Bab 62Senyum Tetua
Gula aren itu terasa hangat di telapak tangan Dira. Hangat dari tangan Ki Wiradhana.
Ia menatapnya. Sepotong kecil, seukuran dadu, cokelat keemasan, sedikit lengket di permukaannya. Gula aren biasa. Gula aren yang sama yang dibagikan Ki Wiradhana kepada anak-anak abdi di halaman belakang setiap kali pulang dari pasar. Gula aren yang dulu membuat Dira kecil berlari secepat-cepatnya supaya tidak kehabisan.
"Bocah," bisik Ki Jalak. "Jangan."
Dia tidak akan meracuniku di sini.
"Kau tidak tahu itu."
Aku tahu. Dira memutar gula aren itu pelan di antara jari-jarinya, seperti tadi Ki Wiradhana memutar potongan yang lain. Semalam ikan-ikan di kolamnya mati. Pagi ini Ki Brajanala mencium bangkai ikan di tepi kolam itu. Seisi padepokan tahu aku dipanggil ke bilik ini. Murid dalam yang mengantarku tahu. Kalau aku mati sore ini, siapa yang ditanya pertama kali?
Ki Jalak diam.
Dan dia bilang belum, lanjut Dira. Lewat mulut Joyokusumo. Jangan sampai mati. Belum. Dia butuh aku hidup. Untuk sesuatu. Aku tidak tahu untuk apa. Tapi dia butuh aku hidup.
"Itu tebakan."
Semua yang kulakukan sejak menelanmu adalah tebakan.
Dira memasukkan gula aren itu ke mulutnya.
Manis. Sangat manis. Manis yang lembut dan berat, sedikit gosong di ujungnya, seperti gula aren yang dimasak terlalu lama di atas api kecil. Gula itu meleleh pelan di lidahnya, dan untuk sesaat, sangat singkat, Dira kembali menjadi bocah tujuh warsa yang berlari di halaman belakang dengan gula aren di mulut dan Wulansari berlari di belakangnya, berteriak minta dibagi.
Ia menelannya.
Di Balai Sukma, Ki Jalak menunggu. Dira juga menunggu. Menunggu rasa terbakar di perut. Menunggu dingin yang merayap. Menunggu dunia mulai berputar.
Tidak ada apa-apa.
Hanya manis. Hanya sisa rasa gula aren yang gosong di pangkal lidahnya.
Ki Wiradhana menatapnya, dan senyumnya melebar perlahan, seperti bunga yang mekar.
"Enak?" tanyanya.
"Enak, Ki."
"Gula aren dari desa di lereng selatan. Desa orang tua Joyokusumo, kebetulan. Dimasak di atas tungku kayu nangka. Itu rahasianya." Ki Wiradhana mengambil sepotong untuk dirinya sendiri dan memakannya, mengunyah pelan dengan mata setengah terpejam. "Kau tahu kenapa kau memakannya, ngger?"
"Karena enak, Ki."
Ki Wiradhana tertawa. Tawa yang sungguhan, lepas, seperti orang yang mendengar lelucon bagus di warung.
"Bukan," katanya. "Kau memakannya karena kau tahu aku belum ingin kau mati." Ia menyeka sudut matanya dengan punggung tangan kanannya. "Dan kau benar. Aduh, kau benar. Itu yang membuatku suka padamu."
Ia menuangkan air dari kendi ke dalam cangkir kedua dan menyodorkannya kepada Dira. Kali ini Dira tidak ragu. Ia minum. Air sumur biasa, dingin dan sedikit berbau tanah liat.
"Aku mau cerita, ngger," kata Ki Wiradhana. "Dongeng. Kau suka dongeng?"
"Hamba suka, Ki."
"Bagus. Semua orang suka dongeng." Ki Wiradhana bersandar sedikit, kedua tangannya, yang kanan telanjang dan yang kiri terbalut kain hitam, terletak di atas lututnya. "Dongeng tentang kancil."
Dira menunggu.
"Kau tahu dongeng kancil, tentu saja. Semua anak di Jawa tahu. Kancil yang pintar. Kancil yang menipu buaya supaya berbaris di sungai, lalu meloncat di atas punggung mereka untuk menyeberang. Kancil yang menipu harimau supaya memukul sarang lebah. Kancil yang menipu Pak Tani dan mencuri ketimunnya." Ki Wiradhana tersenyum. "Kancil yang selalu menang. Karena dia lebih pintar dari semua binatang di hutan."
"Inggih, Ki."
