Sang Penelan Pusaka

Bab 60Piring yang Tertukar

Pendapa balairung terasa seperti dasar sumur yang dibanjiri cahaya.

Ratusan pelita. Ratusan wajah. Gamelan yang mulai ditabuh lagi, pelan, lembut, mengalun seperti air. Bau dupa cendana, bau santan, bau bunga melati dari kalung kerbau bule di halaman yang terbawa angin malam. Dan di tengah semua itu, Dira berjalan dengan langkah abdi yang sopan, kepala menunduk, nampan kayu jati berisi lima piring perunggu terangkat sedikit di depan dada.

Ia menghitung langkahnya. Dua puluh langkah dari pintu kecil serambi ke meja kehormatan. Dua puluh langkah di antara barisan tamu yang duduk bersila.

Satu. Dua. Tiga.

"Pikir," bisik Ki Jalak. "Pikir cepat, bocah. Kau punya dua puluh langkah."

Aku sedang berpikir.

"Kau bisa menjatuhkannya. Pura-pura tersandung. Semua piring tumpah ke tikar. Kau dimarahi, mungkin dicambuk, tapi tumenggung itu hidup."

Lalu mereka akan menyuruh dapur membuat piring baru. Dan pemuda itu akan merapikan daun pisangnya lagi. Atau tidak memakai piring. Memakai cangkir. Memakai kendi. Memakai apa saja. Dira melangkah. Tujuh. Delapan. Dan Ki Wiradhana akan tahu ada yang tahu.

"Lalu apa?"

Sembilan. Sepuluh.

Dira mengangkat matanya sedikit, hanya sedikit, dari bawah alisnya. Meja rendah dari kayu jati berukir. Lima orang di belakangnya. Ki Ageng di tengah, Tumenggung di kanannya, Nyai di ujung kanan, Ki Brajanala di kiri Ki Ageng, Ki Wiradhana di ujung kiri.

Ki Wiradhana tersenyum kepadanya. Senyum yang lembut dan penuh harap, seperti kakek yang menunggu cucunya membawakan hadiah.

Sebelas. Dua belas.

Lima piring. Satu beracun. Satu berukir teratai, sedikit lebih besar, untuk tamu kehormatan. Empat berukir sulur-suluran, untuk para tetua. Kalau ia menukar piringnya, semua orang akan melihat Tumenggung makan dari piring sulur dan seorang tetua makan dari piring teratai.

Tetapi bagaimana kalau bukan piringnya?

Tiga belas.

Dira menatap kelima piring itu sambil berjalan. Setiap piring dialasi daun pisang muda yang digunting bundar. Mbah Karta yang mengguntingnya. Kelimanya sama besar. Dan di atas setiap daun, isinya sama persis. Nasi liwet. Ingkung. Urap. Tempe bacem. Rempeyek. Sambal. Dari kuali yang sama. Dengan sendok yang sama. Ditata oleh tangan yang sama.

Kelima isinya tidak bisa dibedakan.

Empat belas.

"Bocah," kata Ki Jalak, dan Dira tahu pusaka tua itu sudah melihat apa yang ia lihat. "Kau gila."

Kau yang mengajariku Jalak Nekat.

"Itu langkah kaki. Bukan tangan. Dan bukan di depan tiga ratus orang dan Ki Ageng Suryadharma."

Lima belas. Enam belas.

"Kau butuh sekejap. Satu kejap saja, ketika tak ada yang menatap tanganmu. Terutama dia."

Dira tahu siapa dia.

Tujuh belas.


Ia berlutut di depan meja kehormatan, meletakkan nampan di atas tikar pandan di depannya, dan membungkuk dalam-dalam. Dahinya hampir menyentuh tikar.

"Ampun, Gusti. Ampun, Ki Ageng. Hidangan utama."

"Bagus, bagus," kata Ki Wiradhana dengan suara hangat. "Sajikan, ngger. Gusti Tumenggung dulu, tentu saja. Tamu kita."

Dira mengangkat wajahnya. Ia mengulurkan tangan ke nampan.

Dan pada saat itu, Ki Brajanala bergerak.

Bukan bergerak dengan tubuh. Tetua bertubuh lebar itu masih duduk bersila di tempatnya, di sebelah kiri Ki Ageng. Yang bergerak adalah matanya. Mata kecil dan keras itu bergeser dari Dira, melewati Ki Ageng, ke ujung kiri meja. Ke Ki Wiradhana. Ke tangan kiri Ki Wiradhana yang terbungkus kain hitam dan tersembunyi di pangkuannya.

