Bab 45Utang Judi Joyokusumo
Tak ada yang menjawab.
Halaman belakang yang tadi riuh oleh bisik-bisik tentang tembang Sri dan tempe yang ayu seperti rembulan tiba-tiba sesunyi kuburan. Para abdi menunduk. Para murid dalam saling melirik. Bahkan kambing bermata jahat berhenti mengunyah.
Dira berdiri di belakang kerumunan, di antara Gendhis dan Gendhing, dengan wajah abdi dapur yang bosan, tak tahu apa-apa, dan sedikit mengantuk. Di dalam dadanya, Ki Jalak tidak berani bersiul.
"Jangan menunduk lebih dalam dari yang lain," bisiknya. "Jangan mengangkat wajah lebih tinggi dari yang lain. Jadilah rumput di antara rumput."
Dira menjadi rumput.
Mata kecil dan keras Ki Brajanala menyapu halaman itu dari ujung ke ujung, perlahan, seperti tapak tangannya meraba tiang batu sebelum memecahkannya. Tatapan itu melewati murid-murid dalam. Melewati abdi-abdi kandang. Melewati Mbok Darsih yang masih memegangi dadanya. Melewati Gendhing. Melewati Dira.
Tidak berhenti.
Lalu tatapan itu sampai pada Ki Wiradhana, dan berhenti di sana.
"Mungkin," kata Ki Wiradhana dengan suara lembutnya, "Sutarga sendiri yang meraba lebih jauh, Ki. Orang yang sudah biasa mencuri, lama-lama tangannya makin panjang. Begitu kata orang tua-tua."
"Mungkin," kata Ki Brajanala.
Hanya itu. Satu kata. Tetapi cara ia mengucapkannya membuat Gendhing, yang berdiri di samping Dira, bergidik dan menggosok-gosok lengannya sendiri.
Ki Brajanala menyelipkan kendi kecil yang kosong itu ke balik ikat pinggangnya, berbalik, dan pergi. Kerumunan menyibak lagi di depannya.
Siang itu, dari depan sumur dapur, Dira melihat Ki Brajanala berjalan sendirian ke balik balairung.
Tetua itu membuka pintu bilik penyimpanan dengan anak kunci perunggu yang kini tergantung di ikat pinggangnya. Ia masuk. Ia lama di dalam. Lama sekali, lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk menghitung dua puluh kendi.
Ketika ia keluar, ia berdiri di ambang pintu dan menatap ujung-ujung jarinya.
Ujung jari-jarinya kelabu oleh debu.
Lalu, perlahan, Ki Brajanala mengangkat wajahnya dan menatap ke arah dapur abdi. Bukan ke pintu dapur. Lebih tinggi. Ke atap ijuk dapur yang hitam oleh jelaga, ke bubungannya yang menjulang di atas tembok batu lapangan murid dalam.
Ia menatapnya lama. Lalu ia mengunci pintu bilik penyimpanan dan pergi.
Timba di tangan Dira berhenti di tengah jalan.
"Rak paling atas," bisik Ki Jalak dengan suara orang yang baru saja menginjak duri. "Debu di rak paling atas. Kau berjongkok di sana. Ada bekas kakimu."
Bekas kaki telanjang, pikir Dira. Murid dalam memakai terompah. Tetua memakai terompah. Hanya abdi yang tak beralas kaki.
"Dan dia baru saja menatap atap dapur."
Tempat aku mengintip latihannya setiap subuh.
Dira menurunkan timbanya ke dalam sumur dengan sangat pelan, menariknya ke atas dengan sangat pelan, dan menuang airnya ke gentong dengan sangat pelan. Seperti orang yang takut gerakannya terlihat dari jauh.
Subuh berikutnya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak naik ke atap dapur.
"Dia ketakutan," kata Satyaki tiga hari kemudian.
Mereka bertemu di belakang gudang rongsokan, di tempat Dira dulu berlatih Langkah Jalak Ngumbara dengan kendi-kendi air. Satyaki membawa kabar dari lapangan murid luar. Sejak Sutarga turun derajat, murid luar berbaris di bawah pengawasan seorang tetua lain, dan murid dalam yang dulu biasa mondar-mandir di pinggir lapangan untuk memamerkan sabuk mereka kini jarang terlihat.
