Sang Penelan Pusaka

Bab 75Racun Ular

Gelap.

Bukan gelap gudang beras. Gelap yang lain. Gelap Balai Sukma, tempat lantai batu hitam yang halus dan dingin membentang tanpa ujung, tempat tak ada atap dan tak ada dinding kecuali satu dinding beku yang menjulang jauh di sana.

Dira berdiri di tengahnya. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa berdiri. Di dunia luar, ia tahu, ia sedang berlutut di lantai tanah gudang beras, tangan menempel di karung-karung kosong yang dingin, tongkat kayunya terguling di sampingnya. Tetapi di sini ia berdiri. Dan di depannya, di tepi Balai Sukma yang paling dekat dengan tempat kaki kirinya seharusnya berada, ia melihatnya untuk pertama kalinya dengan jelas.

Racun itu.

Hitam. Cair. Mengilat seperti minyak jelantah di dasar wajan. Ia merayap di atas lantai batu hitam seperti air pasang yang naik di pantai, pelan tetapi pasti, sejengkal demi sejengkal. Permukaannya tidak rata. Bergelombang. Berdenyut. Dan di dalamnya, sesuatu bergerak. Bentuk-bentuk yang samar, panjang, melengkung, seperti tubuh-tubuh ular kecil yang berenang di dalam tinta.

Di depan racun itu, menghadangnya, berdiri seekor burung jalak.

Ki Jalak tidak lagi tampak seperti burung yang galak dan cerewet. Ia tampak kecil. Sangat kecil. Bulu-bulunya yang hitam berbercak putih basah dan kusut, menempel di tubuhnya seperti bulu ayam yang kehujanan. Sayap kirinya, yang kehilangan satu bulu dalam pergulatan dengan Sapu Angin, terkulai di lantai. Sayap kanannya masih terkembang, gemetar, menekan gelombang hitam yang terus merayap maju.

Dan setiap kali gelombang itu menekan, kaki-kaki kecil Ki Jalak tergeser mundur di atas lantai batu. Sedikit. Sedikit lagi.

"Ki Jalak."

Burung itu tidak menoleh. "Kau seharusnya tidak di sini, bocah."

"Aku tidak tahu bagaimana keluar."

"Kalau begitu diam dan jangan mengganggu."

Gelombang hitam itu menekan lagi. Ki Jalak tergeser mundur sejengkal. Sayap kanannya bergetar hebat.

"Biar aku membantu."

"Bagaimana?" Suara Ki Jalak pecah. "Kau Wadah, bukan pusaka. Kau tidak bisa berdiri di sini dan mendorong. Kau cuma bisa menonton."

Dira menatap racun itu. Bentuk-bentuk ular kecil yang berenang di dalamnya. Gelombang yang berdenyut, maju, mundur sedikit, maju lagi. Seperti napas. Seperti...

Seperti napas ular kepala kiri. Lambat. Sabar.

Tiga malam.


Di dahan yang terbelah, Sapu Angin bercicit.

Bukan cicit bangga seperti di gua. Bukan cicit puas. Cicit kecil yang gemetar, seperti anak burung yang melihat induknya terjatuh dari sarang.

Lalu ia terbang.

Ia melesat dari dahan yang terbelah, cepat, kelabu kebiruan, sayap-sayap runcing seperti bulan sabit. Ia terbang melintasi Balai Sukma dalam satu kelebat dan berhenti di udara di samping Ki Jalak, di atas gelombang hitam yang merayap.

"Pergi!" teriak Ki Jalak. "Pergi, sriti! Ini bukan urusanmu! Kau baru dua hari di sini! Kau belum..."

Sapu Angin tidak pergi.

Ia mengepakkan sayapnya. Sekali. Keras.

Angin menyembur dari kepakannya, dingin dan tajam, menghantam permukaan gelombang hitam itu. Racun itu tersentak. Mundur. Sejengkal. Gelombangnya pecah, terciprat, berhamburan seperti air yang dipukul tongkat.

Lalu menyatu lagi. Dan maju lagi.

Sapu Angin mengepak lagi. Dan lagi. Dan lagi. Setiap kepakan mendorong racun itu mundur sejengkal. Setiap kali racun itu menyatu kembali, maju lagi, Sapu Angin mengepak lagi.

Ki Jalak menatapnya. Lama.

"Bodoh," katanya pelan. "Sriti bodoh."

Lalu ia mengembangkan sayap kirinya, sayap yang terkulai, sayap yang kehilangan satu bulu. Gemetar. Berat. Tetapi terkembang.

