Bab 71Ular dan Angin
Dira tidak bergerak.
Itu bukan keputusan. Tubuhnya membeku sendiri, seperti kelinci yang melihat bayangan elang di rumput. Napasnya mengendap di bawah pusar, diam, seperti batu di dasar kolam. Matanya tidak berkedip.
Dua kepala ular itu menatapnya dari mulut lorong. Empat mata kuning kehijauan. Dua lidah hitam bercabang yang keluar masuk, keluar masuk, merasakan udara.
Merasakan dia.
"Jangan bergerak," bisik Ki Jalak, nyaris tak bersuara. "Ular melihat gerakan. Kalau kau diam, mungkin dia..."
Dia sudah melihatku.
"Mungkin dia tidak lapar."
Di sekeliling Dira, air hitam di kolam beriak. Sisik-sisik hitam kehijauan berpola keemasan bergerak di bawah permukaannya, melingkar, mengalir, membentuk lingkaran besar yang mengelilingi batu tempat Bunga Wijayakusuma tumbuh. Dan mengelilingi dirinya. Ia berdiri di tepi kolam dengan punggung menempel ke dinding gua, dan di depannya ada air yang penuh tubuh ular, dan di sampingnya ada lorong yang dipenuhi tubuh ular, dan di mulut lorong itu ada dua kepala yang menatapnya.
Kepala kanan menjulur maju. Sejengkal. Dua jengkal. Lehernya yang tebal meregang keluar dari kegelapan lorong seperti tali yang diulur.
Kepala kiri tidak bergerak. Ia hanya menatap, lidahnya keluar masuk lebih cepat.
"Mereka tidak sama," bisik Ki Jalak tiba-tiba. "Lihat. Kepala kanan bergerak duluan. Selalu. Kepala kiri menunggu. Mereka satu tubuh, tapi dua kepala. Dua kepala, dua pikiran."
Dira melihatnya. Kepala kanan maju dengan berani, cepat, lidahnya menjulur ke arah Dira. Kepala kiri tertinggal, ragu, seperti orang yang mengikuti kakaknya masuk ke rumah hantu.
Dua pikiran, pikir Dira. Satu tubuh.
Kepala kanan menjulur lebih jauh. Kini hanya lima langkah darinya. Dira bisa mencium baunya. Bau ular, dingin dan amis, seperti bau ikan yang dibiarkan semalaman di bawah daun pisang. Bisa melihat sisik-sisik kecil di sekitar lubang hidungnya. Bisa melihat dua lubang kecil di bawah matanya, di atas bibirnya, yang berdenyut pelan. Lubang yang kata Mbok Darsih dipakai ular untuk mencium kehangatan.
Lidah itu menjulur ke arahnya.
Lalu kepala itu mundur sedikit, dan rahangnya terbuka.
Dira tidak tahu apa yang ia lakukan.
Itu yang kelak paling ia ingat. Bukan rasa takutnya. Bukan rahang ular yang terbuka lebar, dengan dua taring melengkung sepanjang jari kelingking yang berkilat basah oleh racun. Ia ingat bahwa ia tidak tahu apa yang ia lakukan.
Tangannya terangkat sendiri. Tangan kanan. Telapak terbuka, menghadap ke depan, ke arah rahang yang terbuka itu.
Dan di tengah telapak tangannya, di garis tipis putih keperakan itu, sesuatu menggeliat.
"Cicit!"
Bukan suara. Dira tidak mendengarnya dengan telinga. Ia merasakannya di dalam dadanya, di Balai Sukma, sebuah cicit yang tinggi dan nyaring dan sangat bersemangat, seperti anak burung yang akhirnya diberi izin keluar dari sarang.
Lalu angin menyembur dari telapak tangannya.
Bukan angin sepoi. Bukan angin yang menggoyang daun. Angin yang menerjang keluar seperti air dari bendungan yang jebol. Dingin, tajam, melengking, berputar-putar. Angin itu menghantam kepala kanan ular itu tepat di wajah, di mata, di lubang-lubang kecil di bawah matanya.
Kepala itu tersentak mundur. Desisnya pecah menjadi suara yang lain, seperti kucing yang ekornya terinjak.
