Bab 74Mengganti Bunga
"Aku yang menahannya," kata Ki Jalak.
Dira menatap garis hitam di pahanya. "Apa?"
"Racunnya. Aku yang menahannya. Sedikit. Sejak di atas tebing." Suara Ki Jalak terdengar aneh. Tegang, seperti orang yang berbicara sambil mengangkat karung beras yang terlalu berat. "Kau pikir kenapa garis itu baru sampai paha? Dengan racun ular sebesar itu, seharusnya sudah sampai jantungmu sebelum kau turun dari tebing."
"Kau bisa menahan racun?"
"Aku tidak tahu." Ki Jalak berhenti. "Aku pusaka. Aku pernah dimandikan warangan setiap tahun selama ratusan warsa. Mungkin itu membuatku mengerti sesuatu tentang racun. Mungkin tidak. Aku hanya... mendorong. Dari dalam. Seperti orang yang mendorong pintu supaya tidak terbuka." Jeda. "Tapi pintunya berat, bocah. Dan aku tua."
Di Balai Sukma, Dira merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ki Jalak tidak bertengger di dahannya yang terbelah. Ia berdiri di lantai batu hitam, di tepi Balai Sukma yang paling dekat dengan kaki kiri Dira, sayap-sayapnya yang hitam berbercak putih terkembang lebar, seperti burung yang melindungi sarangnya dari hujan. Dan di depannya, menekan dari kegelapan, sesuatu yang hitam dan cair dan dingin merayap pelan. Seperti tinta. Seperti air sungai yang meluap.
Ki Jalak menahannya. Sayapnya bergetar.
Di dahan yang terbelah, Sapu Angin bercicit. Kecil. Cemas.
"Berapa lama kau bisa menahannya?"
"Sampai kau pulang," kata Ki Jalak. "Mungkin. Kalau kau tidak membuang waktu dengan bertanya."
Mereka berjalan pulang.
Itu bukan berjalan. Satyaki memotong sebatang kayu yang lurus dari pohon tumbang dengan pisau kupas Dira, sebesar lengan dan setinggi bahu, dan Dira memakainya sebagai tongkat. Ia melangkah dengan kaki kanan dan tongkat. Kaki kirinya terseret, mati rasa, berat seperti sebatang kayu basah. Satyaki berjalan di sampingnya dengan bahu kiri terbebat dan Kyai Pring Kuning di tangan kanan, kadang menopang Dira ketika tongkat itu terpeleset di lumut.
Dua orang yang terluka, saling menopang, di jantung Hutan Larangan.
"Kalian berdua seperti kakek-kakek yang pulang dari sawah," gumam Ki Jalak. Tetapi tak ada canda dalam suaranya. Ia terlalu sibuk menahan.
Mereka tidak lewat lembah kabut. Mereka memutar ke utara, jauh ke utara, lebih jauh dari waktu datang. Dira mengangkat tangan kanannya ke udara setiap seratus langkah dan merasakan aliran udara yang halus di sela jari-jarinya. Udara mengalir dari timur ke barat. Mereka berjalan melawan arusnya, ke timur, seperti ikan yang berenang ke hulu. Ketika arus itu tiba-tiba berbelok, berputar, atau menjadi hangat dan lembap, Dira tahu mereka terlalu dekat ke lembah kabut, dan mereka berbelok lagi ke utara.
Dua kali mereka tersesat. Dua kali Dira menaburkan sejumput garam hutan yang tersisa di atas tanah di bawah lapisan daun busuk. Dua kali semut-semut muncul dan berbaris ke satu arah. Dua kali mereka mengikutinya.
Garam itu habis di kali kedua.
Matahari bergeser ke barat. Lalu tenggelam. Mereka terus berjalan dalam gelap, dipandu aliran udara dan bintang-bintang di sela dahan. Garis hitam di paha Dira bergerak pelan. Sejengkal. Dua jengkal. Melewati pinggul.
Ki Jalak tidak lagi berbicara. Dira hanya bisa merasakan sayap-sayapnya yang bergetar di Balai Sukma, menahan, terus menahan.
Lalu, menjelang tengah malam, pepohonan habis.
Di depan mereka terbentang padang ilalang yang perak di bawah bulan yang makin kempis. Di seberang padang ilalang itu, garis tembok padepokan. Pos jaga kecil beratap ijuk. Dan gerbang barat. Sepasang tiang kayu jati tua dengan palang melintang.
Ada pelita menyala di pos jaga.
