Sang Penelan Pusaka

Bab 56Garis Biru

"Putar," kata Ki Jalak.

Dira sudah memutarnya.

Masih di atas bubungan, masih tersembunyi di balik cerobong tungku ketujuh, ia menyelipkan dua jari ke bawah kain lurik di lehernya dan menggesernya pelan-pelan. Bukan melepasnya. Bukan mengendurkan simpulnya. Hanya memutarnya, sedikit demi sedikit, seperti memutar gelang di pergelangan tangan, sampai lubang hangus sebesar kepeng tembaga itu bergeser dari sisi kiri leher ke belakang, ke tengkuk, ke bawah rambutnya yang panjang dan kusut.

Simpul Nyai ikut berputar. Kini simpul itu ada di sisi kanan leher, bukan di depan seperti biasa.

"Siapa pun yang memperhatikan akan melihat simpulnya pindah," kata Ki Jalak.

"Tidak ada yang memperhatikan simpul abdi dapur."

"Wulansari memperhatikan. Nyai memperhatikan. Gandawasa pernah memperhatikan. Gendhis memperhatikan segalanya."

Dira menyibakkan rambutnya ke depan sehingga menutupi sisi kanan lehernya, menutupi simpul yang miring itu.

"Untuk hari ini," katanya.

"Diraaa!" Suara Gendhis lagi, lebih dekat, lebih tidak sabar. "Kalau kau tidur di kandang lagi, aku akan menyuruh kambing itu membangunkanmu!"

Dira merayap ke tiang sudut, memanjat turun, dan mendarat di tanah dengan lutut tertekuk. Ia mendarat terlalu keras. Tanah di bawah kakinya berdebum pelan dan sedikit melesak.

Ia menatap bekas kakinya. Dua cekungan dangkal di tanah yang padat, sedalam ruas jari.

"Pelan," ulang Ki Jalak. "Kau sekarang lebih berat. Bukan dagingmu. Tulangmu. Tulang besi lebih berat dari tulang biasa."

Dira menghapus bekas kakinya dengan telapak kaki, lalu berjalan ke tumpukan kayu bakar dengan langkah yang sangat hati-hati, seperti orang berjalan di atas papan jembatan yang lapuk.


Hari itu padepokan dipenuhi bisik-bisik.

Bukan tentang abdi dapur. Bukan tentang siulan jalak. Tentang Ki Brajanala dan apa yang ditemukannya di dalam Hutan Larangan malam tadi.

Gendhing, tentu saja, yang mengumpulkan semuanya. Ia mendengarnya dari sepupunya di asrama tetua, yang mendengarnya dari abdi yang mengantar air ke bilik Ki Brajanala, yang mendengarnya dari murid dalam yang ikut berjaga. Dan ia menceritakannya kepada seisi dapur sambil membelah bawang, dengan mata membelalak dan suara berbisik keras.

"Lingkaran," katanya. "Lingkaran abu di tanah. Sebesar ini." Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Di tengah hutan, di tempat yang tak pernah dilewati orang. Di tengahnya ada tiga puntung dupa hitam yang masih berasap. Dan di sekeliling lingkaran itu..." Ia merendahkan suaranya. "Bekas kaki. Kaki telanjang. Berjalan mengelilingi lingkaran. Tujuh kali. Lalu bekas kaki itu..."

"Lalu apa?" tanya Mbok Darsih, yang berhenti mencabuti bulu ayam.

"Hilang." Gendhing menjentikkan jarinya. "Begitu saja. Di tengah jalan. Satu langkah ada, langkah berikutnya tidak ada. Seperti orangnya terbang."

"Demit," kata Mbok Darsih dengan yakin.

"Ki Brajanala bilang bukan demit. Ki Brajanala bilang demit tidak membakar dupa."

"Ki Brajanala tidak tahu apa-apa soal demit."

