Bab 70Gua Wijayakusuma
"Mundur," bisik Dira. "Pelan."
Satyaki tidak membantah. Ia mundur selangkah, bersandar pada Kyai Pring Kuning, matanya tidak lepas dari celah gelap di kaki tebing hitam. Dira mundur bersamanya. Satu langkah. Dua. Tiga. Telapak depan saja. Berat badan tak pernah tinggal di satu tempat.
Empat mata di dalam gelap itu tidak berkedip.
Lalu sesuatu bergerak keluar dari celah.
Mula-mula hanya bayangan. Lalu cahaya matahari sore yang miring menyentuhnya, dan bayangan itu menjadi sisik. Sisik-sisik besar, masing-masing selebar telapak tangan, hitam kehijauan seperti lumut di dasar kali, dengan pola belah ketupat berwarna kuning keemasan yang berkilau seperti sulaman benang emas. Sisik-sisik itu bergerak, mengalir, menggeser satu sama lain dengan bunyi lirih seperti pasir yang dituang pelan ke atas tikar.
Badannya sebesar batang pinang. Tidak, lebih besar. Sebesar paha orang dewasa. Dan ia terus keluar, terus mengalir dari dalam celah, berdepa-depa, melingkar di atas batu-batu di kaki tebing, sampai Dira berhenti menghitung panjangnya.
Lalu kepalanya muncul.
Dua kepala.
Keduanya tumbuh dari satu leher yang tebal, bercabang seperti dahan pohon yang terbelah dua, masing-masing sebesar kepala kerbau muda. Pipih. Lebar. Dengan sisik-sisik di atas mata yang menonjol seperti alis yang marah. Mata kuning kehijauan dengan pupil tegak seperti celah, seperti mata kambing bermata jahat, hanya saja jauh lebih tua dan jauh lebih dingin. Lidah-lidah bercabang, hitam, menjulur keluar dan masuk, keluar dan masuk, merasakan udara.
Kepala kanan menatap mereka. Lurus. Tak berkedip.
Kepala kiri tidak.
Kepala kiri terkulai sedikit di atas lingkaran tubuhnya, matanya setengah terpejam, lidahnya menjulur lebih lambat. Seperti orang yang mengantuk di pos jaga.
Dira tidak bernapas.
"Ular," bisik Ki Jalak. Suaranya kecil sekali. "Ular berkepala dua."
Aku lihat.
"Bocah, aku tidak tahu ada ular sebesar itu di dunia. Atau aku tahu, dan lupa. Aku lebih suka lupa."
Kepala kanan menjulurkan lidahnya ke arah mereka. Lama. Merasakan. Lalu kepala itu berdesis, desis panjang dan rendah seperti uap yang keluar dari kuali tertutup, dan bergerak maju sejengkal.
Dira dan Satyaki mundur sejengkal.
Kepala itu berhenti. Menatap. Lalu, perlahan, seperti tali yang ditarik, seluruh tubuh raksasa itu mulai bergerak mundur. Mengalir kembali ke dalam celah. Berdepa-depa sisik hitam kehijauan berpola keemasan menghilang ke dalam gelap, sampai yang tersisa hanyalah dua kepala di mulut celah, empat mata yang berkilat, dan lidah-lidah bercabang yang terus keluar masuk.
Lalu dua kepala itu juga mundur ke dalam gelap.
Dan empat mata itu berkilat di sana, diam, menunggu.
"Dia tidak mengejar," bisik Satyaki ketika mereka sudah berada lima puluh langkah dari tebing, di balik sebatang pohon tumbang yang berlumut.
"Dia penjaga." Dira mengintip dari balik batang pohon itu. Mulut celah masih terlihat dari sini, gelap, sempit, di antara dua bongkah batu besar. "Penjaga tidak mengejar. Penjaga menunggu di pintu."
"Seperti penjaga gerbang padepokan."
"Seperti Gandawasa di depan gudang beras."
Satyaki menatapnya. "Kau baru saja menyamakan ular berkepala dua sebesar kerbau dengan Gandawasa?"
"Gandawasa juga menunggu di depan pintu. Dan kalau kau lewat tanpa izin, dia juga mendesis."
Satyaki menahan tawa sampai bahu kirinya yang terbebat sakit. Ia memegangi dadanya dan meringis.
"Itu," kata Ki Jalak, "adalah perbandingan yang tidak adil bagi ular itu."