Dan di bawah palang gerbang, berdiri seseorang.
Bukan Ki Wiradhana. Seorang murid dalam. Muda, berwajah biasa, berbeskap putih gading. Murid yang sama yang mengantar Dira ke bilik Ki Wiradhana setelah pesta. Murid yang sama yang membacakan pesan dari lontar kecil di ambang pintu dapur.
Ia tidak tampak terkejut melihat mereka. Ia tidak tampak lega. Ia hanya mengangguk sopan, seperti orang yang sudah tahu tamunya akan datang.
"Sudira," katanya. "Ki Wiradhana sudah menunggu. Kau diminta langsung ke biliknya." Ia menoleh ke Satyaki. "Kau, murid luar, kembali ke asramamu. Tabib jaga akan memeriksa bahumu besok pagi."
Satyaki tidak bergerak.
"Saya ikut," katanya.
"Ki Wiradhana hanya meminta Sudira."
"Dia tidak bisa berjalan sendiri."
Murid dalam itu menatap kaki Dira. Lama. Lalu menatap wajahnya. Lalu tersenyum. Senyum yang sopan dan kosong, seperti senyum yang dipelajari dari orang lain.
"Saya yang akan memapahnya," katanya.
Dira menyentuh lengan Satyaki. Pelan.
"Pulang," bisiknya. "Simpan tongkatmu."
Satyaki menatapnya. Lalu menatap murid dalam itu. Lalu, perlahan, ia mengangguk. Ia melangkah mundur, berbalik, dan berjalan ke arah asrama murid luar dengan Kyai Pring Kuning di tangan kanannya, terseok-seok, tidak menoleh.
Tetapi sebelum ia menghilang di balik pojok pos jaga, ia menjatuhkan sesuatu ke tanah di dekat tiang gerbang, tanpa berhenti melangkah.
Satu kerikil.
Orang. Aku di sini.
Bilik Ki Wiradhana masih berbau dupa cendana dan gula aren.
Pelita di atas rak lontar menyala kecil dan tenang. Anglo di sudut mengepulkan asap tipis yang wangi. Pintu kecil di dinding belakang tertutup rapat.
Ki Wiradhana duduk bersila di tengah bilik, di atas tikar pandan, persis seperti terakhir kali. Beskap hitam bersulam matahari. Janggut keperakan yang terurai di dada. Tangan kirinya masih dibalut kain hitam. Di depannya, di atas nampan kayu kecil, ada sehelai kain putih bersih yang terlipat rapi, dan di sampingnya sebuah tusuk kecil dari perak, panjang dan runcing seperti tusuk konde.
Ia tersenyum ketika murid dalam itu memapah Dira masuk dan membantunya duduk.
"Ah, ngger." Suaranya lembut dan hangat, penuh kelegaan. "Kau kembali. Aku sudah sangat cemas. Tiga hari. Dan Hutan Larangan..." Ia menggeleng-geleng. "Duduklah. Duduklah. Kau pasti lelah sekali."
Murid dalam itu keluar dan menutup pintu.
"Hamba membawa bunganya, Ki," kata Dira.
Ki Wiradhana tidak segera menjawab. Ia menatap Dira. Wajahnya yang pucat. Matanya yang merah karena tidak tidur tiga malam. Kakinya yang terjulur kaku di atas tikar, jarik kirinya yang menutupi sampai mata kaki.
"Kau terluka," katanya.
"Tergores batu, Ki. Di tebing."
"Ah." Ki Wiradhana mengangguk pelan. "Tebing hitam memang tajam." Ia mengulurkan tangan kanannya. "Bunganya, ngger."
Dira mengeluarkan bungkusan daun pisang dari balik kain di dadanya dan meletakkannya di atas nampan kayu, di atas kain putih yang terlipat. Ia tidak menyerahkannya langsung ke tangan Ki Wiradhana. Ia meletakkannya. Dengan dua tangan. Dengan kepala tertunduk. Seperti abdi yang menyajikan hidangan.
Ki Wiradhana tidak menyentuh bungkusan itu dengan tangannya.
Ia mengambil tusuk perak dari nampan, dan dengan ujungnya, ia membuka lipatan daun pisang itu. Satu lipatan. Dua lipatan. Pelan. Sangat pelan. Seperti orang yang membuka bungkusan berisi kalajengking.
Bau manis yang berat itu menguar ke dalam bilik. Melati. Kenanga. Madu. Bercampur dengan dupa cendana, bercampur dengan gula aren.