"Tanganmu," kata Ki Brajanala.

Suaranya tidak keras. Tetapi di pendapa yang tiba-tiba hening karena semua orang menunggu hidangan utama disajikan, suara itu terdengar seperti tiang batu yang retak.

Ki Wiradhana menoleh kepadanya. "Maaf, Ki?"

"Tangan kirimu," kata Ki Brajanala. "Sejak kemarin pagi dibalut kain hitam. Kau tidak keluar bilikmu sehari penuh. Abdi yang mengantar air bilang bilikmu bau hangus." Ia tidak berkedip. "Di malam yang sama ketika aku memutus asap hitam di hutan, dan sesuatu menjerit di dalam api."

Hening.

Seluruh pendapa menoleh ke ujung kiri meja kehormatan. Ki Ageng. Tumenggung Sasradipa. Nyai Rukminiwati. Para tetua lain di barisan belakang. Para pejabat kadipaten. Para murid dalam. Tiga ratus pasang mata, semuanya menatap ke satu titik: tangan kiri Ki Wiradhana yang terbungkus kain hitam.

Dan Ki Wiradhana sendiri, untuk sesaat, sekejap saja, menunduk menatap tangannya.

Sekarang.


Tangan kanan Dira bergerak.

Bukan cepat. Cepat terlihat. Cepat menarik mata. Tangan kanannya bergerak dengan kecepatan yang tepat, kecepatan abdi yang sedang menata piring, hanya saja di dalam gerakan yang biasa itu ada gerakan lain yang tersembunyi, seperti sungai kecil yang mengalir di bawah sungai besar.

Jari-jarinya menyelinap ke bawah tepi daun pisang di piring teratai. Daun pisang muda itu lentur dan licin, dan isinya, nasi dan ingkung dan urap dan tempe dan sambal, menempel padanya. Dalam satu tarikan yang mulus, Dira menggeser seluruh daun itu, beserta seluruh isinya, dari piring teratai ke telapak tangan kirinya yang terbuka di bawah tepi nampan.

Pada saat yang sama, dengan tangan kanan yang sama, ia menarik daun pisang dari piring di ujung kiri nampan. Piring sulur-suluran. Piring yang akan disajikan kepada orang yang duduk di ujung kiri meja. Ia menggesernya ke piring teratai yang kini kosong.

Lalu ia meletakkan daun dari telapak tangan kirinya ke piring sulur yang kini kosong.

Tiga gerakan. Lebih singkat dari satu tarikan napas. Lebih singkat dari waktu yang dibutuhkan Ki Wiradhana untuk menunduk menatap tangannya dan mengangkat wajah lagi.

Di dalam dadanya, Ki Jalak tidak bernapas.

"Ini," kata Ki Wiradhana. Ia mengangkat wajahnya. Senyumnya tidak berubah. Ia mengangkat tangan kirinya yang terbungkus kain hitam ke atas meja, perlahan, supaya semua orang bisa melihatnya. "Ini, Ki Brajanala? Aduh. Memalukan sekali. Orang tua memang ceroboh." Ia tertawa kecil. "Malam purnama, waktu selamatan selesai, aku membaca lontar di bilikku. Aku tertidur. Pelitanya terguling. Lengan bajuku terbakar, dan tanganku ikut." Ia menggeleng-geleng, malu. "Orang tua memang gampang terbakar kalau dekat pelita."

Seseorang di barisan belakang tertawa. Lalu seseorang lagi. Lalu suasana di pendapa mengendur seperti tali yang dilepas.

Ki Brajanala tidak tertawa. Ia menatap tangan itu lama, lalu menatap wajah Ki Wiradhana, lalu kembali menatap ke depan. Ia tidak berkata apa-apa lagi.

"Silakan, ngger," kata Ki Wiradhana kepada Dira, masih tersenyum. "Maaf mengganggu. Gusti Tumenggung dulu."

Dira mengangkat piring teratai dengan kedua tangan dan menyajikannya di depan Tumenggung Sasradipa. Lalu piring sulur untuk Ki Ageng. Lalu untuk Nyai Rukminiwati. Lalu untuk Ki Brajanala.

Lalu, yang terakhir, piring sulur di ujung kiri nampan, untuk Ki Wiradhana.

Ia meletakkannya di depan tetua berjanggut itu dengan kedua tangan, membungkuk dalam-dalam, lalu mundur berlutut ke belakang dengan kepala tertunduk.


Tumenggung Sasradipa yang pertama makan.