Dira tidak tertawa. Ia mengintip lagi ke arah celah, matanya menyipit.
"Kau lihat kepala kirinya?"
"Yang mengantuk?"
"Ya." Dira diam sebentar. "Kenapa ular penjaga mengantuk?"
Satyaki mengerutkan kening. Lalu matanya melebar sedikit, karena ia mengerti.
"Karena dia tidak bisa tidur dua-duanya," katanya pelan. "Kalau dua-duanya tidur, tak ada yang menjaga. Jadi..."
"Jadi mereka bergantian."
Mereka menunggu sampai matahari tenggelam.
Dira tidak bisa duduk diam, tentu saja. Gema ketiga tidak peduli pada ular raksasa. Tetapi ia menemukan cara untuk menggunakan kegelisahan itu. Ia tidak lagi berdiri dan duduk tanpa tujuan. Ia berdiri, mengintip ke arah celah dari balik batang pohon tumbang, menghitung, lalu duduk lagi. Berdiri, mengintip, menghitung, duduk. Seratus kali. Dua ratus kali.
Dan ia menghitung napas. Bukan napasnya sendiri. Napas ular itu.
Dari jarak lima puluh langkah, dengan telinga Raga Puncak dan kulit yang kini bisa merasakan aliran udara paling halus, ia bisa mendengarnya. Desis pelan yang keluar masuk dari celah gelap itu. Dua desis. Dua irama. Satu cepat dan tegas, seperti napas orang yang berjaga. Satu lambat dan dalam, seperti napas orang yang tidur.
Ia menghitung.
Tiga ratus tarikan napas yang cepat. Lalu, sejenak, irama itu berubah. Desis yang cepat melambat. Desis yang lambat menjadi lebih cepat. Lalu keduanya bertukar. Yang tadinya berjaga mulai tidur. Yang tadinya tidur mulai berjaga.
Di saat pertukaran itu, ada jeda. Sangat singkat. Kira-kira sepanjang sepuluh tarikan napas manusia. Kedua desis itu sama-sama lambat. Sama-sama setengah tidur. Seperti dua penjaga gerbang yang bertukar tempat di tengah malam, dan untuk sesaat keduanya menguap bersamaan.
Ia menghitung lagi untuk memastikan. Tiga ratus tarikan napas. Pertukaran. Jeda sepuluh napas. Tiga ratus lagi. Pertukaran. Jeda sepuluh napas.
Selalu sama.
"Kau menghitung napas ular," kata Ki Jalak, dengan nada yang setengah takjub dan setengah ngeri. "Bocah, kau tahu itu tidak normal, kan?"
Gandawasa tidur pulas setelah tiga cawan arak. Sutarga mencuri kendi setiap tiga malam. Ular ini bertukar jaga setiap tiga ratus napas. Dira berdiri lagi, mengintip lagi, menghitung lagi. Semua yang bernapas punya kebiasaan.
"Dan orang yang menghitung tak pernah benar-benar kalah," gumam Ki Jalak. "Cuma belum menang. Aku tahu. Juru masak itu yang bilang. Aku masih kesal padanya."
Satyaki tertidur menjelang bulan terbit, bersandar ke batang pohon tumbang dengan Kyai Pring Kuning di pangkuannya. Napasnya masih tersendat di dada, tetapi teratur. Tanpa desis. Dira menyelimutinya dengan sisa jarik dan menaburkan sedikit garam hutan di sekeliling tempatnya tidur, karena ia ingat Mbah Karta pernah bilang garam mengusir ular, dan ia tidak tahu apakah itu benar, tetapi tidak ada salahnya mencoba.
Lalu ia berdiri dan menatap celah gelap di kaki tebing hitam.
Bulan naik dari balik pepohonan di timur. Tidak lagi purnama. Sedikit kempis di satu sisi, seperti kue yang digigit. Cahayanya yang pucat keperakan menyiram tebing hitam, dan tebing itu berkilau seperti air yang membeku.
Dari dalam celah, bau bunga itu makin kuat.
Manis. Berat. Melati di tengah malam. Kenanga yang direndam madu. Bau yang membuat kepala ringan dan langkah melambat, bau yang membuat orang ingin berbaring di atas lumut dan tidur dan tidak bangun lagi.
Dan di bawahnya, samar, dingin. Abu dupa yang dibakar di tempat yang tak pernah kena matahari.