Bunga Wijayakusuma tergeletak di atas daun pisang yang terbuka. Sudah tidak mekar lagi. Kelopak-kelopaknya yang putih dingin sudah melemas, layu, melipat ke dalam seperti jari-jari tangan yang lelah menggenggam. Cahaya putihnya sudah padam. Benang-benang kuning pucat di tengahnya sudah menunduk, kusut seperti rambut basah.
Dan di tengahnya, di antara benang-benang yang kusut itu, biji hitam berkilat seukuran kemiri.
Ki Wiradhana menatapnya.
Lama.
Dira tidak bernapas. Ia menurunkan napasnya ke bawah pusar dan membiarkannya diam di sana, seperti batu di dasar kolam. Di Balai Sukma, Ki Jalak menahan racun yang merayap dengan sayap yang bergetar, dan Sapu Angin meringkuk diam di dahan yang terbelah, dan tak satu pun dari mereka bersuara.
Ki Wiradhana membungkuk sedikit. Ia tidak mendekatkan wajahnya. Ia mengibaskan tangan kanannya pelan di atas bunga itu, seperti mengipasi bara, dan menghirup udara yang terbawa ke arahnya. Sedikit. Sejumput. Lalu menahan napas.
Lalu menghembuskannya.
"Layu," katanya.
"Ampun, Ki. Bunganya mekar semalam. Waktu fajar, bunganya mulai layu. Hamba tidak tahu cara menyimpannya supaya tetap mekar."
"Tidak apa-apa, ngger. Tidak apa-apa." Ki Wiradhana tersenyum. "Bunga Wijayakusuma memang hanya mekar satu malam. Kelopaknya tidak penting." Dengan ujung tusuk perak, ia menyentuh biji hitam di tengah bunga itu. Pelan. Sekali. Biji itu bergoyang sedikit di antara benang-benang kusut. Berkilat dalam cahaya pelita. "Yang penting ini. Sarinya."
Ia menatap biji itu lagi. Lama.
Lalu ia mengangkat wajahnya dan menatap Dira.
"Kau tidak menciumnya, ngger?"
"Tidak, Ki."
"Sama sekali?"
"Hamba membungkusnya dengan daun pisang sebelum memetiknya, Ki. Seperti pesan Ki. Supaya tidak dipegang tangan yang salah."
Ki Wiradhana menatapnya lama sekali. Mata yang lembut dan sayu dan penuh iba. Mata seperti ular yang berjemur di atas batu.
Lalu ia tertawa pelan.
"Anak pintar," katanya. "Anak yang sangat pintar."
Ia membungkus kembali bunga itu dengan daun pisang, menggunakan tusuk perak, lalu membungkusnya lagi dengan kain putih bersih dari nampan. Rapat. Rapi. Lalu meletakkannya di sampingnya, di atas tikar, dekat lututnya.
"Terima kasih, ngger," katanya. "Kertapati akan sangat berterima kasih padamu. Dan orang-orang desa yang lupa diri itu."
Dira membungkuk dalam-dalam. "Hamba hanya menjalankan tugas, Ki."
Ia mengira itu sudah selesai. Ia mengira Ki Wiradhana akan memanggil murid dalam itu kembali untuk memapahnya keluar.
Tetapi Ki Wiradhana tidak memanggil siapa pun. Ia hanya duduk di sana, menatap Dira, dengan senyum yang lembut dan hangat.
"Kakimu," katanya pelan. "Bukan tergores batu, kan, ngger?"
Dira tidak menjawab.
"Aku tidak marah. Aku mengerti. Anak muda selalu ingin terlihat kuat." Ki Wiradhana menggeleng-geleng. "Ular berkepala dua. Yang menjaga Gua Wijayakusuma. Aku sudah membacanya di lontar-lontar tua. Aku tidak memberitahumu karena aku tidak ingin kau takut." Ia menghela napas. "Kepala yang mana? Kanan atau kiri?"
Dira menatapnya.
"Kiri, Ki."
"Ah." Ki Wiradhana mengangguk, seperti itu menjelaskan banyak hal. "Kepala kiri. Yang selalu menunggu. Lontar bilang racun kepala kiri lebih lambat dari racun kepala kanan. Lebih sabar. Ia tidak membunuh dalam semalam." Ia tersenyum. "Ia membunuh dalam tiga malam."
Hening.
