Bab 6Mbah Karta yang Pelupa
"Darsa."
Dira menoleh. Mbah Karta berdiri di depan tungku dengan punggung bungkuk, mengaduk sesuatu di kuali tanah dengan sendok kayunya, tanpa melihat ke belakang.
"Darsa, ambilkan garam."
Dira melihat sekeliling. Dapur kosong. Hanya ada dia.
"Saya, Mbah?"
"Siapa lagi? Kau kan Darsa."
"Saya Sudira, Mbah."
"Ya, ya, Darsa. Garam. Di guci biru."
Dira mengambil guci biru dari rak dan menyerahkannya. Mbah Karta mengambil sejumput garam dengan jari-jarinya yang kurus dan menaburkannya ke kuali. Lalu ia berhenti, menatap kuali itu lama dengan dahi berkerut, dan menaburkan sejumput lagi.
"Mbah," kata Dira hati-hati, "tadi Mbah sudah..."
"Sudah apa?"
"Sudah menaburkan garam."
Mbah Karta menoleh. Matanya yang keruh berkedip pelan seperti mata kura-kura yang baru bangun. "Masa?"
"Dua kali, Mbah."
"Hm." Lelaki tua itu kembali menatap kuali, mengaduknya tiga kali, lalu mencicipi kuahnya dari ujung sendok. Ia mengecap-ngecapkan bibirnya yang hampir tak bergigi, lalu mengangguk puas. "Pas."
Dira tak bisa menahan diri. Ia mengambil sendok lain dan mencicipi sedikit.
Pas. Benar-benar pas. Gurih, sedikit manis dari santan, dengan rasa asin yang tepat di ujung lidah. Seharusnya, dengan dua jumput garam tambahan, sayur itu sudah seasin air laut.
Ia menatap Mbah Karta. Lelaki tua itu sudah tidak memperhatikannya lagi. Ia kini bersiul-siul pelan sambil mengaduk, siulan pendek-pendek naik turun, seperti kicau burung di pagi hari.
Hari pertama Dira sebagai abdi dapur Argasuryan ternyata jauh lebih panjang daripada malam pertamanya.
Gandawasa tidak lagi menancapkan pisau di dekat kepalanya. Ia melakukan sesuatu yang lebih buruk: memberinya pekerjaan.
"Seratus timba air ke gentong-gentong dapur," katanya selepas sarapan, sambil menyandarkan tubuh lebarnya di kusen pintu. "Lalu kupas sekarung bawang merah. Lalu pecahkan kayu gelondongan di gudang samping sampai gudang itu penuh lagi, karena ada yang menghabiskannya semalam." Ia tersenyum. "Lalu ulek cabai untuk masakan siang. Dua cobek. Tanpa bantuan si kembar."
"Lalu?" tanya Dira.
Gandawasa menyipitkan mata. "Lalu kita lihat apakah kau masih bisa berdiri."
Dira menimba seratus timba air. Sumur di belakang dapur dalamnya tujuh depa, dan tali ijuknya kasar seperti duri salak. Pada timba keempat puluh, minyak sirih di tangannya sudah tercuci habis dan luka-lukanya terbuka lagi. Pada timba ketujuh puluh, ia berhenti merasakan tangannya sama sekali. Pada timba keseratus, ia menuangkan air ke gentong terakhir, lalu duduk di bibir sumur dan menunggu dunia berhenti berputar.
Ia mengupas sekarung bawang merah sambil menangis, bukan karena sedih, melainkan karena uap bawang itu begitu tajam hingga matanya seperti disiram cuka. Si kembar sempat lewat dan Gendhis berbisik, "Basahi pisaunya, bodoh!" Gandawasa menyuruh Gendhis memotong rumput di kandang kambing sampai sore sebagai hukuman karena "mengganggu pekerjaan abdi baru".
Setelah itu Dira tidak berani lagi menerima bantuan siapa pun. Bukan karena takut, tetapi karena ia tak mau orang lain dihukum karena dirinya.
