Bab 52Gema Kedua
Dira mengetuk tiang serambi tiga kali, meletakkan nampan wedang jahe di atas bale-bale, dan pergi.
Ia tidak berlari. Ia berjalan dengan langkah abdi yang biasa, tidak cepat, tidak lambat, menyusuri dinding balairung sampai ke sudut, lalu belok ke jalan setapak yang menurun ke dapur. Ia tidak menoleh. Ia tidak mempercepat langkah bahkan ketika punggungnya terasa seperti ditatap seribu mata.
Baru setelah ia sampai di depan tungku ketujuh, ia membiarkan lututnya gemetar.
"Dia melihatmu," kata Ki Jalak.
"Aku tidak tahu."
"Dia menatap lurus ke celah itu."
"Mungkin dia menatap dinding. Orang yang sedang marah sering menatap dinding."
"Bocah."
"Aku tidak tahu," ulang Dira, lebih pelan. Ia duduk bersila di depan tungku dan menurunkan napasnya ke bawah pusar. Berputar sekali, dua kali, tiga kali. "Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa soal itu malam ini. Jadi aku tidak akan memikirkannya malam ini."
"Itu ajaranku."
"Kau bilang baru saja mengarangnya."
"Ajaran yang bagus tetap ajaran, meskipun baru dikarang."
Mbah Karta lewat di belakangnya membawa bakul kosong, bersiul pelan seperti biasa.
"Wedangnya sampai?" gumamnya.
"Sampai, Mbah."
"Ada yang menguping?"
Dira menatap punggung juru masak tua itu. "Tidak, Mbah."
"Bagus." Mbah Karta terus berjalan ke gudang beras. "Menguping itu tidak baik. Telinga bisa kemasukan hal-hal yang tidak bisa dikeluarkan lagi."
Hal itu dimulai keesokan paginya, dan tak seorang pun menyadarinya, termasuk Dira sendiri, sampai Gendhis berhenti menumbuk sambal.
Dira sedang mencuci kuali di bak batu di samping dapur. Pekerjaan yang membosankan. Pasir, abu, sabut kelapa, gosok, bilas, gosok lagi. Tangannya bergerak sendiri, pikirannya melayang ke celah dinding balairung, ke mata Ki Ageng, ke kata belum. Dan bibirnya, entah sejak kapan, ikut bergerak.
Bersiul.
Bukan siulan asal-asalan. Siulan yang panjang, rumit, dan berirama, naik dan turun, berputar-putar seperti burung kecil yang melompat dari dahan ke dahan. Nada-nada tinggi yang jernih, disusul nada-nada rendah yang bergetar, lalu serentetan ketukan pendek seperti paruh yang mematuk kayu, trik-trik-trik, lalu lengkingan panjang yang naik dan pecah di puncaknya seperti tawa.
Ulekan Gendhis berhenti di tengah cobek.
"Dira."
Siulan itu terus mengalir. Trik-trik-trik. Twiiiii-uuu.
"Dira."
Dira menoleh. "Apa?"
Gendhis menatapnya dengan mata membelalak dan ulekan terangkat di udara, sambal cabai menetes dari ujungnya. "Kau bersiul."
"Tidak."
"Kau bersiul. Barusan. Panjang sekali. Seperti..." Gendhis menoleh perlahan ke arah tungku ketujuh, tempat Mbah Karta sedang mencicipi sayur dengan sendok kayunya. "Seperti Mbah Karta."
"Aku tidak bisa bersiul," kata Dira. Dan itu benar. Seumur hidupnya, Dira tidak pernah bisa bersiul. Bibirnya tidak mau membentuk lubang yang benar, atau napasnya terlalu kencang, atau entah apa. Setiap kali ia mencoba, yang keluar hanya bunyi fffff seperti kendi bocor. Wulansari selalu menertawakannya karena itu, sejak mereka berumur lima warsa.
"Kau baru saja bersiul," kata Gendhis.
"Tidak mungkin. Kau tahu aku tidak bisa..."
Ia berhenti.
Di dalam dadanya, di Balai Sukma, sesuatu bergerak dengan sangat gelisah. Seperti burung yang tiba-tiba ingin terbang tetapi lupa sedang di dalam sangkar.
"Bocah," kata Ki Jalak dengan suara tercekik. "Bocah. Coba... coba bersiul lagi. Sengaja."
Dira membulatkan bibirnya dan meniup.
Yang keluar bukan fffff. Yang keluar adalah siulan jalak kebo. Jernih, tinggi, dan sempurna, seperti burung jalak sungguhan yang hinggap di dahan sawo di subuh hari.
Gendhis menjatuhkan ulekannya.
Dalam waktu yang dibutuhkan untuk merebus sepanci air, seluruh dapur abdi sudah tahu.
"Dira bisa bersiul!"
