Bab 51Dua Macam Kesombongan
Lama setelah suara Bayuwisesa lenyap di balik pohon-pohon asam, Dira dan Wulansari masih berdiri di tengah lapangan tanah merah. Mereka tidak bergerak. Mereka hanya menatap jalan setapak yang kini kosong, gelap, dan diselimuti kabut senja yang turun dari lereng.
Wulansari yang pertama bergerak. Ia menunduk, menatap retakan di tanah di dekat kaki kakaknya. Lalu ia menatap kaki kakaknya. Lalu wajahnya.
"Kangmas," katanya pelan.
"Nanti."
"Kangmas, tanah itu..."
"Nanti, Wulan." Dira berlutut di sampingnya. "Tanganmu dulu."
Pergelangan tangan kanan Wulansari sudah mulai membengkak, merah dan panas. Dira memegangnya dengan sangat hati-hati, dengan kedua tangan, seperti memegang telur di latihan lima bakul Mbah Karta. Ia merabanya pelan, mengikuti tulang-tulang kecil di bawah kulit, seperti Nyai meraba lengannya di kebun obat.
"Tidak patah," katanya akhirnya. "Bergeser sedikit. Uratnya tertarik."
"Dari mana Kangmas tahu?"
"Aku pernah mematahkan lenganku sendiri. Dua kali."
Wulansari menatapnya, dan Dira tahu ia harus menjelaskan itu juga nanti. Daftar nanti makin panjang. Ia menarik napas, menurunkannya ke bawah pusar, dan memutarnya sekali. Lalu, dengan satu sentakan kecil yang cepat, ia menarik pergelangan tangan adiknya dan memutarnya kembali ke tempatnya.
Wulansari menggigit bibir dan tidak menjerit.
"Sudah," kata Dira. "Nanti malam olesi dengan pasta kunyit. Aku akan menitipkannya lewat Gendhis. Jangan pakai tangan kanan untuk latihan tiga hari."
"Gajahsora akan..."
"Gajahsora tidak akan mengawasi latihan sore lagi." Dira menatap ke arah jalan setapak tempat Bayuwisesa menghilang. "Kurasa tidak."
Wulansari mengikuti tatapannya. Wajahnya mengeras.
"Jangan dengarkan dia," katanya. "Apa yang dia bilang tadi. Tentang menjauhiku. Jangan dengarkan."
Dira tidak menjawab.
"Kangmas."
"Sebagian yang dia bilang benar, Wulan."
"Tidak ada yang benar!" Suara Wulansari meninggi, lalu cepat-cepat ia merendahkannya, menoleh ke kiri dan ke kanan ke lapangan yang kosong. "Tidak ada yang benar," ulangnya lebih pelan, tetapi lebih tajam. "Gajahsora menggangguku karena Gajahsora babi. Bukan karena Kangmas. Kalau Kangmas tidak ada, dia akan mencari alasan lain. Karena aku perempuan. Karena aku anak asuhan tanpa keluarga. Karena pusakaku cantik. Orang seperti dia selalu punya alasan."
Ia mencengkeram lengan baju Dira dengan tangan kirinya.
"Dan kalau Kangmas menjauhiku," desisnya, "aku yang akan menjauhi Kangmas. Ke Hutan Larangan. Mengejar cahaya hijau. Biar Kangmas tahu rasanya."
Dira menatap adiknya, gadis kecil berkuncir dua yang dulu ia gendong di punggung sambil menimba air, yang kini berlutut di tanah merah dengan pergelangan bengkak dan wajah berdebu dan mata yang menyala, dan ia tidak bisa menahan senyumnya.
"Dia menolongmu tadi," katanya.
"Dia menolong sabuknya." Wulansari melepaskan lengan baju Dira dan berdiri. "Dia menolong nama ayahnya. Dia tidak peduli padaku. Dia bahkan tidak mengulurkan tangan. Dia melempar pusakaku ke tanah seperti melempar tulang ke anjing."
"Pusakamu menancap tegak. Sejengkal dari lututmu. Tepat."
"Lalu?"
"Lalu dia bisa saja menjatuhkannya. Atau melemparkannya ke kakimu sampai berdebu. Atau menyuruh Gajahsora mengembalikannya sambil membungkuk." Dira berdiri juga, mengangkat pikulan dengan dua buyung airnya. "Dia memilih melempar pusakamu supaya menancap tegak di depanmu. Di depan Gajahsora. Supaya Gajahsora melihat."