Dan kedua burung itu menahan racun itu bersama-sama.


Di gudang beras, Dira membuka mata.

Gelap. Bau beras dan debu dan karung goni. Lantai tanah yang dingin di bawah lututnya. Tangan kanannya menempel di karung beras kosong tempat Mbah Karta biasa tidur.

Ia bisa merasakan kakinya lagi. Sedikit. Bukan kaki kiri. Itu masih mati rasa dari jari kaki sampai pinggul. Tetapi ia bisa merasakan garis hitam di sisi perutnya. Dingin. Hidup. Dan kini, untuk pertama kalinya sejak di atas tebing hitam, garis itu tidak bergerak maju.

Diam. Menahan. Didorong mundur oleh sesuatu.

"Bocah," kata Ki Jalak. Suaranya terengah-engah, seperti orang yang baru berlari dari lembah ke puncak. "Kami tidak bisa menahannya selamanya. Sriti itu muda dan kuat, tapi dia tidak sabar. Dan aku..." Ia berhenti. "Aku tua."

"Apa yang harus kulakukan?"

"Keluarkan."

"Bagaimana?"

"Racun masuk lewat luka. Racun bisa keluar lewat luka. Kalau kami mendorongnya mundur, ke bawah, ke kakimu, ke tempat taring itu masuk..."

Dira mengerti.

Ia meraba-raba lantai tanah dalam gelap. Tongkat kayunya. Bungkusan bekalnya. Ikat pinggangnya. Pisau kupas yang selalu ia selipkan di sana.

Ia menariknya keluar.

"Pelan," kata Ki Jalak. "Bocah, pelan. Jangan terlalu dalam. Cukup untuk membuka jalan."

Dira menarik jarik di atas betis kirinya. Dalam gelap, ia tidak bisa melihat lukanya. Tetapi ia bisa merabanya. Dua lubang kecil, berjarak dua jari, di sisi dalam betisnya. Kulit di sekelilingnya bengkak dan keras dan dingin seperti kulit orang mati.

Ia menempelkan ujung pisau kupas itu di antara kedua lubang.

Lalu ia menekannya.


Ia tidak menjerit. Ia menggigit lengan bajunya sendiri sampai kain itu robek di antara gigi-giginya.

Pisau kupas itu tumpul. Tumpul setelah dipakai menggergaji tangkai bunga Wijayakusuma, memotong kayu tongkat, membelah daun pisang. Ia harus menekannya. Lalu menariknya. Satu garis. Dari lubang yang satu ke lubang yang lain. Membuka kulit yang bengkak dan dingin itu.

Darah keluar. Hitam. Kental. Seperti getah yang sudah lama mengering lalu dicairkan lagi.

"Sekarang!" teriak Ki Jalak. "Sriti, sekarang! Dorong! Ke bawah!"

Di Balai Sukma, Sapu Angin mengepakkan sayapnya dengan sekuat tenaga. Angin menyembur. Bukan ke depan. Ke bawah. Ke dalam. Mengikuti aliran racun hitam itu kembali ke sumbernya.

Dan di dunia luar, Dira merasakannya. Seperti badai kecil yang turun dari perutnya, melewati pinggulnya, melewati pahanya, melewati lututnya. Dingin dan tajam dan melengking. Mendorong sesuatu yang lain di depannya. Sesuatu yang hitam dan cair dan hidup.

Darah hitam menyembur dari luka sayatan di betisnya. Tidak menetes. Menyembur. Seperti air dari kendi yang pecah. Mengenai lantai tanah gudang beras. Mengenai karung-karung goni. Hitam, kental, berbau logam dan amis dan sesuatu yang pahit seperti empedu.

Lalu menetes. Lalu mengalir. Lalu merembes pelan.

Lalu, perlahan, warnanya berubah.

Dari hitam ke cokelat gelap. Dari cokelat gelap ke merah tua. Dari merah tua ke merah.

Dira melepaskan lengan bajunya dari gigi-giginya dan terengah-engah.

Garis hitam di sisi perutnya sudah tidak ada. Ia merabanya dengan ujung jari dalam gelap. Tidak ada. Ia meraba pinggulnya. Tidak ada. Pahanya. Garis itu masih ada di paha, tetapi lebih tipis. Lebih pendek. Berhenti tepat di atas lutut.

"Tidak semuanya," kata Ki Jalak. Suaranya sangat lemah sekarang. Sangat lemah. "Bocah. Tidak semuanya. Racun itu... sebagian sudah masuk terlalu dalam. Ke darah. Ke tulang. Kami tidak bisa mengeluarkan semuanya. Hanya yang... yang ada di jalurnya."

