Bab 61Yang Melihat
Bilik Ki Wiradhana berbau dupa cendana dan gula aren.
Itu yang pertama kali Dira sadari ketika murid dalam itu membuka pintu kayu jati berukir dan mempersilakannya masuk. Bau yang manis dan hangat, seperti bau dapur di pagi hari ketika Mbok Darsih memasak gula aren untuk bubur. Bau yang membuat orang ingin duduk dan beristirahat.
"Hati-hati," bisik Ki Jalak. "Bau yang terlalu enak biasanya menutupi bau yang lain."
Dira melangkah masuk dan berlutut di ambang pintu, kepala tertunduk.
Bilik itu tidak besar. Lebih kecil dari yang Dira bayangkan untuk seorang tetua. Lantainya tikar pandan yang bersih. Dindingnya papan jati yang menghitam oleh usia. Di satu sisi ada rak berisi gulungan-gulungan lontar, rapi, diikat tali ijuk, berlabel aksara kecil-kecil. Di sisi lain ada sebuah peti kayu tertutup. Di sudut, sebuah anglo kecil mengepulkan asap dupa cendana yang tipis dan wangi. Dan di dinding belakang, sebuah pintu kecil yang tertutup rapat, menuju bilik dalam.
Di tengah bilik, di atas tikar pandan, duduk Ki Wiradhana.
Ia duduk bersila dengan punggung tegak, beskap hitamnya bersulam matahari, janggut panjangnya yang keperakan terurai di dada. Di depannya ada sebuah nampan kayu kecil berisi gula aren yang dipotong-potong kecil seperti dadu, cokelat keemasan dan berkilau, dan sebuah kendi tanah liat dengan dua cangkir.
Tangan kirinya masih dibalut kain hitam. Ia tidak menyembunyikannya lagi. Tangan itu terletak di atas lututnya, terang-terangan, seperti sesuatu yang tak perlu lagi disembunyikan.
"Ah, ngger." Ki Wiradhana tersenyum. Senyum yang lembut, hangat, dan penuh iba, persis seperti senyum yang ia berikan kepada Dira di hari-hari pertamanya sebagai abdi, ketika ia menepuk bahunya dan berkata kasihan, kasihan. "Masuklah. Jangan berlutut di pintu seperti itu. Duduk di sini. Di depanku."
Dira masuk dan duduk bersila di atas tikar pandan, tiga langkah di depan Ki Wiradhana, kepala tetap tertunduk.
Murid dalam yang mengantarnya menutup pintu dari luar. Bunyi kayu bertemu kayu. Lalu langkahnya menjauh.
Hanya mereka berdua.
Atau mungkin tidak.
Dira menurunkan napasnya ke bawah pusar dan mendengarkan, seperti yang diajarkan Ki Jalak. Napas Ki Wiradhana. Pelan, dalam, tenang. Napasnya sendiri. Dan dari balik pintu kecil di dinding belakang, dari bilik dalam...
Tidak ada apa-apa.
Tidak ada napas. Tidak ada gerakan. Tidak ada bunyi.
Tetapi Dira tidak bisa mendengar napas pemuda bercincin di serambi samping semalam. Ia tidak bisa mendengar langkahnya. Ia tidak bisa mendengar apa pun sampai pemuda itu berdiri lima langkah di depannya.
Tidak ada apa-apa tidak berarti tidak ada siapa-siapa.
"Bocah," bisik Ki Jalak. "Pelita itu."
Dira mengangkat matanya sedikit. Di atas rak lontar ada sebuah pelita kecil yang menyala. Apinya kecil, kuning, dan tenang.
Lalu apinya bergoyang. Pelan. Ke arah pintu kecil di dinding belakang. Seperti ditarik oleh embusan napas yang tak terdengar.
Tidak ada angin di bilik itu. Pintu tertutup. Jendela tertutup.
Api itu bergoyang sekali lagi, lalu kembali tenang.
"Kau tahu kenapa aku memanggilmu, ngger?"
