Sang Penelan Pusaka

Bab 55Raga Puncak

"Berhenti," kata Ki Jalak. Lalu, hampir di napas yang sama: "Tidak. Jangan berhenti. Jangan!"

Dira tidak bisa berhenti, bahkan kalau ia mau.

Napas gunung terus mengalir masuk ke tubuhnya, perak dan berkilau, seperti sungai yang sudah menemukan muaranya dan tak bisa lagi dibelokkan. Tulang-tulangnya terus dipukul palu empu yang tak terlihat. Dang. Dang. Dan tanda di lehernya terus membakar, panasnya menjalar ke rahang, ke pelipis, ke ubun-ubun, sampai Dira merasa kepalanya seperti kuali yang dibiarkan terlalu lama di atas tungku.

Di atas Hutan Larangan, garis asap hitam itu menunjuk lurus ke arahnya.

"Kalau kau berhenti sekarang," kata Ki Jalak dengan suara cepat dan tajam, seperti orang yang berpikir sambil berlari, "tulangmu setengah ditempa. Separuh besi, separuh tanah liat. Satu pukulan keras, dan semuanya hancur seperti periuk jatuh. Kau tidak akan pernah bisa menempanya lagi."

Dan kalau aku terus?

"Kau terus bersinar. Dia terus melihatmu." Jeda. "Tapi kalau kau selesai, kendinya dibakar. Biar dia menemukanmu. Biar dia menemukan kendi yang sudah keras."

Kalau kau benar.

"Kalau aku benar," Ki Jalak mengakui.

Dira menarik napas. Turun ke bawah pusar. Berputar. Lalu, alih-alih membiarkan napas gunung mengalir masuk pelan-pelan seperti tadi, ia membuka dirinya lebar-lebar, seperti membuka pintu bendungan.

Napas gunung menyerbu masuk.


Rasa sakitnya berlipat dua.

Palu empu yang tadi memukul satu tulang demi satu tulang kini memukul semuanya sekaligus. Dang-dang-dang-dang. Seperti hujan kerikil di atas atap genting. Seperti seratus pandai besi memukul seratus paron bersamaan. Tubuh Dira gemetar di atas bubungan ijuk, keringatnya mengalir deras, uap tipis mengepul dari kulitnya dalam udara malam yang dingin.

Dan garis asap hitam di atas Hutan Larangan memanjang.

Ia tidak lagi hanya menunjuk. Ia tumbuh. Ujungnya merayap di udara melintasi langit malam, perlahan, ke timur, ke arah padepokan, seperti jari yang terulur makin panjang dan makin panjang. Melewati tepi hutan. Melewati padang ilalang di antara hutan dan tembok padepokan. Mendekat.

Dira bisa melihatnya dengan sudut matanya. Ia tidak berani menoleh.

"Kidung," bisik Ki Jalak tiba-tiba. "Kidung Pepeling. Nyanyikan. Di dalam kepalamu. Sekarang."

Apa?

"Lehermu terlalu panas. Kalau terus begini, panasnya akan naik ke kepala dan kau akan pingsan sebelum selesai. Kidung itu menenangkan apa yang ada di dalam dirimu. Dulu menenangkan jiwa-jiwa. Mungkin juga bisa menenangkan ini. Nyanyikan!"

Dira menyanyikannya. Di dalam kepalanya, tanpa suara, dengan suara Wulansari yang ia ingat dari malam di depan tungku ketika ia paling hancur.

Turua, turu, cah bagus...

Ki Jalak ikut bersenandung. Suaranya serak dan sumbang, tetapi berirama.

...lintang sumebar ing langit peteng...

Panas di leher Dira berkurang. Sedikit. Seperti bara yang ditiup angin dingin. Tidak padam, tetapi tidak lagi menjalar ke atas.

...sanadyan donya lali marang kowe...

Dan pada saat itu, di dalam Balai Sukma, Dira melihat sesuatu.


Ia tidak bermaksud melihatnya. Ia hanya mengikuti napas gunung yang mengalir masuk ke dalam dirinya, mengikutinya seperti orang mengikuti aliran sungai dalam gelap, dan tiba-tiba ia sudah berada di dalam. Di Balai Sukma. Ruang yang gelap dan luas di dalam dirinya, tempat Ki Jalak tinggal, tempat ia biasa mendengar suara pusaka tua itu.

Ia selalu tahu ruang itu ada. Ia belum pernah melihatnya dengan jelas.

Malam ini ia melihatnya. Diterangi cahaya perak napas gunung yang mengalir masuk dari segala arah, seperti cahaya bulan yang menembus celah-celah atap.

Balai Sukma itu besar. Jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Seperti pendapa balairung, tetapi tanpa atap, tanpa dinding, tanpa ujung. Lantainya batu hitam yang halus dan dingin. Di salah satu sudutnya, sangat kecil di tengah ruang yang begitu luas, ada sosok seekor burung jalak kebo, hitam dengan bercak putih di sayap, bertengger di atas sebatang dahan yang tidak tumbuh dari mana pun. Burung itu sedang bersenandung. Bibirnya, paruhnya, bergerak.