Ia mengambil sejumput nasi liwet dengan ujung jari, mencocolkannya ke sambal Lawu, dan memasukkannya ke mulut. Matanya terpejam. Lalu berair. Wajahnya memerah. Ia terbatuk dua kali, lalu tertawa.

"Masih sama," katanya. "Masih sama pedasnya dengan sambal ibuku." Ia menoleh ke Ki Ageng. "Ki Ageng, juru masakmu harus kubawa ke kadipaten."

"Juru masak kami sudah terlalu tua untuk naik kereta, Gusti," kata Ki Ageng, tersenyum tipis.

Para tetua mulai makan. Ki Ageng. Nyai Rukminiwati, pelan dan rapi. Ki Brajanala, cepat dan banyak, seperti orang yang menganggap makan adalah pekerjaan yang harus diselesaikan.

Ki Wiradhana mengangkat tangan kanannya ke piringnya.

Dira, yang berlutut tiga langkah di belakang meja dengan kepala menunduk, menatap tangan itu dari sudut matanya.

Jari-jari yang panjang dan berkuku terawat itu menyentuh tepi daun pisang. Hendak mengambil sejumput nasi.

Lalu berhenti.

Berhenti di udara, sejengkal di atas nasi liwet. Tidak bergerak. Seperti tangan orang yang tiba-tiba mendengar sesuatu.

Dira melihat apa yang dilihat Ki Wiradhana. Ia baru melihatnya sekarang, dan jantungnya tenggelam ke perutnya.

Di tepi daun pisang di piring Ki Wiradhana, di sisi yang menghadap ke dalam, ada sebuah lipatan kecil. Sangat kecil. Sudut daun yang dilipat ke bawah, seukuran kuku jari kelingking. Lipatan yang tidak ada di daun-daun lain. Lipatan yang dibuat oleh jari-jari panjang dan pucat di serambi samping, daun pisangnya miring, biar kurapikan.

Tanda. Supaya orang yang tahu, tahu piring mana yang tidak boleh disentuh siapa pun selain Tumenggung.

Ki Wiradhana menatap lipatan kecil itu.

Lalu, perlahan, sangat perlahan, ia menarik tangannya kembali ke pangkuan. Ia menoleh ke kanan, melewati Ki Brajanala, melewati Ki Ageng, ke Tumenggung Sasradipa, yang sedang mengunyah ingkung dengan wajah bahagia dan air mata sambal di sudut matanya.

Lalu ia menoleh ke belakang. Ke Dira.

Hanya sekilas. Sekejap. Mata lembut yang sayu dan penuh iba itu bertemu mata Dira, dan di dalamnya tidak ada apa-apa. Tidak ada amarah. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada pertanyaan.

Hanya pengakuan. Seperti pemain dakon yang melihat lawannya baru saja mengambil semua bijinya, dan mengangguk.

Lalu Ki Wiradhana tersenyum dan kembali menatap ke depan.

"Aduh," katanya kepada Ki Ageng, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitarnya. "Maafkan saya, Ki Ageng. Lidah saya pahit sejak masuk angin kemarin. Saya tidak bisa makan santan malam ini." Ia mendorong piringnya sedikit menjauh dengan punggung tangan. "Sayang sekali. Masakan Mbah Karta selalu enak." Ia menoleh ke belakang lagi. "Ngger. Bawa kembali ke dapur. Jangan dibuang. Berikan kepada abdi yang lapar. Sayang kalau dibuang."

Berikan kepada abdi yang lapar.

Dira maju berlutut, mengambil piring itu dengan kedua tangan, membungkuk, dan mundur.


Ia berjalan keluar lewat pintu kecil di ujung serambi dengan piring sulur-suluran di tangannya. Dua puluh langkah di antara barisan tamu. Lalu serambi yang panjang dan sepi. Lalu tangga batu di ujung serambi yang menurun ke halaman samping balairung.

Di samping tangga itu ada kolam. Kolam teratai berbatu andesit yang dibangun kakek buyut Ki Ageng, kata orang-orang. Airnya tenang dan gelap, dipenuhi daun-daun teratai yang lebar dan bunga-bunganya yang mengatup di malam hari. Ikan-ikan mas berenang pelan di dalamnya, sisik mereka berkilau sesekali ketika menangkap cahaya pelita dari serambi.

Berikan kepada abdi yang lapar.