Gendhing yang menyebarkannya, tentu saja. Ia berlari dari sumur ke dapur, dari dapur ke kandang, dari kandang ke lumbung, berteriak-teriak dengan kedua tangan di atas kepala seperti waktu ia mengira Dira hantu.
"Dira yang dulu siulannya seperti kentut kerbau! Sekarang bisa bersiul seperti burung! Ini pasti karena dia dibawa demit ke Hutan Larangan! Demitnya mengajarinya bersiul!"
"Demit tidak mengajari orang bersiul, Gendhing," kata Mbok Darsih sambil menggoreng tempe.
"Demit yang ini mengajari!"
Para abdi berkerumun di sekitar bak cuci. Mbok Darsih. Kang Paidi. Dua abdi kandang. Seorang abdi cuci yang membawa bakul jarik basah. Mereka semua menatap Dira seperti menatap kambing berkepala dua di pasar malam.
"Coba," kata Kang Paidi. "Coba bersiul."
Dira tidak mau. Tetapi bibirnya, rupanya, mau. Bibirnya membulat sendiri, dan siulan itu keluar sendiri. Panjang, berputar-putar, trik-trik-trik, twiiiii-uuu, naik dan turun seperti burung yang menari di dahan.
Para abdi menahan napas.
Lalu, dari atap dapur, sesuatu menjawab.
Trik-trik. Twiii.
Semua orang mendongak. Seekor burung jalak kebo, hitam legam dengan bercak putih di sayap dan kulit kuning di sekitar matanya, hinggap di bubungan dapur dan menelengkan kepalanya ke bawah, menatap Dira dengan sebelah mata.
Lalu seekor lagi hinggap di sampingnya.
Lalu tiga lagi.
Lalu, dengan bunyi seperti hujan daun kering, selusin burung jalak kebo turun dari pohon-pohon di sekitar halaman belakang dan memenuhi bubungan dapur, bersiul-siul bersahut-sahutan, menelengkan kepala, mengepakkan sayap, memanggil-manggil Dira dengan nada yang persis sama dengan nada yang baru saja keluar dari bibirnya.
"Oh, tidak," kata Ki Jalak dengan sangat pelan.
"Oh, tidak," kata Dira dengan sangat pelan.
Seekor jalak yang paling berani terjun dari bubungan, melayang masuk ke dapur lewat pintu belakang, dan mendarat tepat di atas bakul beras yang baru dicuci Gendhis. Ia mematuk beras itu dua kali, menelengkan kepala ke arah Dira, lalu bersiul: Twiii-uuu?
Dua ekor lagi menyusul. Lalu lima. Lalu dapur abdi dipenuhi burung jalak kebo yang beterbangan di antara tungku-tungku, hinggap di rak kuali, mematuk beras, mematuk tempe yang sedang digoreng Mbok Darsih, mencuri cabai dari cobek Gendhis, dan bersiul-siul tanpa henti ke arah Dira, seperti sedang menunggu jawaban.
"Burungnya!" jerit Gendhis. "Usir burungnya!"
"Jangan sakiti burungnya!" jerit Mbok Darsih. "Burung yang masuk dapur itu pertanda tamu agung! Kata nenekku! Kalau burung masuk dapur, besok ada tamu dari jauh!"
"Itu burung prenjak, Mbok, bukan jalak!"
"Sama saja! Sama-sama burung!"
Gendhing mengambil sapu dan mengayun-ayunkannya ke udara. Jalak-jalak itu menghindar dengan lincah, hinggap di kepala Gendhing, di bahunya, di gagang sapunya. Seekor jalak mematuk telinga Gendhing. Gendhing menjerit dan menjatuhkan sapunya.
"Dira!" teriak Gendhis. "Suruh mereka pergi!"
"Bagaimana caranya?"
"Kau yang memanggil mereka!"
Dira menatap selusin burung jalak kebo yang beterbangan di dapur, bersiul-siul kepadanya dengan penuh harap. Lalu, karena tidak tahu harus berbuat apa lagi, ia membulatkan bibirnya dan bersiul.
Bukan siulan yang tadi. Siulan pendek dan tajam. Dua nada turun. Tegas, seperti orang tua yang menyuruh anaknya pulang.
Twii-uu.
Burung-burung itu berhenti di udara. Semuanya. Dua belas ekor jalak kebo menggantung di tengah dapur sesaat, mengepakkan sayap di tempat, menelengkan kepala ke arah Dira.
Lalu, serentak, mereka terbang keluar lewat pintu belakang dan lubang asap, kembali ke pohon-pohon di sekitar halaman belakang, meninggalkan dapur yang berantakan, bakul beras yang penuh bekas patukan, sambal Gendhis yang tinggal separuh, dan Gendhing yang terkapar di lantai memegangi telinganya.
Hening total.
