Bab 53Ingatan Sebatang Pohon
Pagi berikutnya, Mbah Karta bersiul memanggil ayam.
Itu yang ia katakan ketika Dira, yang tidak tidur semalaman, mendekatinya di depan tungku ketujuh dengan semangkuk air cucian beras dan pertanyaan yang sudah ia susun sejak kentongan ketiga.
"Siulan? Semalam?" Mbah Karta mengerjap-ngerjapkan matanya yang keruh. Ia sedang mengaduk bubur nasi untuk sarapan abdi, dan ia tidak berhenti mengaduk. "Oh, itu. Itu aku memanggil ayam. Ayam betina yang hitam itu, yang suka tidur di atas karung beras. Kalau tidak dipanggil, dia bertelur di dalam karung. Pernah sekali telurnya pecah di dalam beras. Sebulan nasi bau amis."
"Mbah memanggil ayam. Tengah malam. Dengan siulan jalak."
"Ayam itu suka siulan jalak."
"Ayam."
"Ayam itu aneh. Ayam tua." Mbah Karta menuang sejumput garam ke bubur, mencicipinya dari ujung sendok kayu, lalu mengecap-ngecap. "Kurang. Ambilkan garam, Gendhing."
"Aku Dira, Mbah."
"Itu yang kubilang." Mbah Karta menatapnya dengan wajah polos orang tua pikun yang tak bisa membedakan Gendhing dan Gendhis, Dira dan Darsa, garam dan gula. Lalu ia kembali mengaduk bubur sambil bersiul. Siulan biasa. Tiga nada. Siulan yang sama yang ia siulkan setiap pagi sejak Dira bisa mengingat.
Dira mengambilkan garam.
"Dia bohong," kata Ki Jalak.
Aku tahu.
"Ayam tidak suka siulan jalak. Ayam tidak suka siulan apa pun. Ayam bodoh."
Aku tahu, Ki Jalak.
"Kalau dia mau bohong, setidaknya dia harus bohong dengan lebih baik. Itu menghina kecerdasanku."
Dira meletakkan garam di samping tungku. Mbah Karta tidak mengucapkan terima kasih. Ia hanya menaburkan sejumput lagi ke dalam bubur, mengaduknya, dan bersiul. Dan untuk sesaat, sekejap saja, siulan tiga nada itu bergeser menjadi sesuatu yang lain. Empat nada turun. Pelan, lambat, sedih.
Lalu kembali menjadi tiga nada biasa.
Dira berdiri terpaku dengan tangan kosong.
Mbah Karta tidak menoleh.
Sepanjang hari itu, Ki Jalak gelisah.
Dira bisa merasakannya seperti orang merasakan gatal yang tak bisa digaruk. Di Balai Sukma, pusaka tua itu tidak duduk diam di sudutnya seperti biasa. Ia mondar-mandir. Ia berhenti. Ia mondar-mandir lagi. Kadang ia berbicara, memotong pikiran Dira di tengah-tengah pekerjaan, dengan potongan-potongan kalimat yang tidak berhubungan.
"Getah."
Dira sedang mengupas bawang merah. "Apa?"
"Bau getah. Getah yang menetes dari kulit kayu waktu matahari terlalu panas. Kental. Kuning. Baunya seperti madu yang dicampur besi."
"Getah apa?"
"Aku tidak tahu."
Lalu diam lagi. Lalu, ketika Dira sedang menimba air di sumur, tiba-tiba:
"Angin."
"Angin apa?"
"Angin di antara daun-daun. Tinggi sekali. Lebih tinggi dari awan. Kau tahu bunyi angin di antara daun beringin? Seperti ribuan orang berbisik bersamaan. Seperti pasar yang sangat jauh." Ki Jalak terdiam. "Aku pernah mendengarnya setiap hari. Setiap hari, selama... selama sangat lama."
Lalu diam lagi. Lalu, ketika Dira sedang membelah kayu di halaman belakang, ketika matahari sudah condong ke barat dan bayang-bayang memanjang di atas tanah:
"Akar."
Dira menurunkan kapaknya.
"Akar yang turun dari atas," bisik Ki Jalak. "Bukan dari bawah. Dari atas. Dari dahan-dahan. Turun ke tanah seperti tirai, seperti rambut panjang seorang perempuan yang terurai. Ribuan. Puluhan ribu. Dan setiap akar yang menyentuh tanah tumbuh menjadi batang baru. Jadi pohon itu bukan satu pohon. Pohon itu hutan. Hutan yang semuanya satu."