"Tapi ada satu dongeng kancil yang jarang diceritakan kepada anak-anak." Suara Ki Wiradhana merendah. "Dongeng tentang kancil yang terakhir."
Dira diam.
"Suatu hari, Pak Tani lelah ketimunnya dicuri terus. Ia tidak memasang jerat. Kancil terlalu pintar untuk jerat. Kancil sudah menipu seribu jerat." Ki Wiradhana mengangkat satu jarinya. "Jadi Pak Tani melakukan hal lain. Ia membuat orang-orangan sawah dari jerami. Lalu ia melumuri orang-orangan itu dengan getah nangka. Getah yang lengket sekali. Lalu ia pulang dan tidur."
"Kancil datang ke kebun malam itu, seperti biasa. Ia melihat orang-orangan sawah. Ia tertawa. Orang-orangan sawah? Aku sudah menipu buaya dan harimau. Aku tidak takut pada orang-orangan dari jerami. Lalu, karena ia kancil, karena ia pintar, karena ia selalu menang, ia ingin menunjukkan betapa tidak takutnya ia." Ki Wiradhana tersenyum. "Ia menendang orang-orangan sawah itu."
Hening.
"Kakinya lengket. Ia menendang dengan kaki yang lain. Lengket juga. Ia mendorong dengan tangannya. Lengket. Ia menanduk dengan kepalanya. Lengket. Lalu ia tergantung di sana, di orang-orangan sawah yang berlumur getah nangka, sampai pagi. Sampai Pak Tani datang dengan karung." Ki Wiradhana mengambil sepotong gula aren lagi. "Kancil tidak mati karena bodoh, ngger. Kancil tidak pernah bodoh. Kancil mati karena dia merasa pintar. Karena dia sudah menang terlalu banyak kali, sehingga dia lupa bahwa ada orang lain di dunia ini yang juga bisa menghitung."
Ia memakan gula arennya.
"Dongeng yang bagus, bukan?"
"Bagus, Ki."
"Aku menyukaimu, ngger." Ki Wiradhana menatapnya dengan mata yang lembut, sayu, penuh iba. "Sungguh. Aku tidak berbohong soal itu. Aku sangat menyukaimu. Sejak kau masih bayi yang menangis minta susu kambing. Itulah sebabnya aku ingin kau hidup sangat lama." Ia tersenyum. "Selama yang dibutuhkan."
Dira tidak ingat bagaimana ia keluar dari bilik itu.
Ia ingat membungkuk. Ia ingat mengucapkan terima kasih atas gula arennya. Ia ingat Ki Wiradhana melambaikan tangan kanannya dengan ramah, pergilah, ngger, pergilah, dapur pasti membutuhkanmu. Ia ingat pintu kayu jati berukir itu menutup di belakangnya dengan bunyi kayu bertemu kayu.
Lalu ia berada di belakang gudang rongsokan. Sendirian. Berlutut di atas rumput, kedua tangannya mencengkeram tanah, tubuhnya gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Ia tidak tahu sejak kapan ia gemetar. Mungkin sejak di dalam bilik itu, tetapi tubuhnya menahannya sampai ia keluar. Seperti waktu di lumbung, ketika ia baru membiarkan lututnya gemetar setelah sampai di depan tungku ketujuh.
"Bernapas," kata Ki Jalak. "Bocah. Bernapas. Turun ke perut."
Dira bernapas. Turun ke perut. Berputar sekali. Tersendat. Berputar lagi.
"Gula itu bersih," kata Ki Jalak. "Aku sudah memeriksanya. Seluruh perutmu. Tidak ada apa-apa. Hanya gula. Hanya gula aren yang dimasak terlalu lama."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kau gemetar?"
Dira mengangkat wajahnya. Di depannya, gudang rongsokan berdiri bisu, dindingnya bambu yang menghitam, pintunya tertutup gembok perunggu yang anak kuncinya dulu diberikan Ki Wiradhana kepadanya. Bersihkan sampai tuntas. Dengan senyum yang sama. Dengan tepukan bahu yang sama.
"Karena dia baik," bisik Dira.
Ki Jalak tidak mengerti.
"Gandawasa menamparku," kata Dira. "Sutarga memfitnahku. Joyokusumo menyembunyikan tulang ingkung di bawah tikarku. Gajahsora menendang Wulan. Mereka semua jahat, dan aku tahu mereka jahat, dan mereka tahu aku tahu. Itu..." Ia mencari kata yang tepat. "Itu mudah. Seperti babi hutan. Kau tahu taringnya di mana."