Wulansari diam.
"Aku tidak tahu kenapa," kata Dira. "Aku cuma bilang apa yang kulihat."
Gajahsora memang tidak mengawasi latihan sore lagi.
Satyaki membawa kabar itu keesokan harinya ke belakang gudang rongsokan, sambil mengunyah sebatang rumput seperti biasa.
"Dia datang ke Ki Brajanala malam itu juga," katanya. "Sendiri. Kata murid dalam yang jaga di depan bilik Ki Brajanala, dia di dalam lama sekali. Waktu keluar, wajahnya seperti orang habis dikunyah kerbau." Satyaki meludahkan rumputnya. "Subuh tadi dia lari keliling padepokan memanggul dua karung pasir. Dua puluh kali. Lalu dia dicopot dari pengawasan murid luar. Sampai purnama depan."
"Siapa yang menggantikannya?"
"Belum ada." Satyaki menatapnya. "Tapi kemarin sore, ada yang menonton latihan kami dari lereng. Dari bawah pohon asam yang paling tinggi. Tidak turun. Tidak bicara. Cuma berdiri di sana sampai latihan selesai, lalu pergi."
Dira tidak perlu bertanya siapa.
"Kau tahu apa yang orang bilang tentang dia?" lanjut Satyaki. Ia tidak menunggu jawaban. Satyaki jarang bertanya kalau ia tahu jawabannya. "Murid dalam takut padanya. Murid luar membencinya. Abdi tidak berani menatapnya. Dia tidak pernah makan bersama siapa pun. Dia tidak pernah tertawa kecuali untuk mengejek." Satyaki diam sebentar. "Tapi setiap senja, dia naik ke lereng sendirian. Ke batu besar di atas lapangan murid luar. Dan dia memukul batang pohon asam di sana sampai telapak tangannya berdarah. Setiap senja. Aku pernah melihatnya dari jauh."
"Kenapa?"
"Kata murid dalam yang dulu satu bilik dengannya, waktu baru setengah candra jadi murid, dia kalah tanding dengan Ki Brajanala dalam latihan. Kalah tipis. Semua orang kagum. Murid baru setengah candra bisa menahan Ki Brajanala sepuluh jurus." Satyaki menatap ke arah balairung. "Ki Ageng tidak bicara padanya sebulan penuh setelah itu. Tidak sepatah kata pun. Karena dia kalah."
Dira diam lama.
"Hm," kata Ki Jalak di dalam dadanya.
Dira melihatnya sendiri dua hari kemudian.
Bukan dari atap. Ia sudah berhenti naik ke atap sejak Ki Brajanala menatap bubungan dengan jari-jari kelabu oleh debu. Ia melihatnya dari halaman belakang dapur, ketika ia sedang membelah kayu dan Gendhing sedang memikul dua karung beras dari lumbung.
Gendhing selalu memikul terlalu banyak. Ia selalu ingin membuktikan bahwa ia kuat, dan ia selalu gagal. Sore itu, di tengah jalan setapak yang menghubungkan lumbung dengan dapur, kakinya tersandung akar pohon dan salah satu karungnya jatuh, pecah di jahitannya, dan menumpahkan beras putih ke atas tanah seperti hujan bunga melati.
Tepat di depan Raden Bayuwisesa, yang sedang berjalan ke arah lereng.
Gendhing membeku. Wajahnya memucat sampai seputih beras yang tumpah. Ia berlutut dan mulai meraup beras itu dengan kedua tangan, gemetar, berbisik-bisik ampun, ampun, Raden, ampun.
Dira berhenti membelah kayu. Kapaknya terangkat di udara.
Bayuwisesa berhenti di depan tumpahan beras itu. Ia menatap Gendhing yang gemetar dengan wajah datar, seperti menatap batu di jalan.
"Abdi lemah," katanya.
Gendhing menunduk lebih dalam.
Bayuwisesa membungkuk. Ia memungut karung yang pecah itu dengan satu tangan, memutar ujungnya yang robek, dan mengikatnya menjadi simpul dengan beberapa gerakan cepat sehingga beras yang tersisa tak tumpah lagi. Lalu ia mengangkatnya, sekarung beras yang beratnya hampir setara bocah sepuluh warsa, semudah mengangkat bantal kapuk. Ia meletakkannya kembali di ujung pikulan Gendhing dengan satu gerakan.