"Beringin," kata Dira pelan.
"Ya. Tidak. Lebih tua dari beringin. Beringin adalah anak-cucunya." Suara Ki Jalak bergetar. "Bocah, pahatan itu. Di dasar sumur. Akar yang menembus ke bawah tanpa ujung."
"Aku ingat."
"Itu bukan akar yang tumbuh ke bawah." Ki Jalak berhenti. "Atau ya, tapi juga yang lain. Pohon itu... pohon itu tumbuh dua arah. Aku ingat sekarang. Aku ingat seseorang mengatakannya kepadaku. Akarnya di langit, dahannya di bumi. Atau dahannya di langit, akarnya di bumi. Atau dua-duanya sekaligus. Aku tidak..."
Ia terdiam.
Dira menunggu, kapak tergantung di tangannya. Matahari sore menyiram halaman belakang dengan cahaya kuning keemasan. Di kejauhan, puncak Lawu tampak biru kelabu, puncaknya yang berbatu diselimuti selendang awan tipis.
"Namanya," bisik Ki Jalak. "Pohon itu punya nama. Aku tahu namanya. Aku tahu namanya seperti aku tahu namaku sendiri. Namanya ada di ujung... di ujung..."
Hening yang panjang.
Lalu, tiba-tiba, begitu keras sampai Dira menjatuhkan kapaknya:
"RINGIN SUNGSANG!"
Kapak itu jatuh ke tanah dengan bunyi gedebuk. Seekor ayam yang sedang mematuk-matuk di dekat tumpukan kayu terbang terkotek-kotek ke atas pagar.
"Ringin Sungsang!" Ki Jalak berteriak lagi di dalam Balai Sukma, berteriak dan tertawa dan hampir menangis sekaligus, seperti orang yang menemukan anaknya yang hilang bertahun-tahun di tengah pasar. "Itu namanya! Ringin Sungsang! Beringin terbalik! Beringin yang akarnya di langit!"
"Ringin Sungsang," ulang Dira pelan.
"Ya! Ya! Di puncak Lawu! Di puncak yang paling tinggi, di atas kawah, di atas batu-batu yang tak pernah ditumbuhi rumput! Pohon itu berdiri di sana sebelum ada padepokan, sebelum ada kadipaten, sebelum ada orang di lereng gunung ini! Akarnya turun ke dalam gunung, ke dalam api di perut gunung, dan dahannya naik ke atas awan, ke tempat yang..." Ia tersendat. "Ke tempat yang di atas sana. Dan aku... aku..."
"Kau apa?"
"Aku lahir di sana."
Dira tidak bernapas.
"Bukan ditempa," bisik Ki Jalak. Suaranya kini pelan sekali, takjub, seperti orang yang baru saja membaca namanya sendiri di batu nisan. "Aku selalu mengira aku ditempa. Di api yang sangat panas, seperti yang kubilang padamu di belakang gudang. Tapi bukan. Aku tidak ditempa. Aku dipetik. Dari dahan Ringin Sungsang. Seperti buah. Seperti... seperti..."
"Seperti apa?"
"Seperti..."
Diam.
Dira menunggu. Angin sore bertiup pelan, menggoyang pucuk-pucuk pohon sawo di kejauhan.
"Bocah," kata Ki Jalak. Suaranya berubah. Tidak lagi bergetar oleh takjub. Bergetar oleh sesuatu yang lain. "Apa yang barusan kubilang?"
"Kau bilang kau dipetik dari dahan..."
"Dahan apa?"
Dira membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
"Pohon apa?" Ki Jalak mulai panik. Dira bisa merasakannya, seperti burung yang terkurung dan menabrak-nabrak jeruji sangkar. "Aku baru saja menyebut namanya! Aku baru saja menyebutnya, aku tahu aku menyebutnya, aku ingat rasanya menyebutnya, seperti menelan madu! Tapi namanya... namanya..."
Ki Jalak berhenti.
"Hilang," bisiknya. "Hilang lagi."
Dan Dira merasakan sesuatu di Balai Sukma yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sesuatu yang jauh lebih tua dan jauh lebih berat dari marah atau malu. Seperti seseorang yang duduk di lantai rumahnya yang kosong, memegangi sesuatu yang sudah tidak ada.