Dan Dira, yang berdiri di tepi kolam dengan punggung menempel ke dinding gua, terlempar ke belakang oleh dorongan anginnya sendiri. Punggungnya menghantam dinding batu hitam. Kepalanya berdentum. Ia merosot setengah ke bawah, kaki kirinya tergelincir dari tepi kolam dan tercelup ke air hitam sampai lutut.
Air itu dingin menggigit, seperti air sumur pegunungan di tengah malam. Dan di bawah permukaannya, sesuatu yang bersisik bergeser di bawah telapak kakinya.
Dira menarik kakinya keluar secepat kilat dan menempelkan punggungnya ke dinding.
"Sriti bodoh!" teriak Ki Jalak. "Kau hampir membuatnya jatuh ke kolam! Ke kolam yang penuh ular!"
"Cicit!" kata Sapu Angin dengan nada yang jelas-jelas bangga.
"Itu bukan pujian! Jangan cicit-cicit padaku!"
Kepala kanan ular itu menggeleng-geleng, seperti orang yang mencoba mengusir debu dari matanya. Lidahnya menjulur keluar masuk dengan cepat, kacau, merasakan udara ke segala arah.
Dan Dira melihat sesuatu.
Angin yang menyembur dari telapak tangannya tidak berhenti di wajah ular itu. Angin itu terus bergerak, berputar di dalam gua yang bundar, menyapu permukaan kolam, menyapu dinding-dinding, lalu naik ke atas, ke celah di langit-langit tempat cahaya bulan masuk. Dan bersama angin itu, bau-bau di dalam gua ikut berputar. Bau bunga. Bau dupa. Bau ular.
Bau dirinya sendiri.
Lidah kepala kanan menjulur ke kiri. Lalu ke kanan. Lalu ke atas. Seperti anjing yang kehilangan jejak.
Dia tidak bisa menemukanku, pikir Dira. Angin membawa bauku ke mana-mana.
"Ular mencium dengan lidah," bisik Ki Jalak, yang juga melihatnya. "Dan mencium kehangatan dengan lubang-lubang di wajahnya. Dua-duanya butuh udara yang diam. Kalau udaranya berputar..."
...dia buta.
Kepala kiri, yang sejak tadi tertinggal, kini bergerak maju. Pelan. Hati-hati. Lidahnya menjulur ke arah Dira. Ia tidak terkena angin tadi. Ia masih bisa mencium.
Dira mengangkat tangannya lagi.
"Pelan," desis Ki Jalak. "Pelan, sriti! Jangan seperti tadi! Sedikit saja!"
Dira tidak tahu bagaimana mengatakan sedikit saja kepada seekor burung sriti di dalam dadanya. Jadi ia mencoba hal yang ia tahu. Ia menurunkan napasnya ke bawah pusar. Memutarnya sekali. Lalu, alih-alih mengirimnya naik ke tulang punggung, ia mengirimnya ke lengan kanan. Pelan. Sedikit. Seperti menuang air dari kendi ke cangkir kecil, bukan ke gentong.
Dan di ujung aliran napas itu, di garis putih keperakan di telapak tangannya, ia merasakan sayap kecil yang mengepak. Menunggu.
Sedikit, pikir Dira, sekeras yang ia bisa. Sedikit saja. Ke kiri.
Angin keluar dari telapak tangannya. Tidak menyembur. Berembus. Seperti napas orang yang meniup bara supaya menyala. Angin itu tidak menghantam kepala kiri ular. Angin itu berbelok ke kiri, menyapu ke arah lorong, ke arah tempat kepala kanan masih menggeleng-geleng kebingungan.
Membawa bau Dira bersamanya.
Kepala kiri menjulurkan lidahnya. Merasakan. Lalu menoleh. Bukan ke arah Dira. Ke arah angin itu pergi. Ke arah bau Dira yang kini mengalir di samping kepala kanan.
Kepala kiri berdesis. Rahangnya terbuka.
Dan ia menyerang.
Kepala kiri menyerang kepala kanan.
Itu terjadi begitu cepat sehingga Dira hampir tidak melihatnya. Kepala kiri melesat ke samping, rahangnya terbuka lebar, dan menghantam leher kepala kanan tepat di bawah rahangnya, di tempat bau Dira paling kuat. Taring-taringnya yang melengkung menancap ke sisik hitam kehijauan.