"Dan murid dalam yang pingsan kemarin, Kertapati?" lanjut Gendhing, tak mau ceritanya dipotong. "Dia masih aneh. Pagi ini dia lupa jalan ke sumur. Dia berdiri di tengah halaman lama sekali, menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti orang yang baru datang dari negeri jauh."

Dira, yang sedang menyalakan tungku keempat, berhenti meniup bara.

"Satu lagi," kata Gendhing, merendahkan suaranya lebih jauh, seperti menyimpan bagian terbaik untuk akhir. "Ki Wiradhana tidak keluar biliknya pagi ini. Tidak ikut semadi pagi. Tidak sarapan. Katanya masuk angin setelah selamatan."

"Orang tua memang gampang masuk angin," kata Mbok Darsih, kembali mencabuti bulu ayam.

"Tapi abdi yang mengantar air ke biliknya bilang," Gendhing menelan ludah, "ada bau hangus di dalam. Seperti kain terbakar. Dan Ki Wiradhana menyembunyikan tangan kirinya di balik beskap."

Hening sesaat di dapur.

Lalu Mbok Darsih mencabut sehelai bulu lagi. "Orang tua memang gampang terbakar kalau dekat pelita," katanya, dan semua orang kembali bekerja.

Tetapi Dira tidak kembali bekerja. Ia berjongkok di depan tungku keempat, menatap bara yang baru menyala, dan memikirkan jeritan tinggi dan tipis dari dalam hutan, seperti bunyi api yang disiram air.

Tangan kiri.

Pemuda dengan bekas luka bakar berbentuk cincin di punggung tangan kirinya. Peti dupa hitam. Bakar di tempat biasa. Tiga batang setiap malam.

Dan Ki Wiradhana, yang menyembunyikan tangan kirinya di balik beskap.

"Bocah," bisik Ki Jalak. "Kalau garis asap itu benar-benar hidungnya, dan Ki Brajanala memutusnya..."

Maka yang mengendus ikut terbakar, pikir Dira. Di tempat lain. Di bilik yang lain.

Ia menambahkan sebatang kayu ke dalam tungku. Kayu itu patah menjadi dua di antara jari-jarinya, seperti ranting kering. Ia menatap kedua potongan itu, lalu memasukkan keduanya ke dalam api tanpa berkata apa-apa.


Ia mencoba melihatnya pertama kali menjelang siang.

Sejak turun dari atap, satu pikiran tidak mau pergi dari kepalanya. Seperti kerikil yang terselip di sela jari kaki. Ia sudah delapan belas warsa memakai kain itu. Ia sudah delapan belas warsa tidak tahu apa yang ada di bawahnya. Tak ada cermin perunggu bagi abdi. Air gentong terlalu gelap. Dan ia tidak pernah melepas kain itu sendiri, bahkan saat mandi, karena Nyai bilang jangan, karena Wulansari bilang jangan, karena sejak kecil ia diajari bahwa kain itu adalah bagian dari tubuhnya, seperti kulit.

Tetapi semalam, di atas atap, sesuatu berubah. Kain itu terbakar dari dalam. Cahaya biru merembes dari lubangnya. Jari-jarinya merasakan sesuatu yang timbul seperti akar.

Ia harus melihatnya. Sekali saja.

Menjelang siang, Mbok Darsih menyuruhnya mengisi bak cuci di belakang dapur. Bak itu terbuat dari batu, lebar dan dangkal, dan ketika airnya sudah penuh dan diam, permukaannya menjadi licin dan terang seperti cermin perunggu yang baru digosok, memantulkan langit siang yang biru.

Dira menunggu sampai tak ada orang di dekatnya. Lalu ia berlutut di samping bak itu, menunduk di atas permukaan air, dan menyelipkan dua jari ke bawah kain lurik di lehernya.

"Hati-hati," bisik Ki Jalak. "Pelan. Jangan buka semua. Sedikit saja."

Dira menarik kain itu ke bawah, pelan, seujung kuku...

"Dira!"

Ia tersentak dan melepaskan kain itu begitu cepat sampai kepalanya hampir menghantam bibir bak.