"Siapa?"
"Joyokusumo." Satyaki mengunyah sebatang rumput. "Dia tidak bisa tidur. Matanya cekung. Dia makan sendirian di ujung ruang makan murid. Dan kemarin, waktu dia pikir tak ada murid luar yang mendengar, dia bicara dengan dua kawannya di bawah pohon asam."
"Bicara apa?"
Satyaki meludahkan rumputnya. "Dia bilang, 'Ki Brajanala sedang mencari-cari. Kalau dia sampai tahu soal dadu, habislah aku.' Lalu salah satu kawannya bertanya soal utangnya ke bandar di desa bawah. Dan Joyokusumo tertawa." Satyaki menirukan tawa itu: pendek, sombong, sedikit terlalu keras. "'Ki Gembong? Biar saja. Utangku tinggal sekerbau. Bandar dadu kampungan itu tidak akan berani naik gunung menagih murid dalam Argasuryan. Biar sekerbau itu jadi kenang-kenangan untuknya.'"
Dira diam.
"Ki Gembong," ulangnya.
"Bandar dadu di belakang warung Mbok Sumi. Di pasar desa bawah. Orangnya besar, kumisnya seperti dua ekor tikus yang bertengkar, dan dia memelihara jago aduan yang konon pernah membunuh ular sawah." Satyaki menatapnya. "Kau sudah tahu semua itu."
"Aku tahu ada utang. Dua kerbau. Separuhnya dibayar seseorang."
"Siapa?"
Dira tidak menjawab. Ia memikirkan bilah bambu di balik bata tungku ketujuh. Dua garis miring: Joyokusumo. Dadu, malam Kliwon, warung Mbok Sumi. Utang dua kerbau, setengahnya dilunasi seseorang. Dan di sebelahnya, lingkaran berjanggut, yang belakangan ia tambahi tanda kantong uang setelah mendengar Gendhing bercerita dengan mulut penuh nasi bahwa sepupunya yang berjualan di pasar pernah melihat "kakek berjanggut panjang berbeskap hitam" menyerahkan kantong uang kepada Ki Gembong di belakang warung.
"Bocah," kata Ki Jalak. "Kau tidak boleh turun gunung."
Aku tahu.
"Satyaki tidak bisa turun gunung tanpa izin. Wulansari juga."
Aku tahu.
"Lalu siapa yang akan membawa kata-kata Joyokusumo ke telinga Ki Gembong?"
Dira menoleh ke arah dapur. Dari sana, bahkan dari belakang gudang rongsokan, terdengar suara cempreng yang sedang bercerita panjang lebar kepada siapa pun yang mau mendengar, dan juga kepada yang tidak mau, tentang mayat di kandang kambing yang ternyata bukan mayat.
"Besok pasaran Legi," kata Dira. "Mbok Darsih ke pasar desa bawah. Membawa satu abdi untuk mengangkat belanjaan."
Satyaki mengikuti arah pandangnya. Lalu, perlahan, untuk pertama kalinya sejak Dira mengenalnya, wajah datar anak itu pecah menjadi sesuatu yang hampir seperti senyum.
"Gendhing," katanya.
Rencananya sederhana. Sangat sederhana sampai Ki Jalak mengeluh bahwa itu bukan rencana sama sekali.
"Kau hanya akan memberitahunya."
"Aku hanya akan memberitahunya."
"Itu saja?"
"Dan memintanya jangan bilang siapa-siapa."
Ki Jalak terdiam. Lalu, perlahan, ia mengerti, dan mulai tertawa.
Sore itu, Dira duduk di samping Gendhing di depan tungku keempat. Mereka berdua sedang mengupas bawang merah untuk sambal besok, setumpuk besar, cukup untuk membuat mata mereka berdua berair.
"Gendhing," kata Dira pelan. "Kau bisa menyimpan rahasia?"
Gendhing berhenti mengupas. Matanya yang berair karena bawang membelalak.
"Tentu saja," katanya, dengan nada orang yang tersinggung. "Aku penyimpan rahasia terbaik di seluruh barak."
Di tungku sebelah, Gendhis mendengus begitu keras sampai abu tungku beterbangan.