Gendhing. Gendhing yang selalu lapar. Yang akan memakan apa saja yang dikembalikan dari meja tetua. Yang akan berebut dengan Kang Paidi dan abdi-abdi kandang untuk sepotong ingkung dari piring perunggu.

Dira menuruni tangga batu. Di anak tangga ketiga, kakinya tergelincir.

Ia tergelincir dengan sangat meyakinkan. Kaki kirinya meluncur dari tepi anak tangga, tubuhnya oleng ke samping, tangannya terlempar ke depan untuk menahan diri. Piring sulur-suluran itu terlepas dari tangannya, berputar di udara, dan isinya, nasi liwet, ingkung, urap, tempe, sambal, beserta daun pisangnya yang terlipat kecil di satu sudut, tumpah ke dalam kolam teratai.

Byur.

Piring perunggu itu jatuh ke tangga batu dengan bunyi berdentang keras.

Dira terduduk di anak tangga, memegangi lututnya, meringis.

Daun pisang itu mengapung sebentar di permukaan kolam, lalu tenggelam perlahan bersama isinya, di antara batang-batang teratai. Ikan-ikan mas berenang mendekat, penasaran, mematuk-matuk butiran nasi yang tersebar.

Dira tidak menatap ikan-ikan itu. Ia tidak bisa.

"Kau harus," kata Ki Jalak pelan. "Ini harga nyawa tumenggung itu. Dan nyawa Gendhing. Kau tidak boleh tidak menatap harganya."

Dira menatap.


Ia memungut piring perunggu itu dari tangga batu, berdiri, dan berbalik untuk kembali ke dapur.

Lalu ia berhenti.

Di ujung serambi, di dekat pintu kecil yang terbuka ke pendapa, seseorang berdiri di dalam bayangan tiang. Seseorang yang tidak kembali ke tempat duduknya setelah keluar untuk mencari udara segar, atau untuk alasan lain apa pun yang membuat seorang murid dalam meninggalkan pesta.

Beskap putih gading tanpa noda. Udeng putih bersulam benang emas. Tubuh ramping lurus seperti batang tombak. Dan di pinggangnya, warangka kayu hitam berukir sisik yang memancarkan panas seperti udara di atas tungku pandai.

Raden Bayuwisesa tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sana dan menatap Dira. Lalu menatap kolam teratai. Lalu menatap Dira lagi.

Di pendapa, ia duduk di barisan depan murid dalam. Tepat di belakang meja kehormatan. Tepat di tempat yang paling jelas untuk melihat tangan seorang abdi yang sedang menata piring.

Bayuwisesa berbalik dan masuk kembali ke pendapa tanpa sepatah kata pun.


Keesokan paginya, saat kentongan subuh berbunyi, Mbok Darsih menjerit di samping balairung.

Bukan jeritan mayat seperti di kandang kambing. Jeritan yang lebih pelan, lebih panjang, lebih bingung.

Dira, yang sedang menimba air di sumur dapur, mendengarnya. Ia meletakkan timbanya dan berjalan ke sana, bersama separuh abdi dapur yang juga mendengarnya.

Kolam teratai di samping balairung tampak seperti biasa. Daun-daun lebar. Bunga-bunga yang mulai membuka di cahaya subuh. Air yang tenang dan gelap.

Kecuali permukaannya.

Di permukaan air, di antara daun-daun teratai, mengapung puluhan ikan mas. Perut mereka yang putih menghadap ke langit. Sisik mereka yang dulu berkilau kini kusam. Diam. Semuanya diam.

Seluruhnya. Setiap ikan di kolam itu.

Ki Brajanala sudah berjongkok di tepi kolam ketika Dira tiba. Tetua bertubuh lebar itu tidak bicara. Ia mengambil seekor ikan mati dari air dengan dua jari, mengangkatnya ke depan hidungnya, dan menciumnya. Lama.

Lalu ia meletakkan ikan itu di atas batu dan menatap kolam. Menatap tangga batu di sampingnya. Menatap anak tangga ketiga. Lama.

Dira berdiri di belakang kerumunan abdi, kepala menunduk, wajahnya wajah abdi yang bingung dan mengantuk.

Lalu seseorang menyentuh bahunya dari belakang.

Ia menoleh. Seorang murid dalam yang tidak ia kenal. Muda, berwajah biasa, berbeskap putih gading.

"Abdi dapur bernama Sudira?" tanya murid itu.

"Inggih."

"Ki Wiradhana memanggilmu." Murid itu tersenyum sopan. "Ke biliknya. Sekarang. Beliau bilang beliau ingin berterima kasih atas pelayananmu semalam."