Kepala kanan menjerit. Bukan desis. Jeritan, tinggi dan pecah, menggema di seluruh gua seperti bunyi besi yang digesek di atas batu. Ia menggeliat, berbalik, dan menggigit balik. Taring-taringnya menancap di leher kepala kiri.
Lalu kedua kepala itu bergulat.
Mereka berpilin, menggigit, melilit, saling hantam. Leher-leher mereka yang tebal saling membelit seperti dua utas tali yang dipilin menjadi satu. Di bawah permukaan kolam, tubuh raksasa yang menjadi milik keduanya menggeliat liar. Air hitam bergolak, memercik ke dinding, ke langit-langit, ke wajah Dira. Gelombang-gelombang kecil menghantam batu tempat Bunga Wijayakusuma tumbuh, dan bunga itu bergoyang di ujung batangnya yang pipih, cahayanya berkedip-kedip.
"Mereka berkelahi!" teriak Ki Jalak. "Bocah, mereka berkelahi! Satu tubuh, dua kepala, dan mereka berkelahi satu sama lain!"
"Cicit!" kata Sapu Angin, dengan nada orang yang sangat puas dengan hasil kerjanya.
Seperti Sutarga dan Joyokusumo, pikir Dira, tanpa bisa menahan diri. Seperti mereka waktu mengira Gandawasa yang menjual mereka, lalu memukuli orang yang salah.
"Bocah, ini bukan waktunya merenung soal Sutarga!"
Ki Jalak benar.
Dira menatap kolam yang bergolak.
Batu di tengahnya, tempat bunga itu tumbuh, berjarak kira-kira sepuluh langkah dari tepi tempat ia berdiri. Sepuluh langkah air hitam yang dalam dan dingin, penuh tubuh ular yang menggeliat. Ia tidak bisa berenang ke sana. Kalau ia masuk ke air, tubuh raksasa itu akan melilitnya dan menyeretnya ke dasar.
Tetapi tubuh raksasa itu tidak sepenuhnya di bawah air.
Di tempat-tempat tertentu, setiap kali tubuh itu menggeliat dan melingkar, sebagian punggungnya muncul ke permukaan. Lengkungan-lengkungan hitam kehijauan berpola keemasan yang licin dan basah, sebesar paha orang dewasa, timbul sebentar di atas air, lalu tenggelam lagi. Seperti batu-batu loncatan di kali yang muncul dan hilang ketika air pasang surut.
Hinggap, pikir Dira. Telapak depan. Berat badan tak pernah tinggal di satu tempat.
"Bocah." Suara Ki Jalak mendadak sangat pelan. "Bocah, kau tidak sedang memikirkan apa yang kupikir kau pikirkan."
Satu, dua, lompat.
"Itu ular! Itu punggung ular! Bukan batu kali!"
Batu kali juga licin.
Sebuah lengkungan hitam kehijauan muncul di permukaan, dua langkah dari tepi kolam.
Dira melompat.
Hinggap. Telapak kakinya mendarat di atas sisik yang licin dan dingin, sisik yang bergerak di bawahnya seperti tanah yang bergoyang saat gempa. Tetapi ia tidak tinggal. Ia tidak pernah tinggal. Lutut lentur seperti pegas bambu. Satu tarikan napas di sana, lalu melompat lagi sebelum lengkungan itu tenggelam.
Lengkungan berikutnya muncul tiga langkah ke depan, sedikit ke kanan. Jalak Menyibak Daun. Kaki kiri menyamping, menyapu. Hinggap.
Di belakangnya, di mulut lorong, kedua kepala ular itu masih bergulat, menjerit, menggigit. Tubuh mereka menggeliat makin liar, dan setiap geliat membuat lengkungan-lengkungan di permukaan kolam muncul dan tenggelam lebih cepat, lebih tak beraturan.
Ki Jalak mulai bersiul.
Siulan jalak kebo. Naik turun. Berirama. Seperti siulan di belakang gudang rongsokan ketika Dira pertama kali belajar Langkah Jalak Ngumbara dengan kendi-kendi air. Dira berhenti menghitung. Ia mengikuti irama itu. Hinggap, lompat, hinggap, lompat.
Lengkungan berikutnya tidak muncul.
Dira melayang di udara di atas air hitam, kakinya terulur ke depan, mencari pijakan yang tidak ada. Batu itu masih tiga langkah di depan. Terlalu jauh. Ia akan jatuh ke air.