"Ampun, Ki. Hamba tidak tahu."
"Untuk berterima kasih." Ki Wiradhana menuangkan air dari kendi ke dalam dua cangkir tanah liat. Gerakannya pelan dan teliti, dengan tangan kanannya saja. "Semalam kau melayani dengan sangat baik. Sangat cekatan. Sangat tenang. Gusti Tumenggung memuji pelayanan Argasuryan kepada Ki Ageng tadi pagi, sebelum sarapan. Beliau bilang abdi kami lebih sopan dari abdi di kadipaten." Ia tersenyum. "Itu pujian yang langka dari Tumenggung Sasradipa. Beliau tidak suka memuji."
"Hamba hanya menjalankan tugas, Ki."
"Ya. Ya, tentu." Ki Wiradhana meletakkan kendi itu. Ia mengambil satu cangkir dan menyeruputnya pelan. "Hanya saja, satu hal kecil."
Dira menunggu.
"Piringku," kata Ki Wiradhana. "Yang kau bawa kembali ke dapur."
"Ampun, Ki." Dira membungkuk lebih dalam, sampai dahinya hampir menyentuh tikar. "Hamba tergelincir di tangga. Anak tangga ketiga. Licin karena embun. Piringnya jatuh dan isinya tumpah ke kolam. Hamba sudah memungut piringnya. Tidak penyok. Hamba mohon ampun karena tidak bisa memberikan isinya kepada abdi yang lapar seperti perintah Ki."
"Ah, tidak apa-apa, ngger. Tidak apa-apa." Ki Wiradhana mengibaskan tangannya pelan. "Kecelakaan. Tangga itu memang licin. Sudah berkali-kali aku bilang kepada Ki Ageng supaya tangga itu dikasari." Ia menyeruput airnya lagi. "Kasihan ikan-ikannya."
Dira tidak menjawab.
"Kau sudah dengar? Semua ikan mas di kolam teratai mati pagi ini. Semuanya. Lima puluh ekor, mungkin lebih. Ikan-ikan itu dipelihara sejak zaman kakek buyut Ki Ageng. Ki Ageng sedih sekali." Ki Wiradhana menggeleng-geleng. "Mungkin santannya basi. Masakan bersantan memang cepat basi kalau dibiarkan semalaman. Mungkin itu yang membuat lidahku pahit semalam. Untung aku tidak makan."
"Inggih, Ki. Untung."
"Tapi aneh, ya." Ki Wiradhana meletakkan cangkirnya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, seperti burung yang sedang memperhatikan cacing. "Gusti Tumenggung makan dari kuali yang sama. Ki Ageng. Nyai Rukminiwati. Ki Brajanala. Mereka semua makan dari kuali yang sama, dengan sendok yang sama, disendokkan oleh tangan Mbah Karta yang sama. Dan mereka semua sehat walafiat pagi ini. Gusti Tumenggung bahkan minta tambah ingkung untuk sarapan."
Hening.
"Hanya piringku," kata Ki Wiradhana pelan, "yang membunuh lima puluh ekor ikan."
Dira tidak mengangkat wajahnya.
Ia menatap tikar pandan di depannya. Anyaman yang rapat dan rapi, warna kuning gading, sedikit mengilat oleh minyak kaki yang menginjaknya bertahun-tahun. Ia menghitung anyamannya. Satu, dua, tiga. Seperti kebiasaannya setiap kali takut.
"Jangan menjawab," bisik Ki Jalak. "Dia tidak bertanya. Dia sedang memasang jerat. Jangan masukkan kakimu."
"Kau tahu warangan, ngger?" tanya Ki Wiradhana.
Itu pertanyaan. Pertanyaan yang lembut, ramah, sambil lalu, seperti orang bertanya kau tahu jalan ke pasar?
"Warangan, Ki?" Dira mengerutkan kening, berpura-pura berpikir. "Ampun, Ki. Itu bumbu, Ki? Hamba tidak pernah dengar Mbok Darsih memakai bumbu itu."