Ki Jalak.

Dan di ujung lain Balai Sukma, sangat jauh, ada dinding.

Dira mengenalinya. Ia selalu merasakannya, setiap kali menurunkan napas ke bawah pusar dan mengalirkannya naik ke tulang punggung. Di leher, napas itu selalu terbelok. Selalu menabrak sesuatu yang dingin dan keras dan terpental ke dada. Dinding beku, begitu ia menyebutnya dalam hati.

Ia tidak pernah tahu dinding itu benar-benar ada.

Dinding itu ada. Menjulang dari lantai batu hitam sampai ke kegelapan di atas, tak terlihat ujungnya. Terbuat dari sesuatu yang tampak seperti air yang membeku. Bening, biru pucat, dan sangat tebal. Begitu tebal sehingga Dira tak bisa melihat apa yang ada di baliknya.

Biasanya dingin.

Malam ini dinding itu merah.

Bukan merah seluruhnya. Hanya di satu titik, tepat di tengah, setinggi leher orang dewasa. Di titik itu, dinding yang biru pucat berubah menjadi merah menyala, seperti besi yang dipanaskan di tungku pandai, dan dari tengah merah itu menjalar sebuah retakan. Tipis. Sangat tipis. Seperti sehelai rambut.

Dan di balik retakan itu, sesuatu bergerak.

Dira tidak bisa melihatnya. Ia hanya bisa merasakannya. Sesuatu yang besar. Sangat besar. Lebih besar dari Balai Sukma, lebih besar dari padepokan, lebih besar dari gunung. Sesuatu yang tidur. Sudah tidur sangat lama. Dan kini, karena panas di dinding itu, karena retakan setipis rambut, sesuatu itu bergerak dalam tidurnya. Seperti orang yang mendengar namanya dipanggil dari jauh dan hampir terbangun.

"JANGAN LIHAT KE SANA!"

Suara Ki Jalak meledak di seluruh Balai Sukma. Burung jalak kecil itu berhenti bersenandung dan menatapnya dengan mata kuning yang membelalak.

"Jangan lihat ke sana, bocah! Jangan! Kembali! Nyanyikan kidungnya!"

...aja nganti kowe lali marang jenengmu.

Jangan sampai kau lupa namamu.

Dira memalingkan wajah dari dinding itu.


Ia membuka mata di atas atap dapur.

Bulan purnama sudah bergeser ke barat. Napas gunung masih mengalir, tetapi lebih tipis sekarang, seperti sungai di musim kemarau. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Ia gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Dan di atas padang ilalang di antara hutan dan tembok padepokan, garis asap hitam itu sudah hampir sampai.

Ujungnya kini hanya beberapa puluh langkah dari tembok barat. Menggantung di udara seperti ujung cambuk yang terangkat sebelum dilecutkan. Bergoyang pelan. Mengendus.

Lalu dari tepi hutan terdengar teriakan.

"SIAPA DI SANA?"

Suara yang berat dan keras seperti petir. Suara yang sama yang menggema di halaman belakang ketika Sutarga ditemukan mendengkur di atas tumpukan kendi.

Ki Brajanala.

Dari atas atap dapur, Dira melihat sosok bertubuh lebar seperti tunggul jati itu melesat dari tepi hutan. Bukan ke padang ilalang. Ke dalam hutan. Ke titik di mana garis asap hitam itu bermula. Ia bergerak secepat babi hutan yang menyeruduk, menerobos semak-semak, menumbangkan ranting-ranting. Di belakangnya, beberapa murid dalam berlarian membawa obor, berteriak-teriak.

"Di sana! Asap hitam! Di sana!"

Dan garis asap hitam itu, yang tadi merayap begitu pelan dan begitu pasti ke arah atap dapur, tiba-tiba bergetar. Seperti benang yang tersentak. Ujungnya yang terulur ke arah padepokan berkedut, mengerut, lalu tertarik kembali ke dalam hutan seperti lidah ular yang ditarik masuk.

Lalu putus.

Garis asap itu putus di tengah, terbelah menjadi dua, dan kedua potongannya buyar di udara malam seperti tinta yang diteteskan ke air.

Dari dalam hutan terdengar bunyi kayu patah, teriakan Ki Brajanala, teriakan murid-murid, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang seperti jeritan, tinggi dan tipis, bukan jeritan manusia, lebih seperti bunyi yang dikeluarkan api ketika disiram air.

Lalu hening.

"Orang tua itu," bisik Ki Jalak, gemetar. "Orang tua keras kepala pemilik arak sesaji itu. Dia baru saja menyelamatkan nyawamu dan dia bahkan tidak tahu."


Dira tidak sempat memikirkannya.

Karena pada saat itu, pukulan palu yang terakhir datang.

DANG.

Bukan di satu tulang. Di semuanya. Serentak. Sekaligus. Seperti seluruh kerangka tubuhnya adalah satu bilah keris raksasa yang dipukul sekali di atas paron, lalu dicelupkan ke dalam air sumur pegunungan.

Dira terhenyak ke belakang di atas bubungan. Napasnya terhempas keluar dari dadanya. Untuk sesaat, seluruh dunia menjadi putih, sunyi, dan sangat jauh.