Lalu angin menyembur dari telapak tangan kanannya.
Ke belakang. Ke bawah. Ke arah air hitam di bawahnya. Bukan karena Dira menyuruhnya. Karena seekor burung sriti kecil di dalam dadanya, burung yang terbang lebih cepat dari burung apa pun di langit Jawa, yang tak pernah hinggap di tanah, tahu persis apa yang harus dilakukan seekor burung ketika ia akan jatuh.
Mengepakkan sayap.
Dorongan angin itu tidak cukup untuk membuatnya terbang. Tidak cukup untuk membuatnya melayang. Tetapi cukup untuk mendorongnya sejengkal lebih jauh. Dua jengkal. Cukup.
Ujung jari kaki kanannya menyentuh tepi batu di tengah kolam.
Ia mencengkeram tepi batu itu dengan jari-jari kakinya, terhuyung ke depan, dan jatuh tertelungkup di atas permukaan batu yang datar dan dingin, tepat di samping batang-batang hijau pipih Bunga Wijayakusuma.
Ia terbaring di sana, terengah-engah, pipinya menempel ke batu.
"Kau," kata Ki Jalak dengan suara orang yang baru saja lolos dari terjun ke jurang, "adalah bocah paling gila yang pernah kukenal. Dan aku sudah kenal banyak orang gila. Kurasa. Aku tidak ingat. Tapi aku yakin kau yang paling gila."
"Cicit," kata Sapu Angin pelan. Lelah. Tetapi bangga.
"Dan kau, sriti. Itu tadi..." Ki Jalak berhenti. Lalu, dengan suara orang yang sangat terpaksa mengakui sesuatu: "Itu tadi bagus. Sangat bagus. Tapi jangan kira aku memaafkanmu soal peyek."
Dira bangkit dengan susah payah, bertumpu pada siku.
Bunga Wijayakusuma menggantung tepat di depan wajahnya.
Dari dekat, bunga itu jauh lebih besar dari yang ia kira. Kelopak-kelopaknya yang tadi tertutup rapat kini sudah separuh membuka, melengkung keluar seperti jari-jari tangan yang meregang. Putih. Begitu putih sehingga tampak bercahaya sendiri, bahkan tanpa berkas cahaya bulan dari langit-langit. Di tengahnya, di antara kelopak-kelopak yang membuka, ada sesuatu yang lain. Benang-benang halus yang panjang, kuning pucat, melengkung ke atas seperti mahkota. Dan di tengah mahkota itu, sesuatu yang gelap.
Dira mendekatkan wajahnya.
Bau manis yang berat itu menyerbu hidungnya. Melati. Kenanga. Madu. Begitu kuat sehingga kepalanya berputar, matanya berkunang-kunang, dan untuk sesaat ia lupa sedang berada di mana.
Untuk sesaat, ia lupa namanya sendiri.
Turua, turu, cah bagus... Suara Ki Jalak, serak dan sumbang, bersenandung pelan di dalam dadanya. ...aja nganti kowe lali marang jenengmu.
Dira tersentak dan menarik wajahnya menjauh.
Sudira. Namanya. Aku Sudira.
Ia menatap bunga itu dengan napas terengah. Bunga itu menatapnya kembali, kalau bunga bisa menatap, kelopak-kelopaknya terus membuka, pelan, sangat pelan, seperti mulut yang terbuka untuk berbisik.
Lalu, di belakangnya, jeritan kedua kepala ular itu berhenti.
Mendadak. Seperti pintu yang dibanting.
Gua menjadi sunyi. Air hitam di kolam berhenti bergolak. Lengkungan-lengkungan hitam kehijauan berhenti muncul di permukaan. Hanya riak-riak kecil yang tersisa, menyebar pelan dari tengah ke tepi, lalu hilang.
Dira tidak menoleh.
Ia tidak perlu menoleh. Ia bisa merasakannya di kulit tengkuknya, di rambut yang berdiri di sepanjang lengannya, di garis putih keperakan di telapak tangannya yang tiba-tiba bergetar seperti sayap yang ketakutan.
Kedua kepala itu sudah berhenti berkelahi.
Dan keduanya sudah menyadari bahwa mereka ditipu.