Ia menatap tangannya sendiri. Tangan yang tadi mengambil gula aren dari telapak tangan Ki Wiradhana.
"Dia memberiku susu kambing waktu aku bayi. Dia memberiku gula aren waktu aku kecil. Dia menepuk bahuku. Dia memanggilku ngger. Dia bilang dia menyukaiku. Dan aku percaya dia tidak berbohong." Suara Dira pecah. "Ki Jalak, aku percaya dia menyukaiku. Sama seperti petani menyukai kerbaunya. Dirawat. Diberi makan. Dimandikan. Dielus-elus. Sampai hari kerbau itu disembelih untuk selamatan."
Ki Jalak diam lama.
"Bayuwisesa," katanya akhirnya. "Bocah sombong itu. Wajahnya dingin. Suaranya seperti air sumur di subuh hari. Dia menghinamu di depan adikmu."
"Tapi dia tidak kejam."
"Dan orang tua itu. Wajahnya hangat. Senyumnya seperti kakek. Dia memanggilmu ngger dan memberimu gula."
"Dan dia..." Dira tidak bisa menyelesaikannya.
"Ada dua macam wajah, bocah," kata Ki Jalak pelan. "Seperti ada dua macam kesombongan. Wajah yang dingin di luar dan hangat di dalam. Dan wajah yang hangat di luar dan..."
Ia tidak menyelesaikannya juga.
Mereka duduk di sana, keris tua dan bocah abdi, di belakang gudang rongsokan, di bawah matahari pagi yang mulai terik, lama sekali.
Rombongan Kadipaten Karanganom pulang tengah hari itu.
Ki Ageng ingin tamunya dilepas dengan hormat, seperti ia disambut. Semua abdi disuruh berbaris lagi di sepanjang jalan batu dari balairung ke gerbang depan. Dira berdiri di antara mereka, di antara Gendhis dan Gendhing, kepala menunduk.
Para pengawal berkuda lewat. Para pemikul lewat, kini dengan peti-peti kosong. Kerbau bule itu tidak ikut pulang. Ia ditambatkan di kandang padepokan, mengunyah rumput dengan tenang di samping kambing bermata jahat, yang menatapnya dengan curiga.
Lalu kereta beratap kain itu, ditarik dua ekor kuda putih, berhenti sebentar di tengah jalan batu.
Tirainya tersibak. Tumenggung Sasradipa menjulurkan kepalanya yang beruban dan menatap barisan abdi. Matanya yang kecil dan tajam menyapu wajah-wajah mereka satu per satu. Lalu berhenti.
"Kau," katanya. "Abdi yang memberiku air. Kemari, ngger."
Seluruh barisan abdi menoleh ke Dira. Dira melangkah keluar dari barisan, berjalan ke samping kereta, dan berlutut di jalan batu.
Tumenggung Sasradipa menatapnya dari jendela kereta. Lalu ia berkata, dengan suara keras yang bisa didengar para abdi di sekitarnya:
"Terima kasih atas pelayananmu, ngger. Sambal juru masakmu yang terbaik yang pernah kumakan sejak ibuku meninggal. Sampaikan kepadanya."
"Inggih, Gusti."
Lalu Tumenggung membungkuk sedikit ke luar jendela, seperti hendak memberikan sesuatu, dan suaranya merendah. Begitu rendah sehingga hanya telinga Raga Puncak yang bisa menangkapnya, di antara derap kaki kuda dan derak roda kereta.
"Ikan di kolam teratai," bisiknya. "Sudah tiga kali orang mencoba meracuniku dalam hidupku, ngger. Aku tahu bau ikan yang mati karena warangan."
Dira tidak mengangkat wajahnya.
"Dan semalam," lanjut Tumenggung, sangat pelan, "waktu kau masuk ke pendapa membawa piringku, ada lipatan kecil di sudut daun pisangnya. Mataku tua, tapi masih bisa melihat lipatan daun. Waktu piring itu sampai di depanku, lipatannya tidak ada."
Ia menyelipkan sesuatu ke tangan Dira yang terulur, dengan gerak orang yang memberikan sekeping uang tembaga sebagai tanda terima kasih kepada abdi yang melayaninya. Benda itu kecil, dingin, dan berat. Bundar seperti kepeng, tetapi lebih tebal. Perunggu.