"Jangan memikul lebih dari yang bisa kau angkat," katanya. "Dan jangan menghalangi jalan."
Lalu ia melangkahi tumpahan beras itu, dengan hati-hati supaya tak menginjak sebutir pun, dan berjalan pergi ke arah lereng tanpa menoleh.
Gendhing berlutut di tengah jalan setapak lama sekali dengan mulut menganga.
Malam itu, Gendhing bercerita kepada seluruh barak bahwa Raden Bayuwisesa adalah titisan Batara Bayu, bahwa matanya bersinar seperti api, dan bahwa Raden mengangkat karung beras itu dengan satu jari kelingking. Ia bercerita tiga kali. Setiap kali, karungnya makin berat dan jarinya makin kecil.
"Kau lihat?" kata Ki Jalak, ketika Dira kembali membelah kayu.
"Aku lihat."
"Dia memanggilnya abdi lemah."
"Lalu memperbaiki karungnya dan mengangkatnya ke pikulan."
"Lalu melangkahi berasnya supaya tak menginjak sebutir pun. Beras abdi. Yang akan dimakan abdi." Ki Jalak diam sebentar. "Itu bukan orang kejam, bocah. Orang kejam akan menendang berasnya. Atau menyuruh Gendhing memunguti sebutir demi sebutir sambil berlutut sampai malam. Seperti Gandawasa dulu. Seperti Gajahsora."
Dira mengayunkan kapaknya. Sebatang kayu terbelah dua dengan rapi.
"Dia sombong," katanya.
"Sangat sombong."
"Dia menertawakanku di altar. Dia memberiku julukan. Dia menghinaku di depan Wulan."
"Semua itu benar."
"Tapi dia tidak kejam."
Ki Jalak tidak langsung menjawab. Lalu ia berkata, dengan nada guru tua yang sedang mengajarkan sesuatu yang ia sendiri baru mengerti:
"Ada dua macam kesombongan, bocah. Yang pertama, kesombongan orang yang menginjak kepala orang lain supaya ia terlihat tinggi. Itu Gajahsora. Itu Gandawasa dulu. Itu Sutarga. Mereka tidak tinggi. Mereka hanya berdiri di atas orang lain, dan kalau orang-orang di bawah mereka pergi, mereka jatuh."
"Dan yang kedua?"
"Yang kedua, kesombongan orang yang memang berdiri tinggi, tetapi tidak pernah diajari cara berdiri rendah. Orang yang sejak kecil diberi tahu bahwa ia harus sempurna. Bahwa kalah sekali saja artinya ia tak berharga. Bahwa satu-satunya cara ayahnya mau menatapnya adalah kalau ia menang." Ki Jalak berhenti. "Orang seperti itu tidak menginjak orang lain. Dia hanya tidak melihat mereka. Karena dia terlalu sibuk menatap ke atas, ke satu orang yang tak pernah menatap balik."
Dira meletakkan kapaknya.
Ia memikirkan Bayuwisesa yang memukul batang pohon asam setiap senja sampai telapak tangannya berdarah. Ki Ageng yang tidak bicara kepada putranya sebulan penuh karena kalah tipis melawan seorang tetua. Pemuda yang membela gadis murid luar bukan demi gadis itu, tetapi demi nama padepokan ayahku.
"Itu juga kesombongan?" tanyanya.
"Itu kesombongan orang yang kesepian," kata Ki Jalak. "Yang paling sulit disembuhkan. Karena dia sendiri tidak tahu dia sakit."
Lalu, setelah jeda, dengan nada yang tiba-tiba berubah jahil:
"Sebenarnya ada macam ketiga."
"Apa?"
"Kesombongan orang yang kalah dengan sengaja di lumbung lalu merasa dirinya bijaksana seperti resi di puncak gunung."
Dira melempar sebatang kayu ke tumpukan dengan sedikit terlalu keras.
Malam itu, Mbah Karta menyuruhnya mengantar wedang jahe ke balairung.