Ia memecah kayu gelondongan di gudang samping. Kapak yang gagangnya longgar itu terlepas dua kali, dan sekali hampir mengenai kakinya. Ia mengikat gagangnya dengan tali ijuk dan sobekan kain jariknya, lalu terus memecah sampai matahari tergelincir ke barat.
Sepanjang hari itu, ia memperhatikan Mbah Karta.
Bukan dengan sengaja. Matanya hanya selalu kembali ke lelaki tua itu, seperti mata yang selalu kembali ke nyala pelita di ruangan gelap.
Mbah Karta lupa banyak hal. Ia memanggil Gendhing "Gendhis" dan Gendhis "Gendhing", padahal yang satu berkendang dan yang satu berkepang. Ia lupa di mana menaruh ulekannya, padahal ulekan itu ada di tangannya sendiri. Ia memanggil Dira dengan lima nama berbeda sepanjang hari: Darsa, Dirga, Darmo, Sudiro, dan sekali, entah kenapa, Le Kecil, padahal Dira kini lebih tinggi darinya satu kepala.
Namun ada hal-hal yang tidak cocok.
Sayur lodehnya selalu pas, berapa kali pun ia menaburkan garam. Nasi yang ia tanak tak pernah gosong, tak pernah lembek, tak pernah berkerak, meskipun ia sering tertidur di depan tungku saat nasi masih di atas api. Api di tungkunya selalu tepat: besar ketika dibutuhkan besar, kecil ketika dibutuhkan kecil. Dira tak pernah melihatnya menambah atau mengurangi kayu.
Dan sekali, menjelang siang, sebuah dandang tembaga raksasa berisi air mendidih tiba-tiba miring di atas tungku. Penyangganya patah. Dandang itu sebesar gentong, dan butuh dua abdi dewasa untuk mengangkatnya. Gendhing menjerit, dan para abdi berlarian menjauh supaya tak tersiram air mendidih.
Mbah Karta, yang kebetulan berdiri paling dekat, terhuyung seperti orang tua yang kaget. Ia mengulurkan satu tangan dengan gemetar ke gagang dandang, dan dandang itu berhenti miring.
Hanya itu. Ia tak mengangkatnya. Ia hanya menahannya dengan satu tangan gemetar, sementara dua abdi lain berlari mengambil penyangga baru. Ketika penyangga dipasang dan dandang kembali tegak, Mbah Karta menarik tangannya, mengibas-ngibaskannya, dan meringis.
"Aduh, panas," keluhnya. "Tua-tua begini masih disuruh pegang dandang."
Semua orang tertawa lega. Gendhis menepuk punggungnya. Gandawasa menggerutu soal penyangga murahan.
Tak ada yang memperhatikan bahwa tangan Mbah Karta, yang katanya kepanasan, sama sekali tidak memerah.
Dira memperhatikan. Ia memperhatikan dan menghitung, lalu menyimpannya di sudut kepalanya bersama arak beras Sutarga dan utang dadu Joyokusumo.
Sore hari, sambil mengulek cabai di cobek kedua, Dira duduk di bangku dekat tungku. Mbah Karta duduk di karung berasnya, mengupas bawang putih dengan lambat sekali, satu siung demi satu siung, seperti setiap siung perlu dipikirkan sungguh-sungguh.
"Mbah," kata Dira tanpa mengangkat wajah dari cobeknya.
"Hm?"
"Semalam. Yang menyalakan tungku itu Mbah, kan?"
Mbah Karta mengupas satu siung lagi. "Tungku apa?"
"Tungku besar. Waktu saya tertidur. Ada kayu jati."
"Kayu jati?" Mbah Karta mengernyit. "Di sini tak ada kayu jati, Darsa. Kayu jati mahal. Ki Ageng tak mau beli."
"Tapi semalam ada."
"Kau mimpi." Lelaki tua itu meletakkan siung bawang putih di mangkuk tembikar, mengambil satu lagi, lalu menatapnya lama. "Orang lapar sering mimpi aneh-aneh. Dulu, waktu muda, aku pernah mimpi makan kerbau utuh. Bangun-bangun aku menggigit bantal."
Dira tertawa kecil meski tak sepenuhnya percaya.
Hening sebentar. Hanya ada bunyi ulekan beradu dengan cobek dan desis api di tungku.