"Bocah," kata Ki Jalak. "Kau benar-benar mau masuk?"
Aku hanya mau melihat.
"Itu yang dikatakan semua orang sebelum dimakan ular."
Tiga ratus napas. Lalu jeda sepuluh napas. Dira menurunkan napasnya ke bawah pusar dan memutarnya sekali. Aku masuk di jeda. Aku melihat. Aku keluar di jeda berikutnya.
"Itu enam ratus napas di dalam gua bersama ular raksasa yang salah satu kepalanya selalu bangun."
Ya.
Ki Jalak diam lama.
"Burung sriti di dahanku," katanya akhirnya, "barusan bangun. Dan dia gelisah. Bukan gelisah biasa. Gelisah seperti... seperti dia mencium sesuatu di dalam gua itu."
Dira merasakannya juga. Di tengah telapak tangan kanannya, di garis tipis putih keperakan itu, ada getaran halus. Seperti sayap kecil yang mengepak di balik kulit.
Ia mengangkat tangan kanannya ke arah celah gelap.
Aliran udara. Dingin. Mengalir keluar dari celah, pelan, seperti napas. Tetapi bukan hanya keluar. Di bagian atas celah, dekat langit-langitnya, ada aliran lain. Lebih tipis. Mengalir masuk. Dan aliran itu tidak berhenti di dalam gua. Aliran itu terus mengalir, masuk, makin dalam, lalu naik.
Naik. Ke atas. Ke dalam tebing.
"Ada lubang lain," bisik Ki Jalak. "Di atas. Di dalam tebing. Gua itu punya dua mulut."
Di jeda pertukaran berikutnya, Dira masuk.
Ia menyelinap ke dalam celah di antara dua bongkah batu besar, telapak depan saja, menempel ke dinding sebelah kiri, napas diendapkan di bawah pusar seperti batu di dasar kolam. Gelap. Lalu, setelah beberapa langkah, tidak terlalu gelap. Ada cahaya di depan. Samar. Keperakan.
Lorong itu sempit dan berkelok, dindingnya batu hitam yang sama dengan tebing di luar, licin dan dingin di bawah telapak tangannya. Lantainya basah. Di beberapa tempat ada genangan air yang dangkal, dan Dira melangkahinya dengan sangat hati-hati supaya tak ada percikan.
Di belokan ketiga, lorong itu terbuka.
Ruangan. Bundar, luas, setinggi balairung, langit-langitnya hilang dalam gelap. Tetapi di tengah langit-langit itu ada lubang. Celah sempit di batu hitam, jauh di atas, dan dari celah itu cahaya bulan jatuh ke bawah dalam satu berkas lurus yang pucat, seperti tombak perak yang ditancapkan ke lantai gua.
Di bawah berkas cahaya itu ada kolam.
Air hitam yang tenang dan diam, permukaannya rata seperti cermin perunggu yang digosok. Memantulkan berkas cahaya bulan. Memantulkan langit-langit gua. Memantulkan apa pun yang ada di atasnya.
Air yang diam menyimpan bayangan.
Dira menempelkan punggungnya ke dinding gua dan tidak menunduk ke arah kolam itu.
Di tengah kolam, menjulang dari air hitam, ada sebongkah batu. Datar di atasnya, seperti meja. Seperti batu sesaji di antara akar beringin tua.
Dan di atas batu itu tumbuh sesuatu.
Tumbuhan. Bukan pohon, bukan semak. Batang-batang hijau yang pipih dan panjang, seperti daun-daun yang tumbuh dari daun-daun, melengkung dan menjuntai ke segala arah, sebagian menjulur ke air hitam di bawahnya. Tak ada daun lain. Tak ada bunga lain.
Kecuali satu.
Di ujung salah satu batang pipih itu, menggantung seperti lampion kecil, ada sebuah kuncup. Panjang. Ramping. Putih kemerahan di pangkalnya, putih bersih di ujungnya. Kelopak-kelopaknya masih tertutup rapat, saling membungkus seperti jari-jari tangan yang menggenggam. Dan dari dalam kuncup itu, samar, terang, merembes cahaya.
Putih. Dingin. Seperti cahaya bulan yang terperangkap di dalam kelopak.
Bunga Wijayakusuma.