"Dan tidak ada obatnya, ngger. Tidak di padepokan ini. Tidak di kadipaten. Tidak di mana pun yang pernah kudengar." Ki Wiradhana menatap kaki Dira yang terjulur kaku di atas tikar. "Aku sangat menyesal. Sungguh. Aku tidak tahu kau akan digigit. Kau anak yang beruntung. Aku sangat yakin kau akan kembali tanpa luka."
"Dia tahu," bisik Ki Jalak. Suaranya lemah sekarang. Sangat lemah. "Dia tahu dari awal. Dia tahu tentang ular itu. Dia mengirimmu supaya kau membawa bunganya, lalu mati dalam tiga malam. Tanpa ada yang bisa menuduhnya. Ular yang membunuhmu, bukan dia."
Seperti sumur, pikir Dira. Dibawa demit. Bukan aku yang menyentuh.
"Pulanglah, ngger," kata Ki Wiradhana lembut. "Istirahatlah. Mbah Karta mungkin punya ramuan. Orang tua itu selalu punya ramuan." Ia diam sebentar. "Dan pamitlah pada adikmu. Selagi bisa."
Ia mengangkat tangan kanannya dan mengetuk lantai dua kali. Pintu terbuka. Murid dalam berwajah biasa itu masuk, membungkuk, dan memapah Dira berdiri.
Dira berdiri. Ia membungkuk kepada Ki Wiradhana. Dalam. Sopan. Seperti abdi yang baik.
"Terima kasih, Ki," katanya. "Untuk tugasnya."
Ki Wiradhana tersenyum.
Murid dalam itu memapahnya keluar, menyusuri lorong di belakang balairung, lalu meninggalkannya di ujung lorong tanpa berkata apa-apa. Dira berdiri sendirian dalam gelap, bersandar ke dinding kayu, tongkat kayu di tangan kanannya.
Dari ujung lorong yang lain, dari bilik Ki Wiradhana, ia mendengar bunyi pintu. Pintu kecil di dinding belakang. Bunyi kayu yang bergeser pelan.
Lalu suara. Suara muda, datar, biasa. Suara yang ia dengar di bilik penyimpanan tetua dan di serambi samping balairung.
"Bijinya, Ki?"
"Biarkan kering," kata suara lembut seperti gula aren yang dilelehkan. "Tiga malam. Di tempat gelap. Jangan disentuh tangan. Lalu kita tumbuk."
"Dan anak itu?"
Jeda.
"Tiga malam," kata Ki Wiradhana. "Sama dengan bijinya. Kebetulan yang indah, bukan?"
Dira tidak menunggu mendengar lebih banyak.
Ia berjalan. Tongkat, kaki kanan. Tongkat, kaki kanan. Kaki kirinya terseret di belakang seperti karung basah. Menyusuri dinding balairung. Melewati serambi samping. Melewati tangga batu dengan anak tangga ketiga yang tidak licin. Melewati kolam teratai yang kini kosong, tanpa ikan. Menyusuri jalan setapak berbatu di sisi timur, melewati lumbung.
Garis hitam di bawah kulitnya sudah melewati pinggul. Ia bisa merasakannya merayap di sisi perutnya. Dingin. Hidup. Sejengkal. Lagi.
Di Balai Sukma, sayap Ki Jalak bergetar makin hebat.
Dapur abdi gelap. Semua tungku sudah padam, kecuali satu. Tungku ketujuh. Bara merah redup.
Dira terhuyung melewati pintu belakang, melewati tungku pertama, kedua, ketiga, sampai ke tungku ketujuh. Ia tidak berhenti di sana. Ia terus terhuyung ke seberang dapur, ke pintu gudang beras, ke tempat Mbah Karta tidur di atas karung-karung beras setiap malam, mendengkur pelan, teratur, terlalu teratur.
Mbah Karta mungkin punya ramuan. Orang tua itu selalu punya ramuan.
Ia mendorong pintu gudang beras.
Gelap. Sunyi.
Tak ada dengkur.
Dira meraba-raba dalam gelap, ke tumpukan karung beras di sudut, ke tempat Mbah Karta selalu tidur. Tangannya menyentuh karung. Kasar. Dingin. Kosong.
Tak ada tubuh di sana. Tak ada kehangatan. Tak ada bekas orang berbaring. Karung-karung itu dingin, seperti tak ada yang tidur di atasnya selama berhari-hari.
Mbah Karta tidak ada.
Di kegelapan gudang beras itu, Dira jatuh berlutut. Tongkat kayunya terlepas dari tangannya dan berguling di lantai tanah.
Dan di Balai Sukma, untuk pertama kalinya, sayap Ki Jalak tertekuk.