"Para tetua rapat," gumam juru masak tua itu, menuang wedang mengepul dari kuali ke dalam tujuh mangkuk tanah liat di atas nampan kayu. "Soal purnama. Soal tamu kadipaten. Mereka butuh yang hangat-hangat. Jahe, gula aren, sereh. Sedikit cengkih." Ia menyerahkan nampan itu kepada Dira tanpa menatapnya. "Antar ke serambi belakang balairung. Jangan masuk. Ketuk tiang tiga kali, letakkan, pergi."
"Inggih, Mbah."
"Jangan menguping," tambah Mbah Karta, sambil berbalik ke kualinya.
Dira menatap punggung juru masak tua itu.
"Dia baru saja menyuruhmu menguping," kata Ki Jalak.
Aku tahu.
Balairung di malam hari tampak seperti kapal besar yang terdampar di tengah halaman padepokan. Atapnya tinggi dan bersusun, tiang-tiangnya jati tua berukir, dan dari celah-celah dinding kayunya merembes cahaya pelita kuning. Dira berjalan memutar ke serambi belakang dengan nampan di tangan, menapak dengan telapak depan, tanpa suara.
Serambi itu kosong. Rapat para tetua pasti di pendapa depan.
Tetapi sebelum Dira sempat mengetuk tiang, ia mendengar suara dari bilik di samping serambi. Bukan suara banyak orang. Dua suara. Satu muda dan dingin. Satu tua, dalam, dan berat seperti gong besar yang dipukul pelan.
Dira membeku dengan nampan wedang jahe di tangan.
Ada celah di dinding kayu bilik itu, setipis daun ilalang, di tempat dua papan tua tidak lagi bertemu rapat. Dira tidak bermaksud mengintip. Matanya hanya jatuh ke sana.
Ia melihat Raden Bayuwisesa berdiri tegak di tengah bilik, kedua tangan di sisi tubuh, kepala sedikit menunduk.
Dan di depannya, membelakangi celah itu, sesosok tubuh tinggi dan tegap berbalut beskap emas dengan sulaman matahari di punggungnya. Rambutnya tebal, beruban di pelipis. Bahunya lebar seperti pintu gerbang.
Ki Ageng Suryadharma.
"...di depan orang," kata Ki Ageng. Suaranya tidak keras. Tidak perlu keras. "Kau membela adik anak itu di depan orang. Di lapangan murid luar. Di depan abdi."
"Saya membela nama padepokan, Rama." Suara Bayuwisesa datar. "Gajahsora menendang perempuan di depan abdi. Kalau kabar itu tersiar ke kadipaten..."
Tangan Ki Ageng bergerak.
Bunyi tamparan itu tidak keras. Pendek, kering, seperti ranting patah. Kepala Bayuwisesa terlempar sedikit ke samping. Lalu, perlahan, kembali ke tempatnya. Ia tidak mengangkat tangan ke pipinya. Ia tidak bergerak sama sekali.
Dira mencengkeram tepi nampan begitu kuat sampai wedang jahe di mangkuk-mangkuk tanah liat itu bergetar.
"Nama padepokan," kata Ki Ageng, "tidak memerlukan gadis itu. Dan tidak memerlukan kakaknya." Ia berhenti. "Jauhi anak dapur itu, Bayu. Dan adiknya. Jangan bela mereka. Jangan hina mereka. Jangan tatap mereka. Jangan bicarakan mereka. Biarkan mereka tenggelam di tempat mereka. Kau mengerti?"
Hening.
"Kenapa, Rama?"
Itu pertanyaan yang pelan. Sangat pelan. Pertanyaan yang Dira yakin tak pernah diucapkan pemuda itu kepada ayahnya sebelumnya.
Ki Ageng tidak menjawab. Ia berbalik, perlahan, menghadap dinding kayu bilik itu. Menghadap celah setipis daun ilalang itu.
Dira melihat wajahnya. Wajah yang tegas dan berwibawa, dengan alis tebal dan mata yang dalam seperti sumur. Wajah yang sama yang menatapnya di altar ketika cahaya fajar membelok di sekitar kepalanya. Wajah yang sama yang bertanya siapa yang memberimu nama itu dan lalu mengepalkan tangan.
Mata itu menatap lurus ke arah celah. Ke arah Dira.
Dira tidak bernapas. Ia menurunkan napasnya ke bawah pusar dan membiarkannya diam di sana, seperti batu di dasar kolam.
"Karena aku bilang begitu," kata Ki Ageng Suryadharma kepada putranya, tanpa memalingkan mata dari dinding. "Belum waktunya."