Dira menatapnya, dan untuk sesaat ia lupa pada segalanya. Pada ular. Pada jeda sepuluh napas. Pada Satyaki yang tidur di balik batang pohon tumbang. Ia hanya menatap kuncup bercahaya itu, dan bau manis yang berat itu memenuhi kepalanya seperti asap memenuhi bilik, dan kakinya bergerak setengah langkah ke depan tanpa ia suruh.
"BOCAH."
Dira berhenti.
"Lihat ke bawah," desis Ki Jalak. "Lihat ke bawah batu itu. Lihat apa yang ada di sekeliling kolam."
Dira melihat.
Di tepi kolam, di atas lantai batu hitam yang basah, berserakan sesuatu. Putih. Kecil. Banyak. Dalam cahaya bulan yang jatuh dari langit-langit, mula-mula ia mengira itu kerikil.
Bukan kerikil.
Tulang. Tulang-tulang kecil. Tulang burung, tulang tikus, tulang musang, tulang kijang muda. Ratusan. Bertumpuk-tumpuk di sekeliling kolam seperti sampah di sekeliling sumur desa. Sebagian sudah putih dan rapuh dimakan waktu. Sebagian masih kekuningan.
Dan di antara tulang-tulang itu, di atas batu-batu datar di tepi kolam, ada lingkaran-lingkaran kecil.
Abu. Abu hitam pekat, seperti jelaga, membentuk lingkaran sempurna. Lima. Tujuh. Sembilan lingkaran. Masing-masing dengan tiga puntung hitam di tengahnya.
Dupa hitam.
"Seseorang sering datang ke sini," bisik Ki Jalak. "Membakar dupa. Di depan bunga ini. Berkali-kali."
Untuk apa?
Ki Jalak tidak menjawab.
Dira tidak mendengar pertukaran itu dimulai.
Ia terlalu sibuk menatap lingkaran-lingkaran abu hitam, menghitung tulang-tulang, mencoba memahami. Ia lupa menghitung napas. Untuk pertama kalinya sejak di balik pohon tumbang, ia lupa menghitung.
Ia baru sadar ketika desis itu berubah.
Bukan dari lorong di belakangnya, tempat ular itu seharusnya berjaga di mulut gua. Dari depan. Dari kolam.
Air hitam yang tenang dan diam itu beriak.
Pelan. Lingkaran-lingkaran kecil menyebar dari tengah, dari batu tempat Bunga Wijayakusuma tumbuh, ke tepi. Lalu riaknya membesar. Lalu sesuatu muncul dari bawah permukaan air, di sisi lain batu itu.
Sisik. Hitam kehijauan. Berpola belah ketupat keemasan.
Ular itu tidak berjaga di mulut gua. Ular itu berjaga di sini. Tubuhnya yang panjang membentang dari mulut gua, melalui lorong yang berkelok, ke dalam kolam hitam ini, melingkar di bawah air, mengelilingi batu tempat bunga itu tumbuh. Kepala-kepalanya di mulut gua. Tetapi tubuhnya, berdepa-depa tubuhnya, ada di sini. Di mana-mana.
Dan Dira, yang mengira ia menyelinap melewati penjaga di pintu, ternyata sedang berdiri di dalam perut sang penjaga.
Dari lorong di belakangnya, terdengar bunyi. Sisik bergeser di atas batu. Pelan. Mendekat. Seperti pasir yang dituang ke atas tikar.
Kuncup Bunga Wijayakusuma di atas batu itu bergetar. Cahaya putih dingin di dalamnya berdenyut, sekali, dua kali, seperti jantung yang terbangun. Lalu kelopak terluarnya mulai membuka. Pelan. Sangat pelan. Seperti jari-jari yang meregang setelah lama menggenggam.
Bunga itu mekar. Malam ini.
Dan bau manis yang berat itu menyembur memenuhi gua, begitu kuat sehingga lutut Dira hampir lemas.
Dari lorong di belakangnya, bunyi sisik itu berhenti.
Dira menoleh perlahan.
Di mulut lorong, di batas antara gelap dan cahaya bulan, dua kepala sebesar kepala kerbau muda menjulur keluar dari kegelapan. Sisik-sisik di atas mata mereka menonjol seperti alis yang marah. Lidah-lidah hitam bercabang keluar masuk, keluar masuk.
Dan untuk pertama kalinya, keempat mata kuning kehijauan itu terbuka lebar. Semuanya. Tak ada yang mengantuk. Tak ada yang setengah terpejam.
Kedua kepala itu menoleh bersamaan.
Ke arah Dira.