki..." gumamnya, tersenyum lemah. "Ki Brajanala... Hamba... hamba mau ndalang..."
Ki Brajanala menjatuhkannya.
Ia berbalik menghadap kerumunan. Ke arah murid-murid dalam, ke arah para abdi, ke arah tumpukan kendi kosong. Wajahnya yang lebar dan keras seperti tunggul jati tidak menunjukkan apa pun. Tetapi tangan yang memegang kendi kecil itu gemetar.
"Arak," katanya. Suaranya pelan, dan karena pelan, terdengar sampai ke ujung halaman. "Untuk arwah guruku. Yang empat puluh warsa lalu mengangkatku dari selokan pasar ketika aku masih anak gelandangan yang mencuri ubi. Setiap tahun, satu kendi. Dari desanya. Kubawa sendiri dengan kakiku sendiri, tiga hari perjalanan."
Ia menatap Sutarga yang sudah kembali mendengkur di atas jerami.
"Dan dia meminumnya. Untuk ndalang."
Ki Wiradhana tiba ketika Ki Brajanala baru selesai bicara.
Ia datang tergesa-gesa, beskap hitamnya berkibar, janggutnya yang panjang dan keperakan bergoyang. Untuk pertama kalinya Dira melihat tetua itu berjalan cepat. Wajahnya penuh keprihatinan yang ramah.
"Ki Brajanala. Astaga. Saya baru dengar." Ia berhenti di samping Ki Brajanala, menatap Sutarga, menatap kendi-kendi, lalu menghela napas panjang yang penuh duka. "Anak muda. Khilaf. Biarlah saya yang menangani, Ki. Bilik penyimpanan itu di bawah pengawasan saya. Saya akan memastikan dia dihukum dengan..."
"Di bawah pengawasanmu," ulang Ki Brajanala.
Ki Wiradhana berhenti.
"Bilik penyimpanan itu di bawah pengawasanmu, Wiradhana." Ki Brajanala menoleh perlahan kepadanya. Suaranya tetap pelan. "Dan selama setahun," ia menunjuk tumpukan kendi kosong dengan dagunya, "muridku mencuri dari bilikmu setiap beberapa malam, dan kau tidak tahu?"
Hening.
"Saya sudah tua, Ki," kata Ki Wiradhana dengan senyum lembut. "Ingatan saya tidak setajam dulu. Saya tidak menghitung kendi."
"Aku menghitung kendi," kata Ki Brajanala. "Satu. Setiap tahun."
Kedua tetua itu saling menatap. Dira, yang berdiri di belakang kerumunan abdi bersama Gendhis dan Gendhing, merasakannya lagi. Seperti di altar. Seperti di kebun obat. Dua pisau yang saling digesek pelan-pelan. Hanya saja kali ini salah satu pisaunya bukan pisau. Kali ini salah satunya adalah palu godam.
Lalu Ki Brajanala berbalik dan menatap ke seluruh kerumunan murid dalam.
"Sutarga," katanya, keras sekarang, sekeras petir. "Mulai hari ini bukan lagi murid dalam Argasuryan. Sabuknya dicabut. Ia turun menjadi murid luar. Tiga purnama ia membersihkan kandang ini." Ia menunjuk kandang kambing. "Dengan tangannya sendiri. Bersama kambing itu."
Kambing bermata jahat, seperti mengerti, mengembik panjang dan menelan sisa udeng Sutarga.
"Dan aku sendiri," lanjut Ki Brajanala, menatap Ki Wiradhana tanpa berkedip, "yang akan memegang kunci bilik penyimpanan sampai purnama nanti."
Senyum Ki Wiradhana tidak berubah sedikit pun. "Tentu, Ki. Tentu. Kalau itu yang Ki kehendaki."
Kerumunan mulai bubar. Para murid dalam menggotong Sutarga yang masih mendengkur ke asrama. Para abdi kembali ke pekerjaan masing-masing, berbisik-bisik riuh tentang tembang Sri dan tempe yang ayu seperti rembulan. Mbok Darsih bersumpah bahwa ia memang mengira itu mayat dan bahwa kambing itu memang pemakan mayat, hanya saja belum sempat.
Dira berbalik untuk pergi.
"Tunggu."
Suara Ki Brajanala. Tidak keras. Tetapi seluruh halaman berhenti bergerak.
Tetua bertubuh lebar itu masih berdiri di depan kandang kambing, kendi kecil di tangannya. Ia tidak menatap siapa pun. Ia menatap kendi itu, membaliknya, memutarnya pelan di antara jari-jarinya yang tebal.
"Kendi ini," katanya pelan, seperti berbicara kepada dirinya sendiri, "kuletakkan sendiri di rak paling bawah. Di ujung yang paling jauh dari jendela. Supaya tidak tersenggol."
Ia mengangkat wajahnya.
"Sutarga mencuri dari jendela. Dalam gelap. Tangannya hanya bisa menjangkau ujung yang dekat." Matanya yang kecil dan keras menyapu halaman dengan perlahan, melewati murid-murid dalam, melewati para abdi, melewati Ki Wiradhana. "Jadi katakan kepadaku. Siapa yang memindahkan kendiku?"