Lalu, dari tungku ketujuh, terdengar bunyi tawa. Pelan, dalam, dan sangat tua.
Mbah Karta berdiri di depan kualinya dengan sendok kayu di tangan, dan bahunya berguncang-guncang. Ia tidak menoleh ke Dira. Ia menatap kuali sayurnya, seperti sayur itulah yang baru saja melakukan sesuatu yang sangat lucu.
"Itu," kata Ki Jalak malam itu, dengan suara orang yang ingin bersembunyi di bawah tikar, "adalah hal paling memalukan yang pernah terjadi padaku."
Dira duduk bersila di depan tungku ketujuh. Barak sudah tidur. Bibirnya, untuk sementara, diam. Ia sudah menghabiskan seluruh sore dengan berusaha tidak bersiul, dan itu lebih sulit dari menimba lima puluh timba air. Setiap kali pikirannya melayang, bibirnya membulat sendiri. Setiap kali ia tidak memperhatikan, siulan itu keluar. Dan setiap kali siulan itu keluar, setidaknya satu jalak kebo hinggap di dekatnya.
"Kenapa memalukan?" tanya Dira. "Siulanmu bagus."
Hening.
"Siulan yang mana yang kau siulkan pagi tadi?" tanya Ki Jalak dengan suara sangat kecil. "Waktu di bak cuci. Yang pertama. Yang panjang."
"Aku tidak tahu. Siulanmu. Yang biasa kau siulkan."
"Bukan." Ki Jalak terdiam lama. "Itu bukan siulan biasa. Siulan biasaku adalah yang pendek. Tiga nada. Yang kupakai waktu kau berlatih Langkah Jalak. Yang tadi pagi itu..."
"Apa?"
"Itu siulan jalak jantan," kata Ki Jalak, sangat cepat, seperti ingin segera menyelesaikannya, "yang sedang... memanggil... betina."
Dira diam.
"Siulan merayu," lanjut Ki Jalak, suaranya makin kecil. "Jalak kebo jantan bersiul seperti itu di musim kawin. Dari dahan tertinggi. Supaya semua betina di hutan mendengar. Itu sebabnya burung-burung itu datang. Separuh dari mereka betina yang penasaran. Separuh lagi jantan yang marah karena ada saingan."
Dira masih diam.
Lalu ia teringat. Pagi tadi, di bak cuci, siulan panjang itu keluar dari bibirnya. Di depan Gendhis. Gendhis yang menjatuhkan ulekannya, dengan wajah yang, sekarang setelah Dira mengingatnya lagi, agak memerah.
Dan sore tadi, di sumur, siulan itu keluar lagi tanpa sengaja. Di depan tiga abdi cuci perempuan yang sedang membilas jarik. Mbok Darsih, yang sedang menimba di sebelahnya, berhenti, menatap Dira, lalu berkata dengan suara keras yang membuat seluruh sumur mendengar:
"Lho. Itu siulan jalak cari jodoh. Kakekku dulu pandai menirukannya. Dira, kau sedang cari jodoh?"
Dan ketiga abdi cuci itu tertawa terkikik-kikik sampai salah satu jariknya jatuh ke dalam sumur.
Dira menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kenapa," katanya dari balik telapak tangannya, "pusaka keris tahu siulan jalak merayu?"
"Aku jalak," kata Ki Jalak dengan nada membela diri. "Separuh namaku jalak. Pusaka juga pernah... pernah..."
"Pernah apa?"
"PERNAH MUDA," kata Ki Jalak, terlalu keras. Lalu, sangat pelan, "Kurasa. Aku tidak ingat. Tapi siulan itu ada di dalamku. Pasti ada alasannya."
Dira menurunkan tangannya dari wajah. Di Balai Sukma, ia bisa merasakan Ki Jalak meringkuk di sudut, seperti burung yang menyembunyikan kepalanya di bawah sayap. Kalau sebilah keris bisa tersipu, Ki Jalak sedang tersipu. Merah sampai ke pamor.
Dira tertawa. Ia tak bisa menahannya. Ia tertawa sampai perutnya sakit, sendirian di depan tungku ketujuh, dan di dalam dadanya Ki Jalak menggerutu panjang tentang bocah tak tahu sopan santun yang menertawakan pusaka tua.
Tetapi ketika tawanya reda, ada sesuatu yang lain yang tertinggal.
"Ki Jalak," kata Dira pelan. "Kacang."
"Apa?"
"Waktu aku pertama kali menelanmu. Aku tiba-tiba suka kacang. Peyek kacang, kacang rebus, kacang goreng. Dulu aku benci kacang. Sekarang aku bisa menghabiskan sebakul." Ia menatap kedua tangannya. "Kau bilang itu Gema. Watakmu yang bocor ke dalam diriku, seperti air yang merembes dari kendi retak."
"Ya."
"Sekarang siulan."