"Mbah," kata Dira lagi, lebih pelan. "Kemarin pagi Mbah berdiri di pintu dapur. Waktu upacara."
"Masa?"
"Mbah melihat rak pusaka. Lama sekali."
Kali ini Mbah Karta tidak menjawab seketika. Ia memutar siung bawang putih di antara jari-jarinya yang kurus, mengamatinya seperti empu mengamati bilah keris.
"Pusaka itu," katanya akhirnya, "seperti nasi."
Dira berhenti mengulek. "Seperti nasi?"
"Ya." Mbah Karta mengupas kulit tipis bawang itu pelan-pelan. "Orang-orang selalu berebut nasi yang paling putih, paling pulen, yang di tengah bakul. Tak ada yang mau kerak. Kerak dibuang. Dikasih ke ayam." Ia meletakkan bawang itu di mangkuk. "Padahal kerak yang dijemur, digoreng, dikasih gula aren sedikit..." Ia mengecap-ngecapkan bibirnya. "Itu yang paling enak. Cuma orang bodoh yang membuang kerak."
"Saya tak mengerti, Mbah."
"Tak apa. Aku juga sering tak mengerti omonganku sendiri." Mbah Karta terkekeh. "Sudah tua. Ingatan bolong-bolong seperti tampah dimakan rayap."
Ia mulai bersiul lagi, siulan burung yang naik turun itu, dan kembali mengupas bawang. Percakapan tadi seperti tak pernah ada.
Malam itu, ketika para abdi berkumpul di barak untuk makan malam, Gandawasa berdiri di tengah tikar dan menunjuk Dira yang baru masuk dengan tubuh penuh debu kayu dan bau bawang.
"Anak Matahari tidak dapat jatah," katanya.
Para abdi lain terdiam. Bahkan Gendhing berhenti menabuh mangkuk dengan sendoknya.
"Kenapa, Kakang?" tanya Gendhis dengan suara datar yang berbahaya.
"Karena dia masih berutang padaku." Gandawasa menyeringai. "Tujuh belas kuali yang tak bersih tadi pagi. Itu artinya tujuh belas kesalahan. Satu kesalahan, satu kali makan. Dia baru membayar satu." Ia menghitung pura-pura dengan jarinya. "Kalau tak salah, masih enam belas kali makan lagi."
"Itu bukan salahnya! Kakang tahu sendiri siapa yang menumpahkan kerak..."
"Gendhis." Dira menyentuh lengan gadis itu pelan. "Tidak apa-apa."
"Apanya yang tidak apa-apa? Kau belum makan sejak pagi!"
"Aku tidak lapar."
Perutnya berbunyi keras pada saat itu juga, cukup keras untuk didengar seluruh barak. Beberapa abdi tertawa. Gandawasa tertawa paling keras.
Dira tidak tertawa. Ia juga tidak membantah. Ia berbalik, keluar dari barak, dan berjalan ke dapur dalam gelap.
Di belakangnya, ia mendengar Gendhis berteriak sesuatu kepada Gandawasa dan Gendhing berusaha menenangkannya. Lalu pintu barak tertutup, dan suara-suara itu teredam.
Dapur di malam hari terasa berbeda. Lebih besar, lebih sunyi, lebih hangat. Bara di tungku-tungku masih menyala merah di balik abu, memancarkan panas yang menenangkan seperti selimut tebal. Bau sayur lodeh, nasi, dan asap kayu masih menggantung di udara.
Dira duduk di lantai tanah di depan tungku terbesar, memeluk lutut, dan menatap bara.
Ia tidak menangis. Ia sudah memutuskan, saat berjalan dari barak ke dapur, bahwa ia tidak akan menangis karena Gandawasa. Tidak malam ini, tidak besok, tidak kapan pun. Tetapi perutnya terasa seperti lubang yang dalam dan dingin, dan tangannya berdenyut begitu keras hingga ia bisa mendengar detaknya di telinga.
Ia menutup mata dan menghitung.
Gandawasa. Pisau di tiang. Tujuh belas kuali. Enam belas kali makan. Sutarga dan arak beras. Joyokusumo dan dadu.