Gendhis berdiri di ambang pintu belakang dapur dengan bakul cucian di pinggang, menatapnya dengan mata menyipit.

"Kau sedang apa?"

"Mencuci muka."

"Kau tidak mencuci muka. Kau menatap air." Gendhis melangkah mendekat dan menatap ke dalam bak, lalu menatap Dira, lalu menatap bak lagi. Lalu wajahnya berubah. Matanya membelalak, lalu menyipit lagi, dan sudut bibirnya bergerak ke atas dengan cara yang sangat mencurigakan.

"Kau berkaca," katanya.

"Tidak."

"Kau berkaca! Di bak cuci! Seperti putri keraton!" Gendhis meletakkan bakulnya dan berkacak pinggang. "Sejak kapan abdi dapur berkaca? Sejak kapan kau berkaca? Kau bahkan tidak pernah menyisir rambut!"

"Aku tidak..."

"Jangan-jangan," kata Gendhis, dan suaranya merendah menjadi bisikan penuh kemenangan, "kata Mbok Darsih benar. Siulan jalak itu. Kau memang sedang cari jodoh."

"Bocah," kata Ki Jalak dengan suara orang yang menahan tawa sampai hampir pecah. "Iyakan saja. Itu lebih baik daripada kebenarannya."

Dira membuka mulut untuk menyangkal. Lalu menutupnya. Lalu membukanya lagi.

"Jangan bilang siapa-siapa," katanya.

Gendhis terkesiap. Pipinya, entah kenapa, memerah sedikit. Lalu ia mengambil bakulnya dan berbalik dengan cepat, terlalu cepat, dan berjalan kembali ke dapur.

"Aku tidak akan bilang siapa-siapa," katanya tanpa menoleh. "Aku bukan Gendhing."

Ia menghilang ke dalam dapur.

Lalu, kira-kira dalam waktu yang dibutuhkan untuk mengupas tiga butir bawang, terdengar jeritan Gendhing dari dalam dapur: "DIRA BERKACA DI BAK CUCI?"

Dira menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Aku pusaka paling tua di seluruh lereng Lawu," kata Ki Jalak sambil terbahak, "dan aku belum pernah melihat rahasia menyebar secepat itu. Bahkan api di Ringin... di pohon... di apa pun itu tidak secepat itu."


Ia baru bisa mencoba lagi ketika matahari tenggelam.

Bukan di bak cuci. Terlalu banyak mata. Ia berjalan ke ujung paling timur halaman belakang, ke belakang lumbung, ke tempat parit kecil mengalir dari mata air di lereng. Di satu tempat, parit itu melebar menjadi kolam kecil sebesar tampah, dikelilingi batu-batu berlumut dan rumpun pakis. Airnya jernih dan tenang, dan di senja hari, ketika langit di atasnya berubah jingga lalu ungu, permukaannya memantulkan apa pun yang menunduk di atasnya dengan sangat jelas.

Tak ada siapa pun di sana. Tak pernah ada. Para abdi bilang kolam itu dihuni ular.

Dira berlutut di atas batu berlumut di tepi kolam.

Lama ia hanya menatap wajahnya sendiri di permukaan air. Wajah yang hampir tak pernah ia lihat. Rambut hitam yang panjang dan kusut. Alis yang tebal. Mata yang, kata Gandawasa, selalu menatap seperti tahu sesuatu. Memar yang tinggal sedikit kekuningan di pipi kiri. Bibir yang masih menyimpan bekas gigitan semalam.

Dan di bawahnya, di leher, sehelai kain lurik cokelat tua yang miring.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Kau yakin?"

"Tidak," kata Dira.

Lalu ia menyelipkan jari-jarinya ke bawah kain itu, dan dengan sangat hati-hati, tanpa melepas simpul Nyai, ia menariknya ke bawah. Seujung kuku. Seruas jari. Dua ruas. Sampai sisi kiri lehernya terbuka, dari bawah telinga sampai ke tulang selangka.