Dira berlutut, memungut kapaknya, dan meletakkannya di atas tumpukan kayu. Lalu ia berjalan ke dapur tanpa berkata apa-apa. Melewati Gendhis yang sedang menumbuk sambal. Melewati Mbah Karta yang sedang tertidur di bangku dengan mulut terbuka. Lurus ke tungku ketujuh.
Ia berjongkok, merogoh ke celah di dasar tungku, dan mengeluarkan bilah-bilah bambunya.
Bilah pertama, penuh tanda-tanda rahasia tentang Gandawasa, Sutarga, Joyokusumo, dan Ki Wiradhana. Bilah kedua, catatan jurus Ki Jalak. Dan sebilah bambu ketiga yang masih kosong, yang ia simpan untuk sesuatu yang belum ia ketahui.
Ia mengambil pisau kupas dari selipan ikat pinggangnya.
"Bocah?" Suara Ki Jalak sangat kecil. "Apa yang kau lakukan?"
Dira tidak menjawab. Ia memahat. Untuk bilah-bilah lain ia hanya memakai tanda yang tak bisa dibaca orang. Untuk yang ini ia memakai aksara, pelan dan hati-hati, dalam aksara Jawa yang kecil-kecil dan rapi, seperti yang diajarkan Nyai Rukminiwati di atas pasir halaman belakang asrama.
Ringin Sungsang. Beringin terbalik. Akar di langit. Puncak Lawu, di atas kawah. Ki Jalak lahir di sana. Dipetik dari dahannya, bukan ditempa.
Ia meniup serpihan bambu dari pahatan itu, lalu mengangkat bilah itu ke depan matanya, ke depan cahaya bara yang merah, supaya Ki Jalak bisa melihatnya lewat matanya sendiri.
Lama Ki Jalak tidak berbicara.
"Ringin Sungsang," katanya akhirnya. Sangat pelan. Seperti orang membaca nama kekasihnya yang sudah lama meninggal.
"Aku menulisnya," kata Dira. "Kalau kau lupa lagi, aku akan membacakannya untukmu. Setiap kali kau lupa. Seribu kali kalau perlu."
"Kenapa?"
Dira memasukkan kembali bilah-bilah itu ke celah di dasar tungku, lalu menutupnya dan merapikan abu di depannya.
"Karena aku juga tidak tahu siapa yang memberiku nama," katanya. "Aku tidak tahu siapa orang tuaku. Aku tidak tahu kenapa ada sesuatu di leherku. Aku tidak tahu kenapa aku bisa menelan pusaka. Aku tidak tahu apa-apa." Ia menatap bara. "Tapi kalau aku menemukan satu saja, satu nama, satu tempat, satu potong kecil, aku ingin ada yang menuliskannya untukku. Supaya aku tidak kehilangannya lagi."
Di dalam dadanya, Ki Jalak tidak menjawab. Tetapi beberapa saat kemudian, sangat pelan, terdengar siulan jalak kebo. Tiga nada pendek. Lalu diam.
Itu, Dira tahu, adalah cara sebilah keris tua mengucapkan terima kasih.
"Ada," kata Mbok Darsih, "tapi sudah lama sekali."
Mereka duduk di bangku belakang dapur sesudah makan malam, mencabuti bulu ayam lagi untuk selamatan purnama. Tumpukan ayam sudah setinggi lutut. Dira bertanya sambil lalu, seperti orang yang cuma ingin mengisi waktu: apakah di puncak Lawu ada pohon besar?
"Kata nenekku, dan kata nenek dari nenekku," lanjut Mbok Darsih, "dulu di puncak paling tinggi Lawu, di atas kawah, ada pohon beringin yang besarnya sebesar desa. Daunnya bisa menutupi matahari. Akarnya menjuntai dari dahan sampai ke tanah, ribuan, seperti tirai. Orang-orang bilang pohon itu tempat tinggal para dewa waktu mereka turun ke bumi. Tak ada yang berani naik ke sana."
"Lalu?"