Ia terus menghitung sampai hitungannya menjadi kabur, sampai bara di tungku terasa seperti matahari kecil yang menghangatkan kelopak matanya, sampai ia hampir tertidur.
Lalu ia mendengar suara.
Bunyi kayu bakar ditambahkan ke tungku. Desis api yang membesar. Bunyi air dituang ke kendil tanah. Bunyi beras dicuci dalam bakul bambu, digoyang-goyang dengan irama yang sabar.
Dira membuka mata.
Mbah Karta berdiri di depan tungku kecil di sudut dapur, tungku ketujuh yang katanya sudah bertahun-tahun tak dipakai. Lelaki tua itu tidak menoleh. Ia memasak. Tangan-tangannya yang kurus bergerak pelan dan pasti: mengatur api, meletakkan kendil, memecahkan sebutir telur ayam kampung ke atas wajan kecil yang sudah dioles minyak kelapa.
Dira tidak berani bergerak. Ia hanya menonton.
Bau nasi baru mulai menguar, bau yang membuat perutnya yang kosong menjerit. Lalu bau telur goreng. Lalu bau sayur lodeh yang dihangatkan kembali.
Mbah Karta tidak bersiul kali ini. Ia tidak bergumam. Ia tidak berkata apa-apa sama sekali.
Ketika semuanya siap, ia menyendokkan nasi yang masih mengepul ke atas piring tembikar, nasi yang putih, pulen, dan sempurna. Di sampingnya ia letakkan telur ceplok dengan kuning yang masih sedikit basah, seperti matahari yang baru terbit. Lalu sayur lodeh hangat, sepotong ikan asin, dan, Dira hampir tak percaya, sesendok kecil sambal merah tua kehitaman yang berkilat oleh minyak.
Sambal Lawu Murka. Resep rahasia Gendhis, yang katanya tak akan diberitahukan kepada siapa pun sampai ia mati.
Mbah Karta berbalik, berjalan tertatih-tatih ke arah Dira, dan meletakkan piring itu di lantai tanah di depannya.
Lalu ia berbalik lagi, berjalan ke tumpukan karung berasnya, membaringkan tubuhnya yang bungkuk, menarik selimut jarik pudarnya sampai ke dagu, dan memejamkan mata.
Tidak sepatah kata pun.
Dira menatap piring itu lama. Ia menatap uap yang naik dari nasi, menari sebentar dalam cahaya bara, lalu menghilang ke kegelapan atap. Ia menatap kuning telur yang berkilau. Ia menatap sambal yang seharusnya tak ada di dapur ini.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak cahaya fajar membelok di sekitar kepalanya, Dira menangis.
Ia menangis tanpa suara, sambil makan. Air matanya jatuh ke nasi, bercampur dengan sambal yang terlalu pedas. Bukan Gandawasa yang membuatnya begitu, juga bukan matahari. Seseorang baru saja memasak untuknya tanpa diminta, lalu pergi tidur tanpa menunggu terima kasih.
Di sudut dapur, Mbah Karta mulai mendengkur.
Dira baru menghabiskan setengah piring ketika terdengar ketukan di pintu belakang dapur.
Tiga ketukan pelan, jeda, lalu tiga ketukan lagi. Ketukan yang sama seperti kentongan pagi Upacara Pilih Pusaka.
Hanya satu orang di Argasuryan yang tahu ia selalu menghitung ketukan seperti itu.
Dira bangkit, menyeka matanya cepat-cepat dengan punggung tangan, lalu membuka pintu bambu.
Wulansari berdiri di luar dalam gelap. Rambutnya kusut dan udeng biru murid luarnya miring. Di kedua tangannya ia memeluk sebuah bungkusan daun pisang yang masih hangat, nasi yang pasti ia curi dari dapur asrama.
Matanya bengkak karena menangis.
Dan di pipi kirinya, di bawah cahaya bara yang merembes dari dapur, ada bekas tamparan yang merah menyala, cetakan lima jari yang jelas, terlalu besar untuk tangan seorang gadis.
"Kangmas," bisiknya, suaranya pecah. "Aku bawakan nasi."