Bab 8Janji di Bawah Pohon Sawo
Pohon sawo di dekat sumur tua sudah berdiri di sana sejak sebelum Padepokan Argasuryan memiliki tembok batu. Begitu kata para abdi tua. Batangnya besar dan bengkok seperti punggung kakek-kakek, kulitnya kasar penuh tonjolan, dan daun-daunnya begitu rimbun sehingga di bawahnya tetap teduh meski matahari sedang terik. Tak ada yang mau duduk di sana. Kata orang, sumur tua di sampingnya sudah kering sejak zaman kakek buyut ketua yang sekarang, dan sumur kering di dekat pohon tua adalah tempat yang disukai makhluk halus.
Karena itulah Dira dan Wulansari menyukainya. Tempat yang ditakuti orang adalah tempat yang paling aman untuk bersembunyi.
Dira tiba sebelum kentongan subuh. Ia sudah menimba dua puluh timba air ke gentong dapur dan memecah setumpuk kayu, hanya supaya Gandawasa tak punya alasan mencarinya. Tangannya dibalut sobekan kain jarik yang dicelup minyak sirih. Gendhis memaksanya memakai balutan itu semalam sambil mengomel panjang soal "pemuda bodoh yang tak mau menjaga tangannya sendiri".
Ia duduk bersandar di batang sawo dan menunggu. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat atap lumbung dan sepotong jalan setapak menuju asrama. Kalau ada yang datang, ia akan tahu lebih dulu.
Kabut pagi merayap di antara pepohonan. Dari arah asrama terdengar suara-suara samar: pintu bambu dibuka, kendi diisi, seseorang batuk. Dari arah balairung terdengar bunyi gong kecil, tanda para tetua memulai semadi pagi.
Dira tidak memikirkan gong itu. Ia memikirkan kalimat Sutarga yang diulang Wulansari semalam.
Ki Ageng sudah punya rencana untuknya.
Rencana apa? Ia hanya seorang abdi dapur. Ia tak punya pusaka, tak punya keluarga, tak punya apa-apa yang bisa diinginkan seorang ketua padepokan. Satu-satunya hal yang membuatnya berbeda dari abdi lain adalah cahaya fajar yang membelok, dan kain di lehernya.
Tangannya bergerak ke leher tanpa sadar. Kain itu masih di tempatnya. Simpulnya masih simpul Wulansari.
"Kangmas."
Wulansari muncul dari balik lumbung, merunduk di bawah dahan-dahan rendah. Jariknya basah sampai lutut oleh embun rumput. Di tangannya ada bungkusan daun pisang yang lebih besar dari semalam. Pipinya masih merah, tetapi bengkaknya sudah turun.
"Kau datang lewat parit?" tanya Dira.
"Lewat parit, lalu lewat pagar bambu yang bolong, lalu lewat belakang kandang kambing." Wulansari duduk di sampingnya dan menyodorkan bungkusan itu. "Kambingnya hampir menggigitku."
"Kambing tak menggigit."
"Kambing yang itu menggigit. Matanya jahat."
Dira membuka bungkusan. Nasi jagung, tempe goreng, dan dua butir telur rebus. Ia membelah satu telur dan memberikan separuhnya kepada Wulansari. Gadis itu menolak. Dira memaksa. Akhirnya mereka makan bersama, seperti semalam, seperti ratusan pagi waktu mereka kecil.
Untuk sesaat mereka hanya makan dan mendengarkan burung-burung yang mulai bangun di dahan-dahan sawo.
Lalu Dira berkata, "Wulan, aku mau minta sesuatu."
"Apa?"
"Mulai hari ini, kalau kita berpapasan di depan orang, kau jangan menyapaku."
Wulansari berhenti mengunyah.
"Jangan melihatku," lanjut Dira. "Jangan membelaku. Kalau ada yang menghinaku di depanmu, kau diam saja. Kalau Sutarga menyuruhmu bilang kau tak punya kakak, bilang saja kau tak punya kakak."
"Tidak."