"Kau janji tidak bilang siapa-siapa?"
"Demi kambing bermata jahat." Gendhing mengangkat kelingkingnya.
Dira mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Gendhing. Lalu ia mendekat dan berbisik, dan semua yang ia bisikkan benar. Tak satu kata pun karangan. Joyokusumo, murid dalam yang suka berjudi dadu. Utang sekerbau ke Ki Gembong. Dan kata-kata Joyokusumo sendiri, persis seperti yang didengar Satyaki di bawah pohon asam: bandar dadu kampungan itu tidak akan berani naik gunung menagih murid dalam Argasuryan. Biar sekerbau itu jadi kenang-kenangan untuknya.
Ketika Dira selesai, Gendhing duduk tegak dengan bawang merah setengah terkupas di tangannya. Wajahnya merah. Pipinya menggembung. Ia tampak seperti kendi yang diisi terlalu penuh dan tutupnya hampir lepas.
"Jangan bilang siapa-siapa," ulang Dira.
"Tidak akan," kata Gendhing dengan suara tercekik. "Tidak akan. Aku... aku tidak akan..."
Ia mengupas bawang merahnya dengan sangat cepat. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi. Kakinya mulai mengetuk-ngetuk lantai.
"Lihat dia," bisik Ki Jalak penuh kagum. "Lihat dia menderita. Ini lebih indah dari tembang Sri."
Gendhing bertahan sampai waktu makan malam. Itu, menurut Gendhis kemudian, adalah yang paling lama kembarannya pernah menyimpan rahasia, termasuk rahasia bahwa ia mengompol sampai umur sepuluh.
Keesokan paginya, Gendhing berangkat ke pasar desa bawah di belakang Mbok Darsih, memikul dua keranjang kosong di ujung pikulan bambu, bersiul-siul, dengan wajah orang yang akan meledak kalau tidak segera bertemu seseorang yang belum pernah mendengar ceritanya.
Warung Mbok Sumi menjual pecel terenak di pasar desa bawah. Dan Mbok Darsih, seperti setiap pasaran Legi, akan berhenti di sana untuk sepincuk pecel dan sepiring gosip.
Ki Gembong datang dua hari kemudian.
Ia datang di siang bolong, tepat ketika matahari paling tinggi dan para murid dalam baru selesai latihan siang. Ia tidak datang sendirian. Di belakangnya ada dua lelaki bertubuh seperti lumbung padi, masing-masing memanggul pentung kayu nangka. Dan di lengan kirinya, bertengger seperti burung elang di lengan pemburu, seekor ayam jago merah berjengger hitam yang memandang dunia dengan penghinaan yang sama seperti tuannya.
Ia berdiri di depan gerbang belakang Padepokan Argasuryan, gerbang yang menghadap jalan setapak ke desa bawah, menarik napas yang membuat dadanya mengembang seperti kendang, dan berteriak.
"JOYOKUSUMOOO!"
Burung-burung beterbangan dari pohon-pohon di sekitar gerbang. Penjaga gerbang, seorang murid luar yang masih muda, menjatuhkan tombaknya.
"JOYOKUSUMO, MURID DALAM ARGASURYAN! KELUAR KAU! AKU KI GEMBONG, BANDAR KAMPUNGAN YANG KATAMU TAK BERANI NAIK GUNUNG! INI AKU! SUDAH DI ATAS GUNUNG! MANA SEKERBAU-KU?"
Jago merah di lengannya berkokok panjang, seperti ikut menagih.
Dalam waktu yang dibutuhkan untuk merebus telur, gerbang belakang sudah dikerumuni orang. Abdi, murid luar, murid dalam. Dira berdiri di antara abdi-abdi dapur, separuh tersembunyi di balik punggung lebar Kang Paidi. Satyaki ada di antara murid luar, wajahnya datar seperti biasa. Wulansari ada di sampingnya, menatap ke depan, bibirnya terkatup rapat seperti orang yang menahan sesuatu.
"TIGA PURNAMA!" teriak Ki Gembong. "TIGA PURNAMA AKU MENUNGGU! DIA JUDI DI WARUNGKU SETIAP MALAM KLIWON! DIA MENGENDAP-ENDAP TURUN GUNUNG LEWAT JURANG KECIL DI SEBELAH BARAT! DIA KALAH DUA KERBAU, DUA KERBAU, DAN DIA BILANG AKU KAMPUNGAN!"