Lalu bunyi itu datang.

Bunyi yang keluar dari dalam tubuhnya sendiri. Bukan dari mulut. Dari tulang. Bunyi denting yang tinggi, jernih, dan panjang, seperti bunyi bilah keris yang disentil dengan kuku untuk menguji tempaannya. Tiiiiiing. Bunyi itu bergetar dari tulang tengkoraknya sampai ke tulang jari kakinya, merambat di sepanjang kerangkanya seperti riak di permukaan kolam, lalu memudar perlahan.

Lalu sunyi.

Napas gunung berhenti mengalir. Bukan karena habis. Karena tubuhnya sudah penuh. Seperti kendi yang sudah terisi sampai bibir.

Dira berbaring telentang di atas bubungan ijuk, menatap bulan yang kini sudah rendah di langit barat, pucat dan lelah seperti wajah orang yang begadang semalaman.

Ia mengangkat tangan kanannya dan menatapnya.

Tangan yang sama. Jari yang sama. Kulit yang sama, kotor oleh jelaga atap dan basah oleh keringat. Tetapi ketika ia mengepalkannya, sesuatu terasa berbeda. Lebih berat. Lebih padat. Seperti tangan itu sekarang terbuat dari sesuatu yang lebih keras dari daging dan tulang. Seperti ada batang besi di dalam setiap jarinya.

"Raga Puncak," bisik Ki Jalak.

Dira tidak menjawab. Ia terlalu lelah untuk menjawab.

"Kau berhasil, bocah. Kau benar-benar berhasil. Dalam satu malam. Di bawah purnama. Dengan anjing pemburu mengendus di belakang lehermu." Ki Jalak tertawa, tawa yang pecah dan basah, seperti tawa orang yang baru saja lolos dari jurang. "Aku tidak tahu harus bangga atau marah. Jadi aku akan dua-duanya. Besok. Sekarang aku terlalu lelah."

"Pusaka bisa lelah?"

"Pusaka yang tinggal di dalam bocah gila bisa."

Dira tertawa. Pelan. Tertawa membuat dadanya sakit, tetapi sakitnya berbeda sekarang. Bukan sakit tulang yang retak. Sakit otot yang terlalu lelah, di atas tulang yang tak bisa lagi retak dengan mudah.

Panas di lehernya sudah mereda. Tidak dingin seperti biasanya. Hangat. Seperti batu yang dijemur seharian lalu ditinggalkan di bawah bulan.

Di kejauhan, dari arah gerbang depan, kentongan subuh berbunyi.


Ia harus turun sebelum dapur ramai.

Dira bangkit duduk dengan susah payah. Tubuhnya terasa aneh. Berat dan ringan sekaligus, seperti orang yang baru belajar berjalan di atas kaki yang lebih panjang dari biasanya. Ia merayap di sepanjang bubungan ke tiang sudut, perlahan, sangat hati-hati, karena ia tidak lagi tahu seberapa berat tubuhnya, seberapa kuat genggamannya, seberapa keras pijakannya. Satu kali ia mencengkeram balok kayu di tepi atap, dan balok itu berderit lalu retak di bawah jari-jarinya.

"Pelan," gumam Ki Jalak. "Panci beterbangan lagi, kalau kau tidak hati-hati. Kali ini bukan panci. Mungkin seluruh dapur."

Dira melepaskan balok itu, menarik napas, dan memutarnya sampai tangannya tenang.

Lalu ia mengangkat tangan ke lehernya. Hanya untuk memastikan. Hanya untuk merasakan bahwa kain lurik cokelat tua itu masih di tempatnya, simpul Nyai masih terikat rapat, dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Jari-jarinya menyentuh kain itu.

Lalu menyentuh sesuatu yang bukan kain.

Kulit.

Dira membeku.

Ia meraba lagi, lebih pelan. Kain lurik itu masih ada. Simpulnya masih terikat. Tetapi tepat di tengah, di sisi kiri lehernya, di tempat panas tadi membakar paling hebat, kain itu berlubang. Lubang kecil, bulat, sebesar kepeng tembaga. Pinggirnya kaku dan rapuh, hancur menjadi serbuk hitam ketika disentuh. Hangus. Terbakar dari dalam.

Dan di bawah lubang itu, di kulit lehernya yang terbuka, jari-jarinya merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sesuatu yang timbul. Seperti urat. Seperti akar halus yang menjalar di bawah kulit.

Dira menunduk, berusaha melihatnya, tetapi leher sendiri tak bisa dilihat tanpa cermin.

Yang bisa ia lihat hanya sesuatu yang samar di sudut matanya. Di bawah dagunya. Merembes keluar dari lubang kecil di kain lurik itu, sangat redup, nyaris tak ada dalam cahaya subuh yang kelabu.

Cahaya.

Biru pucat. Seperti cahaya bulan di dasar sumur.

Dan dari halaman belakang di bawah sana, suara Gendhis terdengar memanggil, nyaring dan tidak sabar, seperti setiap pagi:

"Diraaa! Kayu bakar! Kau di mana?"