"Berapa yang tersisa?"

Ki Jalak tidak menjawab.

Di Balai Sukma, Dira melihatnya. Gelombang hitam itu sudah surut. Jauh. Tinggal genangan. Tetapi genangan itu masih ada, di tepi Balai Sukma, berdenyut pelan, hitam dan mengilat. Dan di depannya, Ki Jalak tidak lagi berdiri.

Ia terduduk. Di lantai batu hitam. Kedua sayapnya terkulai di sisi tubuhnya, basah dan kusut. Kepalanya tertunduk. Matanya setengah terpejam.

Sapu Angin melayang di atasnya, bercicit kecil, cemas, terus-menerus, seperti anak burung yang memanggil induknya.

"Ki Jalak?"

"Aku... lelah, bocah." Suara itu hampir tak terdengar. "Sangat lelah. Aku sudah lama... sangat lama tidak selelah ini. Sejak... sejak sumur. Sejak air. Sejak aku menunggu."

"Ki Jalak."

"Biarkan aku... tidur sebentar. Sebentar saja."

"Ki Jalak, jangan."

Tak ada jawaban.

Di Balai Sukma, burung jalak kebo yang kecil dan basah itu memejamkan matanya.

Dan genangan hitam di depannya, yang tadi surut, mulai bergerak lagi. Pelan. Sangat pelan. Maju.


Ada cahaya.

Kuning. Bergoyang-goyang. Makin dekat.

Dira mengangkat wajahnya dari lantai tanah. Ia tidak sadar ia sudah terbaring. Pipinya menempel di tanah yang basah oleh darahnya sendiri. Kakinya, yang sudah tidak terasa sama sekali sekarang, terjulur di belakangnya.

Di ambang pintu gudang beras, ada pelita. Pelita tanah liat yang dipegang tangan kecil. Dan di belakang pelita itu, wajah.

Gendhis.

Ia berdiri di sana dengan rambut terurai dan mata yang masih setengah tertutup oleh kantuk, memakai jarik tidur yang lusuh. Mungkin ia mendengar tongkat kayu itu berguling. Mungkin ia mendengar sesuatu yang lain. Mungkin, seperti Gendhis yang selalu memperhatikan segalanya, ia hanya terbangun karena ada yang tidak beres.

Ia menatap Dira.

Ia menatap darah. Hitam dan merah, berceceran di lantai tanah, di karung-karung goni, di jarik Dira, di tangannya.

Ia menatap pisau kupas yang tergeletak di samping kaki Dira.

Gendhis tidak menjerit. Seperti pagi ketika ia mengira Dira hantu. Ia menutup mulutnya. Pelan-pelan. Lalu ia meletakkan pelitanya di lantai, berlutut di samping Dira, dan menyentuh wajahnya dengan tangan yang gemetar.

"Dingin," bisiknya. "Dira, kau dingin sekali."

"Gendhis." Suaranya keluar serak, nyaris tak terdengar. "Panggil Wulan."

"Aku panggil Mbok Darsih. Aku panggil tabib jaga. Aku panggil Nyai..."

"Nyai tidak ada." Dira mencengkeram pergelangan tangan Gendhis. Lemah. Sangat lemah. "Jangan panggil tabib jaga. Jangan panggil siapa pun yang ada di dekat Ki Wiradhana. Panggil Wulan. Hanya Wulan. Dan Satyaki."

Gendhis menatapnya. Matanya basah, tetapi tajam. Kepala gadis itu bekerja, menghitung, seperti biasanya. Dira bisa melihatnya.

"Ki Wiradhana," bisik Gendhis. "Dia yang menyuruhmu ke hutan."

Dira tidak menjawab.

Gendhis tidak bertanya lagi. Ia bangkit, mengambil pelitanya, dan berlari keluar.


Ia tidak tahu berapa lama ia terbaring di sana sendirian.

Gelap lagi. Gelap gudang beras. Lalu gelap Balai Sukma. Lalu gelap gudang beras. Bergantian, seperti napas.

Di Balai Sukma, genangan hitam itu merayap maju. Pelan. Sejengkal. Dua jengkal. Melewati Ki Jalak yang terduduk dengan mata terpejam. Sapu Angin mengepakkan sayapnya, mendorongnya mundur, tetapi kepakannya makin lemah, makin pendek. Seperti burung yang sudah terbang terlalu lama tanpa hinggap.

Di gudang beras, garis hitam di paha Dira bergerak lagi. Melewati lutut. Ke atas. Ke pinggul.