Ki Wiradhana tertawa. Tawa yang tulus, geli, hangat, seperti kakek yang mendengar cucunya mengatakan sesuatu yang polos dan lucu.
"Bukan bumbu, ngger. Bukan bumbu." Ia menyeka sudut matanya. "Warangan itu batu. Dipakai para empu untuk memandikan keris. Supaya pamornya muncul. Baunya seperti bawang putih busuk." Ia diam sebentar. "Sangat beracun. Sejumput bisa membunuh kerbau. Atau lima puluh ekor ikan."
"Hamba tidak tahu, Ki."
"Tentu saja tidak. Kau abdi dapur. Abdi dapur tidak tahu soal jamasan keris." Ki Wiradhana mengangguk. "Abdi dapur tidak tahu soal pusaka sama sekali, bukan? Abdi dapur yang tak dipilih pusaka mana pun di altar. Yang tak tersentuh cahaya fajar."
Dira diam.
"Abdi dapur seperti itu," lanjut Ki Wiradhana dengan suara lembut, "tidak bisa mencium bau warangan di antara bau santan dan sambal. Tidak bisa. Hidung manusia biasa tidak bisa. Bahkan hidungku tidak bisa, kalau aku tidak tahu apa yang kucari." Ia mengambil sepotong gula aren dari nampan dan menatapnya, memutarnya di antara jari-jarinya yang panjang. "Hanya hidung yang sangat tajam. Hidung yang sudah ditempa. Atau hidung yang dibantu sesuatu yang pernah dimandikan warangan setiap tahun selama ratusan warsa."
Darah di dalam tubuh Dira membeku.
Di Balai Sukma, Ki Jalak tidak bergerak sama sekali.
Ki Wiradhana tidak menatap Dira ketika mengatakannya. Ia menatap gula aren di jarinya, seperti sedang berbicara tentang cuaca, tentang panen, tentang hal-hal biasa yang tak berarti apa-apa.
"Tapi itu dongeng, tentu saja," katanya, dan meletakkan gula aren itu kembali ke nampan. "Dongeng orang tua. Aku terlalu banyak membaca lontar. Lontar-lontar tua penuh dongeng." Ia tersenyum. "Pusaka yang hidup. Pusaka yang bicara. Pusaka yang bisa ditelan."
Lama tak ada yang berbicara.
Asap dupa cendana membubung pelan dari anglo di sudut. Pelita di atas rak lontar menyala tenang. Dari luar bilik, jauh, terdengar suara-suara samar: kuda-kuda kadipaten yang meringkik di kandang, para abdi yang bercakap-cakap, burung-burung pagi yang berkicau di pohon beringin.
"Kau tahu, ngger," kata Ki Wiradhana akhirnya, "aku sudah lama memperhatikanmu."
Dira tidak menjawab.
"Sejak kau masih bayi. Sejak Nyai Rukminiwati membawamu dari tepi hutan di bawah hujan, terbungkus kain, dengan sesuatu di lehermu." Ia tersenyum lembut. "Aku yang memberimu jatah susu kambing pertama, kau tahu? Waktu Nyai tidak bisa menyusuimu. Aku yang menyuruh abdi kandang memerah kambing setiap pagi untukmu. Kambing betina berbulu hitam. Induknya kambing yang sekarang suka menggigit orang itu."
Dira tidak tahu itu. Ia tidak pernah tahu itu.
"Aku memperhatikanmu tumbuh," lanjut Ki Wiradhana. "Bocah kurus yang selalu menunduk. Yang tak pernah mengeluh. Yang selalu menghitung. Aku tahu kau selalu menghitung, ngger. Matamu bergerak seperti orang menghitung. Seperti sekarang." Ia terkekeh. "Kau sedang menghitung anyaman tikar ini, bukan?"
Mata Dira berhenti bergerak.