"Aku tidak tahu siapa yang menaruhnya," bisik Tumenggung. "Dan aku tidak akan bertanya siapa yang memindahkannya. Orang tua sepertiku sudah belajar bahwa ada pertanyaan yang lebih aman tidak ditanyakan di rumah orang lain." Ia menegakkan badan. "Tapi kalau suatu hari kau turun gunung, ngger, dan kau butuh pertolongan, tunjukkan itu kepada prajurit Karanganom mana pun. Mereka akan membawamu kepadaku."
Lalu, dengan suara keras lagi, untuk didengar semua orang:
"Untuk beli gula aren, ngger. Kau kelihatan suka gula aren."
Tirai kereta itu tertutup. Kereta itu bergerak lagi, berderak di atas jalan batu, keluar dari gerbang depan, dan menghilang di tikungan jalan setapak yang menurun ke desa bawah.
Dira berdiri. Ia membuka telapak tangannya sedikit, hanya sedikit, cukup untuk melihat.
Sekeping perunggu tebal seukuran kepeng. Di satu sisinya terukir bunga teratai yang mekar, dikelilingi aksara kecil yang menyebut nama Kadipaten Karanganom. Di sisi lain, tergores dengan ujung pisau, sangat halus, satu kata yang tidak terukir dengan rapi, seperti baru saja digoreskan pagi ini di dalam kereta:
Sasradipa.
Di ujung barisan, dekat gerbang depan, Ki Wiradhana berdiri bersama para tetua lain, melepas kepergian tamu dengan senyum lembut dan lambaian tangan kanan.
Ia tidak menoleh ke Dira. Tidak sekali pun.
Tetapi ketika barisan abdi bubar dan Dira berjalan kembali ke dapur, seseorang berjalan melewatinya dari arah berlawanan. Langkahnya ringan dan nyaris tanpa suara di atas jalan batu. Beskap putih gading tanpa noda. Udeng putih bersulam emas. Panas Nagageni yang bergetar di udara di sekitar pinggangnya.
Bayuwisesa tidak berhenti. Ia tidak menoleh. Ia hanya berbicara ketika mereka berpapasan, pelan, ke udara di depannya, seperti orang yang bergumam kepada dirinya sendiri.
"Anak tangga ketiga tidak licin," katanya. "Aku sudah memeriksanya. Pagi ini. Kering."
Lalu ia melewati Dira dan terus berjalan, dan tidak menoleh lagi.
Malam itu, ketika dapur sudah sunyi dan barak sudah tidur, Dira duduk di depan tungku ketujuh dengan keping perunggu di telapak tangannya.
Ia menatapnya lama dalam cahaya bara. Bunga teratai. Nama kadipaten. Dan satu kata yang tergores dengan ujung pisau.
"Tiga orang," kata Ki Jalak pelan. "Tiga orang yang tahu. Orang tua berjanggut itu. Tumenggung. Bocah sombong. Dalam satu malam."
"Empat," kata Dira. "Mbah Karta."
"Mbah Karta tahu sebelum kau tahu."
"Lima. Ki Brajanala mencium bangkai ikan."
Ki Jalak diam.
"Ki Jalak," kata Dira. "Aku mulai lelah menjadi abdi yang membosankan."
"Aku tahu." Jeda. "Tapi bocah, sekarang lebih penting dari sebelumnya. Orang tua itu sudah tahu kau bukan abdi biasa. Dia tidak akan menunggu lebih lama. Dia akan..."
Langkah kaki.
Di ambang pintu belakang dapur, seorang murid dalam muncul dari kegelapan. Muda, berwajah biasa, berbeskap putih gading. Murid yang sama yang pagi tadi memanggilnya ke bilik Ki Wiradhana.
"Sudira," katanya.
Dira menyelipkan keping perunggu itu ke balik kain di dadanya, di samping lontar Wulansari dan secarik kain hitam dari Hutan Larangan, lalu berdiri.
"Pesan dari Ki Wiradhana," kata murid itu, membaca dari selembar lontar kecil. "Besok subuh, sebelum kentongan pertama, menghadap beliau di gerbang barat. Bawa bekal untuk tiga hari. Ki Wiradhana punya tugas khusus untukmu." Ia menggulung lontarnya. "Tugas kehormatan, kata beliau. Karena kau abdi yang paling beruntung di seluruh padepokan."
Ia berbalik dan pergi.
Dira berdiri di depan tungku ketujuh dalam cahaya bara yang merah.
"Gerbang barat," bisik Ki Jalak.
Dira tidak perlu menjawab. Mereka berdua tahu.
Di padepokan ini, gerbang barat hanya menuju ke satu tempat.