"Wulan..."
"Tidak!" Wulansari meletakkan separuh telurnya di atas daun pisang dengan keras. "Kangmas gila? Semalam aku bersumpah berlatih untuk kita berdua, dan pagi ini Kangmas menyuruhku pura-pura tak kenal Kangmas?"
"Justru karena itu."
"Karena apa?"
Dira menghela napas. Ia sudah memikirkan kalimat-kalimat ini semalaman di depan tungku, sambil mendengarkan dengkuran Mbah Karta, dan ia tahu adiknya tak akan menerimanya dengan mudah.
"Kau ingin menjadi kuat," katanya. "Kau ingin menjadi murid dalam, lalu tetua. Untuk itu kau butuh pembimbing yang mau mengajarimu. Kau butuh tetua yang memperhatikanmu. Kau butuh kawan-kawan seperguruan yang mau berlatih bersamamu." Ia menatap adiknya. "Selama kau terlihat sebagai adik si Anak Matahari, tak ada yang akan memberimu semua itu. Sutarga akan terus menamparmu. Pembimbing lain akan mengabaikanmu. Kawan-kawanmu akan menjauh karena takut ketularan sial."
"Aku tak peduli."
"Aku peduli."
Wulansari membuka mulut, lalu menutupnya.
"Kau bilang kau ingin menjadi kuat untuk kita berdua," kata Dira lebih pelan. "Baik. Aku percaya padamu. Tapi kau tak bisa menjadi kuat kalau kau menghabiskan setiap hari membelaku. Setiap kali kau membelaku, kau kehilangan sesuatu. Kehilangan pelajaran, kehilangan kawan, kehilangan kesempatan. Lalu suatu hari kau bangun dan sadar kau sama lemahnya denganku. Lalu siapa yang menang?"
"Sutarga," gumam Wulansari.
"Sutarga. Gandawasa. Raden Bayuwisesa. Mereka semua."
Hening. Seekor burung kutilang hinggap di dahan terendah, memiringkan kepala ke arah mereka, lalu terbang lagi.
"Jadi aku harus jahat pada Kangmas," kata Wulansari, suaranya bergetar. "Di depan semua orang."
"Bukan jahat. Diam."
"Itu sama saja."
"Tidak sama." Dira meraih tangan adiknya. Balutan kain di tangannya terasa kasar di kulit Wulansari. "Di depan orang, kau diam. Di sini, di bawah pohon sawo ini, kau adikku. Setiap pagi sebelum kentongan subuh. Kau ceritakan apa yang kau pelajari, aku ceritakan apa yang kulihat di dapur. Tak ada yang tahu. Tak ada yang bisa memakainya untuk menyakiti kita."
Wulansari menatap tangan mereka yang bertaut. Matanya mulai basah lagi, tetapi ia menggigit bibirnya keras-keras dan menahannya.
"Kangmas tak malu?" bisiknya.
"Malu kenapa?"
"Punya adik yang pura-pura tak kenal kakaknya sendiri."
Dira tersenyum. "Wulan, dengarkan aku. Aku tidak malu jadi abdi dapur. Aku tidak malu tak dipilih pusaka. Aku tidak malu menggosok kerak atau mengupas bawang sampai menangis. Semua itu pekerjaan yang jujur. Mbok Sarini mengerjakannya empat puluh warsa, dan ia orang paling baik yang pernah kukenal." Ia meremas tangan adiknya. "Yang kutakutkan bukan malu. Yang kutakutkan adalah kau malu karena aku. Itu satu-satunya hal yang tak sanggup kutanggung."
Wulansari tak bisa menahannya lagi. Ia menunduk dan menangis tanpa suara, bahunya berguncang.
"Aku tidak malu," katanya di sela isak. "Aku tak akan pernah malu. Kangmas yang menggendongku waktu aku demam. Kangmas yang mengajariku membaca aksara di atas pasir. Kangmas yang mengajariku cara mencuri mangga tanpa ketahuan."
"Hampir tanpa ketahuan."