Ia menatap ke dalam air.


Yang pertama ia lihat adalah memar.

Seperti yang dulu dikatakan para abdi waktu Gandawasa merobek kainnya. Memar biru. Melebar di kulit lehernya, dari bawah telinga ke bawah, kebiruan dan keunguan seperti bekas cekikan atau seperti tanda lahir yang sangat besar. Ia hampir menghela napas lega. Hanya memar. Hanya tanda lahir. Hanya...

Lalu matanya terbiasa dengan cahaya senja, dan ia melihat yang lain.

Di tengah memar biru itu, ada garis.

Satu garis. Tipis. Lebih tipis dari sehelai benang. Biru, tetapi bukan biru memar. Biru yang lain. Biru yang terang dan dingin, seperti biru di inti api yang paling panas, seperti biru di dasar sumur yang diterangi bulan. Garis itu tidak diam di permukaan kulit seperti memar. Garis itu berada di dalam kulit, di bawahnya, timbul sedikit seperti urat, dan sangat redup, hampir tak terlihat, garis itu bercahaya.

Garis itu mulai dari tulang selangka kirinya. Naik ke atas. Lurus, sejengkal. Lalu, tepat di bawah rahangnya, garis itu bercabang.

Dua cabang. Lalu dari setiap cabang, dua cabang lagi. Lalu lagi. Makin ke atas, makin halus, makin banyak, menyebar seperti jari-jari tangan yang terbuka, menuju ke belakang telinganya dan menghilang di balik rambut.

Dira menatapnya.

Ia pernah melihat bentuk itu. Ia pernah merabanya dengan ujung jari dalam gelap yang sempurna, lalu melihatnya dalam benang cahaya fajar yang membelok.

Di dasar sumur kering. Di lempeng batu tua.

Akar.

Akar pohon yang dipahat di bawah burung jalak, yang menembus ke bawah tanpa ujung, keluar dari tepi lempeng dan hilang ke dalam tanah. Akar yang bercabang dan bercabang dan bercabang lagi.

Atau dahan. Dahan yang tumbuh ke atas, menyebar seperti tangan terbuka. Ia tidak tahu yang mana. Mungkin dua-duanya.

Akarnya di langit, dahannya di bumi.

Ringin Sungsang.

Di dalam dadanya, Ki Jalak tidak berkata apa-apa. Tidak bersiul. Tidak bernapas, kalau pusaka bisa bernapas. Diam yang begitu dalam sampai Dira bisa mendengar air parit mengalir pelan di antara batu-batu, dan jangkrik pertama malam itu mulai berbunyi di rumpun pakis.

"Ki Jalak," bisiknya.

Tak ada jawaban.

"Ki Jalak, ini..."

Lalu ia melihat sesuatu yang lain di permukaan air.

Bukan di lehernya. Di belakangnya. Di atas bahunya, di dalam pantulan langit senja yang ungu, di antara bayangan rumpun pakis dan dahan pohon yang menjuntai.

Sebuah kepala.

Kepala yang botak, mengilat, dan bulat seperti kendi terbalik. Wajah tua yang keriput. Mata keruh yang biasanya berkedip-kedip bingung.

Mata itu tidak berkedip. Mata itu tidak keruh. Mata itu menatap ke dalam air, ke pantulan leher Dira, ke garis biru yang bercabang-cabang seperti akar, dengan kejernihan yang begitu tajam dan begitu dalam sehingga Dira merasa seluruh dirinya ditelanjangi.

Dira tidak bisa bergerak.

Mbah Karta berdiri di belakangnya. Dekat. Sangat dekat. Ia tidak membawa sendok kayu. Ia tidak bersiul. Ia tidak menggumamkan apa pun tentang ayam atau garam atau sup tulang sapi gosong.

Ia hanya mengucapkan satu kata. Pelan, tenang, dan begitu berat sehingga kata itu seperti jatuh ke permukaan kolam dan membuat riak di sana.

"Tutup."