Seorang tetua muncul di gerbang, lalu seorang lagi. Lalu kerumunan menyibak seperti air dibelah perahu, untuk kedua kalinya dalam sepekan.
Ki Brajanala berjalan ke gerbang belakang.
Ki Gembong, yang bertubuh besar dan bersuara besar dan memelihara jago pembunuh ular, menatap tetua bertubuh lebar seperti tunggul jati itu, dan suaranya mengecil sedikit.
"Ki," katanya, masih keras tetapi lebih sopan. "Saya tidak bermaksud membuat keributan. Saya cuma menagih utang. Utang itu utang. Di desa saya, utang dibayar, atau..." Ia mengangkat jagonya sedikit. Jago itu berkokok pendek.
"Joyokusumo," kata Ki Brajanala tanpa menoleh, "maju."
Kerumunan murid dalam menyibak. Joyokusumo berdiri di tengahnya, sendirian, pucat seperti nasi yang terlalu lama direndam air.
Semuanya keluar di depan gerbang belakang itu, di bawah matahari siang yang terik, di depan separuh penghuni padepokan.
Malam-malam Kliwon. Jurang kecil di sebelah barat, tempat Joyokusumo memanjat turun dan naik lagi seperti kucing. Dadu di belakang warung Mbok Sumi. Kekalahan demi kekalahan. Dua kerbau. Dan kata-kata yang dibawa angin ke telinga Ki Gembong, lewat seorang abdi dapur berambut seperti sarang manyar, lewat Mbok Darsih, lewat sepincuk pecel di warung Mbok Sumi.
Bandar dadu kampungan itu tidak akan berani naik gunung.
"Kau mengatakan itu?" tanya Ki Brajanala.
Joyokusumo membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.
"Banyak orang yang dengar, Ki," kata Ki Gembong, sebelum Joyokusumo sempat menemukan kebohongan yang cukup bagus. "Bocah-bocah di bawah pohon asam. Satu pasar sudah tahu."
Ki Brajanala diam. Lalu ia bertanya sesuatu yang tidak diduga siapa pun.
"Dua kerbau," katanya. "Dan sekarang kau menagih sekerbau. Jadi yang sekerbau lagi sudah dibayar." Ia menatap Ki Gembong. "Siapa yang membayarnya?"
Ki Gembong ragu. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba, ia tampak tidak yakin. Matanya bergerak, cepat, ke kerumunan di belakang Ki Brajanala. Ke kerumunan tetua.
"Seorang tetua, Ki," katanya akhirnya, lebih pelan. "Dari padepokan ini. Orang tua berjanggut panjang. Dia datang sendiri ke warungku dua purnama lalu, membayar separuh, dan bilang jangan sampai tersiar. Katanya kasihan pada orang tua bocah ini di desa." Ia mengangkat bahu. "Dia bilang sisanya akan dibayar nanti. Nanti itu tidak pernah datang."
Hening.
Satu per satu, kepala-kepala di kerumunan itu menoleh. Tidak ke Joyokusumo. Ke barisan tetua di belakang Ki Brajanala.
Ki Wiradhana melangkah maju.
Ia tersenyum. Lembut, sedih, ramah. Ia membuka kantong kain di ikat pinggangnya, mengeluarkan seuntai uang kepeng tembaga yang diikat tali, cukup berat untuk membeli seekor kerbau muda, dan menyerahkannya kepada Ki Gembong dengan kedua tangan.
"Saya yang membayar, Ki Brajanala," katanya dengan suara penuh penyesalan. "Saya kenal orang tua Joyokusumo. Petani miskin di lereng selatan. Mereka menjual sawah separuh untuk mengirimnya ke sini. Saya tidak tega melihat mereka malu. Jadi saya bayar diam-diam." Ia menghela napas. "Saya salah. Saya seharusnya melapor. Saya terlalu lembut hati. Orang tua memang begitu."