"Hampir." Ia tertawa sambil menangis. "Ki Wiradhana mengejar kita dengan galah."
"Dan kau jatuh ke kolam ikan."
"Kangmas yang mendorongku!"
"Aku menyelamatkanmu dari galah."
Mereka tertawa bersama, pelan, supaya tak terdengar sampai ke asrama. Ketika tawa itu mereda, Wulansari menyeka matanya dengan ujung lengan baju dan mengangkat wajahnya.
"Baiklah," katanya. "Aku akan diam di depan orang. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Kangmas juga harus berjanji sesuatu."
"Apa itu?"
Wulansari menatapnya lurus-lurus. "Jangan pernah bilang 'tidak apa-apa' lagi padaku. Kalau sakit, bilang sakit. Kalau lapar, bilang lapar. Kalau ada yang menyakiti Kangmas, ceritakan padaku di sini. Semuanya."
Dira ragu. Itu permintaan yang lebih sulit daripada kelihatannya. Delapan belas warsa ia hidup dengan kata-kata tidak apa-apa, seperti hidup dengan kain di lehernya.
"Janji," desak Wulansari.
"Janji," kata Dira akhirnya.
Wulansari mengangkat jari kelingkingnya, seperti waktu mereka masih kecil. Dira menautkan kelingkingnya yang terbalut kain. Mereka menggoyangkannya tiga kali, lalu mengecup ibu jari masing-masing, sumpah anak-anak yang dulu mereka anggap lebih kuat dari sumpah para tetua.
"Kalau melanggar," kata Wulansari, mengulangi kalimat lama itu dengan wajah serius, "dimakan kambing bermata jahat."
"Kalau melanggar, dimakan kambing bermata jahat."
Setelah itu, mereka bicara tentang kalimat Sutarga.
"Mungkin dia cuma mabuk," kata Wulansari. "Orang mabuk suka bicara sembarangan."
"Mungkin."
"Kangmas tidak percaya."
Dira memungut sebatang ranting kecil dan menggores-gores tanah di depannya, kebiasaan yang ia lakukan setiap kali berpikir. "Dua hari lalu, di altar, Ki Ageng melarangku meninggalkan lereng Lawu. Katanya demi kebaikanku. Padahal adat abdi tak pernah melarang abdi turun ke desa. Nyai sendiri yang bilang begitu."
"Lalu?"
"Lalu Ki Ageng bertanya siapa yang memberiku nama. Waktu kujawab Nyai Rukminiwati, tangannya mengepal." Ranting di tangannya berhenti bergerak. "Lalu tengah malam, kata Gendhis, Ki Ageng dan Nyai bicara berdua di balairung. Gendhis mendengar Ki Ageng menyebut kata hujan."
Wulansari mengernyit. "Hujan?"
"Nyai bilang ia menemukanku di tepi hutan, di bawah hujan."
Wulansari terdiam. Ia memandangi goresan ranting di tanah: garis-garis yang saling bersilangan seperti jalan setapak yang tak jelas ujungnya.
"Kangmas pikir," katanya pelan, "Ki Ageng tahu sesuatu tentang Kangmas? Tentang orang tua Kangmas?"
"Aku tak tahu." Dira menghapus goresan itu dengan telapak kakinya. "Aku cuma tahu satu hal. Sejak upacara, semua orang di padepokan ini tiba-tiba memperhatikanku. Selama delapan belas warsa aku tak terlihat, dan sekarang semua orang melihatku."
"Itu karena cahaya fajar..."
"Bukan cuma karena cahaya." Ia menyentuh kain di lehernya lagi. "Karena ini juga."
Wulansari menatap kain itu. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mengulurkan tangan dan memeriksa simpulnya. Masih kencang. Masih simpul mereka.
"Jangan biarkan siapa pun membukanya," katanya. "Siapa pun."
"Aku tahu."
"Aku serius, Kangmas. Kalau Nyai sampai berbohong di depan Ki Ageng soal luka bakar, pasti ada alasannya. Pasti ada sesuatu di bawah kain itu yang tak boleh dilihat orang."