"Lalu tiba-tiba," Ki Wiradhana mengangkat satu jari tangan kanannya, "kau bertahan dari demam yang seharusnya membunuhmu. Tiga malam." Jari kedua. "Kau lolos dari Celeng Wesi di pinggir Hutan Larangan, yang sudah membunuh tiga pencari kayu dewasa." Jari ketiga. "Kau menangkap tiga panci sekaligus dengan satu tangan." Jari keempat. "Kau hilang semalam di Hutan Larangan, dan kembali dengan kaki terkilir, padahal Gandawasa, aku tahu, ngger, aku tahu, tidak pernah melihatmu lari ke hutan." Jari kelima. "Sutarga mencuri kendi yang salah. Joyokusumo dikejar bandar dadu yang tiba-tiba berani naik gunung. Gandawasa berhenti meminum arak dan berhenti menamparmu." Ia membuka telapak tangannya. "Dan semalam, piringku membunuh lima puluh ekor ikan, sementara piring Gusti Tumenggung tidak."
Ia menurunkan tangannya ke lutut.
"Banyak sekali kebetulan di sekitarmu, ngger," katanya lembut. "Banyak sekali."
"Dia menghitung," bisik Ki Jalak, suaranya nyaris tak terdengar. "Bocah. Dia juga menghitung. Sama sepertimu. Selama ini."
Dira mengangkat wajahnya.
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke bilik itu, ia menatap Ki Wiradhana langsung. Mata yang lembut, sayu, penuh iba. Janggut panjang yang keperakan. Senyum yang ramah. Wajah kakek yang baik hati, yang memberinya gula aren ketika ia kecil, yang menepuk bahunya ketika ia dicambuk, yang menyuruh abdi kandang memerah susu kambing untuk bayi yang ditemukan di bawah hujan.
Dan di balik semua itu, sesuatu yang lain. Sesuatu yang dingin dan sabar dan sangat, sangat tua. Seperti ular yang berjemur di atas batu, matanya setengah terpejam, menunggu tikus lewat.
"Hamba tidak mengerti, Ki," kata Dira.
Suaranya keluar tenang. Lebih tenang dari yang ia duga. Tenang seperti air di dasar sumur.
Ki Wiradhana menatapnya lama.
Lalu ia tersenyum lebih lebar. Senyum yang sungguhan, senang, seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat ia sukai.
"Tidak," katanya. "Tentu saja tidak."
Ia mengambil sepotong gula aren dari nampan. Bukan yang tadi ia putar-putar di jarinya. Potongan yang lain, dari tengah tumpukan, cokelat keemasan dan berkilau, seukuran dadu.
Ia mengulurkannya kepada Dira dengan tangan kanannya. Telapak tangannya terbuka, gula aren itu di tengahnya, seperti kakek yang menawarkan permen kepada cucunya.
Persis seperti dulu, bertahun-tahun lalu, ketika Dira masih bocah dan Ki Wiradhana membagikan gula aren kepada anak-anak abdi di halaman belakang.
"Makanlah, ngger," katanya lembut. "Sebagai tanda terima kasihku. Untuk pelayananmu semalam."
Dira menatap gula aren di telapak tangan itu.
Cokelat keemasan. Berkilau. Harum. Bau gula aren yang manis dan hangat, bercampur dengan bau dupa cendana dari anglo di sudut, bercampur dengan bau bilik ini, bau lontar tua dan kayu jati dan minyak rambut.
Di Balai Sukma, Ki Jalak menahan napas yang bukan napas.
"Bocah," bisiknya. "Aku tidak bisa menciumnya dengan jelas. Dupa itu terlalu kuat. Gula aren itu terlalu manis. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah..."
Ki Wiradhana menunggu. Tangannya tidak bergerak. Senyumnya tidak berubah.
Di atas rak lontar, pelita kecil itu bergoyang lagi. Pelan. Ke arah pintu kecil di dinding belakang.
Dira mengulurkan tangannya dan mengambil gula aren itu dari telapak tangan Ki Wiradhana.