"Lalu suatu malam, kata nenekku, langit di atas Lawu menyala merah. Merah seperti darah. Ada petir yang turun bukan dari awan, tapi dari tempat yang lebih tinggi lagi. Petir itu menyambar pohon beringin itu. Dan pohon itu terbakar." Mbok Darsih menyentak sehelai bulu. "Tujuh hari tujuh malam. Apinya bisa dilihat dari pantai selatan. Asapnya menutupi matahari sampai sawah-sawah gagal panen. Lalu apinya padam, dan pohon itu hilang. Yang tersisa cuma batu hitam dan abu."
"Kapan itu, Mbok?"
"Mana aku tahu? Zaman dulu. Zaman nenek moyang. Sebelum ada padepokan. Sebelum ada kadipaten." Mbok Darsih mengangkat bahu. "Mungkin cuma dongeng. Nenekku juga bilang ada wewe gombel di lumbung."
Di dalam dada Dira, Ki Jalak sangat diam.
"Terbakar," bisiknya.
Kau ingat itu?
"Tidak." Jeda panjang. "Tapi aku ingat... aku ingat jatuh. Jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Dalam api. Dan aku ingat air. Air dingin di dasar sesuatu yang gelap."
Dira teringat ceruk kosong berbentuk keris di dasar sumur kering. Akar-akar yang dipahat di batu. Air dingin. Aku tidur. Lama. Akar-akar itu memelukku seperti tangan.
Tunggu, kata sebuah tangan yang besar dan hangat.
Malam itu, Satyaki menemukannya di belakang gudang rongsokan.
Anak itu datang dengan napas terengah, bukan karena lari, melainkan karena menahan sesuatu. Wajahnya, untuk pertama kalinya sejak Dira mengenalnya, tidak datar.
"Purnama besok malam," katanya tanpa basa-basi.
"Aku tahu."
"Ki Brajanala memerintahkan dua belas murid dalam berjaga di tepi Hutan Larangan malam purnama. Bergiliran. Sampai subuh." Satyaki menelan ludah. "Karena tiga malam terakhir, para penjaga gerbang barat mencium bau aneh dari arah hutan. Bau dupa. Tapi bukan dupa biasa. Dingin, kata mereka. Seperti abu yang dibakar di tempat yang tak pernah kena matahari."
Dira diam.
Tiga malam sebelum purnama. Bakar di tempat biasa. Tiga batang setiap malam.
"Dan tadi sore," lanjut Satyaki, "salah satu penjaga, murid dalam bernama Kertapati, pingsan di pos jaga. Tidak sakit. Tidak luka. Tiba-tiba saja jatuh. Waktu dibangunkan, dia tidak ingat namanya sendiri sampai selama orang mengunyah sekapur sirih." Satyaki menatap Dira dengan mata yang tajam. "Kau tahu sesuatu tentang ini."
Bukan pertanyaan.
Dira menatap ke arah barat. Ke arah Hutan Larangan yang kini hanya tampak sebagai garis hitam tebal di bawah langit malam yang bertabur bintang. Bulan, yang hampir bulat sempurna, menggantung rendah di atasnya, putih kebiruan, terlalu terang.
Angin bertiup dari arah hutan.
Dan Dira menciumnya. Samar, tipis, hampir tak ada. Di bawah bau daun basah, lumut, dan tanah. Bau yang dingin.
Seperti abu dupa yang dibakar di tempat yang tak pernah kena matahari.
Pada saat yang sama, di bawah kain lurik cokelat tua di lehernya, di bawah simpul Nyai Rukminiwati, sesuatu berdenyut.
Bukan dingin seperti biasanya.
Nyeri. Tajam. Seperti jarum sedingin embun beku yang ditusukkan ke dalam kulit, lalu ditarik pelan, lalu ditusukkan lagi. Berirama. Seirama dengan angin yang bertiup dari hutan.
Dira mengangkat tangannya ke leher tanpa sadar.
"Dira?" Suara Satyaki terdengar jauh. "Dira, kau kenapa?"
"Bocah," kata Ki Jalak, dengan suara yang tiba-tiba sangat tajam dan sangat waspada. "Dupa itu. Itu bukan untuk memanggil roh."
Lalu untuk apa?
Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak berdiri tegak seperti burung yang melihat bayangan ular di rumput.
"Untuk mencium," bisiknya. "Seseorang di hutan itu sedang mengendus. Seperti anjing pemburu mengendus jejak."
Leher Dira berdenyut lagi. Lebih keras.
"Dan yang dia cari," kata Ki Jalak, "ada di bawah kain lehermu."