Ki Gembong menimbang uang kepeng itu di telapak tangannya, mengangguk puas, lalu membungkuk kepada para tetua dan berbalik pergi bersama dua pengawalnya. Jago merah di lengannya berkokok sekali lagi, panjang dan penuh kemenangan, sebelum mereka hilang di tikungan jalan setapak.
Ki Brajanala tidak menatap uang itu. Ia menatap Ki Wiradhana.
"Terlalu lembut hati," ulangnya.
"Kesalahan orang tua, Ki."
"Bilik penyimpanan yang tak pernah kau hitung. Utang judi muridku yang kau bayar diam-diam." Ki Brajanala berbicara sangat pelan, begitu pelan sehingga hanya orang-orang terdekat yang bisa mendengarnya. Dira, berkat telinga Raga Madya-nya, adalah salah satunya. "Hatimu lembut sekali, Wiradhana. Lembut sekali untuk murid-muridku."
Senyum Ki Wiradhana tidak berubah. Tetapi Dira, yang kini bisa mendengar napas orang lain, mendengar napas tetua berjanggut itu tersendat. Sekali saja. Sangat singkat. Seperti napas orang yang baru saja menginjak batu yang ia kira kokoh, dan batu itu bergoyang.
Joyokusumo dicambuk sepuluh kali.
Sepuluh cambukan kulit kerbau, di depan seluruh murid dalam, di lapangan latihan. Lalu sabuknya dicabut selama satu warsa. Selama itu ia dilarang keluar dari tembok padepokan, bahkan ke sawah. Ki Brajanala sendiri yang mengayunkan cambuk itu, dengan wajah datar, tanpa amarah, seperti petani mengayunkan cangkul.
Dira tidak menonton dari atap. Ia menonton dari jauh, dari ambang pintu belakang dapur, di antara para abdi yang ikut menonton karena lapangan murid dalam tak pernah semeriah itu.
Sepuluh cambukan. Sama dengan yang ia terima karena ingkung yang tak pernah ia curi. Ingkung yang diambil Joyokusumo dari dapur dan diserahkan kepada Sutarga.
"Sudah besok," kata Ki Jalak pelan ketika cambukan kesepuluh selesai. "Kemarin kau bilang tanyakan besok. Jadi aku bertanya. Kau senang?"
Dira menatap punggung Joyokusumo yang bergaris-garis merah, membengkak, berdarah di beberapa tempat. Seperti punggungnya sendiri, dulu.
"Tidak," katanya.
"Menyesal?"
Dira berpikir lama.
"Tidak," katanya lagi.
Ki Jalak tidak bertanya lagi.
Senja turun. Para murid dalam bubar. Joyokusumo dipapah dua kawannya ke asrama, terseok-seok, kepalanya terkulai. Jalan dari lapangan murid dalam ke asrama melewati sisi dapur abdi, melewati jalan setapak tempat Dira sedang memikul dua ember air dari sumur.
Dira menepi dan menunduk, seperti abdi yang baik.
Rombongan itu lewat di depannya. Lalu, di ujung jalan setapak, di bawah pohon asam, mereka berhenti. Seseorang menunggu di sana. Wajah bulat, tanpa udeng, bajunya kotor dan berbau kotoran kambing.
Sutarga.
Kedua bekas murid dalam itu saling menatap di bawah pohon asam. Dira berdiri dua puluh langkah jauhnya, ember di pundak, kepala menunduk, telinga terbuka.
"Ada yang menjual kita," kata Joyokusumo serak. Suaranya pecah oleh rasa sakit. "Arakmu. Daduku. Dalam sepekan. Itu bukan kebetulan."
"Siapa?" tanya Sutarga.
"Siapa yang tahu dua-duanya? Siapa yang tahu kau buang kendi di kandang kambing? Siapa yang tahu aku turun lewat jurang barat setiap malam Kliwon?" Joyokusumo meludah ke tanah. Ludahnya merah. "Siapa yang biasa minum bersama kita di balik kandang itu? Siapa yang dimarahi Ki Wiradhana karena tak becus? Siapa yang butuh sesuatu untuk dipersembahkan supaya tidak dibuang?"
Sutarga diam lama.
Lalu ia mengucapkan satu nama. Pelan, berat, seperti meludahkan biji salak.
"Gandawasa."