"Atau memang cuma luka bakar."
"Kangmas pernah melihatnya?"
Dira terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tetapi baru sekarang ia sadar jawabannya.
Tidak. Ia tak pernah melihatnya. Tak sekali pun dalam delapan belas warsa. Kain itu selalu dililitkan Nyai ketika ia masih bayi, lalu oleh Wulansari ketika mereka sudah cukup besar. Ia tak pernah melepasnya sendiri, bahkan saat mandi. Ia hanya mengendurkannya sedikit dan membasuh kulit di bawahnya dengan tangan. Di padepokan tidak ada cermin perunggu yang boleh dipakai abdi, dan air di gentong selalu terlalu gelap untuk memantulkan apa pun dengan jelas.
"Tidak," katanya pelan. "Belum pernah."
Mereka saling pandang. Untuk pertama kalinya, kain lurik cokelat tua itu terasa lebih berat dari biasanya.
Gong kedua berbunyi dari arah balairung. Tanda latihan pagi murid luar akan dimulai.
"Aku harus pergi," kata Wulansari sambil bangkit dan menepuk-nepuk jariknya yang basah. "Kalau terlambat, Kakang Sutarga punya alasan lagi untuk..."
Ia tak menyelesaikan kalimatnya.
"Hati-hati," kata Dira. "Ingat janjimu. Di depan orang, diam."
"Ingat janjimu juga. Tak ada 'tidak apa-apa'."
Ia merunduk di bawah dahan-dahan sawo, berlari kecil ke arah lumbung, lalu berhenti dan menoleh sekali. Ia tidak melambai. Ia hanya menyentuh lehernya sendiri dengan dua jari, isyarat yang tak akan dimengerti siapa pun kecuali mereka berdua: simpulnya.
Dira menyentuh lehernya dengan dua jari juga.
Lalu adiknya menghilang di balik lumbung.
Dira duduk sendirian di bawah pohon sawo, membereskan daun pisang bekas bungkusan, dan merasa lebih ringan daripada kemarin. Ia sudah punya rencana. Rencana kecil, tetapi rencana. Wulansari akan berlatih tanpa diganggu. Ia akan bekerja di dapur, diam, menunduk, dan menghitung. Dan setiap pagi, di bawah pohon tua yang ditakuti orang ini, mereka akan tetap menjadi kakak beradik.
Ia bangkit, mengibaskan debu dari jariknya, dan berbalik ke arah dapur.
Lalu ia berhenti.
Di sudut lumbung, di balik tumpukan karung gabah yang menunggu ditumbuk, berdiri seseorang yang tubuhnya terlalu lebar untuk bersembunyi dengan baik. Dira mengenali lengan berbekas luka bakar minyak itu, rambut yang diikat tali ijuk, dan gagang pisau dapur besar yang tersembul di pinggangnya.
Gandawasa tidak lagi berusaha bersembunyi. Ia melangkah keluar dari balik karung gabah, pelan-pelan, sambil menyeringai.
Berapa lama ia berdiri di sana? Apa saja yang ia dengar?
"Pagi-pagi sudah di bawah pohon angker," kata Gandawasa. "Bersama gadis murid luar. Bukan main, Anak Matahari."
Dira tidak menjawab. Ia menunduk dan mulai menghitung.
Tetapi Gandawasa tidak menatap wajahnya. Matanya tertuju lebih rendah, ke leher Dira, ke kain lurik cokelat tua yang baru saja diperiksa simpulnya oleh Wulansari.
"Jangan biarkan siapa pun membukanya," katanya, menirukan suara Wulansari dengan nada melengking yang dibuat-buat. "Pasti ada sesuatu di bawah kain itu yang tak boleh dilihat orang."
Seringainya melebar.
"Aku jadi penasaran," katanya sambil melangkah lebih dekat. "Apa sebenarnya yang kau sembunyikan di balik kain itu, Anak Matahari?"