"Ya." Ki Jalak tidak lagi tersipu. Suaranya serius. "Gema kedua. Lebih kuat dari yang pertama. Kacang itu cuma lidah. Siulan ini... ini bibirmu, napasmu, kebiasaanmu. Bahkan burung-burung mengira kau jalak."
"Dan nanti? Kalau aku menelan pusaka lain?"
Ki Jalak tidak menjawab.
"Kalau aku menelan sepuluh pusaka," kata Dira pelan, "apakah aku akan punya sepuluh gema? Sepuluh kebiasaan yang bukan milikku? Sepuluh siulan, sepuluh selera, sepuluh..." Ia berhenti. "Berapa banyak yang tersisa dari aku?"
Diam yang panjang di Balai Sukma.
Lalu, sangat pelan, dari dalam dadanya, Ki Jalak mulai bersenandung. Bukan bersiul. Bersenandung, dengan suara tua yang serak dan sumbang, sebuah lagu yang Dira kenal lebih baik dari namanya sendiri.
Turua, turu, cah bagus,
lintang sumebar ing langit peteng...
Kidung Pepeling. Lagu nina bobo yang dinyanyikan Wulansari di depan tungku ketika ia paling hancur. Lagu yang menenangkan jiwa-jiwa di dalam dirinya.
...sanadyan donya lali marang kowe,
aja nganti kowe lali marang jenengmu.
Meski dunia melupakanmu, jangan sampai kau lupa namamu.
"Itulah gunanya lagu itu," kata Ki Jalak setelah selesai. "Aku tidak tahu siapa yang menciptakannya. Tapi siapa pun dia, dia tahu tentang Wadah. Dia tahu tentang gema. Dia tahu bahwa suatu hari akan ada seseorang yang membawa begitu banyak suara di dalam dirinya sampai lupa suaranya sendiri." Ia diam sebentar. "Selama kau ingat namamu, bocah, kau tetap kau. Meskipun kau bersiul seperti jalak merayu."
"Terima kasih," kata Dira. Lalu, "Untuk bagian yang terakhir itu, tidak perlu disebut."
"Aku pusaka. Aku tidak bisa menahan diri."
Malam makin larut. Bara di tungku ketujuh meredup. Dira menambahkan sebatang kayu jati, lalu bersandar ke dinding dan memejamkan mata.
Dan karena ia tidak lagi memperhatikan, bibirnya membulat sendiri.
Siulan itu keluar lagi. Bukan siulan merayu kali ini. Siulan yang lain, yang belum pernah keluar sebelumnya. Lebih pelan, lebih lambat, lebih sedih. Empat nada naik, berhenti di puncak, menggantung di udara seperti pertanyaan yang belum dijawab.
Lalu siulan itu berhenti. Dira tidak tahu kelanjutannya. Tak ada nada berikutnya di bibirnya, tak ada di napasnya, tak ada di mana pun. Seperti kalimat yang terputus di tengah. Seperti tangga yang anak tangga terakhirnya hilang.
Di dalam dadanya, Ki Jalak tiba-tiba diam. Benar-benar diam, seperti orang yang mendengar namanya dipanggil dari tempat yang sangat jauh.
"Itu," bisiknya, "itu..."
Dari gudang beras di seberang halaman, dengkuran Mbah Karta berhenti.
Lalu, menembus malam yang sunyi, terdengar siulan.
Empat nada turun. Pelan, lambat, sedih, persis kebalikan dari empat nada yang baru saja keluar dari bibir Dira. Menjawab pertanyaan yang menggantung itu. Menyelesaikan kalimat yang terputus. Menyambung anak tangga yang hilang.
Lalu diam.
Dira duduk tegak di depan tungku ketujuh. Matanya terbuka lebar.
Di Balai Sukma, Ki Jalak gemetar. Dira bisa merasakannya, getaran halus yang menjalar dari dadanya sampai ke ujung jari-jarinya, seperti dawai siter yang dipetik terlalu keras.
"Bocah," kata Ki Jalak dengan suara yang pecah. "Bagian itu. Jawaban itu. Aku hanya pernah mengajarkannya kepada satu orang."
"Siapa?"
"Aku tidak ingat." Suara itu bergetar, putus asa, seperti tangan yang meraba-raba dalam gelap mencari sesuatu yang baru saja jatuh. "Aku tidak ingat wajahnya. Aku tidak ingat namanya. Tapi aku ingat..."
Ia terdiam.
"Aku ingat sebatang pohon," bisiknya. "Pohon yang sangat tua. Sangat tinggi. Di puncak gunung. Dan aku ingat siapa pun dia, dia duduk di bawah pohon itu, dan dia bersiul menjawabku. Dulu. Dulu sekali."
Di gudang beras, dengkuran Mbah Karta terdengar lagi.
Pelan. Teratur.
Terlalu teratur.