Lalu ada suara langkah kaki. Berat. Menyeret. Tergesa-gesa.

Lalu ada tangan. Besar. Kapalan. Buku-buku jarinya dibalut kain lusuh yang masih bernoda darah lama. Tangan itu mengangkatnya dari lantai tanah. Mengangkatnya seperti mengangkat karung beras. Tidak, lebih hati-hati dari itu. Seperti mengangkat bakul berisi telur.

Dira membuka mata.

Wajah. Lebar. Merah. Bibir yang merah oleh sirih. Mata yang merah dan berair.

Gandawasa.

"Jangan bicara," kata kepala dapur itu dengan suara serak. "Gendhis membangunkanku. Dia lari ke asrama murid luar sekarang. Memanggil adikmu." Ia mendekap Dira di dadanya dan berjalan keluar dari gudang beras. Cepat. Menyeret. "Jangan ke barak. Terlalu banyak mata. Ke gubuk belakang. Gubuk orang sakit. Tak ada yang pernah ke sana."

"Kakang..."

"Diam."

Dira diam. Ia bersandar di dada Gandawasa, di dada yang berbau arak dan keringat dan bawang dan sesuatu yang lain, sesuatu yang lama dan asam, seperti bau anak kecil yang ketakutan. Dan ia mendengar jantung kepala dapur itu berdebar. Cepat. Keras. Tidak beraturan.

"Aku sudah mendorongmu ke sumur," bisik Gandawasa, sambil berjalan menembus gelap, tanpa menatap Dira. "Aku tidak mau ada yang kedua. Aku sudah bilang."


Gubuk itu kecil, berdinding gedek yang sudah bolong-bolong, beratap ijuk yang bocor di beberapa tempat. Di dalamnya hanya ada sebuah bale-bale bambu yang reyot dan sebuah tungku kecil dari batu yang sudah lama tidak dinyalakan. Gubuk orang sakit. Tempat abdi yang terkena penyakit menular dikurung supaya tidak menulari yang lain. Tempat abdi yang sudah terlalu tua untuk bekerja dibiarkan menunggu ajal.

Gandawasa membaringkan Dira di atas bale-bale bambu itu. Lalu ia menyalakan tungku kecil dengan tangan yang gemetar, dengan batu titik dari kantong ikat pinggangnya. Lalu ia berdiri di ambang pintu gubuk, membelakangi Dira, menatap ke luar, ke gelap.

Menjaga.

Di Balai Sukma, Ki Jalak tidak bergerak.

Genangan hitam itu sudah melewatinya. Sudah melewati Sapu Angin, yang kini terkulai di lantai batu hitam di samping Ki Jalak, sayap-sayapnya yang runcing terbentang lemas, cicitnya tinggal bisikan. Genangan itu merayap terus. Ke tengah Balai Sukma. Ke arah tempat Dira berdiri.

Di gubuk, garis hitam di bawah kulitnya sudah melewati pinggul. Sudah merayap di sisi perutnya. Sudah sampai ke rusuk.

Ia bisa merasakannya. Dingin. Sabar. Seperti ular kepala kiri yang selalu menunggu.

Tiga malam, kata suara lembut seperti gula aren yang dilelehkan. Kebetulan yang indah, bukan?

Malam pertama.

Lalu, dari luar gubuk, ia mendengar langkah kaki. Cepat. Ringan. Berlari. Menembus semak-semak, melompati parit, melewati pagar bambu yang bolong di belakang kandang kambing. Jalan rahasia. Jalan ke pohon sawo.

Gandawasa menyingkir dari ambang pintu.

Dan seseorang berlutut di samping bale-bale bambu itu. Tangan-tangan kecil yang dingin karena embun malam mencengkeram tangannya. Rambut yang terurai, basah, menyentuh wajahnya.

"Kangmas!"

Suara itu. Suara yang ia kenal lebih baik dari suaranya sendiri. Suara yang memanggilnya dari dalam kabut di lembah. Suara yang menyanyikan Kidung Pepeling di depan tungku ketujuh ketika ia paling hancur.

Kali ini bukan kabut.

Dira membuka mulut. Ia ingin mengatakan sesuatu. Wulan. Aku tidak apa-apa. Tetapi ia sudah berjanji tidak akan pernah mengatakan itu lagi. Dengan sumpah kelingking. Di bawah pohon sawo. Kalau melanggar, dimakan kambing bermata jahat.

Jadi ia tidak mengatakan apa-apa.

Di Balai Sukma, genangan hitam itu sampai di kakinya.

Dan dunia menjadi gelap.